My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Berkeliling



["Sherina apa kau juga tahu tentang peristiwa itu?" tanyaku pada Sherina yang telah kembali ke alam bawah sadar.]


["Peristiwa apa yang kau maksud?" tanya nya balik tidak mengerti.]


["Aah... Tidak ada."]


Jika Sherina tidak tahu, itu berarti apa yang ditunjukan Mia hanya untukku. Tapi apa maksudnya? Aku masih belum mengerti sama sekali. Lamunanku buyar ketika hpku bergetar. Kulihat Mitéra meneleponku, aku langsung mengangkatnya.


"Hallo. Mitéra."


"Keyla, apa kalian sudah sampai?"


"Iya, iya. Kami baru tiba dan sekarang ada di asrama sekolah NorthVyden," aku turun dari tempat tidur lalu duduk disamping Lisa yang tengah duduk di kasurnya.


"Bagaimana? Apa semuanya baik?"


"Semuanya berjalan baik."


"Mitéra, apa Mitéra tahu? Pulau Vyden sungguh luar biasa, dengan kemajuan kota dan pelabuhan yang besar," kata Lisa mengalihkan pembicaraan agar ia mendengar kami tidak khawatir.


"Baguslah. Apa kalian sudah bertemu dengan Mr. Duncan?"


"Mitéra sudah tahu dengan Mr. Duncan?" tanyaku balik dengan nada sedikit terkejut.


"Iya, ayahmu sudah menceritakan semuanya. Kami semua sungguh tidak menyangkah akan hal ini. Oh, iya. Sebaiknya kau telpon ayahmu. Ia sangat menunggu telpon darimu tapi tidak mau menelpon duluan," bisik Mitéra dari telpon.


"Iya. Aku akan menelponnya."


"Sudah dulu ya. Mitéra senang kalian baik-baik saja. Berhati-hatilah. Kalian putri-putri kecilku yang berharga. Mitéra merindukan kalian."


"Baru dua jam, Mitéra sudah merindukan kami?" kata Lisa.


"Jangankan dua jam, sedetikpun aku tak mau pisah dari kalian," suara Mitéra terdengar sedih.


"Jangan bersedih Mitéra. Kami bukan lagi anak kecil yang selalu terus diawasi setiap saat."


"Mau anak kecil, remaja, dewasa, kalian tetap sama di mata ku."


"Baiklah, kami memang anak kecil di mata Mitéra walau sudah besar begini. Berhentilah bersedih, kami mala ikut sedih dan mulai sangat sangat merindukanmu."


"Mulutmu ini ya Lisa bisa saja."


"Hihi..." Lisa hanya terkekeh.


"Ibu tutup telponnya ya. Kalian berdua jangan lupa makan malam."


"Iya Mitéra tersayang," kataku dan Lisa serempak.


"Ah... Kalian ini."


Mitéra segera memutus telponnya dengan suara tersipu malu. Aku dan Lisa tertawa mendengarnya. Rosse dan Sofia juga kulihat sedang telponan sama keluarga mereka. Tidak jauh berbeda dengan kami, percakapan mereka sama. Menanyakan kabar dan mengingatkan beberapa hal. Aku berdiri berjalan menuju balkon. Udara dingin malam berhembus lembut. Kamar kami terletak di lantai tiga dari empat lantai yang ada. Balkon kamar mengarah langsung ke arah hutan dengan sisi kiri nan jauh merupakan pusat kota. Aku memanggil Angel ketika kulihat di layar monitor hp ia ada di dekat sini.


Suara siulanku melengking nyaring dalam kegelapan malam. Selang beberapa detik kulihat sekelibat putih terbang mendekati ku. Permata merah di lehernya benar-benar sangat berguna untuk mengenali Angel. Ia segera hinggap di dekatku. Kuelus bulu putihnya yang lembut. Disaat aku sedang menikmati malam, tiba-tiba ada perasaan kalau aku sedang di awas oleh seseorang. Tatapan itu terus melihatku. Aku berusaha mencari siapa yang terus menatapku sendari tadi tapi aku tidak menemukannya. Siapa yang sedang menatapku? Apa itu hanya perasaanku saja?


"Kakak! Apa yang kau lamunkan?" tanya Lisa sambil menepuk bahuku.


"AAAH ! !" teriakku kaget. "Lisa.....!"


"Hihi... Wajahmu lucu saat terkejut," ia mala tertawa melihatku.


"Jangan suka mengagetkanku! Kau membuatku jantungan."


"Maaf."


Lisa mengikuti. Angel kembali terbang dalam kegelapan malam. Di dalam, tidak ada percakapan di antara kami. Kami sibuk dengan hp masing-masing. Aku sibuk menelpon ayah dan mempertanyakan tentang kenapa ia tidak memberitahu ku kalau paman Fang masih hidup. Aku sudah berduka setengah mati begitu melihat darah di altar hari itu. Jawaban ayah benar-benar membuatku kesal. Ia berkata kalau ia lupa untuk memberitahu ku. Aaah....!!! Sungguh membuat kesal!


Jam 20.38 aku mulai merasa bosan. Tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Mau mencari petunjuk tentang pohon ΖΩΗ (ZOI) kami harus mulai dari mana dulu? Aku sudah mencari informasi ini di internet tapi tidak ada penjelasan lebih rinci. Eh... Apa lebih baik kami berkeliling dulu? Mungkin kami akan menemukan hal menarik.


"Hei, Lisa, Sofia, Rosse, bagaimana kalau kita berkeliling dulu?" ajakku pada mereka.


"Berkeliling? Apa boleh?" tanya Rosse.


"Tentu saja boleh," aku turun dari tempat tidur dan mengambil jaket ku.


Dengan sedikit malas mereka juga meraih jaket mereka. Kami melakangkah keluar dari kamar. Aku mengunci pintu lalu kami mulai menyelusuri lorong asrama yang sepih. Para murit perempuan telah berada di kelas karna memang jam pelajaran sudah lama di mulai. Keluar dari gedung asrama kami harus menyelusuri taman yang keterangan lampu nya cukup terang untuk melihat debu di lantai. Diluar ini kami baru bertemu beberapa siswa/siswi yang berlalu lalang dengan pekeperluan mereka. Sekolah ini tidak jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya. Hanya saja dilaksanakan pada malam hari. Bagaimana keadaan siang harinya ya? Apa murit manusia juga mala ikut tidur karna ngantuk? Itu berarti keadaan siang hari pasti sangat sepih.


"Bersekolah pada malam hari terasa sedikit berbeda ya," kata Lisa memecah keheningan diantara kami.


"Cukup menyenangkan juga bisa merasakan hal baru," jawab Rosse menanggapi.


"Bagaimana kalau di sekolah kita ada jam pelajaran malamnya? Pasti seru," kataku sambil berbalik berjalan mundur.


"Alah, jam pelajaran siang saja kau malas apalagi mau jam pelajaran malam," ejek Sofia.


"Hm!" aku berbalik dengan kesal sambil menyilangkan kedua tangan. "Jika jam pelajaran malam mungkin aku akan suka karna jam pelajaran siang membuatku mengantuk."


"Dasar kau memang makhluk malam."


"Hahaha...." tawa mereka membuatku membuatku semakin cemberut.


"Berhentilah tertawa!" bentakku kesal pada mereka. Karna ini aku tidak memperhatikan jalan di depan ku. Tampa sengaja aku menabrak seseorang. "Aduh! Maaf, maaf aku tidak sengaja," seketika aku membungkukan badanku sambil minta maaf.


"Rin."


Aku tersentak begitu mendengar suara itu. Aku mengangkat wajahku untuk memastikan apa yang aku pikirkan. Ternyata benar itu memang dia. Aku tidak mungkin salah mengenali orang. Warna rambut serta mata unik menawan itu. Kenapa dia bisa ada disini? Ini sungguh sangat kebetulan sekali.


"Onoval?! Kau... Bagaimana bisa kau ada disini?" tanyaku padanya dengan raut wajah terkejut.


"Kalian berdua saling kenal?" tanya Lisa.


"Aku bersekolah disini," jawabnya sambil tersenyum.


"Hah? Bagaimana bisa? Pulau Vyden sangat jauh dari ibu kota. Dan kau... Kita sering bertemu di berbagai kesempatan. Tidak mungkin kau terus meminta cuti dari sekolah hanya untuk berkunjung ke ibu kota," kataku tidak percaya. Siapa Onoval sebenarnya?


"Aku ingat kau. Kau pria yang bertengkar bersama Perchye di malam pesta Halloween," kata Rosse teringat bertemu pertama kali dengan Onoval.


"Iya, aku juga baru ingat sekarang. Setelah Rin pergi, kau menghilang begitu saja di kegelapan," sambung Sofia.


"Ah, iya. Baru aku ingat, kau dan kak Perchye juga perna diseret keluar dari ruang inap oleh Mr. Li saat kunjungan pertama kalian. Kalian berdua benar-benar musuh bebuyutan," kata Lisa.


Onoval tidak menjawab. Ia hanya menatapku dalam senyum. "Onoval, siapa kau sebenarnya?"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε