My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Liburan musim panas



Sinar matahari dari timur menyambut pagi ku. Aku membuka mata perlahan. Rasah malas seketika menghampiriku, untuk mengangkat kepalaku melihat jam yang ada diatas meja saja menjadi sesuatu yang berat bagiku. Aku menarik nafas panjang dan menghebuskanya dengan cepat. Aku paksakan diriku untuk turun dari tempat tidur, berjalan pelan menuju jendela. Aku buka pintu jendela, membiarkan seluruh udara dingin pegunungan mengisih setiap sudut ruangan. Lagi-lagi kuhirup udara segar ini sedalam-dalamnya. Aku tahan sebentar di paru-paruku dan barulah ku hembuskan perlahan.


Aku merenggangkan tubuhku, menghilangkan rasa pegal yang menyerang. Aku membiarkan seluruh tubuhku memandikan cahaya matahari yang lembut. Pamandangan sedikit berkabut kini telah berasur-angsur hilang. Hutan hijau terbentang didepan mata. Kicauan burung terdengar di bawak angin sampai ke telinga. Sudah lama aku tidak merasakan suasana damai seperti ini. Beberapa hari lalu aku biasanya terbangun dengan rasa takut dan gemetar. Margaret terus-menerus menghatuiku didalam mimpi. Aku benar-benar tidak ada ingatan tentang janji itu.


Tok... Tok... Tok...


Aku tersentak kaget karna suara ketukan di pintu. Aku menoleh pada pintu tersebut, memperhatikannya dari tempatku berdiri. Tidak ada suara lagi terdengar. Aneh? Aku tunggu kembali, mungkin suara ketukan itu akan muncul lagi. Dan benar saja suaranya kembali terdengar berbarengan dengan suara panggilan dari ibuku. Aku menghembuskan nafas lega. Aku menghampiri pintu tersebut lalu membukanya.


"Kau sudah bangun? Ibu kira kau masih tidur jadi tidak bermaksud menggangu."


"Aku sudah bangun dari tadi," aku berbalik dan duduk dikasur.


"Bagaimana tidurmu?" tanya ibu ingin tahu.


"Sangat damai," hanya itu yang bisa aku katakan.


"Apa ada sesuatu yang tidak asing kau rasakan disini?" tanya ibu sedikit aneh.


Aku meneliti wajah ibu, mencari tahu apa isi hatinya. "Tidak ada. Kenapa?"


"Ah, tidak. Ibu cuman mau tanya, apa kau mau berkeliling sebentar disekitaran penginapan? Mungkin kau bosan," ibu mengalihkan pandang. Wajahnya terlihat kecewa atas jawaban yang aku berikan.


Aku menaikan sebelah alisku. "Kenapa ibu bertanya? Tentu saja aku mau."


Kami berangkat dari penginapan setelah sarapan. Jalanan setapak penuh dedaunan kami lalui dengan jalan kaki santai. Disisi kiri dan kanan hanya ada hutan belantara. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela daun yang masih rimbun. Setiap langkah yang aku pijakan di jalan setapak ini seperti membawa kenangan lama. Aku merasa tidak asing dengan tempat ini. Suara daun ditiup angin sama persis, kalau tidak salah ada... Aku berhenti sebentar, memfokuskan pendengaranku.


"Ada apa Rin?" tanya ibu yang ikut berhenti.


Suara gemericik air terdengar jelas. "Apa ada air terjun disekitar sini?" tanya aku kemudian.


"Kau tahu?!" ibu sedikit terkejut dan langsung menoleh pada ayah. Itu membuatku bingung.


"Suaranya terdengar jelas," kataku membuat ayah menghelah nafas.


"Tidak jauh lagi," ayah melanjutkan jalan santainya.


Kami istirahat sebentar diatas bebatuan sambil merandam kaki kami di air sungai yang dingin. Satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah berfoto riah. Aku melihat jam tanganku, tidak terasa sudah hampir jam 10 siang. Aku hendak berkeliling sebentar lagi sendirian sebelum makan siang. Aku menyelusuri sungai sambil sesekali melihat ikan berenang.


Di ke dalam sungai itu sekilas aku merasa melihat pantulan cahaya. Aku meneliti dasar sungai tersebut, mencari kilatan cahaya tadi. Tidak ada. Perasaan perna kesini pun muncul lagi, seolah-olah aku sedang mencari sesuatu dan pantulan cahaya itu memang terlihat disini tapi waktunya berbeda. Jalanan yang aku lalui belum tertutup daun. Pepohonan lebih rimbun dari sekarang dan suasananya lebih ramai.


Aku mengesampikan itu dan melanjutkan perjalanan menyelusuri hutan yang mulai menanjak. Aku tidak tahu kemana aku melangkah, aku hanya mengikuti perasaanku. Tampa diduga aku sampai di suatu tempat yang kali ini benar-benar tidak asing. Tempat ini ada dalam ingatanku saat... Musim panas lalu. Dan tepat di depan ku adalah jurang terjal dengan bebatuan besar dibawahnya ketika aku menunduk melihatnya.


Lembah terbentang didepan dihiasi daun kuning merah diselah-selah kehijauan rerumputan. Sungai mengalir terlihat seperti benang-benang memanjang dari tempat aku berdiri. Angin bertiup kencang membuat rambutku seakan-akan tertarik ke balakang. Aku membetulkan helaian rambut yang menutupi wajahku. Saat aku berdiri dibibir tebing dan mulai melihat ke bawah, ada satu kilatan masuk menerobos ke dalam kepalaku. Sontak aku mundur seketika dengan nafas terengah-engah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Libur musim panas ini kelas kami dan dua kelas lainnya mengadakan pariwisata ke tempat yang sama. Sungguh tidak disangka. Tidak ada perjanjian awal dari ketiga kelas ingin liburan ke pegunungan. Tiba-tiba bus silih berganti memasuki kawasan penginapan. Kelasku yang pertama kali sampai mengira itu adalah bus dari sekolah lain. E, ternyata kelas sebelah. Dan secara kebetulan kelas itu adalah kelas Nicoles. Tunggu kalau itu kelas Nic berarti Lisa juga ada disana. Tak berapa lama datang lagi satu bus berhenti diparkiran penginapan. Perkiraan awal kembali terlintas di kepala kami. Kecil kemungkinan dari sekolah yang sama lagi, tapi kenyataannya memang demikian. Bus itu berasal dari kelas si kembar.


Ada kecurigaan muncul dibenakku. Tidak mungkin ini hanya kebetulan semata. Saat aku bertanya ternyata ini ulah Sofia, Nic, Kevin dan Evan. Mereka sengaja mengusulkan berwisata ditempat yang sama tampa sepengetahuan yang lain. Entah bagaimana caranya mereka meyakinkan seluruh murit di kelas untuk menerima saran mereka. Yang membuatku jengkel, kenapa aku juga tidak mengetahui rencana ini!


Karna anggota kami bertambah. Penanggung jawab sekolah yang terdiri dari wali kelas masing-masing mengadakan suatu permainan penjelajahan. Kami bebas membentuk kelompok sendiri yang terdiri dari 4 sampai 8 orang. Setelah menyerahkan daftar nama kelompok, kami diberi pertujuk pertama. Setiap kelompok mendapat petunjuk berbeda-beda. Dengan memecahkan teka-teki barulah dapat mencari petunjuk selanjutnya yang sudah tersebar di dalam hutan. Untuk memastikan keamanan siswa siswi agar tidak tersesat, setiap orang diberi suar SOS. Jika terjadi masalah seperti dalam bahaya, tersesat atau karna apapun itu mereka bisa memberi sinyal pada yang lain.


Kertas kecoklatan tergulung rapih dengan pita ungu kini telah kami buka. Disana tertulis satu teka-teki yang terdiri dari tiga kalimat. Kami harus memecahkan teka-teki ini untuk mendapat petunjuk selanjutnya. Semakin cepat teka-teki terpecahkan semakin cepat pula hadiah menanti diakhir permainan. Teka-tekinya adalah...


"TIDAK PENAH DIISI, TIDAK PERNAH HABIS, TAPI AKU SELALU TUMPAH."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε