
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
Jam 00.00 di alam bawah sadar Keyla. Sama seperti dunia luar, alam bawah sadar ini akan berganti malam disaat Keyla tertidur. Namun setelah terbangun tepat tengah malam ini, mata Sherina tidak mau terpejam lagi. Ia berbaring di atas rerumputan sambil menatap bulan yang bundar sempurna. Terkadang Sherina tersenyum sendiri begitu mengingat kejadian siang tadi. Walau dalam wujud serigala, ia sangat bahagia dapat berinteraksi dengan seseorang selain Keyla, terutama ayah dan ibunya. Dua orang yang sudah lama ini ia ingin sekali dapat berbincang dengan mereka, memeluk serta dibelai mesra. Hari ini untuk pertama kalinya Sherina merasakan kehangatan sebuah keluarga. Terlitas di pikirannya untuk dapat merasakan kehangatan tersebut lagi dan lagi, tapi ia sedikit malu jika harus selalu meminta bertukar jiwa dengan Keyla. Andai ia memiliki tubuh sendiri, ia pasti telah merasakan kasih sayang keluarganya sejak dulu.
"Selamat malam yang mulia."
"Malam," Sherina tersentak kaget begitu mengetahui siapa yang baru saja menegurnya. Ia seketika bangkit. Seorang gadis yang jelas bukanlah Keyla berdiri dihadapannya. "Siapa kau?"
"Sudah melupakan aku?" gadis itu berjalan mendekati Sherina. "Ini memang pertemuan pertama kita tapi kau pasti sudah tahu siapa aku dari ingatan Rin, atau aku harus memanggilnya Keyla."
Sherina mengingat-ingat wajah gadis itu yang seharusnya ia tidak akan pernah lupa. Sherina menatap tajam padanya begitu ia mengingatnya. "Sindy."
"Suatu kehormatan dapat bertemu dengan anda, yang mulia," Sindy membungkukkan badannya memberi hormat pada Sherina.
"Apa yang kau mau mahkluk rendahan?"
"Tenangkan dirimu dulu yang mulia. Aku disini tidak bermaksud jahat malahan aku ingin membantu anda."
"Membantuku?"
"Iya. Aku sudah tahu kalau sebenarnya Rin atau Keyla ini cuman anak angkat yang digunakan sebagai pengganti dirimu. Dan yang dihadapan aku ini barulah merupakan putri ketua klan Α (Alpha) yang sebenarnya, Sherina Α Morgen."
"Bagaimana bisa kau masuk ke alam bawah sadar Keyla? Tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke sini kecuali Keyla," tanya Sherina tapi ia masih dalam kondisi waspada.
"Ingat saat aku mencambuk Keyla di penjara bawah tanah kemarin? Cambukan terakhir yang tepat mengenai jantungnya bersamaan dengan itu aku mengirim kupu-kupu mimpi ini agar aku bisa masuk ke alam bawah sadarnya dan bertemu denganmu," satu kupu-kupu dengan kilau biru terbang dan hinggap di jari Sindy.
"Sebaiknya kau pergi dari sini! Sebelum aku menerkammu!" bentak Sherina.
Sindy hanya tersenyum. "Aku sungguh kasihan padamu. Kau seorang putri dari klan manusia serigala tertua yang perna ada tapi kau mala terjebak di alam bawah sadar seorang manusia yang rapuh. Apa kau tidak merasa kesepian?"
Sherina tidak menjawab namun pandangan matanya meredup pada Sindy. Jika dikatakan kesepian, Sherina memang merasakan itu. Sindy yang melihat targetnya mulai terhasut menambah kabut sihir di sekitar mereka agar ia semakin bisa membuat targetnya itu mau menuruti semua yang ia inginkan.
"Lihatlah Keyla. Ia sungguh bahagia di atas semua yang seharusnya menjadi milikmu. Keluarga, teman, kekuasaan, kekuatan dan rasa hormat. Kau lah yang pantas mendapat semua itu, bukan Keyla."
"Keluargaku, kekuatanku, teman-teman..."
"Iya. Dengarkan aku baik-baik. Aku dapat membantumu merebut semua yang memang milikmu sejak dari dulu," Sindy mendekati Sherina lalu berjalan memutarinya.
"Caranya?"
"Bunuh Keyla," bisik Sindy di telinga Sherina.
"Me, membunuhnya? Apa aku bisa? dan lagi..."
"Yang mulia tidak perlu khawatir. Setelah kematian Keyla, secara otomatis jiwamu akan menggantikan jiwanya dalam tubuh ini. Kau akan menjadi pemilik satu-satunya dari tubuh ini. Tapi kau harus menusuknya tepat ke jantungnya, mengerti?" Sindy memberikan sebila belati pada Sherina.
"Membunuhnya maka aku akan hidup."
"Benar sekali. Ambilah kebebasanmu."
Sherina menerima belati tersebut. Belati yang begitu mengkilap di bawah cahaya bulan purnama. "Aku bisa merasakan kehangatan keluargaku yang selama ini aku impi-impikan."
Perlahan Sindy menghilang bersamaan dengan asap hitam. Tinggallah kupu-kupu mimpi yang kembali terbang diantara bunga-bunga.
...Sudut pandang orang pertama...
...ΩΩΩΩ...
Pagi ini lagi-lagi aku tidak bisa dibuat bergerak oleh mereka. Ya, mereka. Lisa, Sofia dan Rosse benar-benar mengepungku dalam tidur mereka. Di pagi yang dingin ini kalian bertiga begitu menikmati kehangatan dari bulu ku ini. Aku masih dalam wujud serigala sampai sekarang. Bagaimana mau berubah kalau seperti ini? Ya sudahlah. Untuk hari ini kubiarkan mereka menikmati tidur nyenyak mereka. Jarang-jarang kami dapat tidur bersama seperti ini.
Sambil menunggu mereka bangun aku pergi ke alam bawah sadar ku. Ingin hati berbincang-bincang bersama Sherina tapi kenyataannya ia masih tertidur. Aku berjongkok di sampingnya dan mencoba membangunkannya tapi ia mala berbalik membelakangi ku, kemudian mengingau.
"Jangan mengganguku ibu. Aku masih mau tidur."
"Ibu? Apa ia mengirah kalau yang membangunkannya adalah ibu? Sherina... Sherina..."
Aku menggeleng pelan. Kubiarkan ia melanjutkan tidurnya. Tepat disamping aku duduk aku mendapati sebuah rangkaian bunga yang belum selesai. Kapan Sherina membuat ini? Setahuku kemarin ia seharian berada di luar alam bawah sadar dan kembali juga dalam keadaan ngantuk. Apa ia terbangun ditengah malam lalu membuat ini? Aku menggapai rangkaian bunga tersebut, memetik beberapa tangkai bunga rumput yang masih segar lalu melanjutkan rangkaian bunganya. Tinggal sedikit lagi selesai, Sofia tiba-tiba membangunkan ku. Dengan cepat aku menyelesaikannya lalu keluar dari alam bawah sadar.
Aku membuka mataku. Kulihat mereka semua sudah bangun. Yang tidak aku duga adalah disaat Lisa mengeluarkan hpnya lalu memotret kami. Dua, tiga empat gambar diambilnya dengan berbagai pose berbeda. Mereka sepertinya benar-benar menikmati diriku yang dalam wujud serigala ini. Entah mengapa aku merasa dianggap sebagai hewan peliharaan. Selesai mandi dan berpakaian, kami turun ke bawah menuju ruang makan. Aku telah merubah wujudku kembali menjadi manusia sebelum mandi tadi. Aku paling tidak suka kalau bulu serigala ku basa karna air.
"Selamat pagi semuanya," sapa kami pada mereka.
"Pagi."
"Kalian berempat akhirnya turun juga," kata bibi Marry.
Bibi Marry menghampiri putrinya lalu menggantikan Sofia mendorong kursi roda Rosse menuju meja makan. Rosse memang masih diharuskan menggunakan kursi roda sampai keadaannya benar-benar pulih sepenuhnya. Aku, Lisa dan Sofia mengambil tempat duduk kami di meja makan tersebut.
"Dimana ayah?" tanyaku begitu menyadari kalau ayah tidak ada disini.
"Ayahmu ada di ruang kerjanya," jawab ibu.
"Sepagi ini sudah di ruang kerja? Apa ayah tidak sarapan dulu?"
"Hah... Bukan hanya pagi ini. Sebenarnya ayahmu sudah semalaman ada disana."
"Apa yang dikerjakan Mr. Morgen sampai semalaman ada di ruang kerja?" tanya Mitéra.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε