
"Seharusnya aku membunuh mu sejak pesta perjamuan itu!!" aku berusaha memberontak mencoba melepaskan diri namun tenagaku belum cukup untuk melakukannya.
"Bawa dia ke penjara bawah tanah sekarang juga! Berani sekali menyerang budak darahku secara langsung di hadapanku! Sungguh penghinaan besar untukku," tatapan dari Lucas yang diarahkannya pada ku benar-benar sangat mendominasi.
"Berhenti! Lepaskan dia!" teriak Prof. Peter yang muncul dari sisi kananku.
"Prof. Peter?!"
"Lepaskan dia! Aku lah yang kalian cari," Prof. Peter menarik putus liontinya kemudian melemparkannya begitu saja.
"Aura manusia serigala?! Dia juga seorang manusia serigala, tangkap dia!!" perintah Lucas pada seluruh para penjaga kastil yang ada.
Selain dua penjaga yang menahan ku, penjaga lainnya segera menyerang untuk menangkap Prof. Peter. Tidak tinggal diam Prof. Peter tentu aja melawan. Satu kali lompatan ia seketika lansung berubah menjadi serigala hitam putih. Untuk pertama kalinya melihat paman Fang dalam wujud serigala nya. Aku juga tidak mau menonton saja. Aku berusaha melawan agar bisa lepas dari cengkraman dua penjaga ini. Dengan tenaga yang kumiliki aku berhasil menendang salah satu dari mereka sampai terpental menghantam tembok, dan yang lainnya kubanting keras ke lantai.
Melihat tahanan mereka lepas, sebagian penjaga berbalik menyerangku. Aku tidak melarikan diri. Aku balik menyerang mereka untuk membantu paman Fang. Pesta yang indah berakhir dengan pertumpahan darah. Para siswa/siswi yang menyaksikan pertarungan tersebut berhamburan keluar dari aula kastil. Walau masih ada sedikit di antara mereka yang terlihat asik menonton. Sedangkan Lucas, ia kembali ke lantai atau aula. Dalam keriuhan ini aku tidak melihat Onoval lagi. Ia pasti sangat membenci ku sekarang ini.
"Paman Fang. Dimana Lisa dan Sofia? Apa mereka baik-baik saja?" tanyaku pada paman Fang melalui telepati, disela-sela melawan mereka.
"Aku sudah meminta mereka pergi duluan ke tempat titik berkumpul yang ada di luar kastil. Mereka pasti sudah dalam perjalanan ke sana sekarang. Aku kemari untuk menyelamatkan mu."
"Baguslah. Setidaknya mereka aman. Ayok lawan mereka."
"Siap dengan perintah anda yang mulia."
Aku dan paman Fang menyerang mereka sekuat tenaga. Mereka sulit dihadapi, apa lagi jumlah mereka bertambah dan menggunakan senjata. Paman Fang melarangku merubah wujudku dalam bentuk serigala. Tanda jiwa harus tetap dirahasiakan, kalau tidak akan semakin repot nantinya. Sindy ikut menyerang ku. Untuk sekarang dia lah yang paling sulit di lawan sekarang ini.
"Tenagamu cepat pulih juga ya ternyata. Setelah mendapat sengatan listrik dariku sebelumnya, kau masih bisa mengeluarkan kekuatan sebesar ini."
"AAH ! ! apa kau selalu banyak bicara saat bertarung? Aku rasa tendangan tadi belum cukup membuatmu diam!" kali ini aku menonjol wajahnya.
"Hei! Bisa tidak jangan selalu memukul wajah cantikku?!!" bentak Sindy yang terduduk di lantai sambil memengagi pipinya yang lebam.
"Wajahmu itu memang pantas untuk aku pukul."
"Apa yang terjadi?" Rosse tiba-tiba muncul dengan ekspresi terkejut.
"Rosse!" teriakku memanggilnya.
"Darimana saja kau? Cepat kesini dan bantu aku menangkap mantan temanmu ini!!"
"Tidak, Rosse. Kembali lah pada kami," bujukku padanya.
"Jangan dengarkan dia! Kau sekarang budak darah dari sang putra mahkota vampire. Jangan coba-coba untuk berkhianat!"
DUAR ! ! !
Pintu utama kastil hancur seketika membuat kami semua terkejut. Siapa yang baru saja menyerang dari luar? Terlihat dua orang berdiri di antara debu yang perlahan-lahan menghilang.
"Lepaskan mereka bertiga atau aku tidak akan segan-segan membunuh kalian semua," ancam Sofia sambil mengacungkan pedangnya yang telah berlumuran darah. Tangannya yang satunya masih tetap menggegam erat tangan Lisa.
"Menurutmu? Tentu saja kembali untuk menyelamatkan teman-temanku. Aku tidak akan perna meninggalkan temanku walaupun harus mati."
Dengan menggunakan satu tangan Sofia mengayunkan pedangnya ke arah para penjaga yang menyerang mereka. Sekali tebasan mereka tumbang seketika. Gawat! Sofia sekarang dalam masa iblis nya. Pedangnya sekarang telah mencicipi bau darah. Sofia tidak akan segan-segan membunuh siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi melihatnya menyerang dengan sangat serius, Sofia terlihat begitu keren sekali.
"Rin! Kita harus pergi dari sini! Kita tidak akan cukup kuat melawan mereka semua."
"Baiklah."
Berkat Sofia, pihak musuh sedikit melemah. Kami mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri. Aku menarik tangan Rosse untuk ikut bersamaku. Tidak akan kubiarkan Rosse tetap berada disini. Diluar kastil jiwaku baru bertukar dengan Sherina agar perlarian kami lebih cepat. Sofia dan Lisa ikut bersama paman Fang, sedangkan aku membawa Rosse. Rosse terlihat tidak melawan sama sekali ia berpegang erat pada helaian bulu Sherian. Di hutan kami terus berlari dari kejaran mereka dengan Angel yang menuntun kami pergi ke tempat titik temu. Tapi gerakan vampire sangatlah cepat, mereka hampir berhasil menyusul kami dengan mudah. Apa lagi hutan ini adalah wilayah mereka. Tiba-tiba paman Fang berhenti membuat Sherina ikut berhenti. Lisa dan Sofia turun dari punggung paman Fang.
"Ada apa paman Fang?" tanyaku yang kebingungan.
Paman Fang merubah wujudnya kembali menjadi manusia. "Kalian pergilah. Aku akan menahan mereka agar tidak dapat menyusul kalian. Dan ingatlah untuk tidak menungguku. Miss. Livitt, kau harus segera mengaktifkan teleportasi setelah sampai disana. Bawah lah mereka kembali ke kediaman Morger dengan selamat."
Sherina menukar jiwanya kembali denganku. "Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu! Sudah cukup aku pernah kehilangan mu sekali, aku tidak mau itu terjadi lagi."
"Pergilah. Keselamatan kalian lebih penting. Aku sudah berjanji pada Mr. Morgen untuk menjaga kalian," paman Fang berbalik pergi meninggalkan kami. Dalam kegelapan itu kulihat ia berubah menjadi serigala.
"Tidak! Hiks... Hiks... Paman Fang!!" aku hendak menyusul namun ditahan oleh Sofia.
"Kakak," Lisa menggegam erat tanganku mencoba menenangkan ku.
"Kita harus pergi dari sini Rin. Mr. Li pasti akan baik-baik saja," bujuk Sofia.
Dengan berat hati aku berlari pergi meninggalkan tempat tersebut. Aku tidak melepaskan gengamanku dari tangan Rosse. Kutarik ia bersamaku berlari menuju tempat titik pertemuan. Sampai disana, sebuah gua yang tersembunyi oleh kekuatan sihir. Aku masih engan untuk pergi. Aku ingin kembali menolong paman Fang. Sebenarnya aku tidak kembali ke kediaman. Aku mau menghancurkan kastil NorthVyden! Karna mereka yang membuatku kehilangan satu persatu orang yang aku sayang. Mereka harus membayarnya!!
"Kalian pikir dapat kabur begitu saja dari pulau ini?"
Kami dikejutkan dengan suara yang berasal dari belakang kami. Dari kegelapan Lucas muncul menghampiri kami. Kami segera siaga kalau-kalau ia menyerang. Tapi bagaimana ia bisa menemukan tempat ini?
"Rosse kemari lah."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε