My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Eksperiment



"Apa semua wanita itu mengalami hal yang sama?" tanya Mr. Guttman.


"Aku tidak tahu. Begitu kami dipanggil untuk berkumpul, hanya tinggal 10 orang."


"Jadi yang lainnya...." kataku tanpa melanjutkan kalimat ku.


"Apa mungkin meninggal?" ujar Sofia kemudian.


"Iya. Mereka semua meninggal. Aku dulu perna ditugaskan untuk membawa mayat seorang gadis ke ruang mayat. Aku tidak tahu penyebab kematiannya," kata paman Alan.


"Bagaimana bisa paman Alan berkerja disana?" tanyaku.


"Hah... Karna ayahku adalah salah satu Profesor yang meneliti disana," ujar paman Alan setelah menghela nafas panjang.


"?!!" aku tersentak terkejut mendengarnya.


"Laboratorium itu telah berdiri sejak lama. Ayahku berkerja dipusat bagian objek penelitian manusia serigala. Sewaktu aku masih kecil aku sering ikut ayah berkerja. Ayah perna mengajakku berkeliling laboratorium dan memperkenalkan padaku beberapa anak yang menjadi objek penelitiannya, saat itulah aku bertemu Derek."


"Umur berapa ayah diculik?" tanyaku sambil menoleh pada ayah.


"Ayah tidak ingat lagi itu, mungkin umur 3 tahun," jawab ayah.


"Umur 3 tahun. Itu masih sangat muda sekali," kata bibi Merry.


"Semua objek penelitian manusia serigala memanglah anak-anak, dan dari semua anak-anak itu cuman Derek lah yang bertahan sampai umur 15 tahun. Ia menjadi anak kesayangan ayah dulu sampai aku iri padanya karna ayah lebih menyukainya dari pada aku," jelas paman Alan.


"Hah, aku dulu sangat membenci mereka semua yang ada disana. Aku terus berusaha untuk melarikan diri dengan berbagai macam cara, namun selalu saja gagal."


"Aku ingat itu. Kau dulu perna meledakan laboratorium agar bisa kabur, tapi kau mala menabrak Cloey dan akhirnya kau tertangkap lagi."


"Itu pertemuan pertama kami," lirik ayah pada ibu. Kulihat ayah tersenyum mengingatnya.


"Lalu bagaimana bisa kalian berempat kumpul bersama dan menjadi akrab?" tanyaku penasaran.


"Bukan berempat, tapi berlima. Jangan lupa, masih ada Elizabeth."


"Oh, iya."


"Menjadi akrab maksudmu?. Sebenarnya aku dan ibumu adalah musuh bebuyutan," kata bibi Tori.


"Musuh?! Bagaimana bisa?"


"Itu karna iri hati juga. Aku sangat iri pada Cloey karna ia menjadi subjek paling di sayang di antara kami semua. Keberhasilan penelitian pada dirinya mencapai 85% dari yang diharapkan. Kau sudah tahu kan betapa sulitnya mempelajari sihir Necromancy. Jadi mereka memutuskan untuk mencari cara agar seseorang bisa dengan mudah menggunakan kekuatan Necromancy. Di tambah lagi Cloey adalah satu-satunya yang selamat dari objek penelitian sihir Necromancy."


"Cara mereka memang gila tapi tujuannya sangat menguntungkan bagi semua. Jika penggunaan kekuatan Necromancy bisa sepraktis Cloey, pemanggilan arwah tidak akan sulit dan resikonya bisa diperkecil sampai tahapan terkecil dengan peluang keberhasilan 99%," kata paman Jaseph.


"Kau pikir dulu Cloey seperti sekarang bisa mengendalikannya? Kalau bukan karna kalung yang di kenakannya itu, aku rasa sepanjang jalan ia akan di ikuti para hantu dan setiap kali melewati kuburan ia akan membangkitkan mayat hidup," kata bibi Tori dengan gaya yang sedikit lucu.


"Separah itu kah?" tanya Rosse.


"Tentu saja. Itu kelemahan Cloey, ia tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Fungsi kalung itu untuk menekan hawa Necromancy yang dimilikinya. Aku perna menarik putus kalung nya sewaktu kita melarikan diri dari kejaran para penjaga. Saat itu kita melewati kuburan dan Cloey tampa sengaja membangkitkan seluruh mayat hidup yang ada disana."


"Tapi karna itu kita bisa kabur dari kejaran mereka, bukan?" kata Ayah.


"Karna apa ibu sampai menarik putus kalung bibi Cloey?" tanya Sofia.


"Ah... Pertanyaan itu... Jawabannya sedikit memalukan," bibi Tori terlihat engan memberitahu kami.


"Itu karna mereka berdua memperebutkanku," kata paman Alan sambil bergaya mendorong rambutnya kebelakang.


"Hah... Sayangnya itu benar," kata bibi Tori mengakuinya.


"Kalian tidak tahu kalau dulu aku ini sangat populer di antara para gadis," paman Alan mulai lain.


"Kenapa aku semakin sulit mempercayainya," kataku datar.


"Kalau kau mau tahu, aku ini dulunya perna pacaran dengan ibumu. Tapi dalam waktu perlarian kedua, tanpa di duga ternyata cinta ibumu perlahan-lahan berpindah ke lain hati, dan itu berpindah ke ayahmu yang dulunya adalah seorang pria dingin," lirik paman Alan pada ayah.


"Cloey dulu sering menemani Derek mengalami perubahannya. Saat itulah awal cinta mereka muncul. Lagi pula Derek perna menyelamatkan Cloey, ketika Cloey tertangkap oleh mereka. Ayahmu benar-benar mengamuk saat itu," kata bibi Tori.


"Em... Memang berapa banyak jenis objek penelitian yang di lakukan oleh orang-orang tersebut?" tanya Lisa.


"Kami tidak tahu. Semua objek penelitian di lakukan secara terpisah dan sesuai bakat masing-masing. Misalnya aku. Aku adalah seorang penyihir. Penelitian yang mereka lakukan padaku iyalah agar aku mendapatkan kekuatan sihir yang besar dan penggunaan sihir melalui pikiran tanpa merampal mantra lagi. Tapi pengendalian sihirku terlalu buruk. Yang paling sering aku lakukan sih meledakan sesuatu ketika aku marah," jelas bibi Tori.


"Bagaimana dengan Liz?" tanyaku.


"Liz..." seketika raut wajah bibi Tori berubah sedih dan tertunduk. "Liz adalah teman ibumu. Ia satu-satunya objek penelitian yang pencapaian tingkat keberhasilannya mencapai 97% dari kami semua. Tapi ia meninggal karna ketidak puasan orang-orang gila itu. Mereka terus saja melakukan uji coba pada tubuhnya. Beberapa obat serta suntikan mereka berikan untuk meneliti efek yang terjadi pada dirinya. Maklum lah karna mereka mencoba membangkitkan kemampuan yang telah lama hilang yaitu Psikokinesis atau yang biasa dikenal dengan Telekinesis."


"Telekinesis?!" Mitéra terlihat terkejut mendengarnya.


"Kenapa kemampuan ini bisa menghilang?" tanyaku setelah melirik Mitéra.


"Karna kemampuan ini sulit diturunkan. Bagi orang tua, ayah atau ibu yang memiliki kemampuan ini, hanya 15% kemungkinan anak mereka mewarisi kemampuan Telekinesis. Tapi anehnya, cucu mereka bisa mewarisi kemampuan ini sampai 30% kemungkinan."


"Itu berarti cucu mereka lebih memungkinkan dapat memiliki kemampuan Telekinesis dari pada anak mereka," kata Patéras menyimpulkan.


"Iya. Tapi kemampuan ini sangat sulit di pelajari. Butuh konsentrasi tinggi agar bisa menguasainya. Biarpun mewarisinya orang sepertimu Rin tidak akan mungkin bisa menguasainya," tunjuk bibi Tori padaku.


"Lah, kenapa harus aku?"


"Itu karna kau paling mudah emosian. Kemampuan Telekinesis sangat tidak cocok untukmu."


"Aku juga tidak mau mempelajari kemampuan yang membosankan itu. Lebih baik kau saja Lisa yang mempelajarinya," kini aku menunjuk adikku.


"Hah, kenapa kau mala menujukku?"


"Mungkin saja rasa sabar mu lebih baik dari pada aku."


"Apa benar itu? Kalian bedua itu sama saja. Kalau salah satu dari kalian penyabar, kalian berdua tidak akan sering bertengkar bila bertemu," ujar Rosse kemudian.


"Padahal mereka berhasil membangkitkan kemampuan yang hilang namun karna rasa belum puas mala membuat seorang gadis meregang nyawa. Sungguh tidak berperikemanusiaan," kata Sofia.


"Waktu perlarian diri yang pertama kami berhasil lolos sampai ke pedesaan terdekat, namun sayangnya kami tertangkap oleh mereka. Seminggu disekap dan rencana melakukan perlarian kedua tiba-tiba kami mendapat kabar kematian Liz. Cloey sangat sedih sekali begitu mendengar Liz telah tiada."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε