My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Kebohongan



"Berani sekali kau menganggap tuanku sebagai pembohong!" bentak Sindy yang tidak terima aku mengatai tuannya sebagai pembohong.


"Harum sekali," Lucas menyekat darah di pipiku menggunakan jempolnya lalu dijilatinya. "Em... Manis nya. Jika di fermentasi menjadi minuman pasti lebih nikmat."


"Apa aku boleh bermain dengannya sebentar?" tanya Sindy sambil memainkan cambuknya.


"Boleh. Tapi jangan sampai ia mati atau setengah mati. Ingat malam ini adalah pertunjukan penting."


"Aku cuman mau mencambuknya dua sampai tiga kali saja. Itu tidak akan membuat mati, kan?"


"Kalau begitu aku akan menunggumu disini."


Lucas melangkah menjauh dari ku. Ia membiarkan Sindy mengambil alih. Tampa aba-aba Sindy langsung mencambuk tubuhku. Aku tidak bisa menghindari cambukan itu. Rasa perih dan terbakar kembali menyerang ku begitu ujung cambuk itu menyentuh kulitku. Aku hanya menggikit bibir bawahku menahan sakit.


"Ini karna kau telah memukul wajahku!" Sindy mengayukan cambuknya lagi. "Ini untuk tuduhanmu," dan lagi. "Ini karna aku benci padamu dan yang terakhir ini adalah bonus."


Satu cambukan terakhir tepat mengenai dada kiriku. Hal itu membuatku muntah darah. Tiba-tiba Lucas melesat cepat ke arahku lalu menjilati semua darah yang mengalir dari lukaku. Rasanya benar-benar geli begitu lidahnya yang dingin menyentuh kulitku.


"Aku sungguh tidak bisa menahan diri. Darahmu harum sekali. Manis dan harum begitu nikmat. Belum perna aku merasakan darah semanis dirimu ini, dan juga darah mu memberiku kekuatan berlipat ganda. Sungguh sangat disayangkan jika kau harus mati. Kalau tidak aku pasti menjadikan budak darah favorit ku," ujarnya sambil menjilati sisa darah yang menempel di jari-jemarinya.


"Tuan!" protes Sindy dengan wajah cemberut.


"Jangan marah, sayang. Itukan baru 'jika' kau akan tetap menjadi budak darah kesayanganku. Ayok pergi dari sini. Kita harus mempersiapkan acara untuk malam ini."


...Sudut pandang orang Ketiga...


...ΩΩΩΩ...


"Maaf tuan, tapi kenapa kau bilang pada Rin kalau tujuanmu membunuhnya untuk mengambil darah jantungnya sebagai obat penawar agar Natali dapat bersama lagi bersama adikmu? Bukankah semua itu merupakan kebohongan yang kau buat-buat? Darah jantung dari putri yang diramalkan tidaklah dapat menyembuhkan racun dari taring manusia serigala. Buah ΖΩΗ (ZOI) saja tidak dapat menyembuhkannya, bagaimana bisa darah jantung dapat menjadi obat penawar?"


"Kau ini ingin sekali tahu banyak ya. Kau tahu betul seberapa besar cintanya adikku itu pada manusia yang bernama Natali ini. Tapi setelah aku perhatikan, sejak ia bertemu dengan Rin perilakunya perlahan-lahan berubah. Ia mulai tersenyum setiap kali telponan sama gadis itu, yang tidak perna ia lakukan sejak masuk ke lingkungan kastil. Bukankah perubahan itu sedikit aneh? Aku beranggapan kalau adikku itu telah menaruh hati pada gadis tersebut."


"Tidak. Pangeran hanya boleh menjadi milikku. Selain Natali aku tidak akan membiarkan sang pangeran jatuh cinta pada gadis lain."


"Karna hal inilah aku ingin Onoval sendiri yang membunuh Rin. Setelah mengetahui kalau Rin merupakan gadis yang diramalkan nanti, ia pasti akan membunuhnya untuk mendapatkan darah jantungnya agar Natali bisa pulih kembali."


"Hei, kalau begitu ini akan sangat menguntungkan untukku. Jika Rin mati dan darah jantungnya juga sama sekali tidak bisa menyembuhkan Natali. Itu berarti aku memiliki kesempatan untuk mengambil hati sang pangeran. Akan kubuat pangeran menjadi milikku seutuhnya," khayal Sindy.


Lucas megetuk ubun-ubun Sindy untuk menyadarkan nya. "Jangan banyak berkhayal. Memangnya kau bisa mengambil hati adikku itu? Lebih baik lakukan pekerjaan yang berguna. Aku pergi dulu," Lucas seketika menghilang meninggalkan asap hitam.


"Tugas berguna?" sambil mengusap kepalanya Sindy berpikir. "Kalau begitu aku mau menggoda sang pangeran saja ah... Lalala..."


"Pangeran Onoval!" panggil Sindy sambil mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban. Tampa pikir panjang Sindy masuk begitu saja ke dalam kamar tersebut. Suasana kamar yang galap dan senyap menyambutnya. Dilirik nya kesana kesini sebelum benar-benar melangkah masuk. Tiba-tiba sesuatu melesat cepat dan langsung mencekik Sindy. Karna cekikan itu membuat Sindy kesulitan bernafas. Ia berusaha melepaskan diri namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melakukan itu.


"Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba menerobos masuk ke kamarku?" tanya Onoval yang semakin memperkuat cekikannya.


"Lepaskan aku dulu," kata Sindy dengan susah payah.


"Hm!" Onoval melepaskan cengkraman tangan yang ada di leher. Hal itu membuat Sindy jatuh ke lantai.


"Ukhuk! Ukhuk!" Sindy terbatuk-batuk dan berusaha mencari udara untuk mengisi paru-parunya yang kosong sesaat.


"Katakan siapa kau? Kenapa kau selalu ada di sisi kakak ku? Apa maumu?" tanya Onoval dengan tatapan tajam.


"Kenapa kau dingin begitu pangeran? Sepertinya hanya Rin yang bisa membuatmu menjadi pria yang lembut dan perhatian," kata Sindy berusaha bangkit.


"Jangan sebut nama itu di depanku!"


"Kenapa pangeran? Apa kau sekarang membencinya setelah tahu kalau ia seorang manusia serigala?" Sindy mulai aksinya menggoda Onoval.


"Aku... Aku membenci seluruh manusia serigala di dunia ini. Jika kau tidak ada maksud lain sebaiknya kau keluar dari sini," Onoval menedang Sindy keluar dari kamarnya lalu kemudian membanting pintu dengan keras.


"Hu... Sungguh tidak berperasaan. Begitukah caramu memperlakukan seorang gadis? Tapi aku semakin menyukai sang pangeran ini. Ia sangat sulit untuk ditaklukan membuat orang bersemangat untuk mengejarnya. Ia seperti kuda liar yang sulit dijinakkan. Tapi aku tidak akan menyerah aku pasti akan dapat menjinakanmu wahai kuda ku."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε