My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Bertarung



"Oh... Sungguh rencana yang hebat. Kau memilih adikmu hanya untuk mengambil hiasan rambutnya agar kau bisa menyelamatkan temanmu. Tapi apa kau perna berpikir kalau aku tidak akan mungkin melepaskan kalian begitu saja? Serang mereka!" perintah orang tersebut pada para vampire.


Tiba-tiba muncul beberapa vampire dari balik pohon mengepung kami. Aku dengan siaga melindungi Lisa dan Rosse. Aku menggegam erat tangan mereka. Akan aku lakukan apapun untuk melindungi mereka. Aku mungkin masih bisa bertahan sebelum yang lain datang menolong kami.


"Mereka terlalu banyak Rin. Kau tidak akan sanggup mengalahkan mereka semua," kata Rosse.


"Iya kak. Ditambah lagi kau harus melindungi kami."


Aku menarik nafas lalu mehebuskanya melalui mulutku. "Kalian berdua pergilah ke tempat Sofia dan yang lainnya. Biar aku menghadang mereka. Akan kubuka jalan untuk kalian."


"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian!"


"Kalian tidak punya pilihahan!"


Para vampire mulai menyerang kami secara bersamaan. Aku membalas menyerang mereka sambil membuka jalan untuk Rosse dan Lisa agar dapat melarikan diri. Aku mengayunkan salah satu dari vampire itu sampai menghantam vampire lainnya. Mereka seperti bola bawling yang menggelinding menjatuhkan pin-pin bowling. Namun tak seperti pin bowling, mereka mala bangkit kembali.


"Pergilah!"


Aku mendorong mereka untuk segera pergi sebelum semua vampire itu bangkit seluruhnya. Dengan sangat engan Lisa meninggalkanku. Air mata telah memenuhi wajahnya. Aku meminta pada Rosse menarik Lisa pergi. Rosse mengganguk. Ia menarik Lisa pergi melewati kerumunan vampire itu. Aku membantu mereka menghadang beberapa vampire yang mencoba menyerang mereka. Ada perasaan lega melihat mereka berhasil melarikan diri. Aku harap mereka dapat segera bertemu dengan yang lain dan dapat kembali menolongku. Aku tidak tahu dapat bertahan berapa lama lagi melawan mereka. Aku tidak bisa menyerang mereka dalam wujud serigala. Itu akan menguras tenaga lebih cepat lagi dan aku tidak akan bisa bertahan sebelum mereka datang.


"Gunakan kekuatan!" saran Sherina dari alam bawah sadar.


"Kekuatan yang mana?" tanyaku karna suaranya yang tidak jelas.


"Kekuatan Necromancy mu."


"Bagaimana bisa aku melawan mereka dengan kekuatan Necromancy? Apa kau mau menyuruhku membangkitkan orang mati untuk melawan mereka? Tidak ada mayat di sekitar sini. AAA ! ! Kalian semua jelek!" aku menedang, memukul mereka dengan kesal. Kesal melihat wajah mereka yang hanya seperti tulang berlapis kulit itu.


"Mereka semua adalah mayat hidup. Mereka dibangkitkan sama halnya dengan menggunakan kekuatan Necromancy namun yang membangkitkan mereka adalah vampire."


"Vampire memiliki kekuatan dapat menghidupkan orang mati?" aku melompat ke atas pohon untuk istirahat sejenak. Beberapa dari mereka terlihat ikut merangkak naik ke pohon.


"Mana aku tahu. Aku cuman menyimpulkan apa yang kulihat."


"Jadi kau sendiri juga tidak tahu cara ini akan berhasil atau tidak?"


"Lebih baik dicoba dulu."


"Kalau pun mereka benar mayat yang dihidupkan oleh vampire lain, itu berarti mereka merupakan boneka vampire tersebut," aku melompat kembali turun di saat tangan mereka hendak menyentuh kaki ku. Hal itu membuat usaha mereka sia-sia. "Bagaimana caranya aku merebut bonekanya?"


"Konsentrasi pada jiwa mereka. Buat mereka mengakuimu sebagia tuan mereka."


"Hah... Mari kita coba."


Aku menutup mataku mencoba berkonsentrasi pada setiap jiwa yang terperangkap dalam wadah yang rapuh. Hal ini seperti menarik putus kendali dari benang boneka dan mengambil alih kendali tersebut. Tidak aku sangkan merebut kendali sangatlah sulit. Jiwa mereka tidak bisa aku gapai. Tapi aku terus mencobanya walau itu hampir tak mungkin.


"Apa yang dilakukannya? Apa kini ia tidak sanggup lagi melawan sampai pasrah begitu saja menerima ajal? Sungguh tidak menarik. Tapi setidaknya aku bisa melihat Rin dicabik-cabik oleh mereka. Terimalah takdirmu Rin."


"Berhasil!"


Aku dengan cepat membuka mataku disaat aku baru sadar jari dari vampire yang berada di depan sekali sesenti lagi dari mataku. Aku sedikit tersentak melihatnya. Vampire itu menurunkan tangannya lalu berbalik menyerang rekannya yang lain.


"Setidaknya berhasil dan aku mendapat bantuan menyerang mereka."


"Apa?! Kenapa satu boneka itu tidak menyerangnya dan mala membantunya? Apa yang dilakukannya barusan?"


Aku kembali menyerang mereka lagi. Kupungut hiasan rambut milik Lisa tadi untuk ku gunakan sebagai senjata. Walau sekarang aku mendapat bantuan biarpun itu cuman satu vampire setidaknya lebih baik dari pada tidak sama sekali. Aku sudah merasa kelelahan melawan mereka. Dengan nafas terengah-engah aku tetap berusaha melawan. Tapi dengan jumlah mereka yang mencapai belasan dan tenagaku yang hampir menipis, aku semakin sering terkena serangan mereka. Hal itu menyebabkan aku mendapatkan luka di sebagian tubuhku. Luka yang tidak terlalu besar dan fatal tapi mengeluarkan darah. Begitu mereka mencium bau darahku mereka semakin hilang kendali dan menyerang dengan membabi buta. Ini gawat. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Untuk menahan diriku tetap tagak saja kaki ku sudah gemetar. Aku hanya mundur selangkah begitu melihat mereka berlari ke arahku. Apa ini akhirnya. Maaf Mia, aku...


Tiba-tiba muncul seekor serigala coklat di hadapanku. Itu membuatku terkejut sampai terduduk jatuh ke tanah. Serigala itu mengeram ganas lalu menyerang para vampire tersebut. Pertarungan mereka cukup sengit. Setiap ayunan cakar dan tendangan dilakukan serigala tersebut untuk melawan mereka. Kuperhatikan serigala ini, apa ia paman Fang yang datang menolongku? Tidak. Ia tidak terlihat seperti paman Fang. Walau aku belum perna melihat paman Fang dalam wujud serigala nya tapi aku yakin kalau serigala ini bukanlah dia. Lalu siapa?


"Kau tidak apa-apa?" tanya serigala itu begitu ia menghampiriku.


Tanpa sadar aku berusaha mundur. "Tidak. Menjauh lah dariku."


"Jangan takut Rin. Ini aku," Serigala tersebut merubah wujudnya.


Aku tersentak begitu tahu siapa dia. "Perchye?!" ternyata serigala coklat itu adalah Perchye, tapi bagaimana bisa ia ada disini?


"Iya, ini aku," Perchye mengulurkan tangannya membantuku berdiri. "Maaf membuatmu takut."


"Tidak. Aku tidak takut cuman keget saja," aku memalingkan muka tampa berani menatapnya. Aku bahkan tidak menerima uluran tangannya. Aku masih ingin duduk sebentar.


"Hah..." ia berjonkok di depanku. "Kau terluka."


"Cuman luka kecil. Dari mana kau tahu aku ada disini?"


"Liburan akhir pekan. Kebetulan aku lewat sini dan mendengar suara geraman dari arah hutan. Sebab itu aku masuk ke dalam hutan untuk mencari tahu," jelas Perchye"


"Kau bisa berdiri?"


"Tidak."


Aku sedikit malu mengatakan ini. Kaki ku sebenarnya mati rasa akibat kelelahan. Aku tak sanggup berdiri ataupun berjalan. Perchye hendak mengakatkanku, membopongnya dalam pelukannya, sebelum...


"Rin!"


Panggil seseorang yang muncul dari arah belakang Perchye. Dari suaranya aku tahu dia adalah Onoval. Begitu kulihat ternyata memang benar dia. Gawat! Kenapa mereka berdua mala bertemu disini?


.


.


.


.


.


.


ξκύαε