
Diaula utama terlihat semua orang sibuk menyiapkan semua keperluan perjamuan pemegang saham Megaproyek kawasan baru. Ruangan luas ini telah dikosongkan. Semua barang dipindahkan sementara ke ruang berbeda. Kursi serta meja disusun sedemikian rupa lalu dibalut kain putih berenda. Tirai di pasang menutupi kaca jendela yang tinggi, rangkaian bunga besar masih belum selesai sebagian dari jumlah yang ditentukan. Semua masih kacau, belum ada satupun yang selesai seutuhnya. Tidak apa juga, toh masih ada hari esok. Semua orang berkerja santai. Tidak perlu buru-buru jika hasilnya nanti tidak memuaskan. Akan ada banyak tamu yang hadir di perjamuan nanti, termasuk keluarga Anderson. Sudah lama aku tidak bertemu mereka.
Aku dan Rosse pergi menuju dapur. Katanya kak Cia dan Hanna ada disana. Mereka diundang keluargaku untuk membuat 100 Seven color lotus cake, tentu saja meraka mendapat bantuan dari beberapa koki ahli lainnya dan juga sekalian mempromosikan kue tersebut. Sampai di dapur kulihat kak Cia sedang menghias kue. Aku segera menghampirinya dan langsung memelukunya.
"Kak Cia, lama tidak bertemu."
"Rin, Rosse, apa kabar?"
"Sangat baik kak Cia. Dimana si imut Hanna?" tanyaku setela melepaskan pelukanku.
"Dia sedang belajar bersama pastry chef idolanya," tunjuk kak Cia ke ujung dapur. Memang benar Hanna dan seorang chef perempuan sedang asik memaksakan disana.
"Bukan kah itu kak Sylvia? Dia idola Hanna?" tanyaku memastikan.
"Iya. Hanna sangat mengidolakannya. Tidak terbayang oleh Hanna akan bertemu idolanya disini. Hanna sangat senang sekali."
"Chef Sylvia adalah pemenang lomba pastry chef skala internasional tiga tahun lalu, benarkan?" tanya Rosse.
Aku mengangguk. "Kak Sylvia memang sangat hebat dan cantik. Diusianya yang masih muda sudah banyak mendapat penghargaan di bidang membuat dan menghias kue. Hanna pasti belajar banyak darinya. Satu hal lagi yang kusuka dari kak Sylvia, ia selalu membuat Muffin butter setiap kali berkunjung," aku berjalan mengendap-ngendap menghampiri mereka untuk mengejutkan Hanna.
"Otak gadis ini cuman berisi makanan," ujar Rosse.
"Haha... Itulah Rin yang ku kenal."
Seperti yang aku harapkan, Hanna tidak menyadari kedatangan ku yang tiba-tiba. Tepat dibelakang Hanna aku langsung menepuk pundaknya sambil berteriak memanggil namanya. "Hanna!"
"Aaaaa........!!!" teriak Hanna sangking terkejutnya.
Tubuhnya seketika merinding begitu terasa di telapak tanganku. Hal yang tidak aku duga hanyalah bahwa Hanna memengang wadah berisi tepung. Karna sangat terkejut olehku tanpa disengaja ia melempar semua tepung itu ke wajahku. Hasilnya wajah, rambut serta badanku ditutupi tepung. Aku cuman meniup beberapa tepung di wajahku. Semua orang yang ada di dapur ini terlihat menahan tawa dengan begitu lucunya.
"Ma, maaf kak Rin. Aku tidak sengaja," Hanna mengibas-ngibaskan tangannya mencoba membersikan semua tepung yang menempel di bajuku.
Tapi aku tidak memperdulikan itu. Aku langsung memeluk erat Hanna sampai ia juga berlumuran tepung. "Hanna... Kenapa kau begitu imut."
"Sudah kuduga itu akan terjadi. Aku beruntung tidak segera mengikutimu dari belakang," kata Rosse yang baru berjalan mendekati kami bersama kak Cia.
"Hihi... Rin, kelakuanmu sama sekali tidak berubah," kata kak Sylvia yang masih cekikikan.
"Kak Sylvia kapan pulang?" tanyaku. Aku masih merangkul bahu Hanna.
"Kemarin. Aku datang hari ini karna mendapat telpon dari ibumu kalau ada koki imut yang sangat pandai membuat hidangan manis. Aku sangat penasaran dan ingin sekali bertemu dengannya," lirik Kak Sylvia pada Hanna.
"Uuu... Dengar itu Hanna. Dia datang khusus untuk bertemu denganmu," kataku menggoda Hanna. Hanna hanya terdiam dengan raut wajah memerah.
"Kalau boleh kuberi saran, Hanna. Sebaiknya ikutlah lomba tertentu. Itu cara tercepat agar semua orang dapat mengenalmu dan melihat kemampuanmu," saran kak Sylvia pada Hanna.
"Ba, baik. Saya a, akan mencobanya," jawab Hanna dengan kepala menunduk.
"Aku yakin kau bisa Hanna," kata Rosse mendukung.
"Aku yakin adikku pasti dapat juara," kata kak Cia menyemangati.
"Tentu saja bisa. Hanna pasti akan menjadi juara dan dapat sukses seperti kak Sylvia suatu hari nanti," ujarku. Aku melirik Muffin butter yang ada di atas meja kompor. Aku mencoba mengabil satu.
"Et, tanganmu mulai lagi," kak Sylvia menetuk pungung tanganku menggunakan sendok. "Jangan yang ini. Aku sudah buatkan yang lain khusus untukmu," kak Sylvia menyodorkan sepiring Muffin yang sangat berbeda dengan Muffin butter.
"Aduuuh... Kak Sylvia pelit. Aku mau Muffin butter tidak mau yang itu. Boleh ya? Satu atau dua saja," kataku memohon.
"Hah... Kau ini seperti anak kecil."
"Tidak. Mereka berdua harus menjaga kedai. Berkat promosi Sofia di media sosial, kedai Lotus sekarang sangat ramai. Banyak sekali pengunjung bahkan dari luar kota datang hanya sekedar mencicipi hidangan favorit dari kedai kami. Aku bahkan harus mengangkat lima pegawai baru lagi untuk membantu mereka," jelas kak Cia.
"Wah, sepertinya kedai Lotus semakin berkembang pesat," kata Rosse.
"Ini semua berkat kalian. Aku benar-benar sangat beterima kasih."
"Jangan sungkan kak Cia. Sudah sewajarnya kita saling bantu," kataku sambil terus menikmati Muffin butter.
"Apa Muffin butternya enak?" tanya kak Sylvia.
"Tentu saja. Ini sangat enak," jawabku tanpa sadar.
"Kau sudah makan berapa?" kali ini pertanyaan kak Sylvia diiringi hawa dingin yang menusuk.
"E... Hehe... Lima. Em... Delapan, sepuluh." aku mencoba menghitung berapa banyak Muffin butter yang telah aku makan. Aku berusaha untuk tidak melihat kak Sylvia yang kini menatap dingin ke arahku.
"Kau bilang tadi cuman mau makan dua, sekarang kau sudah makan sepuluh."
"Ah, kak Sylvia apa kau dengar itu? Sepertinya ibuku memanggil. Aku pergi dulu. Dah..." aku bergegas pergi meningalkan mereka sebelum kak Sylvia mengamuk.
"Rin...!!"
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
"Rin...!!" teriak kak Sylvia kesal pada Rin yang sudah kabur melarikan diri. "Dasar gadis satu ini. Aku sudah buatkan Muffin khusus untuknya tapi tetap saja ia selalu mau makan Muffin butter."
"Eh... Kak Sylvia, kenapa melarang Rin makan Muffin butter?" tanya Rosse penasaran serta bingung.
"Aku tidak melarang jika ia tidak makan berlebihan. Muffin butter mengandung lemak yang tinggi, itu tidak baik untuk kesehatannya," jelas kak Sylvia.
"Kesehatan? Apa Rin mengidap penyakit tertentu?" tanya kak Cia jadi penasaran.
"Hanya sekedar jaga-jaga. Gadis itu perna dalam kondisi kritis karna penyakitnya,"
Kak Cia dan Rosse terdiam setelah mendengar itu. Mereka tidak tahu kalau dulunya Rin perna mengidap penyakit yang hampir saja merenggut nyawanya.
"Ah, sudahlah. Apa kalian mau Muffin butter?" ujar kak Sylvia mengalikan topik. Ia menyodorkan Muffin butter itu pada kak Cia, Hanna dan Rosse.
"Apa boleh?" tanya Rosse ragu-ragu.
"Tentu saja. Aku membuat ini memang untuk kita semua. Aku sudah membagikannya pada yang lain sebagai camilan saat berkerja."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε