My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Berakhir pekan



Aku meminta pada Prof. Peter agar Lisa dipemindahkan ke kelas lain. Aku tidak tahan kalau Lisa masih satu kelas dengan Sindy. Aku takut Sindy akan menyerang Lisa lagi disaat aku tidak bersamanya. Prof. Peter mengatakan akan mengusahakan Lisa bisa dipindahkan ke kelas lain. Keesokannya Prof. Peter berhasil mengajukan pemindahan itu pada kepala sekolah. Akhirnya Lisa pindah kelas, dan kelasnya itu bersebelahan dengan kelasku. Itu bagus. Aku jadi bisa lebih dekat melindunginya. Dan anehnya beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Sindy. Padahal aku masih kesal ingin memukulnya karna menyerang Lisa.


Akhir pekan tiba. Onoval berencana mengajak kami keluar hari ini pergi ke kota pelabuhan. Hanya sekedar jalan-jalan mencuci mata dengan pemandangan laut biru. Tidak apa-apakan. Kami telah berkerja keras selama beberapa hari terakhir. Malam harus mengikuti pelajaran yang ada. Siang harinya kami lanjut dengan tujuan kami yang sebenarnya, kenapa kami ada di sekolah ini. Kami mendapat informasi dari bertanya sana sini dengan beberapa siswa/siswi yang mulai akrab berteman. Bahwa pada bulan purnama, putra mahkota vampire akan mengadakan pesta bagi seluruh siswa/siswi berserta stap sekolah di aula kastil untuk menyambut gugurnya kelopak bunga terakhir serta matang nya buah pohon ΖΩΗ (ZOI). Ini kesempatan kami untuk masuk ke dalam kastil dan mendapatkan buah tersebut atau ekstrak bunganya.


Aku, Sofia, Lisa dan Rosse membuat dena sederhana dari keseluruhan halaman kastil. Taman depan, taman belakang dan taman samping, kastil, gedung sekolah, asrama siswa dan siswi, asrama guru, perpustakaan, kolam ikan, tempat bersantai, bahkan sampai mencangkup bagian luar dari halaman kastil. Dengan mata di udara mempermudahkan kami membuat keseluruhan dena tersebut. Hasil pencarian Prof. Peter jauh lebih dari yang kami temukan. Sebagai seorang guru ia bisa mengakses lebih dalam informasi yang ada. Ia berhasil mendapatkan dena hampir keseluruhan bagaikan dalam kastil. Itu akan sangat berguna saat untuk rencana kami.


Untuk perjalan hari ini Prof. Peter akan ikut bersama kami ke kota pelabuhan. Ia merasa tidak tenang membiarkan kami berempat berkeliaran di kota ini tanpa pengawasan. Onoval tidak keberatan akan hal tersebut. Kami juga mengajak Trysta untuk ikut bersama. Dengan menggunakan mobil Prof. Peter kami berangkat menuju pusat kota pelabuhan. Mobil mulai berjalan turun meninggalkan pintu gerbang kastil. Setelah melalui hutan kami kini memasuki kota. Aku tidak henti-hentinya mengagumi kota ini. Tujuan kami adalah taman hiburan mini yang dibangun di tepi laut. Tempat yang menyenangkan. Mobil berhenti di tempat parkir yang tersedia. Angin yang lasung dari laut bertiup kencang begitu aku baru keluar dari mobil. Untung aku menguncir seluruh helaian rambutku menjadi satu. Jadi rambutku tidak akan terbang kemana-mana menutupi wajahku.


Di taman hiburan ini kami semua mencoba permainan yang ada. Menikmati kudapan manis atau yang lainnya. Berfoto riah di berbagai tempat untuk sebagai kenangan. Tapi sayangnya Trysta tidak tampak dalam hasil foto tersebut. Kamera yang kami gunakan bukan dibuat khusus untuk vampire, kami cuman menggunakan kamera biasa. Trysta menggunakan tabir surya untuk vampire agar kulitnya aman dari sinar matahari. Kesenangan hari ini cukup membuat kami beristirahat sejenak dari semua kesibukan kami.


"Hei kalian semua. Mau pergi ke tempat yang lebih tenang? Aku tahu tempatnya," saran Onoval disaat kami duduk santai di kursi taman yang mengarah langsung ke laut.


"Boleh. Dimana?" tanyaku.


"Kau akan tahu."


Onoval seketika menarik tangan ku sampai aku berdiri dan tampa sengaja menabrak tubuhnya. Disaat tubuhku jatuh dalam pelukannya seketika wajahku merah. Aku dengan cepat menjauh darinya sambil menutupi wajahku yang malu. Tadi itu benar-benar sangat memalukan sekali. Semua ini salahnya. Kenapa ia menarik ku secara tiba-tiba?


"Rin, jadi pergi?" panggil Onoval.


Aku menjauhkan tanganku melihat mereka. Semuanya sudah berkumpul dengan tatapan yang semakin membuatku malu. Apalagi ketika mataku tertuju pada Onoval. Dia cuman tersenyum melihatku. Apa maksudnya?


"Kak," panggil Lisa membuatku sadar.


"Iya, iya baik. Kita pergi," kataku sambil memalingkan mukaku yang malu.


Kami semua pergi ke tempat yang dimaksud Onoval. Tempat itu cukup jauh dari taman hiburan namun masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Lima menit berjalan kami akhirnya sampai disana. Sebuah pantai tersembunyi dari keramaian pengunjung pelabuhan. angin sejuk berhembus di langi kelabu. Sangat tenang memang disini. Tidak ada siapapun selain kami. Lisa, Rosse dan Sofia langsung bermain ombak dibibir pantai. Mereka melemparkan sepatu mereka begitu saja ke sembarang arah. Oh... Astaga. Ini masih di musim dingin tapi kalian mala mau bermain air laut. Mereka terkadang aneh-aneh saja tingkahnya. Aku berkeliling saja menyelusuri tepi pantai. Ada beberapa cangkang kerang yang kupungut di pasir pantai tersebut. Cangkang kerang itu mengingatkanku pada Mia. Ia sangat suka cangkang kerang. Aku akan membawakan beberapa untuknya sebagai hadiah kecil.


...Sudut pandang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


"Sudah kuduga mereka ada disini. Aku akan menghabisimu Lisa. Karnamu aku dihukum cambuk oleh tuanku. Aku bahkan tidak bisa bakit dari tempat tidur selama dua hari. Hari ini adalah hari kematianmu. Aku sudah menyiapkan hadiah untukmu. Serang mereka dan culik gadis berambut emas itu!"


Sindy memerintahkan pada para vampere yang telah kehilangan akal sehatnya untuk menyerang mereka. Para vampire itu mengeram dan mulai menyerang mengikuti sesuai perintah Sindy. Dengan seringai jahat terukir di wajah Sindy, ia sudah tidak sabar melihat pertunjukan yang akan menanti mereka.


...ΩΩΩΩ...


Tampa sadar aku telah berjalan terlalu jauh. Aku kini berada di dekat hutan yang ada di pinggir pantai ini. Aku hendak berbalik kembali agar mereka tidak mencari-cari. Baru dua langkah berjalan, ada perasaan yang membuatku menoleh kebelakang. Aku merasa ada yang sedang mengintai ku dari balik hutan. Aku mempercepat langkahku kembali ke teman-temanku. Sampai disana aku masih menyempati diri melirik kembali hutan tersebut.


"Ada apa Rin?" tanya Prof. Peter padaku.


"Prof. Peter merasakan sesuatu?" tanyaku aku balik.


"Tidak. Memang apa yang kau rasakan?"


"Ada seseorang yang mengintai kita," aku mencoba menajamkan pendengaran ku. "Sekelompok. Hati-hati semuanya!!" teriak ku membuat semua orang siaga.


Berbarengan dengan itu muncul sekelompok orang mengepung kami. Mereka terlihat aneh. Mereka mengeram ganas memamarkan taring mereka. Sekelompok orang ini vampire? Mereka berani menyerang kami di siang bolong begini? Vampire jenis apa mereka?


"Siapa mereka?" tanya Lisa yang sudah bersembunyi di belakang ku. Tangannya yang gemetar ketakutan begitu terasa saat ia berpengang erat pada jaketku.


"Mereka semua vampire," ujar Onoval.


"Vampire?! Di siang bolong begini," kata Rosse yang tidak percaya tapi buktinya terlihat jelas di depan mata.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε