
"Menjauh lah dariku ! ! !" teriakku.
Aku menggunakan seluruh kekuatanku yang aku kumpulkan sebelumnya untuk memutuskan ikatan ini. Hal hasil tali yang melilit pergelangan tanganku putus seketika. Aku mengambil kesempatan menendang tangan Rian sampai membuat belati itu terbang jauh. Melihat ikatanku lepas mereka sangat terkejut. Aku mencoba mengatur nafasku agar tidak terlalu terbawa emosi. Aku tidak mau berubah disini. Melihat Rian yang kesakitan akibat aku menendang tangannya tadi, Aku mengambil kesempatan ini untuk lari menuju pintu keluar.
"Tobi, jangan biarkan dia lolos!!" perintah kak Cia. Ia memeluk erat Hanna menjauh ke sudut.
"Jangan mencoba melawan anjing manis," tidak disangkah Tobi sudah berdiri di depan pintu. Ekspresi wajahnya persis sama seperti preman di gang malam itu.
"Tobi aku tidak mau menyakitimu," tampa sadar aku mundur perlahan. Aku tidak mau menyakiti mereka, mengingat mereka perna baik padaku. Walah aku tahu semua itu adalah tipuan mereka semata.
"Menyakitiku? Kau hanya seorang gadis kecil. Tapi, sewaktu pertama kali kita bertemu aku ingin sekali bertarung denganmu. Jadi tunjukkanlah kehebatan mu wahai gadis serigala."
Secara tiba-tiba Tobi langsung menyerang dengan kekuatan penuh. Aku berusaha menghindar dan sesekali menangkis serangannya. Kemampuan Tobi sangat hebat. Ia dapat menandingi kekuatanku. Walau aku hanya menggunakan sebagian kekuatanku untuk menyerangnya, namun jika pertarungan ini terus berlanjut... Ia bisa saja mencurigaiku sebagai manusia serigala sebenarnya. Ia adalah seniman bela diri yang terbilang sangat hebat diseusianya. Sebagai seniman bela diri ia pasti tahu kalau aku tidak perna belajar seni bela diri manapun. Ini akan terlihat aneh jika aku bisa bertahan atau bahkan dapat mengalahkannya. Aku harus cepat mengambil kesempatan pergi dari sini sebelum ia berpikir demikian.
"Kau cukup hebat Rin. Tapi, apa hanya ini kemampuan dari seorang manusia serigala? Lemah!"
"Apa!!! Asal kau tahu, aku bisa saja membuatmu lumpuh secara permanen dalam sekali tendangan!!" bentakku benar-benar marah setelah mendengar ejekan itu.
Tit... Tit... Tit...
Aku tersentak sadar ketika mendengar jamku berbunyi. Gawat, aku benar-benar tidak dapat menahan emosiku. Ada apa ini? Kenapa malam ini aku mudah sekali terpancing emosi? Tidak seperti biasanya. Beberapa kata yang menjengkelkan saja sudah membuat darahku naik sampai ke ubun-ubun. Aku menutup jam tanganku mengunakan tangan kanan agar mereka tidak mendengarnya. Aku menarik nafas pendek dan segera menghembuskannya. Aku mengulanginya terus untuk menenangkan diriku. Aku kembali melirik pintu keluar yang kini berjarak dua meja makan.
"Tobi, butuh bantuan?" tanya Rian yang ada disisi lain ruangan. Disampingnya ada Rosse, kak Cia dan juga Hanna, mereka asik menonton pertarungan kami.
"Tidak perlu. Apa kau sudah kelelahan anjing kecil? Nafasmu terdengar berat sekali."
Aku tidak menjawab. Aku harus segera mengakhiri ini. Tobi berjalan mendekat dan mulai menyerang lagi. Tampa sadar aku tersenyum tipis. Aku menangkis kepalan tinjunya tapi berbalik mencengkram tangannya. Aku memutar tubuhku lalu membanting Tobi ketumpukan meja dan kursi.
"Aarrgh...!!" suara tersebut terdengar jelas diselah-selah suara hantaman keras itu.
"Uuu..." aku memejamkan sebelah mataku ketika melihatnya terbaring disana. Aku pasti terlalu berlebihan membantingnya.
"Tobi!" pekik mereka sambil menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya kak Cia. Ia membantu Tobi berdiri.
"Aku tidak apa-apa. Aduuh... Punggungku," rintih Tobi kesakitan
"Maaf Tobi, kau yang memaksaku melakukannya."
Karna hantaman Tobi ke kursi dan meja tadi membuat tirai yang menetupi kaca jendela jatuh berserta besi penyangganya. Cahaya lembut masuk melalui kaca tersebut membuatku menatap keluar. Terlihatlah pemandangan malam bulan purnama. Bulan berbentuk bulat sempurna begitu indah memikat. Cahayanya tepat menyinari tubuhku serasa memberi energi tambahan. Aku melihat telapak tanganku yang terkena cahaya bulan. Pantas saja malam ini aku kesulitan mengatur emosiku dan jamku cepat sekali berbunyi. Pada saat malam bulan purnama, kemampuan kami, bangsa manusia serigala akan meningkat dua kali lipat dari biasanya.
"Bahaya! Bahaya! Rin terkena cahaya bulan. Ia akan segera berubah menjadi manusia serigala," celoteh Rian membuatku kesal.
"Ada apa dengan wajahmu itu? Apa kau marah padaku? Ayok sini, pukul aku jika kau berani," ejeknya padaku sambil menunjuk-nujuk pipinya.
Aku sudah tidak tahan lagi. "Rian ! ! ! Aku harap kau tidak menyesal karna telah memprovokasi ku!!"
Dengan cepat aku mendekati Rian lalu kemudian menarik krah bajunya dan hendak memukul wajahnya. Aku tidak peduli lagi dengan suara jamku yang terus berbunyi. Anehnya setelah melihat amaraku memuncak, bukannya menghindar ataupun menyerang balik Rian cuman tersenyum padaku. Tiba-tiba confetti ia luncurkan ke arahku. Suara ledakan confetti tersebut membuatku sangat terkejut bercampur bingung. Perasaanku ling-lung atas apa yang terjadi. Sangking terkejutnya aku merasa jantungku berhenti berdetak sebentar, dan itu ditandai dengan jamku yang berhenti seketika.
"Kejutan!!" Teriak mereka serempak.
Bersamaan dengan itu lampu dinyalakan. Terlihat beberapa balon penuh warna dijatukan berserta pita warna-warni. Mungkin karna terlalu panik sebelumnya, aku tidak terlalu memperhatikan sekeliling yang ternyata sudah dihias sedemikian rupa. Andai aku lebih tenang dan malam ini bukan bulan purnama, kejadian tadi tidak akan terjadi. Aku tidak akan membanting Tobi sampai seperti itu. Dan juga, pasti rencana mereka mengerjaiku akan gagal. Aku masih tercengang dan berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Apa... Aku... Aku masih tidak mengerti?" aku melepaskan krah baju Rian yang membuatnya jatuh ke lantai.
"Aa... Aduh! Kau kasar sekali Rin," rintihnya yang tidak aku pedulikan.
"Ini adalah pesta," kata kak Cia menjelaskan.
"Untuk menyambutmu," sambung Tobi dengan lemasnya. Ia duduk bersandar di kursi. Punggungnya pasti masi sakit.
"Menyambut ku?"
Kaki ku tiba-tiba terasa lemas, tak sanggup lagi menahan berat badanku. Aku terduduk lesuh dengan kedua tangan ku gunakan sebagai penopang. Melihat itu, kak Cia hendak membantuku namun aku memberi isyarat untuk tidak membantu. Aku kembali mengatur nafasku yang kini terasa sesak di dada. Hampir... Hampir saja aku berubah disini. Jika itu sampai terjadi, aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Beberapa menit lamanya aku menstabilkan diriku. Aku merasa seperti di dalam ruang pengap tampa udarah. Sulit sekali bernafas disini. Dadaku terasa sakit sekali, aku mencengkram kuat bajuku menahannya. Untung semua itu telah berlalu. Serasa mulai membaik, aku mencoba untuk berdiri. Aku sedikit kehilangan keseimbangan, beruntung Rian dengan singap menolongku.
"Kau tidak apa-apa Rin? Wajahmu pucat sekali dan kau juga berkeringat," tanyanya penuh kekhawatiran ketika ia menatapku.
"Tidak. Aku tidak apa-apa," aku menarik nafas panjang menahannya sebentar di paru-paruku, lalu menghebuskannya secara perlahan. Baru setelah itu aku bertanya pada mereka. "Jadi bisa kalian jelaskan... Apa maksud dari pesta penyambutan ini?!!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε