My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Penyerangan



"Iya. Aku siap," seketika aku langsung berdiri.


"Bagus. Ikut ayah dan ibu ke aula di bangunan sebelah."


Aku mengikuti ayah dan ibu ke bangunan yang tidak perna aku masuki itu. Ini pertama kalinya bagiku dan aku sangat penasaran seperti apa di dalamnya. Selama perjalanan menuju bangunan itu aku mendapati keadaan kediaman ini sangat sepih sekali, dan kami berjalan kesana seperti mengendap-endap seperti takut di ketahui oleh orang lain. Aku tidak terlalu memesingkan itu. Memang wajar kalau identitas ku dirahasiakan dari semua orang kecuali keluargaku dan beberapa orang terdekat.


Acara pemberian tanda klan pada manusia serigala junior biasanya dilakukan sebulan sekali tepat pada malam purnama sempurna. Semua orang yang bersangkutan akan hadir dalam acara tersebut. Aku kurang tahu pasti apa saja yang dilakukan selama acara karna aku tidak pernah menghadiri nya. Cuman manusia serigala dari klan sendiri yang di perbolehkan menyaksikan pemberian tanda klan tersebut. Aku mulai gugup akan hal ini.


Sampai di bangunan khusus untuk keperluan klan Α (Alpha). Aku berdecak kagum. Aula yang begitu luas dengan deretan kursi mewah di kiri dan kanan. Karpet merah luas membentang menyambut setiap orang yang menginjakan kakinya di aula ini. Tepat di ujung karpet merah tersebut terdapat singgasana bak tahta kerajaan. Aku merasa seperti ingin menghadap sang raja saja, dan raja itu sebenarnya ayak sendiri. Jika ini acara pemberian tanda klan yang seperti biasanya pasti lebih menakjubkan lagi.


"Nah... Seharusnya pemberian tanda klan pada saat bulan purnama dan hari ini ayah cuman membantumu berubah saja. Tapi berhubung identitasmu di rahasiakan, ayah akan memberimu tanda klan sekarang. Sebenarnya ada beberapa kegiatan yang biasa dilakukan manusia serigala junior sebelum mendapatkan tanda klan mereka. Terlebih dahulu mereka semua akan menunjukan kehebatan mereka masing-masing. Itu seperti sebuah pertunjukan, ayah rasa kau tidak perlu melakukannya. Karna ayah tahu putri ayah sangat hebat."


Ayah berjongkok di depanku lalu meletakan dahinya ke dahiku. Kulihat ia memejamkan mata membuatku melakukan hal yang sama. Ada aliran hangat menyebar ke seluruh tubuhku. Nyaman sekali. Tiba-tiba aku mendengar ayah berbisik.


"Jiwa bersatu, perdamaian akan terwujud."


"Apa? Apa yang baru saja ayah katakan? Apa maksudnya."


Setelah mengatakan itu, ayah membuka matanya kemudian menjauhkan wajahnya dariku. Ada perasaan aneh menyelimutiku.


"Tanda di dahinya bercahaya. Apa itu buruk?" tanya ibu terlihat kebingungan.


"Aku tidak tahu. Aku rasa itu tidak apa-apa. Apa kau siap mendapat tanda klan mu dan melakukan perubahan?" tanya ayah.


"Tunggu. Tadi itu apa? Kenapa tadi ayah membisikkan sesuatu padaku?" tanyaku penasaran dengan kalimat ayah barusan.


"Itu suara takdirmu hanya kau dapat mendengarnya. Ayah bahkan tidak tahu sama sekali. Sudahlah, jangan memusingkan hal itu."


Ayah mengeluarkan belati kecil dari sakunya. Ia melukai jarinya menggunakan melati tersebut kemudian mengoleskan darahnya ke dahiku membentuk sebuah pola dan terakhir satu titik tepat di tengah-tengah dadaku segaris lurus dengan dahiku.


"Dengan darahku sebagai ayahmu. Dengan nama klanku kuturunkan pada putriku. Sherina Morgen, dengan ini kau sudah resmi menjadi bagian dari klan Α (Alpha). Tunduk dan patuh kepada leluhurmu. Hormat dan cinta kepada keluargamu. Semoga setelah ini kau...."


KLETARRR ! ! ! ! !


Suara kaca pecah menggelegar mengisi seluruh ruangan. Pecahan kaca berhamburan kemana-mana. Segerombolan serigala besar menerobos masuk aula. Ayah dengan sigap menyembunyikan diriku yang kini dipeluk ibu dari balik tubuhnya. Para serigala itu mengeram ganas pada kami, memperlihatkan taring-taring mereka yang tajam. Tatapan membunuh yang sangat kuat membuatku gemetar ketakutan. Kurang lebih ada belasan serigala berjalan berusaha mengepung kami. Firasat Sherina benar. Ada klan lain yang mau menerobos kediaman. Benar-benar tidak disangkat ternyata mereka berhasil menghancurkan pertahanan kediaman.


"Sungguh keterlaluan!!! Berani sekali kalian menerobos kediaman klan Α (Alpha)!" bentak ayah dengan tatapan tajam membunuh.


"Menyerah saja Derek. Kediamanmu sudah berhasil kami kepung. Sebenarnya aku salut padamu karna diusia yang sangat muda kau telah di angkat menjadi ketua klan kuno ini. Tapi sayangnya kau tidak cukup kuat untuk tetap mempertahankan klan mu. Klan mu akan hancur di tangan dirimu sendiri dan klan Β (Beta) kami akan menjadi satu-satunya klan kuno manusia serigala di dunia malam. Semua klan baru harus tunduk pada kami," ujar serigala yang memimpin pasukan serigala dibelakangnya.


"Jangan banyak bicara lagi. Serahkan saja kepalamu, kami akan dengan senang memberi pemakaman alah kerajaan untuk seluruh anggota keluargamu."


"Jangan harap bisa menyentuh keluargaku! GROARRR ! ! ! !"


Dengan geraman ganas, dalam sekejap ayah berubah menjadi serigala hitam besar dan langsung menyerang pemimpin mereka. Pertarungan tidak bisa terelakan lagi. Ayunan cakar, tendangan bahkan sampai gigitan dilakukan untuk menyerang. Ayah cukup kewalahan menyerang mereka yang jumlahnya sangat banyak. Tapi aku begitu kagum pada ayah. Ia bisa bertahan melindungi kami dari serangan belasan serigala itu. Ibu menarikku menjauh sambil mendekapku dalam pulukannya menyembunyikan tanda di dahiku. Ingin sekali aku membantu ayah namun pelukan ibu terlalu erat memelukku.


"Tidak aku sangka kau begitu hebat Derek. Namun jumlah kami lebih banyak!!"


Pemimpin mereka kembali menyerang namun sekali tendangan dari ayah, ia terpental jauh menghantam beberapa kursi lalu berakhir menghantam tembok. Retakan di dinding terlihat jelas membekas disana. Sebagian besar serigala lainnya begidik ngeri melihat itu.


"Grr....... Kau tidak akan tahu seberapa kuatnya diriku. Aku bahkan masih sanggup mengalahkan kalian semua sendirian biarpun kalian menambah anggota lagi dua kali lipat!" tantang ayah dengan seringai dan tatapan membunuh yang semakin kuat.


"Aku tidak percaya itu," pemimpin mereka berusaha bangkit dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Serang ia secara bersamaan!" perintahnya pada rekan-rekannya yang lain.


"Baik."


Mereka kembali menyerang secara bersamaan. Raungan kembali terdengar bersamaan dengan ayah membalas menyerang mereka. Gerakan ayah semakin cepat membuat mereka tidak diberi kesempatan membalas. Ayah tidak pernah meremehkan kata-katanya. Jika ia bilang mampu mengalahkan mereka semua maka itulah yang terjadi. Dilihat-lihat kekuatan ayah memang sangat jauh lebih besar dari manusia serigala pada umumnya. Aku baru tahu itu. Aku belum perna melihat ayah bertarung menggunakan kekuatan maksimalnya dan aku bisa merasakan kalau saat ini ayah cuman menggunakan setengah dari kekuatannya. Itu terlihat jelas dari raut wajah ayah yang masih tenang.


Pertarungan itu membuat ruang aula ini hancur berantakan. Sebagian dari mereka telah tumbang dan yang lainnya telah kehabisan tenaga. Nafas mereka terengah-engah dengan darah memenuhi sekujur tubuh mereka. Tidak seperti ayah yang masih berdiri tegap tampa luka sedikitpun.


"Apa masih mau lanjut? Akan kuhabisi kalian semua!"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε