My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kilas balik 20 tahun yang lalu



Beberapa hari berlalu. Ayah dan Mr. Guttman masih disibukkan dengan penelitian mereka mencari obat penawar dari racun getah pohon Νεκρός (Nekrós). Patéras di percayakan sepenuhnya untuk mengurus perusahan, sedangkan Mitéra dan bibi Merry akan mengurus perpustakaan kota. Sekarang aku berada di kamar ibu ditemani Rosse, Lisa dan Sofia. Kini aku tahu bagaimana perasaan ibu disaat ia menemaniku diwaktu koma. Aku benar-berharap ibu membuka matanya sekarang. Membelai rambutku seperti biasa atau memarahiku karna keusilan. Aku kini sanga merindukan semua itu. Aku mohon ibu, bangunlah.


"Hei... Kalian. Apa mau Ramen? Ada restoran jepang yang baru di buka di kota. Bibi mengundang kokinya ke kediaman untuk membuatkan hidangan alah negeri sakura untuk makan malam. Sekarang ini ia sedang membuat Ramen untuk kita semua. Kalian mau?" bibi Emely melangkah masuk bersama satu pelayan yang membawa meja dorong dengan Lima mangkuk Ramen panas di atasnya.


"Ramen. Aku belum perna mencobanya," ujar Lisa begitu ia menerima Ramen tersebut.


"Aku juga," kataku.


Aku mengambil tempat duduk di samping Lisa. Em... Uap panas dari Ramen ini dan aroma masakan yang belum perna aku cium sebelumnya membuatku ingin mencoba mencicipinya. Rasa kuah yang khas dan mie yang kenyal membuat orang yang memakannya ketagihan. Ini pertama kalinya aku makan Ramen dan aku menyukainya. Aku tidak sabar untuk makan malam. Hidangan apa yang akan di sajikan koki asal jepang itu.


"Tidak heran ini menu yang terlaris di restorannya. Disaat cuaca dingin seperti ini memang enak makan makanan berkuah dan hangat," kata bibi Emely sambil menyerumput kuah Ramen itu.


"Ini memang sangat enak. Andai ibu bangun agar ia bisa menikmati Ramen ini bersama-sama," aku menatap sedih ke mangkuk Ramenku yang masih tersisa banyak. Nafsu makan ku hilang begitu teringat ibu. Aku cuman mengaduk-gaduk mienya menggunakan sumpitku.


"Jangan bersedih, Rin. Setelah ibumu sehat kembali, kita bisa mengundang koki itu ke kediaman lagi. Kita bisa minta ia membuatkan hidangan alah jepang untuk menyambut kesembuhan ibumu nanti, bagaimana?" hibur bibi Emely.


"Iya."


"Mulut bibi Emely memang pandai menghibur seseorang. Aku ingat itu ketika bibi membujuk bibi Cloey dan Mitéra untuk makan malam," kata Lisa mengingat-ingat.


"Sudah sewajarnya, kan?"


"Bibi Emely, boleh aku bertanya sesuatu?" kataku membuat bibi Emely melirik ku.


"Tanya apa? Langsung katakan saja."


"Aku cuman penasaran apa yang terjadi 20 tahun lalu?" tanyaku.


"Itu adalah masa puncak kekacawan dari dunia malam. Awal mula perang terjadi, Aku dan ibu masih di kediaman dengan formasi pertahanan telah diaktifkan selama 24 jam non stop. Ayah memimpin pasukan bersama ketua klan lainnya untuk melawan kaum vampire. Dua bulan pertama perang kami mendapat kabar dari ayah untuk mengirim pasukan tambahan. Ibu memimpin pasukan tersebut turun ke medan perang. Sedangkan aku di paksa tetap tinggal di dalam rumah dengan penjagaan ketat dari pengawal. Ingin sekali aku ikut bersama ibu namun jangankan keluar ke halaman, keluar balkon kamarku saja tidak diperbolehkan," bibi Emely berhenti sebentar begitu mengingat masa-masa kelam itu.


"Kurang lebih sebulan. Aku mendapat kabar dari ibu kalau ibu menarik seluruh pasukan mundur dari medan perang. Awalnya aku senang karna ayah dan ibu akan pulang dari tempat berbahaya itu, namun saat kulihat hanya ibu seorang yang pulang bersama kurang dari seratus orang. Hatiku seketika dilanda kegelisahan. Aku berlari menghampiri ibu yang tertunduk murung dan tidak berbicara sepata-katapun. Dengan air mata yang telah membanjiri pipiku, aku terus bertanya pada ibu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu tidak menjawab. Ia hanya menatap sedih ke arahku dengan mata berlinang. Sampai aku mendengar ia memberi perintah pada seluruh pasukan. 'Segera siapkan upacara pemakaman untuk ketua klan Α (Alpha)!' Mendengar itu seketika aku pingsan. Aku tidak sanggup menerima kenyataan kehilangan seorang ayah."


Kulihat bibi Marry meneteskan air matanya disaat ia bercerita. Pasti sangat berat kehilangan sosok yang sangat dicintai. Tampa sadar aku melirik Rosse. Kulihat ia hanya diam mendengar cerita bibi Emely, tapi pandangannya kosong. Apa ia teringat juga dengan ayahnya? Setelah menyekat air matanya bibi Emely lanjut bercerita.


"Beberapa bulan berlalu setelah penandatanganan surat perjanjian perdamaian, kulihat ibu masih terlihat murung. Ia jarang berbicara dan selalu mengurung dirinya di dalam ruang kerja rahasia. Ia sibuk melakukan penelitian pada racun yang menyebabkan ayah meninggal. Ibu bertekat ingin mencari obat penawar dari racun tersebut. Aku tidak tahu alasannya. Ibu tidak perna mau cerita.


Dengan perjalanan menggunakan mobil, aku pergi ke desa dimana menurut informasi manusia serigala muda itu tinggal. Di tengah perjalan memasuki desa tersebut tiba-tiba aku mengalami kecelakaan. Jalanan yang licin dan juga menanjak membuat mobil yang kukendarai tergelincir dan berakhir masuk jurang. Cloey menyelamatkan ku waktu itu. Ia membawaku ke rumahnya serta merawat lukaku. Saat itulah aku bertemu dengan manusia serigala muda itu dan namanya Derek."


...Sudut padang orang ketiga...


...Kilas balik 20 tahun yang lalu...


...ΩΩΩΩ...


"Kakak... Aku pasti akan menemukan mu," Emely terus mengingau memanggil kakaknya. "Kakak!!!"


Teriak Emely sadar dan seketika langsung terduduk. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Ia membetulkan helaian rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, ruang redup dengan perabotan menumpuk tapi tersusun rapi. Ia menyadari kalau saat ini ia sedang berada di kamar pada sebuah rumah kayu tua. Emely hendak turun dari tempat tidur tapi ia seketika menurunkan niatnya begitu ia merasakan rasa sakit saat menggerakan kaki kanannya.


"Aw! Stt...." rintih Emely.


"Kau sudah sadar? Jangan banyak bergerak dulu."


Seorang wanita berambut merah berparas cantik bergegas menghampiri dengan sebaskom air di tangannya dan haduk kecil. Ia meletakan baskom itu di atas meja lalu membantu Emely untuk berbaring kembali. Wanita itu merendam handuk kecil tadi ke dalam baskom berisi air hangat tersebut. Di perasnya handuk itu lalu diletakan pada dahi Emely.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε