My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Arwah wanita yang mengikuti



Setelah percakapan panjang itu, aku mengajak Veena bertanding memanah. Siapa yang kalah harus memenuhi satu permintaan apapun itu dari permenangnya. Kami bermain lima ronde. Ronde pertama aku menang, kedua aku kalah, ketiga Veena kalah, keempat Veena menang dan ronde terakhir aku kalah lagi. Ini cukup memalukan, aku kalah dari anak baru. Sesuai janji aku harus memenuhi satu permintaan dari Veena. Permintaannya sedikit tidak terduga olehku. Ia meminta...


"Apa boleh aku mengelus burung hantumu?"


"Kau mau mengelus Angel? Itu boleh-boleh saja tapi aku tidak tahu ia ada dimana sekarang ini."


"Apa itu, dia?" Veena menunjuk sosok putih yang bertengger diatas pohon pinus yang berjarak kira-kira 30 meter lebih dari kami.


"Penglihatanmu tajam juga ya. Itu memang dia."


Aku melambai pada Angel sambil bersiul. Seketika Angel terbang menghampiri kami. Ia langsung hinggap di tanganku. Aku mempersilakan Veena mengelusnya. Awalnya Angel tidak mau disentuh Veena. Ia terus menjauhkan kepalanya dari jari-jari kecil Veena yang mau mengelusnya. Selain aku, Mia dan paman Fang, Angel memang tidak mau disentuh oleh siapapun. Agar Veena tidak kecewa aku berusaha membujuk Angel yang akhirnya dengan enggan Angel mau dielus Veena. Terlihat Veena sangat bahagia dapat mengelus bulu putih Angel. Itu dibuktikan dari senyum lebar yang menghiasi wajahnya. Tapi sayangnya itu tak berlangsung lama. Dua kali elusan Angel tiba-tiba terbang lalu bertengger diatas pohon yang tidak jauh dari kami. Kekecewan memang terpancar dari wajah Veena namun ia merasa lega karna keinginannya itu dapat tercapai.


Untuk menghabiskan waktu sore ini, aku, Veena, Nic dan Gerry menyusul Sofia dan Rosse berkuda. Yang paling gugup disini tentunya Gerry. Bagaimana tidak, hanya ia seorang laki-laki diantara kami. Ini semua karna Nic yang memaksanya ikut. Melihat kegugupan Gerry itu menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Apa lagi Nic yang selalu mengodanya sehingga membuat Gerry semakin gugup. Terlintas lagi diotakku untuk menantang Sofia dan Nic balapan kuda dan tentunya langsung disetujui oleh mereka. Tapi kali ini siapa yang kalah akan mendapat hukuman.


Satu kali putaran diarea berkuda, yang pertama mencapai garis akhir ternyata Sofia. Hari yang tidak menguntungkan bagiku karna aku kalah dari tantanganku sendiri. Sofia sebagai pemenang akan memutuskan hukuman apa yang diberikan padaku. Nic menempati juara kedua tidak mendapat hukuman apapun tapi ia tidak dapat memutuskan hukuman apa untukku. Aku punya firasat buruk soal ini. Dan benar saja ternyata mereka bersekongkol memaksaku mengunggunakan kostum waktu pesta Hollween. Ini benar-benar membuatku jengkel, apa lagi ketika Sofia menggunakan mantranya waktu itu. Telinga serigala ini jauh lebih sensitif pada suara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian, pagi-pagi Sofia menelponku. Katanya ada arwah wanita yang selalu mengikutinya dan selalu mengintipnya dari balik pintu. Sofia meminta aku bertanya pada arwah itu, kenapa ia selalu mengikutinya. Sofia juga menjelaskan bahwa arwah itu telah mengikutinya sejak ia kembali dari ruang bawah tanah tiga hari yang lalu. Awalnya Sofia merasa hal itu biasa karna ia sering juga bertemu dengan arwah-arwah seperti ini. Bedanya arwah-arwah tersebut hanya muncul beberapa saat saja terus itu menghilang, dan mungkin akan bertemu lagi dihari lainnya tanpa sengaja. Namun arwah kali ini berbeda. Ia sepertinya memiliki maksud tertentu atau ada yang ingin disampaikan padanya.


Aku dan Rosse pergi ke rumah Sofia dengan Rosse yang mengemudi. Aku ingin Rosse terbiasa di depan kemudi, maklumlah ia kan baru belajar. Mungkin nantinya Rosse bisa mengemudi sampai sekolah, dengan begitu aku dapat duduk santai di kursi penumpang. Hehehe... Diperjalan Rosse sempat bertanya, kenapa Sofia dapat melihat hantu pada hal ia bukan seorang Necromancy. Aku menjelaskan bahwa Sofia hanya bisa melihat, ia tidak bisa berkomunikasi dengan arwah-arwah tersebut. Sofia lebih dominan ke sihir dari pada Necromancy yang diwariskan ayahnya. Hampir satu jam kemudian kami akhirnya sampai dirumah Sofia. Rumahnya terlihat sepi. Apakah ada orang disini? Aku menekan bell pintu. Tak lama Sofia keluar menyambut kami.


"Kalian sudah datang. Kenapa lama sekali?" tanyanya sambil mempersilakan kami masuk.


"Rosse yang mengemudi," jelas ku singkat.


Kami duduk di ruang tamu dan membicarakan masalah ini lebih detail. Sofia mulai bercerita dari awal sosok itu mengikutinya. Seorang pelayan datang menyuguhkan minuman pada kami kemudian berlalu pergi. Ditengah-tengah cerita aku merasakan hawa dingin berasal dari belakangku. Apa itu dia?


"Berarti arwah itu telah mengikutiku sejak kau kembali dari ruang bawah tanah," kata Rosse menyimpulkan.


"Iya. Selain ayahku, tidak ada orang lain yang perna ke ruang bawah tanah. Aku ke sana waktu itu untuk mengambil barang yang ayah simpan. Arwah itu tidak menggangguku tapi ia terus mengikuti ku kemana aku pergi ke setiap sudut rumah ini," jelas Sofia.


"Apa sosok yang di belakang ku ini?" tanyaku memastikan.


"Maksudmu dia ada disini? Dimana?" tanya Rosse sambil melirik kesana kesini.


"Bagaimana kita langsung bertanya padanya kenapa ia selalu mengikutimu?"


Aku berdiri lalu menghampiri sosok yang sendari tadi menatap kami dari balik pintu. Seorang wanita parubaya yang mengenakan gaun hitam abat 12. Ia melangkah mundur ketika aku mendekatinya. Aku menyakinkan wanita itu bahwa aku hanya ingin berbincang sedikit saja dengannya. Aku bertanya pada wanita itu, kenapa ia terus mengikuti Sofia? Dan dari mana ia berasal? Wanita itu tidak menjawab. Ia mala pergi tapi sebelum itu ia mengisyaratkan padaku untuk mengikutinya.


"Ada apa Rin?" tanya Sofia menghampiri bersama Rosse.


"Ia memintaku mengikutinya."


"Apa kita harus mengikutinya?" tanya Rosse.


"Tidak ada cara lain untuk mencari tahu."


Kami mengikuti wanita itu yang menuntun kami ke ruang bawah tanah. Sebenarnya apa yang ada disini? Ruang gelap, pengap dan berdebu. Sofia menekan tombol lampu yang ternyata hanya bisa menghidupkan satu lampu di ruang bawah tanah ini. Sangat dingin disini. Pemanas ruangan tidak mencangkup ruangan ini. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku dan meniupnya untuk menghalau hawa dingin. Wanita itu cuman berdiri di kegelapan sambil menatap kami. Tiba-tiba sesuatu tak kasat mata menyerang ku sampai membuatku terduduk terlutut kesakitan. Aku memengangi kepalaku yang terasa amat sakit sambil memejamkan mata.


Aku tidak bisa mendengar suara Sofia dan Rosse yang sepertinya khawatir melihatku. Aku hanya mendengar suara teriakan yang memilukan seperti seseorang sedang disiksa secara keji. Selain itu aku juga mendengar beberapa orang sedang membacakan mantra sihir aneh. Perlahan rasa sakit yang aku rasakan menghilang. Aku membuka mataku dan mendapati diriku sudah berpindah ke tempat berbeda. Aku melirik sana sini mencari tahu dimana sekarang aku berada. Pepohonan. Iya, di sekitar ku hanya ada pepohonan serta cahaya bulan purnama yang melalui cela-cela dedaunan.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε