My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Snow Queen



Tertempel di dinding menara sebuah pesan yang menyuruhku mencari simbol hati berwarna merah. Warna ini dipilih mungkin karna sangat jelas terlihat di hamparan keperakan yang menyelimuti seluruh kediaman. Dengan teliti kucari simbol hati tersebut yang akhirnya Sherina temukan di atas atap rumah keluarga Dicaprio.


"Yang benar saja!! Aku harus turun dari tempat tertinggi rumah ini untuk naik ke atap rumah yang ada di sebrang sana. Hah... Aku terlalu lelah mengikuti permainan ini," aku terduduk lemas di pinggir menara dengan kaki menjuntai ke bawah.


"Kau tidak harus turun juga untuk sampai disana."


"Lalu kau mau menyuruhku melompat, gitu?"


"Iya."


"Apa?! Kau tidak lihat jarak rumah itu? Apa aku masih bisa selamat jika aku melompat ke sana?"


"Mungkin, dari sana bisa," tunjuk Sherina ke atap rumah ini yang jaraknya paling dekat dengan atap rumah paman dan bibi.


"Disitu juga jaraknya masih jauh, kira-kira 50-70 meter."


"Jarak segitu cukup membuatmu mendarat dengan selamat."


"Apa kau yakin?"


"Tentu saja. Tapi kau harus dalam wujud serigala dulu."


"Itu berarti kau yang melompat."


"Tidak masalah."


Walau agak ngerih tapi... Ya sudahlah jika Sherina sangat percaya diri sekali dapat melompat ke sana dengan selamat. Aku percaya padanya. Di pinggir atap rumah aku melirik ke bawah lalu beralih ke atap rumah yang ada di sebrang sana. Sungguhan ini kami akan melompat?


"Apa kau takut?" tanya Sherina sambil melirikku.


"Tentu, tentu tidak. Yang melompat itu adalah kau, bukan aku."


"Siapa bilang?"


"Hah? Apa maksudmu?"


"Kau harus naik ke punggungku dan ikut lompat mersamaku. Kau pikir tali kehidupan itu sangat panjang? Kau cuman bisa pergi sejauh 10 meter dari tubuhmu."


"Aku, aku bisa melayang saja mengikutimu."


"Aku takut kau tidak dapat mengimbangi kecepatan ku. Jangan salahkan aku jika tali kehidupanmu putus dan berakibat kematianmu, aku akan mewarisi tubuhmu, loh," kata Sherina setengah tersenyum.


"Apa serentan itu?"


"Aku tidak tahu. Kalau kau penasaran bisa mencobanya."


"Bercanda mu tidak lucu."


"Sudahlah, ayok."


"Apa kau sangat yakin akan hal ini Sherina?"


"Sangat yakin. Percaya padaku. Aku tidak mungkin mencelakakan tubuhmu, jika tubuhmu mati maka aku juga mati."


"Baiklah. Aku percaya padamu."


Aku mulai memfokuskan diri ke alam bawah sadar ku. Dalam sekejam jiwa kami telah bertukar. Sosok serigala putih muncul di hadapanku, ia adalah Sherina. Dengan kegugupan menyelimutimu aku naik ke punggung Sherina. Aku menggapai helaian bulunya untuk ku gunakan sebagai pegangan. Bulu yang lembut.


"Iya."


Sherina mengambil ancang-ancang panjang untuk siap melompat. Aku seketika memejamkan mata saat ia mulai melompat. Hembusan angin kencang begitu terasa membuatku semakin kuat berpegangan. Tidak sampai semenit akhirnya kami mendarat dengan selamat di atap rumah keluarga Dicaprio. Itu membuatku lega. Tidak aku sangkah ternyata manusia serigala bisa melompat sejauh itu. Aku turun dari punggung Sherina dengan tubuh masih gemetar.


"Sudah ku bilang kan, aku mampu melompatinya. Ini hal yang mudah bagi."


"Kau memang hebat Sherina."


Sherina merubah wujudnya lagi namun kali ini secara perlahan. Jiwa kami kembali bertukar. Aku bergegas menghampiri tanda hati itu dan menemukan pesan lagi disana. Pesan kali ini benar-benar menyebalkan. Sangking kesalnya aku merobek kertas itu menjadi potongan kecil-kecil lalu melemparkannya ke bawah. Robekan kertas itu terbang melayang ditiup angin.


"Memang apa kalimat yang tertulis di kertas itu?" tanya Sherina.


"Isinya sungguh menyebalkan! Bisa-bisanya mereka menulis... 'UPS, MAAF. SEHARUSNYA MENGIKUTI TANDA HATI BUKANNYA TANDA PANAH. SILAKAN KEMBALI KE POHON EK.' apa maksudnya itu? Jadi, selama ini apa yang aku lakukan sia-sia? Aaah.......!!! Mereka semua sengaja mempermainkan ku untuk membuatku kesal hari ini!!"


"Hihi... Ikuti saja mau mereka Keyla. Mungkin kau akan mendapatkan sesuatu yang tidak terbayang olehmu. Mereka melakukan semua ini pasti ada maksud tertentu selain mengerjaimu habis-habisan."


"Jika semua ini cuman semata mengerjaiku, aku akan mengamuk!"


Aku turun dari rumah ini pergi lagi menuju pohon ek. Setelah pencarian aku menemukan tanda hati seukuran telapak tangan tersemat di kulit pohon. Tunggu dulu, bukan kah tadi itu tidak ada disana? Bagaimana bisa sekarang ada? Apa mereka baru menempelkannya? Tapi tidak ada jejak kaki lain di atas salju? Atau ini karna sihir. Sungguh luar biasa. Jadi aku memang diharuskan mengikuti semua arahan tanpa bisa aku cari petunjuk lainnya untuk melompati permainan ini.


Seperti dugaan ku itu berisi pesan lagi yang menyuruhku ke suatu tempat di kediaman ini. Terus seperti itu sampai matahari hampir terbenam. Aku sudah mengelilingi kediaman ini sebanyak delapan kali mengikuti setiap arahan yang diberikan. Dan kali ini pesan itu menyuruhku ke bagian belakang asrama pelayan. Oh, sudah cukup aku disuruh berkeliling kediaman sekarang memintaku ke halaman belakang. Apa lagi yang mereka rencanakan?


"Cukup!!! Ini yang terakhir! Kalau aku mendapat pesan lagi yang menyuruhku ke suatu tempat, aku tidak mau peduli lagi!!"


Dengan hati yang sangat-sangat kesal aku melangkahkan kaki ke halaman belakang asrama pelayan. Sampai disana aku dikejutkan dengan sesuatu yang begitu indah. Barisan pohon berhias juntaian kristal es di setiap rantingnya begitu memukau ketika cahaya keemasan mentari melaluinya. Aku tidak perna tahu tempat ini sangat cantik bila musim dingin tiba. Kulangkakan kaki ku menyelusuri jalan yang tersedia di antara pepohonan. Aku dan Sherina berdecak kagum, semakin maju ke depan tempat ini semakin memanjakan mata kami. Rasa kesal dan lelahku hilang seketika saat disugukan pemandangan ini. Tempat ini seperti suatu taman di cerita dongeng Snow Queen.


"Aku adalah Snow Queen, sang penyihir yang dapat membekukan segalanya termasuk hati manusia."


Aku seketika menoleh ke belakang begitu mendengar suara tersebut. Seseorang dengan gaun putih bergradasi warna biru berhias kepingan salju muncul. Ia berjalan mendekati ku sambil membawa tongkat sihir yang melebihi tinggi tubuhnya. Aku tahu betul siapa dia. Ia adalah Sofia dalam balutan kostum Snow Queen.


"Selamat datang di kerajaanku manis."


Sofia mencolek dagu ku ketika ia berjalan melalui ku. Percikan cahaya sihir yang muncul bersama kepingan salju seketika mengitariku. Seperti sang ratu sesungguhnya Sofia naik ke singgasana dan duduk di kursi megah yang terbuat dari es keseluruhannya. Sofia sangat bersungguh-sungguh memerankan sosok Snow Queen. Apa lagi ia juga mengunakan sihir es untuk menyempurnakan aksinya. Aku yang masih dibuat berdecak kagum tidak tahu harus bilang apa. Suasana ini benar-benar membuatku masuk dalam cerita yang sesungguhnya.


"Kemari kesini Kay," panggil sang ratu sambil menggunakan isyarat telunjuknya.


Aku dibuat terkejut begitu mengetahui siapa pemeran utama pria dalam pentas drama ini. Rian naik ke atas panggung menghampiri sang ratu dengan setiap langkahnya menyalakan lampu kecil yang tersebar di atas salju.


"Selamat malam ratuku," kata Rian sambil mengecup punggung tangan sang ratu begitu ia menghampirinya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε