
Huaam... Dua minggu berlalu dari kejadian di penginapan. Sekarang aku sudah mengingat semuanya kecuali satu yaitu tentang pria mata merah itu. Aku masih tidak tahu siapa dia. Tidak ada hal menarik lagi setelahnya. Aku sudah memberitahu Sofia soal ingatanku sudah pulih. Ia turut bahagia atas diriku. Karna terlalu bahagia Sofia jadi tahu tentang lukaku. Aku tidak bisa menyembunyikan ekspresiku meringis kesakitan saat ia memeluk erat tubuhku. Baru saja lukaku tertutup tidak mungkin akan terbuka lagi akibat ia terlalu senang kan? Aku terpaksa menjelaskan apa yang aku alami di penginapan dan mencoba untuk sedikit berbohongan padanya. Namun aku tidak bisa membohongi temanku yang satu ini. Bagaimana tidak, ia mengancamku dengan mantra pengikatnya lagi agar aku bicara jujur.
Hari ini aku dengan malasnya melangkah masuk ke gedung sekolah. Huaam... Beberapa kali aku menguap menahan kantuk. Bukan karna menonton film horor tapi melaikan perubahan kelima ku terjadi pukul 03.00 dini hari. Aku hanya bisa istirahat sebentar setelah melakukan perubahan. Ada yang membuatku bingung, bukan karna perubahanku yang terlambat.
Aku sudah bertanya pada ayah, kenapa perubahan kelima ku terlambat dari jadwal yang seharusnya satu bulan sekali? Ayah menjelaskan mungkin karna luka yang aku alami dapat mempengaruhi jadwal perubahanku. Walau tidak mengerti maksudnya tapi bukan itu yang menggagu pikiranku. Aku bingung, kenapa aku masih saja kehilangan kesadaran saat melakukan perubahan? Dan tidak ingat sama sekali apa yang terjadi? Aku pikir, kenapa aku tidak ingat saat melakukan perubahan sebelumnya karna aku mengalami amnesia tapi ternyata tidak. Lantas apa penyebabnya?
"Hei Rin, kenapa pagi-pagi sudah ngatuk begini? Pasti nonton film horor lagi kan?" sapa Sofia saat kami bertemu di koridor loker.
"Bukan. Aku mengalami perubahan kelima ku jam 03.00 dini hari tadi. Aku tidak sempat tidur lagi setelahnya," jelasku.
Kami menuju kelas setelah mengambil buku sejarah. Di kelas, saat Mrs. Ethien menerangkan pelajaran sejarah aku tidak dapat menahan kantukku. Terlebih lagi penjelasan Mrs. Ethien sangat membosankan membuatku tidak bisa menahan mata agar tidak tertutup. Aku tertidur dengan buku yang menutupi wajahku. Mrs. Ethien yang mengetahuinya berjalan mendekat ke arahku ada memukul pelan kepalaku mengunakan buku yang ia bawa. Aku terkejut dan sontak langsung berdiri.
"Aku tidak tidur!" kataku lantang membuat semua orang di kelas tertawa.
"Kau masih mau menyangkalnya. Sekarang cuci mukamu dan berdiri di koridor."
"Ba... Baik Mrs. Ethien."
Aku keluar dari kelas menuju kamar mandi setelah mencuci muka, air dingin membuatku terasa lebih segar dari tadi. Aku kembali ke kelas menerima hukumanku. Ha... Aku menghela nafas panjang berdiri di koridor. Apalah daya nasipku menerima hukuman ini. Hampir dua jam aku berdiri, kakiku sudah kesemutan. Setelah pelajaran Mrs. Ethien usai barulah ia menyuruhku masuk. Aku membarikan kepalaku diatas meja. Aku harap waktu berjalan lebih cepat agar aku bisa pulang dan segera tidur. Jam istirahat aku gunakan untuk tidur lumayanlah sesikit mengisi waktu tidurku yang hilang.
Kriiiing... Kriiiing...
Bell terakhir dibunyikan. Setelah mengemasih seluruh barangku Aku beranjak dan bergegas menuju parkiran hendak pulang, sampai Sofia memanggilku.
"Hei Rin, ada kegiatan sore ini?"
"Iya. Tidur sampai besok pagi."
"Kau bisa tidur malam ini. Mau pergi ke event awal musim gugur tidak? Ada bazar loh."
"Em... Boleh. Pakai mobilku saja."
"Aku tunggu di rumah," Sofia masuk ke mobilnya dan menacap gas pergi.
Sore harinya, seperti yang di rencanakan aku dan Sofia pergi ke event musim gugur yang biasanya diadakan setiap tahun dan berlangsung lebih dari seminggu. Terdapat banyak hal menarik disini seperti berbagai macam perlombaan atau permainan. Yang aku suka adalah bazarnya. Terdapat banyak barang lucu dijual, ada baju dan topi rajutan, pernak-pernik kecil seperti kalung, gelang, bros, dan banyak lagi. Ada juga yang menjual kerajinan tangan, geraba ataupun berbagai macam lukisan. Aku tidak akan perna bosan berkeliling disini.
Saat asik memilih pernak-pernik kecil aku bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak bertemu. Kami hanya berhubungan lewat chat atau telpon saja. Tangan kami tidak sengaja bersentuhan saat menginginkan barang yang sama. Rasa dingin dari tangannya membuatku sedikit rindu.
"Onoval," sapaku ketika melihat wajahnya.
"Sherina. Lama tidak bertemu," ia berbalik menghadapku agar lebih leluasa berbicara denganku.
"Ah, iya. Lama... Sudah lama tidak bertemu," kataku tampa berani menatap matanya. Kenapa aku tiba-tiba gugup? Saat chat atau telponan tidak seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menatap lama matanya saat berbicara. "Eh... Apa... Apa yang kau lakukan disini? Kau suka jepit rambut?" aku segera menurup mulutku. Hal konyol apa yang baru saja aku katakan.
"Ffpp... Aku mana mungkin menyukai jepit rambut," Onoval hanya menahan tawa. Ia kembali memilih pernak-pernik kecil.
"Hm," aku memalingkan muka karna malu, aku rasa wajahku memerah saat itu.
"Tapi mungkin kau menyukainya," tiba-tiba Onoval memasangkan jepit rambut berbentuk merpati ke rambutku. Aku sedikit terkejut. "Ini cocok untukmu," katanya kemudian.
"Tidak perlu berterima kasih. Berapa harganya?" Onoval berbalik bertanya pada penjual itu.
"3 dolar."
"Okey, dia yang bayar," kata Onoval sambil menunjuk ke arahku.
"Ha?!!" belum sempat aku membuat perhitungan dengannya, ia sudah kabur duluan.
"Terima kasih hadia pertemuanya. Adikku pasti suka," teriak Onoval sambil melambai dengan jepit rambut yang sama ada ditangannya.
"Onoval!!. Beraninya kau menipuku!" aku hanya bisa melihatnya menghilang diantara kerumunan. Pertemuan itu berlalu begitu cepat, aku sedikit kecewa. Awas saja kalau aku bertemu dengannya lagi aku akan tonjok mukanya itu. "Berapa tadi?" tanyaku pada penjual tersebut.
"Barangnya sudah dibayar," kata wanita tersebut dengan senyum manis.
"Apa?!"
"Barangnya sudah dibayar. Jepit jambut itu sebenarnya satu pasang. Ia pria yang baik memberikan salah satunya padamu."
"Tampang seperti penipu itu dapat dikatakan pria baik. Ia sengaja menipuku agar aku tidak bisa menghajarnya."
"Simpan saja baik-baik jepit rambut itu. Merpati adalah simbol kesetian, jika salah satu dari mereka terpisah beberapa mil jauhnya. Merpati akan terbang menemukan jalan kembali kepasangannya. Takdir kalian sudah terikat," kata-kata wanita tersebut membuatku terdiam.
"Rin maaf membuatmu menunggu lama. Letak toilet disini cukup jauh," Sofia muncul tiba-tiba sambil menepuk punggungku. Seketika tubuhku merinding.
"Sofia... Kau mau aku terkena serangan jantung!!"
"Maaf. E, jepit rambut yang bagus kau baru membelinya?"
"Jangan bahas soal jepit rambut lagi denganku!" aku pergi dengan raut wajah masih kesal.
"Apa yang salah? Rin tunggu aku."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε