My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Latihan



Ha... Akhirnya pulang juga. Seharian aku sedikit kesulitan menyembunyikan burung hantu ini dari guru. Beberapa kali aku hampir saja ketahuan. Kebijakan sekolah melarang muritnya untuk membawa hewan peliharaan. Sesampainya dirumah aku meletakan burung hantu ini disudut ruangan. Ada hiasan dari ranting kayu yang cocok untuknya bertengger. Sebelum pulang tadi, aku menyempatkan diri pergi ke dokter hewan untuk mengobati luka-luka pada burung hantu ini. Aku berencana melepaskannya jika ia sudah sembuh nanti.


"Sekarang ini rumahmu sementara," aku mengelus lembut kepala burung hantu ini. Ia tidak menolak ku, mala sangat menyukainya. "Sebaiknya aku memberimu nama terlebih dulu. Siapa ya?..." aku memikirkan beberapa nama kecil untuknya.


"Bulumu putih seperti salju... Bagaimana kalau Angel?" tanyaku padanya. Ia tidak menjawab. Tentu saja, diakan burung hantu. Ia hanya menatapku dengan mata khasnya. "Aku anggap jawabannya iya. Sekarang namamu adalah Angel. Vererossa Angela Morgen."


Setelah memberi nama lucu pada burung hantu ini, aku pergi ke loteng hanya untuk menikmati suasana sore hari. Kulihat Mia sedang asik bermain dihalaman. Ada paman dan bibi juga yang menjaganya. Aku segerah turun bermaksud menghampiri mereka. Siapa sangka ternyata ayah dan ibu juga ada disana sambil menikmati secangkir kopi.


"Ternyata kalian semua ada disini. Pantesan sepih sekali."


"Rin kau sudah pulang?" sapa ibuku ketika menoleh.


"Baru saja."


"Aku rasa ini waktu yang tepat," kata ayahku, membuatku menaikan sebelah alis.


"Biar aku saja. Aku sangat ahli dalam urusan ini," bibi Emely mengajukan dirinya untuk urusan yang tidak aku ketahui.


"Urusan apa?" tanyaku yang sendari tadi bingung.


"Emely akan melatihmu mengendalikan kemampuan manusia serigala," jelas ayah.


"Ha...? Latihan?" aku paling benci proses latihan. "Em... Bisa... Bisa lain kali saja," aku berusaha menolak.


"Tidak. Harus latihan sekarang," tegas ayahku.


"Bukankah kau ingin bisa mengendalikan kemampuan mu?" tanya ibu.


"Iya aku ingin, tapi..." aku memalingkan muka tidak menatap mereka. Sebenarnya ada keraguan dihatiku, aku masih tidak percaya kalau aku adalah manusia serigala. "Bisa tidak kalau kita latihan saat ingatanku sudah pulih sepenuhnya?"


"Jangan banyak alasan. Kita latihan sekarang," bibi Emely menarik ku ketengah lapangan.


Aku tidak bisa menolaknya, tarikan bibi Emely kuat sekali. Aku hampir terjungkal karnanya. Apa ini kekuatan Manusia serigala senior? Aku hanya terdiam dengan wajah cemberut, tangan ku silangkan di dada. Aku sangat tidak suka latihan. Menurutku latihan itu adalah hal yang paling membosankan, terutama penjelasannya yang panjang lebar membuatku tidak mengerti.


"Rin ada apa denganmu? Itu wajah atau jeruk nipis, masam sekali," tanya bibi.


"Aku benci latihan," jawabku dengan ekspresi tidak berubah.


"Sherina, Sherina," Bibi menggelengkan kepalanya sambil mendekat dua langka ke arahku. "Apa kau tahu? Jika kau ingin melakukan perubahan menurut kehendak hatimu dan otak kecilmu itu," ia menunjuk ke dadaku dan beralih ke dahiku dan sedikit mendorongnya. "Perubahan mu harus sudah pada tahap sempurna..."


Mendengar itu membuatku gembira. Aku lansung memotong perkataan bibi. "O, kalau begitu latihannya dibatakan. Aku tidak tahu tahapan perubahan ku sudah sampai mana? Yang pasti belum sampai pada tahap sempurna," aku berbalik hendak pergi tapi bibi Emely berhasil menahan krah bajuku.


"Kau mau kemana? Aku belum selesai."


"Em...!!" aku tidak bisa lari. Wajahku kembali cemberut.


"Tapi bisa juga kalau tahapanmu tinggal satu atau dua kali lagi untuk sampai sempurna. Perkiraan ku kau sudah pada tahapan keempat. Jadi kita bisa latihan."


"Sepertinya aku terjebak disini."


"Ok, kita mulai. Hal yang pertama harus kau lakukan untuk bisa melakukan perubahan mu adalah fokus. Pejamkan matamu, fokuskan dirimu pada wujud serigala. Rasakan aliran darah panas mengali ke seluruh tubumu..." oceh bibi Emely tidak aku dengar.


Pikiranku melayang kembali ke masa disaat aku bersama Perchye. Seandainya paman Fang datang sedikit lebih lambat. Apa mungkin Perchye dan aku... Ah... Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku perna membaca novel tentang cinta dan terdapat adenga ciuman. Apa benar, orang yang saling mencintai satu sama lain jika mereka melakukan ciuman akan terasa manis dibibir? Kalau aku dan Perchye melakukan ini... Apa aku bisa tahu kalau ia benar-benar menyukaimu? Atau agar aku tidak ragu dengan perasaanku?


"Rin," panggil bibi Emely, tapi aku masih hanyut dalam lamunan.


"Sherina!" bibi Emely sedikit meninggikan suaranya. Belum cukup mempan menyadarkan ku.


"Morgen ! ! !" pekik bibi Emely memecahkan telinga.


"Ha? Apa?" aku merasa tuli sesaat.


"Kau dengar tidak apa yang aku katakan?"


"Tidak?" suara bibi Emely terdengar sepeti dengungan lebah. Aku menggosok-gosok kedua telingaku untuk memuliakan pendengaran ku. Setelah agak mendingan, aku bertanya kembali apa yang bibi barusan katakan.


"Kau benar-benar tidak mendengarkan ku? Sendari tadi kau hanya tersenyum-senyum dengan bodohnya. Memang apa yang kau pikirkan?"


"Ah?! Tidak... Tidak ada yang aku pikirkan," aku memalingkan pandang. Aku harap bibi tidak tahu apa yang aku pikirkan.


"Kalau begitu, lakukan perubahan mu."


"Ha...? Tapi bibi, aku tidak bisa."


"Bagaimana kau menyerang Sofia di kafe waktu itu?"


"Itu... Aku tidak sengaja. Dia memancing emosiku," kataku pelan. Mengingat hal itu membuatku jengkel.


"Emosi ya. Em..." bibi berpikir sebentar. "Aku juga perna dengar kalau emosi bisa mengaktifkan perubahan seseorang tampa sengaja. Itulah mengapa pengendalian emosi juga sangat penting dalam latihan ini. Bagaimana caranya aku membuatmu kesal?"


"Aku sudah kesal sendari tadi," kataku sambil menatap tajam bibi Emely.


"Oh... Benarkah. Kenapa kau tersenyum saat aku menjelaskan tadi? Apa kau memikirkan pacarmu?" lirik bibi Emely sangat dekat padaku. Ia menusuk-nusuk pipiku menggunakan telunjuknya dan mulai menggodaku.


"Ha...?" apa bibi tahu?


"Wajahmu sudah merah tuh, sepertinya tebakan ku benar."


"Aku rasa belum cukup."


"Bagaimana kalau kami bantu," ibu berjalan mendekat ke arahku dan bibi Emely.


"Kami?" kataku dan bibi Emely hampir berbarengan.


"Lama tidak berjumpa Rin!"


"...!!" aku terkejut dengan kemunculan Liz yang tiba-tiba muncul dari kakiku dan melesat cepat keatas. Aku jatuh terduduk karnanya. "Liz...!!!"


"Hihihi..." ia hanya terkekeh melihatku.


"Liz tidak berubah sama sekali," ucap bibi Emely ketika melihatku. Tentu ia tidak bisa melihat Liz.


"Mereka selalu bertengkar saat bertemu, walau akhirnya Rin sendiri yang mengalah."


"Hei Rin, kehilangan sesuatu?" Liz menunjukan jam tanganku yang melayang ditelapak tangannya.


"Ha! Sejak kapan jamku ada di tanganmu? Kembalikan itu!" aku mengejar Liz yang melayang kabur kesana kemari.


"Cobalah tangkap," sempat-sempatnya ia mengejekku.


Sementara itu, ditempat lain. Derek dan Alan hanya memperhatikan mereka dari jauh.


"Kenapa latihan Rin berbeda dari latihan manusia serigala muda pada umumnya? Ia terlihat seperti mengejar lalat," ucap Alan yang memperhatikan pengejar lalat tersebut.


"Emely punya cara tersendiri," Derek menghirup kopinya dengan nikmat. "Bagaiman perkembangan saat ini?"


"Perkembangan apa? Perusahan atau klan?"


"Dua-duanya."


"Kalau perusahan, berkat kerja sama dengan perusahan keluarga Anderson kita mendapatkan keuntungan berkali-kali lipat. Dan juga pembangunan hotel di kawasan baru, sudah sampai 90%," jelas Alan.


"Aku tidak tahu alasan mengapa keluarga Anderson tiba-tiba ngotot ingin berkerja sama dengan kita."


"Apa pentinya itu? Lagi pula keluarga Anderson tidak ada niat jahat. Kita juga diuntungkan dalam kerjasama ini."


"Ha... Sudahlah. Bagaimana dengan pelatihan manusia serigala muda?" tanya Derek mengalikan pembicaraan.


"Latihan berjalan sangat lancar. Ada 5 perserta yang siap untuk mendapatkan tanda mereka bulan ini."


"Cukup banyak dari bulan sebelumnya yang hanya dua orang."


"Itu masih belum seberapa. Bulan Oktober nanti kemungkinan ada 17 perserta yang siap mendapatkan tanda klan mereka." hening sebentar lalu Alan melanjutkan. "Kenapa Rin tidak ikut saja dalam pelatihan manusia serigala muda?"


"Kasus Rin sedikit berbeda dari manusia serigala muda lainnya."


"Kalau soal ia tidak mampu mengendalikan kekuatannya. Bukankah itu biasa?"


"Aku tahu, cuman... Kenapa Rin tidak ingat saat ia mengalami tahapan perubahan?"


"Mungkin dia sengaja tidak ingin memberitahu. Lagi pula ia kan hilang ingatan."


"Tapi Seorang manusia serigala muda tidak bisa menyembunyikan identitasnya dari manusia serigala lain, terutama pada klan sendiri. Terlebih lagi aku ini ayahnya, kenapa aku tidak tahu?"


"Mungkin kau sudah tua dan kemampuan mu menurun," celoteh Alan minta dipukul.


"Umurku lebih mudah dua tahun darimu," Derak melirik tajam pada adik iparnya itu.


"Becanda. Tapi sedikit aneh juga sih."


"Maka dari itu aku tidak menyuruhnya ikut latihan manusia serigala muda. Aku merasa ada hal yang janggal antara ia dalam wujud serigala dengan ia berwujud manusia. Seolah-olah mereka adalah dua orang yang berbeda."


"Itu hanya perasaanmu, Rin tetap Rin dalam wujud apapun," tiba-tiba raut wajah Alan berubah serius. "Oh, iya. Mata-mata yang berhasil menyusup sudah tertangkap."


"Benarkah! Kerja bagus."


"Kita bisa menginterogasinya malam ini. Saatnya bersenang-senang."


"Aku punya pirasat buruk kalau kejadian 20 tahun lalu akan terulang kembali."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε