
...Sudut pandang orang pertama...
...ΩΩΩΩ...
Sinar mentari kini telah berubah senja. Kuning keemasan perlahan menghilang dari sela-sela jeruji jendela. Malam ini adalah hari pengeksekusian ku. Aku tidak terpikir akan berakhir seperti ini. Maaf ibu, aku telah gagal membawakan obat penawar untukmu. Maaf Mitéra dan bibi Marry karna aku telah gagal memenuhi janjiku untuk menjaga dan melindungi Lisa dan Rosse. Patéras dan ayah maafkan putrimu ini yang tidak bisa pulang lagi. Dan untuk Sofia, Lisa, Rosse dan paman Fang terima kasih karna telah membatuku sampai pada tahap ini. Maaf telah sering melibatkan kalian dalam bahaya.
"Hiks... Hiks..."
"Berhentilah menangis," Sherina kali muncul dan bersandar di punggung ku.
"Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menangis. Aku telah gagal."
"Hei, hei. Kenapa kau begitu putus asa?"
Aku hanya diam sambil menatap kosong dinginnya lantai batu penjara. Sesekali aku melihat beberapa tikus yang lewat dengan mata merah menyalah mereka. Sherina berpindah ke hadapanku. Di tatapannya mataku dengan ketenangan wajahnya yang membuatku aku semakin bersalah. Maafkan aku Sherina. Aku telah membuatmu menderita.
"Sikap seperti apa ini? Sama sekali bukanlah dirimu yang aku kenal. Jika yang lain melihatmu seperti ini, mereka akan ikut putus asa."
"Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Aku tidak tahu. Hiks... Hiks... Aku tidak bisa berpikir. Semuanya kacau. Kacau! Kacau!!! AAAAAAA ! ! ! ! HUAAA.........AAH.....! Huaa............aah.... Hiks... Hiks...." teriakku sejadi-jadinya meluapkan semua apa yang ada dalam hatiku.
"Kau sungguh telah gagal menjadi seorang manusia serigala," Sherina mengusap lembut pipiku. Tangannya yang hangat membuatku tenang dan ditambah lagi mata biru yang menatapku itu seperti langit musim panas yang kurindukan. "Dengarkan aku. Kau adalah calon pemimpin berikutnya dari klan Α (Alpha), klan tertua dari sejarah manusia serigala yang perna ada. Apa begini sekap seorang pemimpin masa depan?"
"Apa kau lupa? Aku cuman manusia biasa. Yang sebenarnya jadi pemimpin klan Α (Alpha) itu adalah kau, bukan aku."
"Kau adalah aku, aku adalah kau, kita adalah satu. Ini takdir kita. Berhentilah menangis. Apa jadinya jika ayah melihatmu begitu putus asa seperti ini?"
"Aku bahkan tidak memiliki cukup tenaga untuk berpikir. Bagaimana menurutmu?"
"Ayoklah Keyla, berjuanglah sedikit. Pikirkan semua anggota keluarga kita yang menantikan kepulangan dirimu. Teman-teman yang juga telah mengorbankan tenaga serta darah mereka untuk membantu. Apa kau mau melihat mereka di eksekusi malam ini?"
Aku kembali diam. Bujukan Sherina masih belum cukup untuk menarikku keluar dari jurang keputus asaan ini. Otakku benar-benar tidak bisa berpikir sama sekali sampai harapanku untuk hidup saja sudah hilang. 'Aku telah gagal' hanya kalimat itu yang terus berputar-putar dalam kepalaku dan... Kenapa dalam kekacauan ini aku mala teringat dengan Onoval? Dia seorang pangeran dari kerajaan vampire dan juga orang uang paling membenci manusia serigala. Kami tidak akan mungkin dapat berteman lagi.
Tiba-tiba terdengar suara pintu jeruji di buka. Aku melirik siapa yang baru saja melangkah masuk ke dalam selku. Tiga orang penjaga berjalan mendekati. Dua dari mereka melepaskan rantai yang menahan tangan serta kaki ku, lalu mereka membawaku keluar dari penjara bawah tanah ini. Aku pasra saja dibawah oleh mereka tampa perlawanan. Apa ini sudah waktunya? Saatnya pengeksekusian. Sekali lagi aku minta maaf pada keluarga dan teman-temanku. Aku tidak bisa pulang dan telah melanggar semua janjiku pada kalian. Apa untuk malam ini suatu kejadian yang diperlihatkan Mia padaku?
"Keyla, jangan biarkan mereka membawamu! Berusahalah untuk melawan. Apa kau ingin sekali matu di tempat musuh bebuyutan manusia serigala? Kau sungguh telah memalukan kaum manusia serigala. Kau bukanlah Keyla yang aku kenal! Gadis pemberani, keras kepala, tidak peduli seberapa buruknya keadaan ia pasti dapat menemukan jalan keluar. Ia gadis yang hebat. Ia bahkan tidak peduli dengan keselamatan dirinya sendiri demi semua orang yang ia sayangi. Semua orang sedang menantikan hadis itu untuk pulang. Aku mohon dengan sangat Keyla, berjuanglah demi semua orang yang menari semua harapan mereka padamu."
"Gadis itu akan mati hari ini. Ia memang pantas mendapatkannya karna telah mengecewakan dan menghancurkan harapan semua orang."
"Sadarlah Keyla!! Tubuhmu bukanlah milikmu seorang! Aku tidak mau tertidur kembali dan untuk selamanya. Walaupun aku cuman dalam bentuk roh, tidak bisa berinteraksi dengan siapapun tapi aku masih mau menikmati hidup ini. Aku mohon Keyla bangkitlah, demi aku."
"Sherina."
Aku berusaha memberontak melepaskan diri. Tidak akan kubiarkan mereka berhasil membawaku. Dengan tenaga yang kumiliki aku hampir berhasil bebas dari mereka tapi salah satu penjaga itu mala menyetrumku menggunakan suatu alat yang daya setrum bisa membuat tubuhku mati rasa sesaat.
"Sial! Sengatan listrik yang kuat sungguh dapat membuatku lumpuh sementara," gerutu ketika tubuhku tersungkur ke lantai.
"Cepat bawa dia ke Colosseum!" perintah penjaga yang membawa alat penyetuman itu.
Dua orang lainnya dengan cepat menerima perintah dan langsung mengangkat tubuhku. Mereka kini kembali membawaku ke luar dari kastil menuju Colosseum, tempat dimana pertandingan Gladiator diadakan.
...Disisi lain. Sofia dan Lisa...
...ΩΩΩΩ...
"AAAAAAH ! ! !" teriak Sofia kesal. "Kenapa? Kenapa mala berakhir seperti ini?"
"Kau bisa diam tidak? Kau menghancurkan konsentrasi ku," Lisa saat ini sedang menggunakan kemampuan Telekinesis nya untuk mengambil kunci yang tergantung di ujung pintu masuk penjara.
"Kau sudah seharian ini melakukannya namun tidak kunjung berhasil. Andai saja tempat ini tidak ada penghalang penggunaan ilmu sihir aku sudah pasti menghancurkan jeruji besi ini!!"..
"Aku mungkin sudah bisa mengambul kunci ini jika kau diam!" bentak Lisa kesal pada Sofia.
Memang beberapa kali kunci itu tampak bergerak namun konsentrasi Lisa terus terganggu akibat Sofia. Lisa mulai berkonsentrasi lagi, memfokuskan diri ke kunci tersebut. Perlahan kunci itu bergerak naik keluar dari kait yang tersemat di dinding batu penjara. Perlahan namun pasti kunci tersebut berhasil lepas dari pengaitnya. Tapi karna kelelahan menggunakan kekuatan Telekinesis berulang kali, konsentrasi Lisa pecah dan menyebabkan kunci tersebut jatuh.
"Hah?!"
.
.
.
.
.
.
ξκύαε