My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Demam



"Kakak, Mitéra, kalian disini?"


Kalimat Mitéra terhenti disaat Lisa membuka pintu dan melangkah masuk. Ia sedikit bingung melihat ada haduk kecil di atas dahiku. Aku menurunkan tanganku melirik padanya.


"Kak, kenapa kau di kompres?"


"Lisa," aku menjauhkan handuk di dahi ku dan berusaha duduk.


"Kakakmu tiba-tiba demam," jelas Mitéra yang membantuku duduk.


"Demam? Apa mungkin karna flu kakak semakin parah yang membuat kakak demam?"


"Flu? Kau terserang flu, Keyla?"


"Iya, kemarin kakak jatuh ke kolam dan akhirnya terserang flu. Kakak cuman minum obat sekali dan makan sup hangat, setelah itu kakak bilang sudah merasa lebih baik," jelas Lisa.


"Keyla kau terlalu memaksakan dirimu. Itu bisa membuat sakit mu bertambah parah."


"Ini semua demi rencana. Aku sudah berusaha semampu ku tapi kenapa mala berakhir seperti ini?"


"Oh... Kakak sepertinya belum tahu. Sebenarnya..."


"Rin!"


Suara seorang perempuan yang memanggil namaku itu membuatku tersentak kaget. Seketika aku menoleh ke arah pintu. Mataku tertuju pada seorang wanita yang dibimbing ayah. Wajah yang tidak berani untuk aku temui kini membuatku bahagia begitu melihatnya. Bibir yang masih pucat itu tersenyum padaku dengan air mata mengalir di kedua pipinya.


"I... Ibu," sangking senangnya aku bergegas turun dari tempat tidur sampai aku baru menyadari kalau lutukku terlalu lemas untuk menopang berat badanku. Hal itu membuatku terjatuh.


"Keyla."


"Kakak."


"Rin."


Mitéra bergegas membantuku untuk duduk. "Hati-hati. Tubuhmu masih lemah."


"Kau tidak apa-apa?" ibu menghampiriku dan duduk di depanku. Dibelainya lembut wajahnya yang membuatku meneteskan air mata. "Tubuhmu panas sekali. Kau demam."


"Ibu," aku lansung memeluk ibu dengan sangat erat. Aku berharap ini bukan mimpi. Ibu benar-benar telah sembuh. Ia ada disini, dalam pelukanku. Aku tidak memperdulikan rasa sakit ku lagi. Melihatnya tersenyum saja sudah cukup bagiku. "Sherina lihat, ibu sudah sembuh. Hiks... Hiks..."


"Ternyata kau sudah bangun Cloey," kata Mitéra pada ibu.


"Kenapa kalian tidak memberitahu ku kalau mereka sudah pulang?"


"Maaf, kami tidak bermaksud tidak memberitahu mu. Kau masih harus banyak-banyak istrihat."


Dalam isak tangis itu aku menyadari kalau Sherina tidak menjawab ku. Itu membuatku khawatir. Tanpa memperdulikan sekitar ku aku langsung menuju alam bawah sadar ku.


"Sherina.....!" teriakku mencarinya disaat aku tidak melihatnya di alam bawah sadar. Tapi mungkin aku terlalu panik sampai tidak menyadari kalau ternyata ia sebenarnya sedang tertidur. Ngigauannya membuatku menunduk. "Yang benar saja kau tidak terbangun akibat teriakanku tadi."


"Bebek panggang, jus lemon."


Aku berjongkok di sampingnya lalu mengguncang tubuhnya. "Sherina bangun. Lihatlah siapa yang datang."


"Jangan mengganggu ku. Aku ingin makan es krim," bukanya bangun ia mala berbalik membelakangiku.


"Sherina....! Tidak kah kau mau bertemu ibu. Lihatlah ibu sudah sehat."


Mendengar itu membuatnya langsung membuka mata. "Benarkah? Kau tidak bohong, kan?"


"Tentu saja tidak. Makanya ayok ba...ngun."


Belum menyelesaikan kalimat ku Sherina sudah keluar dari alam bawah sadar. Dengan menggantikan rohku mengendalikan tubuh ini, Sherina seketika memeluk ibu. Tangis haru mengisi ruangan. Aku keluar dari alam bawah sadar ku. Aku sekarang dalam bentuk roh sekarang. Kubiarkan Sherina meluapkan tangis bahagiannya dalam pelukan ibu. Namun pandanganku teralihkan pada yang lain. Mereka terlihat khawatir. Ups, sepertinya akibat aku pergi ke alam bawah sadar tadi. Mereka pasti mengira aku pingsan.


"Syukurlah.... Hiks... Hiks... Syukurlah ibu akhirnya sembuh juga. Aku sangat senang, senang sekali melihat ibu sudah sembuh."


"Iya, iya sayang ibu sudah sembuh. Tapi kita periksa kondisi tubuhmu dulu, okey. Ibu khawatir. Kau sempat pingsan tadi."


"...?" mendengar itu membuat raut wajah Sherina bingung.


"Iya, Keyla. Mitéra takut kalau demam mu semakin parah."


"Tidak Sherina! Jangan!"


Aku kurang cepat memperingatkan Sherina. Ia lebih dulu menukar jiwa kami. Akibatnya jiwaku seketika ditarik masuk ke tubuhku. Karna hal ini aku di serang rasa sakit yang teramat sangat di kepalaku.


"Aw," rintihku pelan. Aku memenutup wajahku menggunakan sebelah tangan untuk menyembunyikan ekspresi ku menahan sakit.


"Kau tidak apa-apa kak?" tanya Lisa


Aku tidak jawabnya. Kepalaku terlalu sakit untuk mendengar pertanyaan tersebut. Aku sedikit mencengkram kuat dahiku. Setelah agak mendingan aku baru memberi jawaban tanpa menurunkan tanganku. "Aku baik, cuman kepalaku sedikit pusing."


["Maaf Keyla. Aku sebenarnya sedikit gugup ketika bertemu dengan mereka."]


["Kenapa harus gugup pada keluargamu sendiri?"]


["Aah... Pokoknya aku gugup," Sherina memalingkan wajah.]


["Kau harus membiasakan dirimu."]


"Apa kau sudah minum obat sayang?" tanya ibu yang aku jawab gelengan kepala ringan.


"Lebih baik makan sesuatu dulu baru minum obat," saran Ayah.


"Aku memintamu memanggil Mitéra dan kakakmu turun untuk makan makan malam," ujar Patéras yang melangkah masuk. "Oh... Kalian semua rupanya ada disini. Kanapa kalian duduk di lantai?"


"Hihi... Ini salahku, aku lupa," Lisa mengetuk kepalanya. "Sebenarnya aku diminta mencari Mitéra dan kakak untuk mengajak makan malam."


"Ya sudah, jika semuanya ada di sini ayok kita turun. Yang lain telah menunggu disana," ajak Patéras, namun tidak ada diantara kami yang terlihat beranjak untuk turun ke ruang makan. "Apa tidak ada diantara kalian yang ingin makan malam?"


"Em... Aku ingin makan bersama kakak," kata Lisa.


"Baiklah. Mitéra akan turun untuk meminta seseorang membawakan makanan kalian kesini," Mitéra berdiri dan berjalan mendekati Patéras yang masih terlihat bingung.


"Kau bisa berdiri?" tanya ayah padaku. Aku cuman menunduk. Ayah mengerti maksudku. Ia menganggakat tubuhku dan membaringkan diriku di atas tempat tidur.


"Ada apa dengannya?" tanya Patéras akhirnya pada Mitéra.


"Dia demam. Tubuhnya panas sekali dan tidak bertenaga mungkin karna terlalu kelelahan. Ia tadi sempat jatuh dari tempat tidur," jelas Mitéra sambil berjalan keluar diikuti Patéras menyusulnya.


"Itu sebabnya kalian duduk di lantai. Apa tidak ada luka serius?"


"Setelah makan tolong minta pada Mr. Guttman untuk memeriksa keadaannya."


"Baiklah."


Kulihat Patéras dan Mitéra telah berjalan keluar dari kamarku. Aku cuman bisa mendengar suara percakapan mereka yang semakin redup kemudian tidak terdengar lagi.


"Ini momen yang langkah, putri ku yang tangguh bisa jatuh sakit seperti ini," kata ayah sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku.


"Bagaimana bisa tiba-tiba kau jatuh sakit?" ibu meraih handuk yang tergeletak di dekat ku lalu merendamnya ke baskom berisi air hangat yang baru saja diganti Lisa.


"Kakak terlalu memaksakan diri dan tidak mempedulikan kesehatannya."


"Semuanya terlalu kacau sampai kesehatan ku tidaklah lebih penting dari tujuan kita. Aduduuuh...."


Ibu seketika mencubit pinggangku. "Jangan perna berpikiran seperti itu lagi! Kesehatan mu itu lebih penting. Jika kau berani sakit lagi aku tidak akan merawatmu!" bentak ibu dengan acaman namun raut wajahnya terlihat sedih.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε