
"Kenapa harus dua tahun ke bawah?" tanyaku.
"Saya rasa kau lebih tahu hal ini. Seberapa tinggi keinginan dari jiwa orang-orang yang telah meninggal untuk hidup kembali? Dan apa jadinya jika mereka melihat tubuh mereka sendiri hidup tapi digunakan oleh jiwa orang lain? Mereka tentu tidak akan terima dan kemungkinan besar mereka akan memyerangmu untuk merebut kembali tubuh mereka."
"Aku mengerti. Semakin muda seseorang meninggal dunia maka semakin cepat pula jiwa mereka meninggalkan dunia ini atau berrenkarnasi."
"Belum lagi keikhlasan dari keluarga mereka juga menjadi kendala," tambah Mr. Guttman.
Aku memberi senyum kecil pada Mr. Guttman. "Terima kasih atas usahanya Mr. Guttman tapi aku merasa ini sedikit mustahil bagiku..."
"Tidak ada yang mustahil," potong ayah. "Kau berusahalah untuk tetap bertahan, istirahat yang cukup dan jangan terlalu sering kelelahan. Biar ayah yang mengurus segalanya. Jangan berputus asa."
Aku memalingkan wajahku dari ayah. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Eh, Mr. Guttman. Apa tubuh tersebut tidak harus yang baru meninggal?"
"Selama kondisinya masih baik dan belum mengalami kerusakan, saya rasa bisa."
"Bagaimana kalau..."
Dengan setengah berlari aku menghampiri lemari yang sebagai pintu masuk menuju ruang kerja rahasia. Aku membuka pintu tersebut dan melangkah masuk. Ayah dan Mr. Guttman dengan cepat mengikutiku. Sekarang aku berdiri tepat di depan lemari yang menyimpan mumi bayi.
"Aku membaca pikiranmu Miss. Morgen," ujar Mr. Guttman begitu ia melihat mumi bayi tersebut.
"Apa kau yakin? Mumi bayi ini setidaknya telah berusia puluhan tahun yang lalu," kata ayah sedikit ragu.
"Jika tidak ada kerusakan sama sekali atau mengalami pembusukan, kenapa tidak di coba?"
"Kau benar. Rin, bisa kau buka lemari ini?" pinta ayah.
"Baiklah," baru hendak menyentuh pintu lemari tersebut tiba-tiba aku diserang rasa sakit yang menusuk tajam di leherku, tepat dimana Onoval perna mengigitku. "Emmph!"
"Rin! Kau kenapa?" tanya ayah sangat khawatir begitu melihatku sudah meringkuk menahan sakit.
Aku tidak segera menjawab. Rasa sakitnya semakin menjadi dan dingin namun anehnya dengan cepat menghilang. Aku kebingungan sendiri karna nya. Apa ini karna Onoval perna mengigitku? Aku tidak tahu itu. Dan tidak mungkin juga aku tanyakan hal ini pada ayah atau Mr. Guttman. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ayah nanti jika mengetahui hal ini.
...Sudup pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
Di tempat lain nan jauh. Dalam kastil NorthVyden. Disebuah ruangan berpencahayaan mini. Tirai-tirai panjang berwarna merah elegan dengan pola bordir kerajaan vampire menutupi semua jendela kaca diruangan tersebut. Bunga mawar bertebaran di lantai memancarkan aroma khas mereka. Beberapa lilin menyala disetiap sisi bagian peti mati yang terdapat di tengah-tengah ruangan. Seorang gadis berwajah pucat tanpa darah terbaring di dalamnya dengan setangkai bunga mawar digengam erat di kedua tangannya. Onoval duduk tepat di depan peti mati tersebut.
"Tidak. Aku tidak bisa melakukan ini," gumang Onoval seraya melepaskan kekuatannya. Ia menatap sayup wajah gadis yang sudah tertidur sangat lama dan entah sampai kapan ia akan membuka matanya lagi. Onopal membelai lembut wajah gadis itu. "Oh, bagaimana ini Natali? Apa yang harus aku lakukan? Aku memang sangat membenci manusia serigala. Disaat mengetahui kalau Rin juga merupakan bagian dari mereka, aku seketika membencinya. Tapi entah mengapa aku tidak bisa menyakitinya. Apa yang telah terjadi padaku? Padahal aku bisa saja dengan mudah membunuhnya. Ia sudah menjadi budak darahku. Kenapa Aku tidak bisa melakukan ini? Kenapa aku merasa kalau aku menyakitinya itu sama dengan menyakitimu? Aku mohon Natali, bantu aku. Apa yang seharusnya aku lakukan?"
Satu bulir air mata Onoval jatuh dan tepat menetes ke pipi Natali. Air mata itu mengalir pelan kemudian menghilang. Onoval tidak menyadari hal itu sama sekali. Ia mengecup dahi Natali lalu membelai rambut Natali tiga kali sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
...Sudut pandang orang pertama...
...ΩΩΩΩ...
"Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba leher ku sakit. Tapi sekarang sudah menghilang," kataku mencari alasan.
"Maaf, Rin. Apa kau perna memiliki hubungan dekat dengan vampire selama di pulau Vyden?" tanya Mr. Guttman padaku.
"Eh... Iya, ada beberapa sih. Seperti Trysta yang paling dekat. Kenapa Mr. Guttman bertanya seperti itu?" Aku harap Mr. Guttman tidak mencurigai kalau aku perna digigit oleh vampire.
"Jika kau merasakan sesuatu, cepat-cepat beritahu padaku," seperti kebiasaan ayah, ia mulai mengacak-ngacak rambutku.
"Baiklah, ayah."
Aku membuka lemari tersebut. Pintunya terbuka begitu aku menyentuhnya. Mr. Guttman dengan hati-hati mengeluarkan tabung kaca yang berisi mumi bayi itu. Mau melihatnya beberapa kali pun aku masih sulit percaya kalau bayi ini sudah berusia puluhan tahun dan kemungkinan tubuh bayi ini akan menjadi tubuh pengganti ku. Apa cara ini akan berhasil? Aku bahkan tidak bisa membayangkan bahwa hidupku akan kembali menjadi bayi lagi.
"Bagaimana bisa mayat seorang bayi terawetkan dengan sangat baik dalam tabung kaca berisi cairan ini? Apa menggunakan ilmu sihir?" tanyaku sedikit penasaran.
"Ayah juga tidak tahu."
"Saya rasa memang ada sedikit pengunaan ilmu sihir. Lihatlah, ada simbol sihir disini," Mr. Guttman menunjuk tepat di atas bagian tutup tabung kaca tersebut. Memang ada gambar simbol disana.
"Sepertinya aku perna melihat simbol ini," aku mencoba mengingat-ingat. "Aku tahu. Di salah satu buku yang perna aku baca di perpustakaan. Itu merupakan simbol sihir kunci. Diperuntukan untuk mengunci sesuatu."
"Kau benar. Dan untuk membuka kunci ini saya memerlukan seorang penyihir," ujar Mr. Guttman.
"Minta saja pada Alan atau Tori untuk membukanya. Katakan kalau kau ingin meneliti mumi bayi itu," kata ayah.
"Baiklah. Saya akan membawa mumi ini ke laboratorium ku untuk pemeriksa lebih lanjut."
Aku, ayah dan Mr. Guttman melangkah keluar dari ruangan ini. sebelum melangkah pergi aku melihat selembar kertas tepat dimana tabung kaca tersebut terletak. Aku menggapai kertas tersebut lalu membukannya.
"Rin!" panggil ayah.
Aku dengan cepat meletakan kembali kertas tersebut pada tempatnya, menutup pintu lemari dan bergegas menyusul ayah dan Mr. Guttman keluar tepat sebelum ibu, Mitéra, Sofia, Lisa dan Rosse masuk ke ruang kerja ayah.
"Apa yang kalian lakukan sampai begitu lama ada disini?" tanya ibu.
"Apa yang kau bawah itu Mr. Guttman?" tanya Mitéra begitu melihat mumi bayi yang dibawa Mr. Guttman.
"Ini mumi bayi yang tersimpan di ruang kerja rahasia."
"Untuk apa mumi bayi itu?"
"Saya cuman mau meneliti bagaimana ia bisa terawetkan dengan baik," jelas Mr. Guttman mencari alasan yang masuk akal.
"Mumi itu tampak masih hidup. Apa benar itu sebuah mumi?" ujar Lisa sambil memperhatikan mumi bayi itu dari dekat. "AAAH ! !" teriaknya tiba-tiba sampai termundur kebelakang.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε