My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Bantai



"Apa masih mau lanjut? Akan kuhabisi kalian semua!"


"Hosh.... Memang pantas menjadi ketua dari klan Α (Alpha). Kekuatanmu sungguh luar biasa. Tapi kali ini, apa kau sanggup mengalahkan kami? Auuuuuu...............!"


Lolongan panjang dilakukan pemimpin mereka. Tiba-tiba puluhan serigala menerobos masuk memenuhi aula. Jumlah mereka bertambah empat kali lipat dari sebelumnya. Mereka semua mengeringai memperlihatkan taring dengan geraman siap menyerang. Ayah berusaha untuk tetap tenang.


"Tamat sudah riwayatmu hari ini Derek! Aku sudah menyiapkan rencana ini dengan sangat matang."


"Kau memanggil bala bantuan?" lirik ayah pada setiap barisan serigala itu.


"Aku pastikan kau akan mati hari ini! Serang dia!!"


Puluhan serigala itu menyerang secara bersamaan. Ayah tidak mundur sedikitpun atau menghindar. Dengan kekuatan yang dimilikinya ia menyerang mereka semua. Namun acah terlihat sangat kewalahan dengan jumlah musuh yang banyak. Satu melawan puluhan sangatlah tidak adil. Melihat itu aku berusaha melepaskan diri dari pelukan ibu. Aku ingin membantu ayah. Ayah memang kuat tapi jumlah mereka terlalu banyak. Ayah tidak akan bisa menang melawan mereka semua sekaligus.


"Lepaskan aku ibu. Aku mau membantu ayah."


"Tenanglah Rin. Ayahmu tidak akan mudah dikalahkan begitu saja."


"Tidak. Ayah sudah kelelahan menghadapi mereka. Aku harus membantunya!"


Aku sedikit menggunakan kekuatanku untuk bisa lepas dari pelukan ibu namun baru selangkah, tiba-tiba sebuah anak panah melesat cepat ke arahku.


"Rin!!"


Jauh sebelum aku berhasil menghindar, ibu dengan cepat menggunakan tubuhnya untuk melindungi ku. Anak panah tersebut tepat mengenai bahu kanan ibu. Darah mengalir membasahi punggung ibu.


"IBU ! ! !" teriakku dengan air mata seketika mengalir di ujung mataku. Aku menangis sejadi-jadi nya. "Ini semua salahku. Maafkan aku ibu."


"Tetap sembunyikan tandamu, jangan biarkan mereka mengetahuinya," ibu melumuri dahiku menggunakan darahnya. "Jangan menangis, ibu baik-baik saja."


"Ibuu......uu....."


Ibu pingsan dihadapanku karna anah panah itu membuat ibu kehilangan banyak darah. Aku mendekapkan wajahku ke tubuh ibu dengan kesedihan dan rasa bersalah yang menyelimutiku. Tidak berlangsung lama semua itu seketika berubah menjadi amarah dan kebencian. Ditambah lagi ketika aku melihat ayah semakin terpojok. Mungkin karna mendengar teriakan ku membuat konsentrasinya hancur. Salah satu serigala berhasil menggigit lehernya dan membanting tubuh ayah dengan sangat keras ke lantai.


"Sudah cukup kalian klan Β (Beta) menyerang keluargaku!!! Aku akan membunuh kalian semua untuk membalaskan dendam ini!!!" bentakku tidak terima melihat kelakuan mereka yang melakukan serangan secara licik seperti ini. Tapi tiba-tiba Sherina muncul lalu mencegatku.


["Biarkan aku yang melakukannya Keyla. Kembali lah ke alam bawah sadarmu. Kau tidak akan sanggup melawan mereka. Jiwamu akan hancur begitu menghadapi kekuatan manusia serigala yang besar. Aku berjanji akan membunuh mereka semua tampa meninggalkan satu orang pun."]


Aura yang dikeluarkan Sherina sangat menakutkan. Tekanan yang begitu kuat terasa dari tatapan mata nya yang tajam. Sherina benar-benar marah kali ini.


["Maaf merepotkan mu. Mohon bantuannya Yang mulia."]


["Siapa yang berani menyakiti keluargaku harus menemui ajalnya."]


Aku memfokuskan diriku kembali ke alam bawah sadar ku. Kubiarkan Sherina mengambil alih tubuhku. Tapi aku tidak tinggal diam begitu saja. Aku tidak akan membiarkan Sherina berjuang sendirian. Aku menyalurkan semua sisa tenagaku untuk membantunya. Itu cukup untuknya menambah kekuatan saat bertarung melawan mereka.


Sherina sangat mengerikan begitu dalam mode iblis nya. Ia membunuh dengan membabi buta tampa mengenal ampun sedikitpun. Cakaran, tendangan dan gigitan semua dilakukannya untuk menyerang musuh yang begitu banyak dihadapan. Bulu putih itu kini berbalut warah merah dari darah musuhnya. Tatapan tajam membunuh itu tidak meredup sama sekali. Bau amis darah tidak membuat ia gentar mala semakin menambah semangat membantai seluruh serigala yang tersisa. Aku tidak tahu kelanjutan dari pertunjukan sadis itu. Kesadaran ku hilang begitu Sherina menyerang pimpinan mereka.


...Sudut pandang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


"Wah... Wah... Sungguh pertunjukan yang sangat hebat. Seorang diri dapat mengalahkan puluhan serigala. Aku terlalu meremehkan mu Miss. Morgen."


"Penyerangan kali ini adalah untuk menargetkanmu Rin. Tapi entah mengapa tiba-tiba tuan mengubah rencananya. Sedikit mengecewakan. Aku tidak bisa melihat mu mati di tangan kekasih mu sendiri. Tapi tidak apa-apa lah. Melihat Rin tersiksa secara perlahan-lahan jauh lebih menyenangkan dari pada ia mati begitu saja. Aku akan membuat ia kehilangan satu persatu orang yang di sanyanginya. Bersiaplah Rin. Sisa hidupmu adalah duka untukmu," Sindy berbalik kemudian lenyap seketika meninggalkan kabut asap hitam di udara.


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


"IBU ! ! !" teriakku seketika bangun.


Aku memdapati tubuhku telah basah oleh keringat. Nafasku terengah-engah, begitu sulit mencari udara. Aku sekarang ada di kamar ku dengan wujudku telah kembali seperti semula. Tempat biasanya aku terbangun pertama kalinya setiap peristiwa yang aku alami. Serasa membaik aku turun dari tempat tidur, bergegas menuju kamar ibu. Sampai kamar aku melihat semua orang telah ada disana. Mereka semua menatapku terkejut begitu aku menerobos begitu saja masuk ke kamar tersebut. Tidak memperdulikan mereka mataku lebih tertuju pada ibu yang terbaring di tempat tidur dengan selang infus di pasang di tangannya.


"Ibu....!" aku berlari menghampiri ibu dan langsung duduk disampingnya dengan air mata di pelupuk mataku.


"Keyla, akhirnya kau sadar juga. Kami benar-benar sangat mengkhawatirkan mu setelah apa yang terjadi," ujar Mitéra ikut duduk disampingku.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanyaku. Aku menggegam erat tangan ibu lalu menciumnya.


"Ini..." Mitéra sepertinya tidak sanggup mengatakannya.


"Apa yang terjadi? Jangan mencoba untuk menyembunyikan apapun dariku."


Ayah menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan cepat. Ia berjalan ke arahku kemudian berjongkok di depanku. Dengan lehernya yang kulihat masih dibalut perban, ayah menggapai kedua tanganku. Ditatapnya lurus mataku dengan pandangan senduh. Aku semakin penasaran apa yang terjadi dan kuharap bukan sesuatu yang aku takutkan.


"Ibumu..." ayah terdiam sebentar dan terlihat memang sepertinya tidak sanggup memberitahukannya padaku.


"Katakan saja. Aku mohon," aku menatap ayah menantikan jawaban.


"Anak pana yang menembus bahu kanan ibumu ternyata telah dilumuri racun..."


"Apa!!! Lalu bagaimana keadaan ibu?" aku melirik sedih pada ibu yang masih terbaring tidak sadarkan diri. "Apakah sudah diberi obat penawar?"


"Ini masalahnya. Racun itu belum ditemukan obat penawarnya," ayah tertunduk mengatakan itu.


Aku sedikit merasa nyeri di dada. Aku membungkukan badanku ke depan menahan sakit. "Belum ditemukan, bukan berarti tidak ada."


"Mr. Guttman," panggil ayah tanpa mengangkat kepalanya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε