
Pagi ini aku sudah dibuat kesal dengan mereka yang terus menerus memanggilku tuan putri sejak kemarin Sore. Ini semua karna Sofia yang memberitahu mereka kalau ayahku adalah ketua klan Α (Alfa). Ayolah, aku cuman putri dari seorang ketua klan bukanya putri raja. Dasar kalian.
Hari ini aku berencana mencari gadis kemarin yang entah siapa namanya, aku lupa lagi. Aku ingin minta maaf karna tidak bermaksud melukainya. Ia pasti sangat ketakutan melihat ku berubah menjadi serigala. Aku harap ia tidak kabur atau berteriak histeris ketika melihatku nanti. Walau sifatnya itu memang sedikit menyebalkan, jahil, dan ngeselin tapi sebenarnya... Jujur saja aku mengagumi dia. Ia gadis yang pintar, ceria, imut, cekatan dan perna beberapa kali aku melihatnya membantu seseorang. Dia gadis yang baik.
Pertama kali ia pindah sekolah ini aku perna bertekat untuk mengajaknya berteman. Entah mengapa tiba-tiba aku dan dia menjadi musuh sekarang. Tidak ada penyebab awalnya kami bermusuhan. Aku juga bingung kenapa ini bisa terjadi. Namun menjadi musuhnya tak apalah. Setidaknya aku dapat bermain kecil dengannya. Ia juga terlihat sangat imut kalau lagi marah. Walauk kemarin itu kali ini ia benar-benar kelewatan.
Setelah pencarian cukup lama memutari sekolah tiga kali akhirnya aku menemukan ia di puncak gedung ini. Ia menatap jauh ke utara sambil melamun. Angin dingin berhembus kencang memainkan rambutnya yang indah tidak diperdulikannya. Jaket pink panjang dengan legging hitam dan sepatu coklat. Aku menghampirinya sampai berdiri tepat disampingnya. Aku mengikuti ia memandang jauh kedepan.
"Sedang memikirkan apa?" tanyaku padanya.
"Memikirkan masa depan. Jalan hidup mana yang aku pilih setelah tamat sekolah nanti."
Cukup lama ia untuk menyadari siapa yang baru saja mengajaknya berbicara. Ketika sadar, ia sontak menoleh padaku. Ia mundur beberapa langkah dengan cepat menjauhiku.
"Kau, kau, kau... Serigala!" tunjuk nya sambil tergagap-gagap. "Kenapa kau ada disini?"
"Mencarimu. Dan oh iya, jangan panggil aku dengan sebutan serigala. Sedikit aneh mendengarnya kalau kau memanggilku seperti itu."
"Kenyataanya memang iya kau itu serigala. Apa maumu?"
"Minta maaf. Aku dengar dari Sofia kalau aku sempat melukai tanganmu. Apa itu benar?" aku mencoba berjalan mendekatinya namun ia dengan cepat melangkah mundur menjauh.
"Kau seorang monster. Jangan mendekati ku!" ia terus mundur sampai tembok pembatas. Kali ini ia tidak bisa mundur lagi.
"Kau tidak perlu takut. Aku tidak akan melukaimu lagi," kini jarak antara kami cuman semeter. Aku masih terus mendekatinya sampai jarak kami tinggal selangkah.
"Aku tidak percaya. Menjauh lah dariku atau aku akan berteriak dan memberitahu semua orang kalau Miss. Morgen itu memang beneran manusia serigala," ancamnya.
"Beritahu saja. Jika memang ada orang yang mau percaya. Dan juga, apa kau punya bukti?" kataku membuat ia memalingkan muka. "Dengar ya, aku mencarimu memang benar-benar mau minta maaf padamu. Aku tidak bermaksud melukaimu. Lagi pula kau kemarin sungguh kelewatan juga. Bagaimana keadaan lukamu?"
"Tidak parah. Lagi pula sudah aku obati," jawabnya tampa melirikku.
Kulihat ia tampa sadar mengelus sedikit lengan kanannya. "Boleh aku lihat?"
"Tidak perlu."
Aku meraih tangan kanannya itu, menyingkapkan lengan jaketnya sampai terlihat perban putih melilit disana. Tampa pikir panjang aku mulai melepaskan perban tersebut.
"Lepaskan aku!" bentaknya sambil berusaha melepaskan cengkramanku, namun usahanya itu sia-sia.
"Diam!"
Aku melepaskan setiap lilitan perban itu sampai habis. Terlihatlah dua goresan besar namun tidak dalam. Aku menatap sedih atas apa yang telah aku lakukan pada lengan cantik ini. Tidak aku Sangkah kali ini kekuatan manusia serigala ku telah melukai seseorang. Dan hari ini biarlah kemampuan darah manusia serigala yang menebusnya. Aku menggigit jariku sampai terluka lalu aku mengoleskan darahku pada lukanya sampai tertutup semua.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya lagi sambil menatap ngeri apa yang aku lakukan.
"Mengobati mu."
Kudiamkan sekitar semenit baru kusekat bekas darahku di lukanya menggunakan sapu tangan. Hal hasil luka itu sembuh seketika tampa meninggalkan bekas sedikitpun. Darah seorang manusia serigala memang dapat digunakan untuk mengobati luka luar yang ringan atau menghentikan pendarahan pada luka sedang. Aku mengetahui ini juga karna iseng saja. Kenapa daya sembuh luka pada manusia serigala sangat cepat?
"Sudah sembuh."
Gadis itu hanya terdiam menatapi tangannya. Raut wajahnya juga masih terlihat jelas ketakutan.
"Oh, iya. Kau tidak perlu takut kau akan berubah menjadi manusia serigala dibawah cahaya bulan purnama seperti dalam film. Aku cuman mengunakan sedikit darahku. Lagi pula kau hanya terkena luka cakaran bukannya gigitan. Tidak ada racun dikuku ku, di taringku mungkin ada. Mau mencoba?" aku berbalik berjalan pergi meninggalkannya mematung disana.
"Semuanya sudah selesai? Cepat sekali," tanyaku ketika menghampiri mereka.
"Tentu saja cepat. Dengan adanya aku sebagai penyihir paling berbakat ini, semuanya pasti beres," jawab Sofia setelah menyerumput minumannya.
"Kau tidak takut ketahuan kalau nanti ada yang lihat?"
"Mereka berempat bertugas mengawasi setiap sisi jalan masuk dan keluar aula ini. Saat ada orang yang mau kesini mereka akan memberi tanda. Jadi aku bisa menghentikan mantraku sampai orang tersebut pergi menjauh," jelas Sofia.
"Semuanya jauh lebih cepat kalau menggunakan sihir. Adai aku juga bisa sihir, pasti menyenangkan," ujar Nic.
"Berlatih kekuatan sihir juga tidak segampang yang kau kira," kataku.
"Apa maksudnya?" tanya Rosse.
"Iya, banyak mantra berbeda yang harus dihafal. Pelafalannya juga tidak boleh sembarangan, salah sedikit saja akan berdampak terbalik dan bahkan bisa berimbas pada diri sendiri. Yang paling sulit adalah sihir Necromancy. Hah, semua mantranya hampir satu paragraf dan juga harus menggunakan simbol-simbol lingkaran yang rumit," jelas Sofia.
"Kau sering mengalaminya Sofia?" tanya Evan penasaran.
"Sering, apalagi waktu pertama kali belajar sihir dengan ibuku."
"Apa itu Necromancy?" tanya Rosse sambil menaikan sebelah alisnya.
"Oh, Necromancy itu sejenis sihir yang digunakan untuk memanggil dan berkomunikasi dengan orang yang sudah mati," kali ini aku yang menjelaskannya sedikit.
"Seperti kau waktu itu?"
Aku tersentak mendengar kalimat Rosse barusan. Apa maksudnya? Apa ia sudah tahu kalau juga seorang Necromancy? Atau jangan-jangan sewaktu ia perna bertemu dengan ayahnya itu? Bibi Marry mengatakan kalau akulah yang membantunya. Ah...! Kenapa masih banyak hal yang aku lupakan.
"E, Rin kau sudah memberitahu Rosse soal..."
"Beritahu apa?" potongku sebelum Sofia memberitahu yang lain kalau aku seorang Necromancy.
"Tidak, tidak ada."
"Kalian sepertinya menyembunyikan sesuatu dari kami. Apa itu?" kata Nic mulai curiga.
"Memang kami menyembunyikan apa?" tanyaku balik.
"Selain menjadi manusia serigala, kau juga seorang Necromancy kan?" kata Rosse tampa basa basi.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε