My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Ruang kerja Rahasia



"Ffuut... Hahaha......."


Tawa mereka bersamaan membuatku sangat malu. Aku memalingkan wajahku yang merah. Aah... Bisa-bisa aku terjatuh terjungkal menimpah ayah karna ngantuk.


"Hihi... Kalau ngantuk sebaiknya pergi tidur. Mari Mitéra antar ke kamarmu," Mitéra mengulurkan tangannya membantuku berdiri.


"Tapi Mitéra... Aku mau mencari obat penawar untuk ibu. Aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak jika mengetahui kondisi Ibu seperti ini," tatapku sedih pada ibu begitu aku mengingatnya.


"Jangan khawatir Miss. Morgen. Saya akan berusaha menemukan obat penawarnya. Mrs. Morgen telah kuberi obat lain yang memungkinkan memperlambat penyebaran racun tersebut kurang lebih sebulan," kata Mr. Guttman.


"Sebulan. Jadi masa hidup ibu cuman tinggal sebulan. Apa waktu segitu cukup untuk mendapatkan penawar racunnya?"


"Kita hanya bisa berharap dan mencoba. Andai ruang kerja rahasia Mr. Morgen terdahulu ditemukan. Saya ingat Mrs. Abigail Morgen perna meneliti racun tersebut di ruang kerja rahasia itu. Semua catatan penelitian itu pasti masih tersimpan disana. Itu akan sangat membantuku. Saya bisa melanjutkan penelitiannya dan mempercepat kemungkinan menemukan obat penawar racun tersebut."


"Kami sudah melakukan pencarian, tapi sampai sekarang belum ditemukan ruang kerja rahasia itu," ujar paman Alan.


"Bahkan Mr. Li saja tidak tahu letak ruang kerja rahasia ini," kata ayah sambil berpikir.


"Cuman ibu dan ayah yang tahu tempat itu. Untuk keamanan memang tidak perna di bocorkan pada orang lain tanpa terkecuali," jelas bibi Emely.


"Padahal katanya ruangan itu memiliki tiga pintu masuk tapi kenapa begitu sulit mencarinya. Satu pintu pun tidak perna ditemukan," terlihat ayah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Bukan tiga melainkan dua, yang satunya hanya bisa di peruntukan untuk keluar," kataku membuat mereka semua menoleh padaku.


"Apa maksudmu kau pernah kesana, Rin?" tanya ayah.


"Iya, tampa sengaja. Aku menemukan pintu rahasia di perpustakaan. Ruangan itu di penuhi mumi serangan. Ada pintu masuk lain dari ruang kerja ayah dan satu pintu terakhir menuju loteng," jelas ku.


"Aku ingat dulu ayah memang suka mengoleksi mumi serangga tapi aku tidak perna tahu ayah menyembunyikannya," ujar bibi Emely.


"Kita bisa pastikan itu dulu," saran Mr. Guttman.


"Rin, bisa tunjukan jalannya?"


"Iya."


Aku, ayah dan Mr. Guttman pergi ke ruang kerja ayah. Aku menunjukan pintu masuk ke ruang rahasia itu yang tersembunyi di balik lemari. Ayah sungguh tidak percaya kalau letak pintu masuk yang di carinya selama ini ternyata ada di ruangan yang selalu ia datangi. Tapi anehnya begitu ayah menggeser lemari itu untuk membuka pintu, lemari tersebut tidak bergerak sedikitpun. Mr. Guttman ikut membantu namun tetap saja tidak terbuka.


"Apa kau yakin Rin pintu masuknya ada di balik lemari ini? Kenapa tidak bisa dibuka sama sekali," kata ayah mulai ragu kalau lemari itu adalah sebuah pintu masuk ke ruang kerja rahasia.


"Iya, aku sangat yakin sekali pintunya ada disini," kataku berusaha menyakinkan mereka.


"Bagaimana dengan jalan masuk yang ada di perpustakaan?" tanya Mr. Guttman.


"Aku tak yakin dapat di buka. Ada tombol pemicunya agar bisa dibuka dan aku tidak tahu itu. Aku masuk kesana karna tidak di sengajaan," jelas ku.


"Lalu pintu yang terhubung ke loteng kau bilang cuman bisa digunakan untuk keluar, tidak bisa digunakan sebagai jalan masuk. Percuma ada banyak pintu jika salah satunya tidak bisa di buka sama sekali! Bahkan di dobrak saja tidak bisa!" ayah menendang lemari itu karna kesal.


Tanpa diduga pintu tersebut langsung terbuka dengan sendirinya. Kami bertiga kebingungan dan terkejut atas apa yang terjadi. Kenapa bisa begini? Saat ayah dan Mr. Guttman mencoba membukanya secara bersamaan, pintu ini tidak bergeser sama sekali, tapi ketika aku membukanya sangatlah mudah. Apa pintu ini ada fitur mengenali orang? Hanya orang tertentu yang bisa membukanya.


"Pintu masuk ruang kerja ini pasti dirancang hanya bisa dibuka oleh orang-orang terpilih. Dan ia memilihmu Rin. Hanya kau yang bisa membukanya dan keluar masuk secara bebas di ruang kerja ini. Pantas saja ruang kerja ini sangat sulit ditemukan. Walau tahu letak pintunya, tapi tidak sembarang orang bisa membukanya," kata ayah menyimpulkan.


"Itu berarti saya tidak akan bisa bebas begitu saja masuk ke ruangan ini untuk melakukan penelitian. Ya sudah, kalau begitu saya hanya perlu mengambil beberapa berkas hasil penelitian Mrs. Abigail Morgen. Jika ada keperluan lain atau ada barang yang tertinggal, apa boleh saya meminta bantuan mu Miss. Morgen?"


"Jangan sungkan Mr. Guttman."


Kami bertiga masuk ke ruang tersebut. Seperti terakhir kali aku kesini tempat ini tidak berubah sama sekali. Bahkan jejak kaki yang aku tinggalkan di atas lantai berdebu masih ada disana. Aku tidak mengikuti ayah dan Mr. Guttman ke lantai atas mengambil berkas yang di perlukan. Aku sibuk berkeliling memperhatikan setiap mumi serangga dan mumi bayi itu yang masih membuatku penasaran. Aku meletakan telapak tanganku di kaca lemari tepat pada mumi bayi itu tersimpan. Kuperhatikan terus wajah mumi bayi tersebut. Sungguh benar-benar terlihat masih hidup dan bahkan seperti bernyawa. Lalu tiba-tiba aku merasa mumi bayi itu membuka mata. Mata biru terang menatapku membuatku kaget dan berteriak sampai jatuh terduduk.


"AAAA!!"


"Ada apa Rin?" tanya ayah khawatir begitu mendengar teriakanku.


Kulihat ayah berdiri di pinggir pagar pembatas lantai dua. "Tidak apa-apa. A, ada kecoak tadi. Mungkin tempat ini sudah lama tidak dibersihkan. Jadi ada beberapa serangan yang membuatku kaget," bohong ku.


"Hah... Ayah kira ada apa. Bisa kau ke atas sini?"


"Iya."


Aku berdiri kemudian mengibas-ngibaskan pakaianku dari debu lalu berlari menuju tangga penghubung lantai atas dan bawah. Aku sempat melirik kembali mumi bayi itu yang kelihatanya tidak bergerak sama sekali dan matanya kembali terpejam. Apa tadi itu cuman halusinasiku saja? Tapi itu sangat jelas mumi bayi itu baru saja membuka matanya. Mata biru terang itu tidak mau hilang dari pikiranku. Aku mencoba melupakannya dengan bergegas menghampiri ayah dan Mr. Guttman.


"Ada apa ayah?" tanyaku begitu menghampiri mereka.


"Apa kau bisa membuka lemari ini? Ayah rasa cuman kau saja yang bisa membukanya, sama halnya dengan pintu tadi. Kami sudah berusaha mencari kuncinya namun tidak ketemu."


"Baiklah."


Aku mencoba membuka lemari itu dan benar saja seperti yang ayah pikirkan. Pintu lemari itu dengan mudah terbuka seolah-olah tidak terkunci sama sekali. Terdapat berbagai buku tersusun rapi dan sangat terawat. Hampir seluruh buku itu adalah buku tua berusia puluhan sampai ratusan tahun. Aku harap dari semua buku ini Mr. Guttman dapat menemukan obat penawar untuk ibu.


Selesai mengambil barang yang di perlukan, kami bertiga keluar dari ruang kerja tersebut. Tapi sebelum itu aku sempat mempertanyakan pada ayah tentang mumi bayi yang tersimpan dalam tabung kaca. Saat pertama kali melihatnya ayah juga merasa bayi itu seolah-olah masih hidup, tapi Mr. Guttman menekankan itu tidak mungkin. Mustahil bagi bayi manusia masih dapat hidup dalam tabung berisi cairan yang tidak ada udara sedikitpun. Bayi itu hanya terawetkan dengan sangat baik saja. Lalu yang kulihat barusan itu apa? Aku masih sedikit ragu kalau itu hanya halusinasi belakang.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε