My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Bala bantuan



20 menit sebelumnya.


"Apa?! Bagaimana bisa mereka melarikan diri dari penjara?," dengan geram Lucas sambil mengepak pegangan singgasananya.


"Tuan, bukankah itu Rosse?" tunjuk Sindy ke arena.


"Pengkhianatan!! Berani sekali dia berkhianat padaku!" Lucas mencoba mengendalikan budak darahnya namun hal itu tidak berfungsi sama sekali pada Rosse. "Ada apa ini? Kenapa bisa jadi seperti ini? AAH ! ! Sial!"


"Ada apa tuan?" tanya Sindy bingung.


"Pengawal, tangkap mereka semua!!!" perintah Lucas pada para pengawalnya.


Seluruh pengawal yang ada segera turun ke arena untuk menangkap mereka. Dari berbagai sisi para pangawal muncul mengepung Sofia, Rosse dan Lisa yang masih memeluk Rin di pangkuannya. Dengan nafas ngos-ngosan Sofia membunuh dua singa itu kecuali Aftur. Ia hanya siaga berdiri tidak jauh dari Sofia, Rosse, Lisa dari Rin begitu melihat para pengawal turun ke arena. Sofia tidak menyerang Aftur sama sekali karna Aftur sendiri tidak menyerang mereka.


"Kau tidak mungkin melawan mereka sendirian Sofia. Aku tidak bisa membantumu karna kekuatan yang diberikan Lucas telah menghilang," kata Rosse merasa bersalah.


"Bagaimana ini? Apa semua usaha kita akan sia-sia?" Lisa semakin mendekap kakaknya dalam pelukannya.


"Tidak akan kubiarkan itu terjadi! Kalian tetap di dalam sihir perlindungan!" dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Sofia mengayunkan pedangnya menyerang para pengawal tersebut.


"Aku akan membantumu," kata Aftur menggema di kepala Sofia.


"Siapa itu?" Sofia sempat kebingungan dari mana sumber suara tersebut.


"Tidak perlu susah-susah mencariku. Aku ada di antara selain para pengawal ini."


Sofia menyempatkan diri menoleh mencari siapa yang bukan para pengawal kastil. Yang ia dapat hanyalah seekor singa yang terlihat menyerang pengawal lainnya. "Kau si singa? Kau bisa bicara?"


"Iya. Aku adalah hewan roh yang menjadi tawanan disini. Aku akan membantu kalian tapi kalian harus membawaku pergi."


"Tidak masalah. Asal kau tidak memiliki maksud lain."


Di awal pertempuran yang mulai sengit, tiba-tiba muncul seseorang yang mengenakan jubah hitam dan tudung kepala melompat ke arena dari kursi penonton sambil berteriak.


"Kalian jangan berani sentu mereka!!!"


Namun bukan teriakan dan cara orang tersebut yang membuat semua orang terkejut, tapi melainkan disaat jubah pria tersebut terlepas dan seketika pria itu berubah menjadi serigala. Dengan beringas serigala itu menghalangi para pengawal yang mau menyerang Sofia, Lisa, Rin dan Rosse.


"Mr. Li?! Anda selamat," kaka Sofia yang tahu betul siapa serigala itu.


"Akan ku cerita kan nanti," kata Mr. Li yang tidak dimengerti Sofia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Apa yang terjadi?" tanyaku yang baru menyadari ada pertempuran sengit di sekeliling ku.


"Kakak. Kau sudah sadar, syukurlah," dengan air mata yang mengalir Lisa seketika memelukku erat.


"Rin," panggil Rosse yang membuatku menoleh padanya.


"Rosse."


"Maaf," katanya kemudian sambil tertunduk.


"Tidak perlu minta maaf, aku sudah tahu kau tidak akan perna mengkhianati kami. Aku selalu percaya padamu," aku berusaha berdiri. "Dan untuk sekarang saatnya menghajar mereka. Kalian berdua tetaplah di dalam sini."


"Tapi kak, kau baru sadar," cegat Lisa menahan tanganku.


"Kakakmu ini tidak akan mati semudah itu. Jangan takut."


Ku lepaskan cengkraman tangan Lisa yang menggenggam erat tanganku sambil menyakinkannya. Aku melangkah keluar dari sihir perlindungan. Aku mulai ikut menyerang mereka membantu Sofia dan Aftur.


"Sofia!" teriakku memanggilnya yang membuat ia menoleh.


"Rin?! Kau sudah sadar. Apa yang kau lakukan disini?"


"Kembalilah ke tempat Lisa dan Rosse."


"Apa maksud mu memintaku ke sana dan meninggalkanmu yang baru sadar ini menghajar mereka? Aku tidak mau!"


"Aftur bantu aku berbicara!" teriakku melakukan telepati pada Aftur.


"Baik," Aftur segera membantuku terhubung dengan Sofia melalui telepati. Hal ini memungkinkan aku berbicara pada Sofia tampa diketahui.


"Sofia, kau bisa mendengar ku?"


"Rin. Iya, aku bisa mendengar mu. Sekarang apa yang mau kau rencanakan?"


"Tenagaku cukup banyak terkuras. Aku takut butuh waktu sedikit lebih lama untukku mengaktifkan teleportasi."


"Berusahalah. Aku yakin kau pasti bisa," aku membantu Sofia membuka jalan agar ia bisa kembali ke tempat Lisa dan Rosse.


"Wolf kecil, bagaimana keadaanmu?"


"Aku baik... Paman Fang?!" aku dibuat terkejut dengan suara paman Fang menggema di kepalaku. Aku melirik ke sana kemari dan mendapati seekor serigala yang ikut bertarung tidak jauh dari ku. "Selamat datang kembali Mr. Li."


"Senang bisa kembali yang mulia."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Mereka semua payah! Menangkap anak-anak saja tidak bisa!! Dan lagi, kenapa satu singa itu mala membantu mereka? Pertunjukan yang begitu hebat kini berubah menjadi sirkus yang memalukan."


"Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu tuanku," ujar Sindy.


"Ah! Apa aku harus turun tangan sendiri hanya untuk membereskan kekacauwan ini?" Lucas seketika menghilang dari tempat duduknya.


"Tunggu aku tuan," Sindy ikut menghilang menyusul Lucas.


"Hah... Apa yang sudah aku lakukan? Ini benar-benar tidak masuk akal," gumang Onoval setalah mereka berdua pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tenagamu cepat sekali puli ya gadis serigala," kata Aftur menyempatkan diri berbicang denganku di sela-sela pertarungan sengit.


"Ada seseorang yang membantu," jawabku.


"Siapa dia wolf kecil?" tanya paman Fang.


"Sebenarnya aku juga tidak tahu siapa dia. Tapi aku sungguh berterima kasih banyak padanya."


"Aku sedikit heran, kenapa kau tidak berubah saja? Kekuatanmu akan berlipat ganda jika kau dalam wujud serigala," kata Aftur.


"Aku tidak bisa melakukannya."


"Kenapa? Apa kau belum mahir melakukan perubahan?"


"Ada alasan yang tidak boleh diketahui oleh siapapun disini."


"Rosse!!"


Aku seketika menoleh begitu mendengar teriakan Lisa dan Sofia dari arah belakangku. Apa yang terjadi dengan mereka? Terlihat Lucas dan Sindy sudah berada disana dengan keadaan Rosse telah melayang di udara. Aku secepat mungkin menghampiri mereka.


"Kau gadis rendahan berani sekali menipuku!! Aku akan membunuh mu dengan sangat keji! Rasakan ini!" Lucas melakukan serangannya pada Rosse.


"AAAAAH ! ! !" teriak Rosse kesakitan begitu mendapat serangan tersebut. Permata yang berisi sihir perlindungan hancur seketika.


"Lepaskan dia!!" teriakku hendak menghampiri mereka namun Sindy mengayunkan cambuknya untuk menghalangiku.


"Rin," kata Rosse dengan lemahnya melirikku.


"Kau tidak perlu ikut campur Rin. Tuanku sedang menghukum seorang pengkhianat," ujar Sindy.


"Tidak ada yang bisa melarangku untuk ikut campur termasuk kau!!" dengan geram aku hendak menyerang Sindy. Tapi tiba-tiba Onoval muncul diantara kami yang membuat langkahku terhenti. "Onoval?!"


"Pangeran."


"Sudah cukup. Aku tidak mau melihat pertempuran ini lagi. Semuanya berhenti!!!" bentak Onoval


Mendengar perintah tersebut membuat seluruh pengawal berhenti menyerang. Mereka menurukkan senjata mereka dan berlutut. Bahkan vampire yang ada di kursi penonton juga ikut berlutut. Melihat kejadian ini membuat Lucas tercengang. Bagaimana bisa adiknya dapat membuat seluruh vampire memberi hormat padanya hanya dalam sekali bentakan? Bahkan tubuh Lucas terasa gemetar mendengar perintah tersebut. Sihir yang ia tujukan pada Rosse terlepas dan membuat Rosse jatuh ke pasir. Sofia dan Lisa segera menghampiri Rosse.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε