My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Siapa penghianat disini?



...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang ketiga ΩΩΩΩ...


Kring... Kring...


Telpon rumah berbunyi. Tori segera mengangkatnya ketika ia mendengar itu.


"Hallo," sapa Tori ramah.


"Hallo Tori, apa Rin ada di rumahmu?" suara penuh kekhawatiran membalas dari telpon. Ia adalah Cloey.


"Setelah sarapan pagi tadi, Sofia dan Rin sudah pergi. Katanya mau jalan-jalan santai tapi tidak tahu kemana, sampai sekarang belum pulang. Kenapa?" jelas Tori dan sedikit bertanya.


"Kapan Rin datang ke rumahmu?"


"Sekitar jam 20.00 kira-kira. Kenapa kau menanyakan ini?"


"Karna dia tidak memberitahuku."


"Apa maksudmu Rin kabur dari rumah?"


"Bisa dibilang begitu. Sepagian tadi kami mencarinya di sekeliling rumah namun tidak ketemu sebab itu aku menelponmu."


"Bukannya melacak seseorang adalah hal muda bagi kalian? Memangnya apa yang membuat Rin kabur?"


"Ini karna foto yang tersebar di internet kemarin sore."


"Foto tentang serangan serigala itu?"


"Iya. Disalah satu foto tetangkap gambar mobil Rin. Kami menanyakan hal ini padanya..."


"Pantas saja dia marah, kalian menuduhnya," potong Tori.


"Kami tidak bermaksud begitu. Menurut informasi serigala itu berwarna putih salju. Tidak perna ditemukan serigala berwarna putih bersih kecuali Rin."


"Tidak mungkin kalian menyimpulkan masalah ini hanya menurut informasi dangkal seperti itu kan?"


"Tentu saja tidak, tapi yang pasti target mereka adalah Rin dan tujuan mereka kami masih belum tahu."


"Bukannya identitas Rin sebagai manusia serigala dirahasiakan? Bagaimana mereka tahu kalau Rin iyalah manusia serigala?"


"Kemungkinan besar ada penghianat dalam kediaman ini," bisik Cloey agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Apa kalian telah mencurigai seseorang?"


"Kami mencurigai kalau penghianat itu ada di antara para pelayan. Alan masih menyelidikinya."


"Kalau begitu aku akan telpon Sofia," Tori segera melakukan panggilan ganda untuk menghubungi putrinya itu, namun ia dikejutkan dengan suara dering yang tepat berasal dari belakangnya.


"Bagaimana Tori, kau bisa menghubungi Sofia?"


"Ia tidak membawah hpnya."


"Ha?! Bagaimana ini? Hp Rin juga tidak aktif. Kalau terjadi sesuatu pada mereka," kekhwatiran Cloey kembali menyelimuti hatinya.


"Tenangkan dirimu Cloey, mereka akan baik-baik saja. Aku dan Jaseph akan ikut mencari bersama kalian."


"Aku tunggu kalian dirumah."


"Iya."


Cloey mematikan telponnya dan melangka masuk ke ruang kerja. Disana sudah ada Derek yang tengah sibuk di depan komputer. Matanya terus menatap layar tampa melirik istrinya yang sedang membaringkan tubuhnya di atas sofa sambil menghela nafas panjang. Cloey membutukan istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga dan juga pikiranya. Karna masalah ini ia tidak memiliki nafsu makan sedikit pun. Pagi tadi saja ia cuman minum segelas air putih.


"Makanlah sesuatu, Rin pasti tidak ingin kau jatuh sakit," bujuk Derek ditengah kesunyian.


"Jangan pedulikan aku, kau juga sama."


"..." Derek tidak menjawab ia meneruskan kerjanya.


"Apa kau sudah berhasil melacak akun yang menyebarkan foto itu?"


"Masih belum. Akun tersebut dilindungi oleh virus komputer."


Ditengah percakapan itu tiba-tiba pintu terbuka. Seorang pria berdiri disana. Ia sedikit membungkuk dan meminta maaf karna telah menggagu, tapi ada hal penting yang harus ia katakan.


"Ada perlu apa Mr. Li?" tanya Derek.


"Terjadi serangan lagi. Kali ini lokasinya dipinggir sungai..." Mr. Li tidak melanjutkan. Terlihat dari raut wajahnya sangat takut untuk melaporkan hal tersebut.


"Ada apa Mr. Li? Kenapa kau berhenti?"


"Saat melakukan penyelidikan aku... Aku mencium bau darah Miss. Morgen disana."


"Apa!!!" teriak Derek dan Cloey berbarangan sangkin terkejutnya.


"Antar aku ke lokasi kejadian!"


...ΩΩΩΩ Sudut pandang orang pertama ΩΩΩΩ...


Kepalaku terasa sakit ketika aku berusaha membuka mata. Terdengar suara samar orang berbicara. Cukup lama untuk aku mengumpulkan kesadaranku sepenuhnya. Tempat yang lembab dengan penerangan minim cahaya. Aku memfokuskan diri melihat kesekeliling ruangan. Tidak ada apa-apa disini, ini hanya ruangan kosong. Aku baru menyadari kalau sebenarnya tangan dan kakiku terikat di tiang yang tepat berada ditengah-tengah ruangan. Aku berusaha melepaskan ikatan tersebut tapi tidak bisa ikatannya kuat sekali.


"Rin, kau sudah sadar?" tanya Sofia yang ternyata terikat di belakangku. Ia berusaha melirik ke arahku.


"Tidak tahu. Tapi sepertinya di ruang bawah tanah."


Tap... Tap... Tap...


Terdengar suara orang menuruni tangan. Itu mereka lagi dan kali ini jumlah mereka bertambah satu orang. Pria itu mengenakan jubah hitam sampai menutupi kepalanya. Aku tidak dapat meneliti wajahnya namun aku sekilas merasakan hawa manusia serigala terpancar dari dirinya. Apa ia adalah seorang manusia serigala? Apa ia penghianat itu? Untuk sekarang aku belum tahu. Aku hanya menatap tajam pada mereka.


"Wah... Wah... Kalian sudah sadar rupanya," kata Mr. Hope berjalan pelan mendekati kami sambil menenteng tongkat baseball. "Siapa ini?" Mr. Hope meletakan ujung tangkat baseball tersebut tepat di daguku.


"Hm!" Aku segera memalingkan wajah dengan cepat. Tercium bau anyir dari tongkat tersebut. Hal itu membuatku ingin muntah.


"Kau sudah besar dan tumbuh menjadi gadis yang cantik tapi sayangnya bodoh. Kau terlalu mudah ditipu."


"Hahaha... Iya. Tidak disangka hanya mengelabui anak kecil yang polos kita bisa mendapatkan tangkapan besar," kata salah seorang pria dibelakang Mr. Hope.


"Apa kau paman dari anak itu?"


"Sudah terlambat kau menyadarinya," pria itu menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Aku sudah bilang kalau ini jebakan, tapi kau ngeyel mau kesini," ucap Sofia padaku.


"Apa maumu Mr. Hope?" kataku menatap tajam padanya. Ini memang salahku karna bertindak ceroboh. Aku tidak memperkirakan jumlah mereka.


"Kau masih ingat denganku rupanya. Sudah 10 tahun berlalu, apa ayahmu juga ingat denganku? Ia pasti tidak menyangka dan sangat marah bila mengetahui kalau akulah yang membuat semua keonaran ini. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat keluarganya hancur ditangannya sendiri. Sampai saat itu aku akan menguasai seluruh harta benda miliki keluargamu dan aku sangat menantikan raut wajah keputusasaannya itu," Mr. Hope berbalik hendak pergi.


"Kau tidak akan berhasil dengan rencana busukmu itu!!" bentakku membuat langkahnya terhenti.


"Hahaha... Kau meremehkanku. Rencana ini pasti berhasil karna adanya kau disini," Mr. Hope mengangkat wajahku mengunakan tongkat baseball. "Kenapa? Apa kau mau menggigit ku hewan bodoh?"


"Tidak, tapi aku lebih suka mengoyak kepalamu itu!!" geramku dengan tatapan yang sendari tadi tidak berubah. "Stt..." aku tersentak ketika ada sesuatu yang panas membakar tanganku.


"Maaf," bisik Sofia. Sepertinya ia berusaha melepaskan ikatan ini dengan sihir api.


"Sudahlah, mari kita lepaskan lagi serigala itu. Melihat putrinya tidak kembali pasti mereka berpikir kalau serangan-serangan hewan buas itu adalah ulah putrinya. Oh, iya. Rekaman yang ada di hpmu tadi maaf saja sudah aku hancurkan."


Salah seorang berperawakan lebih pendek dari mereka melemparkan hpku yang tak berbentuk lagi. Aku hanya menatap sedih pada hpku itu. Apa datanya tidak bisa diselamatkan lagi?


"Tunggu," kata pria berjubah hitam tersebut akhirnya, namun hal itu tidak membuatku senang.


Kenapa kembali lagi? Apa pria ini menyadari sesuatu yang dilakukan Sofia? Pria berjubah hitam itu berjalan mendekat ke arahku, sangat dekat sampai ia berjongkok di depanku. Aku masih tidak dapat melihat wajah dikarenakan ia ternyata mengunakan topeng.


"Stt... Auu...!" teriakku ketika pisau yang dingin mengores pipiku. Darah mengalir dan terasa perih disana. Pria itu menyekat darahku mengunakan saputangan yang ia keluarkan dari balik jubah hitamnya. Tidak hanya itu, ia juga menarik kalung ku sampai putus. Setelah mendapat barang yang ia inginkan pria itu beranjak pergi. Ia memberikan saputangan berdarah dan kalung tersebut pada salah satu anak buah Mr. Hope.


"Pakaikan kalung ini pada serigala itu dan oleskan lagi darahnya juga. Bau pada hewan itu telah memudar."


"Baik. Kami pasti mengikuti arahan tuan. Kami sangat berterima kasih, kalau bukan karna tuan kami pasti tidak akan sampai pada tahap ini," kata Mr. Hope sangat menghormati pria tersebut.


"Hentikan basa basi mu aku sangat membencinya. Lakukan saja tugasmu dengan baik. Sisanya terserah padamu."


"Tentu, tentu saja."


Aku masih dapat mendengar percakapan mereka setelah meninggalkan kami di ruang bawah tanah.


"Rin, kau tidak apa-apa?" tanya Sofia kemudian.


"Hanya luka kecil nanti juga sembuh dengan sendirinya. Bagaimana denganmu?"


"Sedikit lagi. Ya sudah."


Akhirnya ikatan ini lepas juga. Kakiku sudah kesemutan karna duduk terlalu lama. Selesai melepaskan ikatan di kakiku tinggal satu masalah... Bagaimana caranya keluar dari sini? Pintunya dikunci dari luar. Kalau aku dobrak, itu akan menimbulkan suara yang besar dan kemungkinan kami tidak akan bisa meloloskan diri.


"Rin ada bekas darah di pipi dan lenganmu."


Aku melihat bekas darah kering yang menempel di lenganku. Mereka pasti melukaiku saat pingsan. "Biarkan saja, lagipula lukanya sudah sembuh."


"Bagaimana caranya kita keluar dari sini? Diruang bawah tanah ini terasa dingin," Sofia menggosok-gosokkan kedua tangannya untuk menjaga tubuhnya tetap hangat.


"Kau bisa mengeluarkan bola apimu untuk mengusir hawa dingin," saranku.


"Atau mungkin aku bakar saja pondok ini sampai hangus tak bersisa dengan begitu kita bisa melarikan diri," kebodohan Sofia mulai terlihat.


"Memangnya kau bisa? Lagi pula jika kau bakar pondok ini, reruntuhan pondok akan menimpa kepala kita. Apa kau mau itu?"


"Tidak. Lalu kita harus apa? Tidak mungkin kita menunggu pertolongan kan? Aku bahkan lupa membawa hpku," Sofia terduduk lemas dilantai, melihat itu memberiku ide.


"Aku ada cara."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε