My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Sebelum bulan Purnama



Siang harinya sebelum pesta bulan purnama. Kami melakukan persiapan untuk pesta malam ini. Sebuah rencana yang telah disusun rapi dan tidak lupa dengan rencana cadangan tentunya. Kami sudah memperkirakan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi malam ini. Rute pelarian juga kami persiapkan, kalau-kalau nanti kami ketahuan dan dalam keadaan terpencar. Kami bisa menuju ke titik berkumpul yang sudah dipersiapkan di luar kastil. Selain rencana untuk mengambil buah ΖΩΗ (ZOI), aku, Lisa dan Sofia juga harus menyiapkan sesuatu yang tidak kalah penting yaitu gaun yang cocok untuk pesta malam ini.


Bukan hanya harus tampak indah tapi juga tidak menyulitkan kami. Gaun panjang dengan banyak hiasannya sangatlah tidak cocok. Kami lebih memilih gaun yang sederhana dan memudahkan kami untuk dapat bergerak dengan bebas tampa terganggu dengan aksesoris yang ada. Untuk masalah pakaian aku serahkan pada Sofia dan Lisa yang meminta izin keluar ke kota dengan mengunakan mobil Prof. Peter. Seluruh murit memang di izinkan pergi ke kota untuk melakukan persiapan pesta malam ini dengan catatan kembali sebelum jam 17.00.


Hah.... Semuanya berjalan baik, kecuali aku belum menemukan cara untuk menghapus tanda gigitan pada Rosse. Prof. Peter telah menyelidiki ketiga guru itu serta kepalah sekolah, tapi ia menemukan kalau bukan mereka yang menjadi tuan dari Rosse. Lalu siapa? Jika kami tidak tahu siapa dia, bagaimana caranya Onoval dapat membantu menghilangkan tanda gigitan tersebut? Waktu semakin bergerak maju. Tapi ada satu yang membuatku bahagia dari semua kekacauan ini. Lisa akhirnya bisa menggunakan kekuatan Telekinesis. Berkat kerja keras dan latihannya selama ini, ia telah mampu menggerakkan benda-benda kecil dengan menggunakan pikirannya.


Aku baru kembali dari kantin disaat aku melihat Rosse berjalan ke arah belakang gedung perpustakaan. Apa yang ia lakukan disana? Di belakang perpustakaan kan hanya ada kolam. Oho... Apa ia mau bertemu tuannya? Aku mengikuti Rosse secara diam-diam. Kulihat dari balik pohon ia bertemu dengan seseorang yang mengenakan jubah hitam bertudung kepala. Orang itu mengingatkanku pada seseorang yang ada di atas pohon dalam hutan akhir pekan lalu. Dia lah yang memerintahkan para vampire tak otak itu untuk menyerang kami. Apa dia tuan dari Rosse? Aku terus memperhatikan mereka yang sedang membicarakan sesuatu. Anehnya aku tidak mendengar percakapan mereka. Apa ada semacam dinding penghalang disini?


Orang tersebut menurunkan tudung. Betapa terkejutnya aku begitu melihat wajah tersebut. Ia adalah Sindy. Tunggu, tunggu. Itu berarti Sindy yang mengirim para vampire tersebut. Aku harus kembali dan memberitahukan ini pada yang lain. Baru selangkah aku mundur, aku tampa sengaja menabrak seseorang. Aku menoleh melihat siapa yang baru saja aku tabrak.


"Yang mulia mau pergi kemana?" sapa nya sambil tersenyum dengan belati sudah dia arah tepat ke leher ku.


"Sindy?! Se, sejak kapan kau..." aku melirik kembali ke arah Rosse. Ia hanya sendirian disana.


"Kau berusaha menguping pembicaraan kami?" tanya Rosse dengan tangan terlipat di dada.


"Aku baru tahu kalau putri klan Α (Alpha) suka menguping."


"Apa yang telah kau lakukan pada Rosse? Kenapa Rosse bisa menjadi budak darah vampire?" tanyaku pada Sindy.


"Kenapa kau tanyakan itu padaku? Tanyakan saja pada temanmu itu. Oh, maaf. Mantan temanmu tepatnya."


"Siapa kau bilang mantan teman?" aku berbalik melihat pada Rosse. "Rosse! Mau seburuk apapun yang kau lakukan padaku, kau tetaplah temanku! Saudaraku! Aku pasti akan membawamu pulang."


"Aku sungguh terharu mendengarnya. Kalau begitu. Rosse, bagaimana kalau kau serang orang yang telah mengakuimu seperti saudara ini. Buktikan Rin kalau kau memang menganggapnya sebagai saudaramu seharusnya kau tidak membalas, kan?" Sindy menurunkan belatinya lalu mendorongku ke arah Rosse.


"Apa kau siap Rin?" Rosse melangkah maju mendekati ku siap menyerang.


"Tidak Rosse. Aku tidak bisa melakukan ini."


"Kenapa? Apa kau tidak bisa tidak tahan untuk menyerang ku karna lelah dengan kerpura-puraanmu? Kau tidak tulus menganggap ku sebagai temanmu, apalagi saudara!"


Rosse menyerang ku dengan kilatan petir. Aku berusaha menghindar sebisa mungkin. Kilatan petir seketika itu menghantam pohon di belakangku dan menimbulkan ledakan. Batang pohon tersebut hancur dengan hanya menyisakan dahan atasnya saja.


"Karna kau sedang dikendalikan. Pikiranmu saat ini bukanlah milikimu tapi miliki tuanmu. Rosse yang ku kenal tidak mungkin mau menyerang temannya sendiri!"


"Kau salah Rin. Tidak ada yang mengendalikan ku saat ini. Aku menyerangmu atas kemauanku sendiri!"


"Benarkah? Aku tidak percaya! Serangan sekuat itu dapat membunuhku kalau sampai mengenai ku. Jika aku mati, apakah itu akan membuktikan ketulusan ku mengangapmu sebagai saudara? Sebagai seorang saudara kita harus saling mempercayai. Dan aku percaya Rosse tidak akan mau menyakiti saudaranya, apalagi sampai membunuhnya."


"Kalau begitu terus saja menghindar! Kalau tidak aku akan benar-benar memembunuhmu!!"


"Rosse mau sampai kapan kau menyerang ku seperti ini? Apa mau sampai salah satu dari kita kelelahan dan mati? Aku tidak akan mungkin menyerangmu, biarpun kau dalam masa dikendalikan."


"Jika kau bosan menghindar lebih baik kau terima saja serangan ku. Rasakan ini!"


Kali ini Rosse menyerang ku dengan kilatan petir yang lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak bisa menghindari serangan tersebut karna tiba-tiba Sindy menggunakan mantra pengikat padaku. Aku berusaha melepaskan diri dari mantra pengikat itu, namun sudah terlambat. Kilatan petir tersebut lebih dulu menyerang ku sebelum aku berhasil lepas dari mantra Sindy.


"AAAAH ! ! !"


Teriakku begitu sengatan listrik menghantam tubuhku. Aku terkulai lemas di tanah setelah menerima serangan tersebut. Seluruh tubuhku terasa sakit semua dan mati rasa. Aku kesulitan untuk bangkit kembali. Tapi anehnya serangan Rosse sama sekali tidak menyerang titik vital. Sengatan listrik tersebut cuman hanya menyengat seluruh tubuhku dan membuatku tidak bisa bergerak. Tidak seperti serangan yang menghantam pohon tadi. Serangan tersebut berpusat pada titik tertentu kemudian meledak begitu menghantam sesuatu. Rosse tidak bersungguh-sungguh ingin menyerang ku. Itu membuatku lega. Setidaknya masih ada kesempatan bagiku membawanya pulang.


"Ayok bangkit Rin. Tidak mungkin baru menerima serangan tersebut kau sudah tidak berdaya, kan?" kata Sindy.


"Rosse," kataku berusaha meliriknya.


Sindy berjalan mendekati Rosse lalu menepuk bahunya sekali sambil berbisik. "Bunuh dia. Tunjukan kesetiaan mu pada kami."


"Aku..."


"Kau masih ragu?"


"Tidak. Tapi..."


"Mau aku yang melakukannya?" Rosse hanya diam. "Baiklah."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε