
Sindy siap melancarkan asiknya untuk menyerang adik kandung dari Rin yaitu Lisa. Ia terus memperhatikan gerak-gerik mangsanya, menunggu waktu yang tepat disaat Lisa dalam keadaan sendirian. Pergantian jam pelajaran Sindy melihat Lisa keluar dari kelas hendak menuju toilet. Ini saat yang bagus untuk menyerangnya. Sindy mengikuti Lisa keluar. Di koridor yang sepi Sindy memulai rencananya. Ia merampalkan mantra agar mangsanya itu tidak kabur.
"Hai Lisa. Benar, kan?" sapa Sindy tampak ramah.
"Sindy? Mau apa kau?" tanya Lisa. Ia telah siap siaga.
"Aku cuman mau berbincang denganmu. Aku tahu kita belum saling berkenal sepenuhnya. Jangan takut, aku cuman mau berteman denganmu," Sindy berjalan pelan mendekati Lisa.
"Aku tidak percaya padamu! Jangan coba-coba mendekat!" Lisa mencoba mundur selangkah tapi langkahnya terhenti karna terhalang dinding penghalang yang diaktifkan Sindy sebelumnya. "Dinding penghalang? Sial!"
"Kau tidak akan bisa pergi. Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu," jarak Sindy dan Lisa hanya tinggal selangkah saja. "Kau adalah adik dari Rin atau nama aslinya adalah Kelya."
"Dari mana kau tahu itu? Apa kak Perchye yang memberi tahu nya?" tanya Lisa dengan sorot mata tajam.
"Kak Perchye? Oh... Iya. Dia juga menganggap mu sebagai adiknya. Perchye sering berita tentangmu. Lau adalah gadis yang sangat pintar, berbakat dan juga menis," Sindy mulai melancarkan mantra penghasut nya.
"Sungguh dia berkata seperti itu?" pandangan mata Lisa berubah.
"Bagus. Akhirnya kau masuk dalam mantra penghasut ku," pikir Sindy. Ia semakin menghasut Lisa. "Tentu saja. Jauh dari kakakmu itu, sebenarnya kau lebih dari segalanya. Kau lebih pintar darinya, kau lebih manis darinya, kau lebih hebat darinya. Lalu kenapa semua perhatian tertuju padanya, bukannya padamu?"
"Perhatian?"
Sindy berjalan mengitari Lisa. "Iya. Dengan semua yang kau miliki ini. Kecerdasan seorang gadis diatas rata-rata dan wajah semanis dirimu ini, seharusnya Perchye lebih memilih mu dari pada dia."
"Kau benar. Orang yang disukai oleh kak Perchye adalah aku bukannya kakak. Semua kelebihan ada padaku bukannya pada kakak."
"Iya, benar. Perchye akan sangat menyukaimu jika kau bisa mencuri pusat perhatian kakakmu itu. Aku bisa membantumu. Kau akan mendapatkan semua yang kau mau termasuk cinta Percyhe," bisik Sindy di akhir kalimat.
"Mendapatkan cinta kak Perchye..."
"Iya, cinta. Itu akan jadi milikmu."
"Tapi sayangnya aku tidak mencintai dia," ujar Lisa sambil menoleh pada Sindy.
"Apa?! I, ini tidak mungkin," Sindy tersentak mundur kebelakang. Sihir penghasutnya retak begitu saja. "Aku sudah mencari tahu masalalumu dengan Rin. Kalian menjadi musuh di sekolah dan selalu bertengkar karna memperebutkan Perchye!"
"Ah, iya. Aku ingat itu memang terjadi tapi hanya sebatas sandiwara. Aku benar-benar tidak menyukai kak Perchye, ia sudah aku anggap seperti kakak ku. Aku berpura-pura nmenyukainya hanya untuk menarik perhatian Rin saja. Tapi sekarang aku tahu dia adalah kakak kandungku. Jadi jangan coba-coba menghasut ku untuk bermusuhan dengan nya karna itu tidak akan perna terjadi!!"
"Tidak mungkin. Sihir penghasutku bisa dipatahkan begitu saja. Sial! Rasa persaudaraan mereka jauh lebih kuat sampai mantraku tidak berkerja pada dirinya," batin Sindy dengan kesal.
E...! Memangnya kenapa aku tidak bisa menghasutmu? Toh, aku masih bisa membunuh mu!! Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu dariku termasuk kakak tercintamu itu. Φωτιά μαστίγιο (Fotiá mastígio)."
Muncul cambuk yang diselimuti kobaran api di tangan Sindy. Lisa tidak bisa melarikan diri karna dinding penghalang yang mengelilingi mereka. Lisa benar-benar terperangkap bersama Sindy yang mau membunuhnya. Sindy mengayunkan cambuk itu dengan sangat kesar ke pada Lisa. Ia sangat kesal karna rencananya gagal akibat tali persaudaraan mereka yang kuat. Lisa hanya pasrah. Ia tidak bisa menghindar begitu cambuk tersebut melayang ke arahnya. Refleks Lisa menutup matanya. Tiba-tiba muncul cahaya biru dari liontin yang ia kenakan. Cahaya itu seketika membuat Sindy terpetal begitu cambuknya hendak menyentuh tubuh Lisa. Tampa pikir panjang Lisa mengambil kesempatan ini untuk lari sejauh-jauhnya dari tempat itu. Dinding penghalang yang diaktifkan Sindy ikut rusak disaat Sindy terpental.
"Sihir perlindungan sialan!!!" teriak Sindy sambil berusaha bangkit.
...Sudut pandang orang pertama...
Aku hendak pergi ke toilet disaat seorang gadis tiba-tiba menabrakku. Raut wajah yang sangat ketakutan sampai pucat basi. Ia hampir terjatuh karna menabrakku. Untung aku berhasil menahan tangannya agar ia tidak terduduk di lantai. Aku tersentak kaget begitu mengetahui siapa gadis yang baru saja menabrakku.
"Lisa?!"
"Kakak!" Lisa langsung memelukku dengan erat.
"Ada apa denganmu? Dari mana saja kau? Kenapa kau begitu ketakutan? Apa ada orang yang menggagumu? Ceritakan saja semuanya padaku. Biar aku beri pelajaran pada dia karna telah menggagumu!" semua pertanyaan penuh kekhawatiran aku lontar kan dan amarah seketika meluap begitu melihat keadaan Lisa yang sangat ketakutan ini. Siapa yang berani menggangu adikku harus mendapatkan pelajarannya. Aku tidak peduli siapa itu, mau dia manusia biasa ataupun vampire.
"Sin, Sindy," kata Lisa dengan nafasnya yang masih tersendat-sendat.
"Apa? Sindy?"
Lisa mengangguk. "Dia mencoba menyerangku dengan cabuk apinya. Beruntung ada sihir perlindungan dari bibi Tori yang menyelamatkanku. Sebab itu aku jadi bisa kabur darinya," jelas Lisa.
Aku melirik permata yang ada di liontin itu. Permata yang semula berwarna biru kini telah berubah menjadi ungu. Satu sihir perlindungan memang telah terpakai. Aku berjalan ke arah berlawanan Lisa berlari tadi. Dengan sorot mataku yang aku rasakan telah berubah dan aura membunuh seketika menyelimuti ku. Aku tidak tahan lagi untuk bertemu dengan Sindy lalu menghajarnya.
"Sindy ya, penyihir tengik itu. Sungguh cari mati! Dimana dia sekarang? Dia harus membayarnya karna telah berani menyerang adikku. Aku tidak peduli jika aku harus menghancurkan sekolah ini untuk menemukannya!"
"Tidak kak. Jangan mencarinya," Lisa menahan ku pergi dengan cara tidak melepaskan pelukannya.
"Kenapa tidak boleh? Dia sudah mencoba membunuh mu."
"Ingat tujuan kita datang ke sekolah ini kak. Jangan karna Sindy identitasmu mala terungkap disini. Aku baik-baik saja, sungguh. Aku mohon jangan berubah," ujar Lisa dengan nada memohon.
"Aku janji tidak akan berubah," aku masih hendak mencari Sindy.
"Aku tidak percaya! Dengan emosi kakak seperti ini, aku tidak percaya kakak tidak akan berubah ketika melihat Sindy nanti. Jam kakak bahkan sudah berbunyi," suara Lisa mulai terdengar menangis.
"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan mencarinya. Berhentilah menangis," aku mengusap lembut air mata yang mengalir itu. "Tapi jangan sampai ia bertemu denganku, karna aku pasti akan memukulnya. Kau adik kesayanganku. Tidak ada yang boleh menyakitimu biarpun itu sehelai rambutpun."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε