
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
"Rin!!" teriak Cloey memanggil putrinya itu.
"Sudah, biarkan saja dia," ucap Derek menghentikan langka istrinya untuk mengejar Rin.
"Seharusnya kau tidak langsung terus terang seperti itu. Lihat sekarang, ia pasti sangat membencimu."
"Ha..." Derek hanya menghela nafas. "Aku tidak bermaksud menuduhnya. Aku cuman memastikan, dari reaksinya tadi sepertinya ia tidak berbohong. Hanya ada satu yang menggangu pikiranku," Derek mulai menggigit kuku jarinya sabil memikirkan sesuatu.
"Apa itu?" tanya Emely.
"Dari mana mereka tahu kalau Rin adalah manusia serigala?" kata Derek mengutarakan kejangalan dari masalah ini.
"Benar juga. Hanya sedikit orang yang tahu tentang masalah ini dan para tertua itu juga tidak mengetahuinya. Apa mungkin ada penghianat dirumah ini?" kata Alan mempertanyakan pertanyaan yang tidak dinginkan membuat mereka berempat harus berpikir keras.
"Tapi siapa? Selain kita, keluarga Levitt dan Mr. Li tidak ada lagi yang mengetahui masalah ini," ucap Emely memberi komentar.
"Aku tidak berpikir diantara mereka ada yang berkhianat," kata Cloey.
"Aku juga berpikir demikian, mereka tidak memiliki alasan kuat untuk berkhianat," Derek menyetujui pemikiran istrinya itu. "Mungkin penghianat itu ada diantara pelayan atau memang ada mata-mata yang mengitai rumah ini. Lagi pula, Rin perna melakukan perubahan ditempat umum. Tidak menutup kemungkinan kalau mereka mengetahui hal ini dari kejadian tersebut."
"Yang menjadi pertanyaan, untuk apa mereka melakukan hal ini? Apa untungnya bagi mereka?" tanya Cloey.
"Aku akan menyelidiki masalah ini. Lagi pula Mr. Li sedang mencari tahu siapa pemilik akun misterius itu. Oh, iya Alan. Bagaimana penyelidikan tentang Paul Blort?"
"Aku mendapat loporan kalau Paul Blort mendapatkan informasi tentang keluarga Morgen dari seseorang yang misterius. Mereka beberapa kali terlihat bertemu di sebuah kafe dipingiran kota. Menurut rekaman CCTV yang ada dikafe tersebut, orang misterius itu mengenakan jubah hitam sampai menutupi wajahnya. Kami cukup kesulitan untuk mengetahui identitas dari orang itu. Dari perawakan dan tinggi badan kami menyimpulkan kalau ia adalah seorang pria," Alan menyerahkan satu lembar foto pria misterius itu.
"Apa mereka tidak melakukan hal lain selain bertukar informasi?" Derek mulai meneliti foto yang diambil dari rekaman CCTV.
"Ini yang paling aneh menurutku. Pria tersebut tidak meminta imbalan apapun baik berupa uang maupun barang. Ia tidak melakukan hal lain selain memberi informasi."
"Ini benar-benar aneh. Tidak ada orang yang mau membantu secara cuma-cuma tampa ada maksud tertentu," kata Emely.
"Apanya yang aneh? bukankah sudah jelas. Pria itu ingin menghancurkan keluarga Morgen melalui tangan Paul. Kita hanya perlu tahu identitas dari pria itu, mungkin kita bisa mendapatkan tangkapan besar."
"Hei, apa kalian terpikirkan kalau kemungkinan orang dibalik dari dua masalah ini adalah orang yang sama?" pertanyaan yang keluar dari bibir manis Cloey membuat mereka semua terkejut.
...Sudut pandang orang pertama...
...ΩΩΩΩ...
Aku sudah bertekat untuk mencari pelaku sebenarnya dari masalah ini. Yang perlu aku lakukan sekarang adalah keluar dari sini agar aku bisa mencari bukti. Untuk menghindari ayah, ibu dan yang lainnya, aku keluar melewati balkon kamarku. Lompat dari lantai dua bukan masalah bagiku. Aku perlahan berlari memasuki hutan pinus yang gelap gulita, dengan kemampuanku melihat dalam kegelapan ini tidak menjadi penghalang. Ada satu alasan aku melalui hutan, karna ini satu-satunya jalan tercepat menuju rumah Sofia yang berada di barat laut. Hampir setengah jam aku berlari akhirnya aku sampai di rumah Sofia. Aku mengatur nafasku perlahan sebelum menekan bell rumah. Selang beberapa detik pintu dibuka.
"Rin!" seorang wanita menyambut ku penuh keheranan atas kedatanganku yang tiba-tiba. Ia adalah ibu Sofia. "Ada perlu apa?"
"Tidak ada. Hm... Bibi Tori boleh aku menginap disini?" kata bersikap santai.
"Tentu saja. Apa ibumu tahu kau ada disini?"
"Iya."
"Iya bibi Tori, terima kasih," aku melaka hendak pergi ketika bibi Tori sekali lagi bertanya padaku.
"Rin kau ke sini sendirian? Tidak bawak mobil?"
"Em... Paman Fang mengantar ku," bohong ku.
"Oh..."
Kamar Sofia terletak di lantai dua. Aku sudah biasa berkeliling dirumah ini saat masih kecil dulu. Setiap kali berkunjung aku dan Sofia selalu bermain petak umpet. Setiap seluk beluk rumah ini sudah kami jelajahi kecuali ruang bawah tanah yang selalu terkunci sampai sekarang. Aku tidak tahu mengapa ruangan itu terkunci, saat aku bertanya pada Sofia mengenai hal ini ia juga tidak tahu. Hanya ayahnya saja yang perna ke ruang bawah tanah. Itu pun cuman untuk memperbaiki pipa bocor. Sampai dikamar Sofia aku langsung membuka pintu tampa mengetuk lagi. Hal hasil, ia yang sedang bersantai memainkan hpnya sambil tengkurap sangat terkejut melihatku. Hampir saja bola api mengenai wajahku untung aku berhasil menghindar.
"Rin!! Apa yang kau lakukan di kamarku?"
"Shuttt... Aku istirahat dulu," kataku sambil duduk dilantai bersandar di dinding. Aku lelah sekali setelah berlari cukup lama untuk sampai disini. Aku perlahan-lahan menjelaskan pada Sofia semua yang terjadi dari terakhir kali aku bertemu dengannya sampai berjumpa lagi sekarang. Sofia hanya menanggapinya dengan menggaguk sana sini.
"Jadi itu masalahnya? Foto-foto itu memang menjadi trending topik di internet. Semua warga ketakutan dengan serangan serigala tersebut. Tadi saja ada tim patroli yang berkeliling mengawasi situasi. Mereka juga menyarankan untuk tidak berkeliaran diluar rumah dan tetap harus berhati-hati. Jika ada yang melihat serigala itu harap segera melapor agar bisa cepat ditangani..." Sofia berhenti dan melirik padaku.
"Ada apa?"
"Hm... Apa aku harus melapor? Serigalanya kan ada disini."
"Apa perlu aku menerkam mu dulu sebelum kau melapor?" Aku melirik tajam pada Sofia.
"Maaf, aku cuman becanda. Jadi apa yang mau kau lakukan?"
"Mau kah kau membantuku mencari petunjuk besok?"
"Eh?! Kenapa aku?"
"Kau mau bantu atau tidak?" kataku dengan tatapan dingin.
"Iya, iya aku bantu."
Aku meminjam kamar mandi Sofia. Aku ingin menghilangkan bau keringat yang masih menempel di tubuhku. Air dingin terasa sejuk ketika menyentuh kulitku, menyapu bersih semua kotoran yang menempel. Selesai mandi, Sofia memberikan pakaian ganti untukku. Aku menerimanya dengan senang hati.
Jam menunjukan pukul 22.30 saat aku meliriknya. Terasa sunyi disini. Tidak ada suara yang dapat aku dengar di kejauhan. Tapi kenapa aku tidak bisa tidur? Aku berbalik memandang Sofia yang tertidur pulas. Begitu damai. Aaa... Pekiranku terlalu berkelana karna masalah ini. Semuanya terlalu kebetulan, terutama anak itu. Dia yang paling mencurigakan dari semuanya. Oke, besok aku akan datang ke rumahnya untuk mencari petunjuk. Hoam... Aku mulai menguap dan perlahan-lahan memejamkan mata. Untung besok libur jadi aku bebas mengumpulkan bukti yang aku harap berguna untuk membantah tuduhan itu.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε