My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Yang di tunggu-tunggu



"Selamat Nona, Archie telah memilihmu sebagai pasanganku malam ini."


"Apa?! Archie? Siapa Archie?" tanya masih ling lung sebenarnya apa yang baru saja terjadi.


Dalan persekian detik Lucas menghilang dari tempatnya dan muncul di hadapanku. "Archie merupakan nama kucing yang ada di tanganmu."


"Archie?" aku menusuk ke arah kucing yang mengeyong padaku, lalu kualihkan pandang ku ke Onoval.


"Archie," panggil Onoval yang seketika kucing di tanganku melompat ke arahnya. Kucing itu terlihat begitu manja dalam pelukan Onoval.


"Boleh aku pinjam dia sebentar adikku?" Lucas menggapai tanganku. Rasa dingin dari tangannya membuatku merinding.


"A, adik? Onoval kau, kau sang pangeran yang misterius itu?" ujar Sofia yang sangat terkejut begitu mengetahui identitas Onoval dan begitu juga yang lainnya.


Onoval hanya diam sambil melirik semua mata yang terkejut mendengarnya. Tampa memperdulikan itu, Lucas membawaku ke tempat ia sebelumnya. Onoval bergegas menyusul kami ke lantai atas. Aku tidak bisa menolak. Cengkraman tangannya kuat sekali. Kenapa hari ini begitu sial untukku. Aku melirik ke arah Sofia dan Lisa yang ada di bawah sana. Tapi dari atas sini aku jadi dapat melihat Prof. Peter yang melangkah masuk dari arah sebelah kiri. Ia terlihat terkejut ketika melihatku ada diatas bersama sang putra mahkota.


"Kemari lah adikku sayang," panggil Lucas pada Onoval.


"Kakak, aku sudah bilang jangan ekspos identitas ku ke publik. Aku masih mau berkeliling dengan bebas di kota tampa dikerumuni banyak orang," ujar Onoval sambil mendekat. Ia melirik ke bawah yang terlihat masih tidak percaya kalau Onoval yang mereka kenal merupakan sang pangeran misterius tersebut.


"Sudah sewajarnya kau mengungkapkan identitasmu dan hari ini adalah waktu yang tepat."


Em... Putra mahkota ini tidak seperti yang aku bayangkan. Ia terlihat ramah dan bersahabat, dan juga bisa dibilang menjadi kakak yang baik pada adiknya. Rasa gugupku sebelumnya perlahan-lahan menghilang. Dilihat dari dekat begini aku benar-benar sulit bisa mempercayai kalau pria yang masih menggegam tangan ku ini sudah berumur lebih dari 100 tahun. Ia jauh lebih tua dari kakekku jika kakek masih hidup. Tapi wajahnya tidak ada keriput sama sekali dan malah lebih mirip pria yang baru berumur 25 tahun an. Memang benar ternyata kalau vampire itu bisa mempertahankan wajah awet mudahnya selama ratusan tahun.


"Mari kita mulai pesta dansanya," teriak Lucas sambil mengangkat tanganku.


"Hah... Ini sungguh memalukan. Seharusnya aku tidak menggedong kucing itu," batinku. Aku menghela nafas pasta saja lah.


"Mari nona manis kita berdansa," Lucas sedikit membungkuk padaku. Tatapan matanya seolah-alah menghipnotisku.


"Sungguh kehormatan dapat berdansa bersama anda yang mulia tapi saya tidak terlalu mahir berdansa," kataku berusaha setenang mungkin.


"Ikuti saja alunan lagunya."


Lucas segera merangkul pinggangku dan mulai membawaku hanyut dalam iringan suara musik begitu terdengar. Gerakan yang dibuatnya begitu elok dan indah mengikuti setiap alunan musik. Aku dapat dengan mudah mengikuti gerakannya. Beberapa kali ia menjauhkan tubuhnya dariku lalu menariku kembali dalam pelukannya. Musik berhenti, ia mengakhiri dansa dengan mengecup punggung tanganku.


"Tidak buruk."


"Terima kasih."


"Tidak heran adikku dapat menyukaimu, kau manis sekali."


Tubuhku kembali merinding disaat ia membelai leher ku. Ia tidak akan mencoba menghisap darahku kan? Nafasku sempat tertahan sebelum ia berbalik menghampiri Onoval.


"Dia milikmu sekarang. Aku mau lihat apa persiapannya sudah selesai untuk acara kita malam ini," Lucas langsung hilang setelah mengatakan itu pada Onoval.


"Bagaimana rasanya setelah berdansa dengan kakak ku?" tanya Onoval sambil menghampiriku.


"Tenang. Kakak ku tidak akan sekejam itu," Onoval diam sebentar lalu berkata. "Mau berdansa?" ujarnya sambil membungkuk mengulurkan tanganya padaku.


"Baiklah. Satu kali saja ya," aku menerima uluran tangannya.


Onoval merangkul pinggangku, kami mulai berdansa langsung mengikuti aluanan musik. Berdansa bersama Onoval sedikit membuatku tenang. Tidak seperti berdansa bersama putra mahkota tadi yang membuatku takut kalau-kalau ia mengetahui jati diriku. Cukup lama aku dan Onoval berdansa. Ia tidak mau melepaskan rangkulan tangannya di pinggangku, satu kali, dua kali, tiga kali musik berganti sampai sesi dansa berakhir.


"Semua gadis pasti iri padamu karna dapat berdansa bersama dua pangeran sekaligus," bisik Onoval di telinga.


"Ini semua karna kucingmu itu. Kenapa ia memilih ku? Kenapa tidak orang lain saja."


"Archie cuman mau disentu oleh orang yang dikenalnya. Sebab itu ia mendekati mu."


"Aku baru sekali bertemu dengannya."


"Ia tidak perna bertemu siapapun selain orang-orang di kastil."


"Itu berati kalian sengaja menyuruh Archie untuk memilih gadis yang beruntung dapat berdansa bersama kalian. Kau dan kakak mu itu memang telah memilihku dari awal."


"Jangan salahkan aku. Aku juga tidak tahu hal ini."


Selesai acara berdansa dan jamuan makan malam, saat yang ditunggu tiba. Acara utama malam ini yaitu menyaksikan bersama gugurnya kelopak bunga terakhir dari pohon ΖΩΗ (ZOI) dan matang nya buah pohon tersebut. Lucas telah kembali entah dari mana. Tapi bersamaan dengan itu, percikan cahaya muncul di tempat yang telah tersedia melayang dihapan kami. Perlahan percikan cahaya itu membentuk sebuah pohon keperakan tampa daun dan memiliki satu buah serta satu bunga yang baru saja menggugurkan kelopak ketiga dari keseluruhan kelopak bunga yang berjumlah lima kelopak.


Tidak seperti yang kubayangkan ternyata ukuran pohon ΖΩΗ (ZOI) cukup kecil. Pohon tersebut seperti tanaman pohon bongsai. Detik-detik cahaya bulan mulai bergerak menyinari pohon ΖΩΗ (ZOI). Ini merupakan momen langkah dan sangat di tunggu-tunggu. Cahaya bulan yang terpancar melalui jendela tinggi yang terbuka. Hitung mundur di lakukan para hadirin yang ada di bawah.


"5! 4! 3! 2! 1!"


Cahaya bulan sudah berada di posisi sempurna. Kelopak keempat telah gugur di detik ke tiga. Begitu cahaya bulan mengenai kelopak bunga terakhir disaat itulah kolopanya perlahan-lahan jatuh ke tanah yang tepat di bawahnya. Dan saat ketika cuhaya bulan menyinari buah dari pohon ΖΩΗ (ZOI), buah itu seakan-akan memantulkan cahaya bulan itu sendiri. Buah yang tadinya berwarna hijau kini mulai berubah menjadi merah. Aroma yang begitu harum menyebar ke seluruh aula. Semua orang yang mencium aroma tersebut seperti terbuai dalam kenikmatan.


Setidaknya itulah yang mereka rasakan. Tapi bagiku aroma buah itu membuatku sesak nafas. Apa karna aku terlalu dekat dengan buah ini, jadi baunya dua kali lipat menyengat hidungku? Atau karna penciuman manusia serigala terlalu sensitif terhadap bau yang menyengat. Aku melirik Prof. Peter yang kulihat ia tidak terpengaruh sama sekali dengan bau buah ini.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε