
Aku melompat ke arah Rosse dan seketika langsung memeluknya. "Rosse... Hiks... Darimana saja kau? Kami sudah mencari mu kemana-mana tapi tidak kunjung menemukan mu. Apa yang harus ku jelas kan pada bibi Marry jika terjadi apa-apa padamu?"
"Lepaskan aku Rin!" Rosse menepis tanganku dan mendorongku menjauh.
"Ada apa dengan mu Rosse? Kenapa sikap berubah begini?"
Aku sungguh bingung dengan sikapnya pagi ini. Apa yang telah ia alami sampai ia memasang raut wajah seperti itu padaku? Tatapannya seolah-olah sangat membenciku dan tidak ingin melihatku sama sekali.
"Jangan bersandiwara lagi. Aku sudah muak melihatnya. Aku sudah tahu kalau kalian hanya berpura-pura peduli padaku."
"Apa maksudmu Rosse? Sandiwara apa? Kami tidak berpura-pura. Lagi pula apa gunanya berpura-pura?"
"Jangan bertingkah sok tidak tahu, Rin! Selama ini kalian terlihat sangat peduli padaku, mengkhawatirkan ku, menganggap ku sebagai saudara. Tapi nyatanya Semua itu hanyalah kebohongan belakang!! Aku tahu aku ini cuman manusia biasa, tidak seperti kalian yang memiliki kekuatan spesial. Kalian pasti menganggap aku ini sebagai beban, kan?!! Orang yang tidak berguna dan hanya bisa meminta belas kasian dari kalian."
"Rosse, bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Kami tidak perna menganggap mu sebagai beban. Kau teman kami Rosse. Aku sudah menganggap mau sebagai saudaraku sendiri Rosse. Kenapa kau berpikiran kami cuman berpura-pura padamu?"
"Jika kalian memang peduli padaku, kemana kalian selama ini? Kenapa kalian tidak mencari ku? Kalian masih bisa tidur nyenyak disaat aku hilang semalaman!"
"Kami mencarimu. Sudah belasan kali kami mengelilingi sekolah ini sampai seluruh halaman kastil hanya untuk mencarimu. Lihatlah mereka," tunjukku pada Sofia dan Lisa yang masih tertidur. "Mereka sampai tidak terbangun karna teriakanmu sangking ngantuk nya. Dan juga sebenarnya aku baru kembali dari mencarimu. Kalau kau tidak percaya tanya sama Onoval. Dia juga ikut mencarimu. Dia juga bahkan mengancam Eric dan vampire lain kalau-kalau mereka membawa mu. Percaya padaku Rosse. Sungguh kami tidak berpura-pura. Kami tulus peduli padamu."
"Berhenti menangis Rin! Hapus air mata palsumu itu. Aku benar-benar jijik melihatnya!"
"Apa? Setelah apa yang telah kami lakukan, kau masih mengangap semua itu hanyalah kebohongan? Rosse!"
["Sabar Rin, tahan emosimu," dengan cepat Sherina mencegatku. Aku hampir saja hendak memukul Rosse. "Itu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Perhatikan lehernya."]
["Hah?" aku tidak terlalu memperhatikan itu. Tapi tepat di leher Rosse ada bekas gigitan vampire. "Tanda gigitan? Ia telah menjadi budak darah dari seorang vampire. Ta, tapi vampire yang mana?"]
["Dia dalam masa dikendalikan. Sepertinya vampire itu sengaja membuat kita agar membenci Rosse."]
["Lantas bagaimana caranya membawa Rosse kembali? Jika ia menjadi salah satu budak darah dari vampire, itu berarti tidak ada jalan kembali."]
["Tidak Rin, masih ada cara. Ingat Onoval perna mengigitmu tapi kau tidak jadi budak darahnya, kan. Kita bisa minta batuan Onoval untuk menghapus tanda gigitan itu dari tubuh Rosse. Dengan begitu Rosse bisa kembali pada kita."]
["Kau benar. Onoval mungkin bisa membantu kita."]
"Kenapa? Apa kau mau memukulku? Kalau mau pukul ya pukul saja. Aku juga tidak ada artinya dimata kalian."
"Rosse, kemana sebenarnya kau semalaman ini?"
"Apa peduli mu? Aku ada dimana semalam tadi, hari ini, besok atau lusa. Aku datang cuman mau mengambil barang-barang ku. Aku sudah meminta untuk pindah kamar. Aku tidak mau lagi satu kamar dengan kalian," Rosse mengemasi barang-barang nya dan hendak pergi.
"Tidak Rosse, jangan pergi," aku mencoba menahan ya tapi tiba-tiba ada kilatan sihir seketika menyerang ku. Hal itu membuatku terpental mundur ke belakang. Aku masih berusaha tetap berdiri tegak. "Kekuatan sihir?!"
"Kau memang hebat Rin. Kau masih bisa bertahan dari serangan kecilku. Selamat tinggal. Oh, iya. Terima kasih untuk selama ini. Aku pergi." Rosse benar-benar berlalu pergi sambil membanting pintu.
"Ahak!" aku sedikit muntah darah akibat menahan serangannya yang tiba-tiba. "Sial! Dia sudah mendapatkan kekuatan dari tuannya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore harinya, aku menceritakan semua kejadian tadi pagi pada Lisa, Sofia dan Prof. Peter. Kami berempat kumpul di halaman belakang yang jarang dilalui oleh orang lain. Agar lebih aman lagi Sofia mengaktifkan dinding penghalang di sekeliling kami.
"Aku tidak mungkin salah lihat. Ada bekas gigitan tepat di leher sebelah kirinya. Dua titik merah. Dan juga Rosse tiba-tiba dapat menggunakan sihir. Ia sempat menyerang ku saat aku mencoba menahannya pergi," jelas ku.
"Oh... Seberapa kuat sihirnya?" tanya Sofia penasaran.
"Lumayan. Cukup bisa membuatku terpental dan muntah darah."
"Apa?! Kau sampai muntah darah. Apa kau mengalami cedera serius? Apa ada yang sakit? Kau harus periksakan dirimu Rin," oceh Sofia lebai sambil hendak menarikku pergi entah mau kemana.
"Hentikan itu Sofia! Aku baik-baik saja," aku menarik tanganku kembali.
"Miss. Hartley sampai mendapatkan kekuatan sebesar itu pasti tuannya bukanlah vampire biasa. Karna sejauh yang aku tahu, budak darah hanya bisa menerima 20% kekuatan dari tuannya," ujar Prof. Peter mengutarakan pikirannya.
"Itu artinya tidak mungkin vampire yang menandai Rosse adalah murit sekolah ini. Paling tidak guru atau stap sekolah yang merupakan keturunan vampire berdarah murni yang bisa memberikan kekuatan sebesar itu," kata Sofia.
"Tapi siapa? Di sekolah ini hanya ada tiga guru dan kepalah sekolah yang merupakan vampire berdarah murni. Nanti aku coba menyelidiki mereka satu persatu."
"Jika pun memang salah satu dari mereka. Apa alasan mereka melakukan itu? Kita tidak perna menyinggung vampire manapun di sekolah ini. Tidak mungkin tidak ada alasan mereka melakukannya," kata Lisa berpendapat.
"Iya. Kalaupun cuman mau mencari budak darah tidak mungkin ia sampai mengahasut Rosse untuk bermusuhan dengan kita," aku mendukung pendapat adikku ini.
"Mungkin ia ingin memutuskan hubungan Rosse dengan orang-orang disekitarnya," Sofia memberi kemungkinan yang cukup masuk akal.
"Jika ingin memutuskan hubungan, tinggal menghapus kontak saja dengan orang yang dikenalnya. Tidak perlu menghasut ia bermusuhan dengan kita," aku menyampaikan kejanggalanku pada sikap Rosse tadi pagi.
"Ngomong-ngomong soal menghasut, itu mengingatkanku pada Sindy yang perna menghasut ku untuk bermusuhan denganmu kak," Lisa mengingat-ingat kejadian tersebut.
"Disaat ia menyerangmu di koridor?"
"Iya."
"Kau perna diserang oleh gadis aneh itu?" tanya Sofia.
Lisa mengangguk sambil memperhatikan permata yang telah berubah ungu di liontinnya. "Beruntung ada sihir perlindungan dari ibumu yang menyelamatkan ku darinya."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε