
Aku mendapat potongan bagian kelopak berwarna kuning. Aku mengambil suapan pertama dan mulai memakannya. Em... Kue lembut dan krim manis begitu lumer di mulutku. Ada rasa asam Lemon namun tidak mengurangi rasa manis pada kue ini.
"Ini kue terenak yang perna aku makan. Rasa manis dipadukan dengan asam Lemon segar sangat pas di atas lidahku," kataku sambil terus menikmati kue ini perlahan-lahan.
"Kau mendapat bagian berwarna kuning, itu memang rasa Lemon," ujar kak Cia.
"E? Maksud kak Cia setiap warna memiliki rasa yang berbeda?" tanyaku memastikan.
"Iya. Punyaku rasa Stroberry," kata Rosse sebelum ia menyuap lagi potongan kue dengan kelopak merah itu.
"Aku rasa Melon," kak Cia mendapat potongan kue kelopak hijau.
"Aku rasa anggur," sambung Hanna. Ia mendapat potongan kue kelopak ungu.
"Punyaku rasa blueberry," kata Rian masih menjilati krim biru tua yang tersisa di garpunya.
"Kalau aku rasa Mangga. Aaam..." Tobi meyuapkan potangan besar kue dengan kelopak jingga tersebut masuk ke mulutnya.
"Banar-banar unik. Satu kue ini bisa memiliki tujuh rasa berbeda di setiap kelopaknya. Penampilannya yang cantik tidak kalah dengan rasanya yang nikmat," pujiku.
"Sudah aku bilang kan kalau Seven color lotus cake sangat lezat," kata Tobi dengan mulut penuh.
"Sepertinya kau sangat menyukainya?" tanyaku.
"Tentu saja suka. Jarang-jarang aku dapat menikmatinya."
"Kenapa?"
"Karna hidangan ini sangat laris. Cuman butuh waktu setengah jam saja untuk 21 potong kue ini ledes terjual habis," jawab kak Cia.
"21 potong? Kalau laris kenapa tidak buat banyak?" tanyaku ingin tahu lebih.
"Kau belum tahu Rin. Seven color lotus cake ini hanya bisa dibuat oleh Hanna seorang," ujar Rian.
"Wah, hebat sekali kau Hanna dapat membuat kue seenak dan seunik ini," pujiku pada gadis pemalu itu.
"Te... Terima kasih. Aku tidak sehebat itu kok," kata Hanna merendah.
"Resep kue ini adalah milik ibu kami dan cuman Hanna yang bisa membuatnya persis sama dengan buatan ibu. Aku perna mencoba membuatnya tapi terus saja gagal. Jadi aku cuman bertugas menghiasnya saja," jelas kak Cia.
"Huek..." suara itu berasal dari Rosse yang membuat aku menoleh padanya. Rosse meletakan dua jarinya di bibi seperti menahan mual.
"Ada apa Rosse?" tanyaku padanya.
"Tidak apa. Aku cuman merasa tiba-tiba tenggorokanku tidak enak," jawab Rosse. Kali ini dua jari itu berpindah ke tenggorokannya.
"E, sebaiknya kita bahas yang lain saja. Tenggorokanku juga merasa tidak enak," kata Rian hati-hati.
"Hehe..." aku tebak mereka pasti terbayang kue buatan kak Cia. Aku merasa beruntung tidak mencicipinya.
"Hm! Dasar kalian," kak Cia memalingkan muka sambil cemberut.
"Hahaha..." tawa kami melihat tingkah kak Cia yang seperti anak kecil.
"Ngomong-ngomong aku tidak menyangkah kalau mengunakan isu yang beredar saat ini untuk mengerjai Rin akan berhasil dengan sempurna," ujar Tobi setelah ia menghabiskan suapan terakhir dari kue di piringnya.
"Aku juga. Menuduh Rin sebagai putri keluarga Morgen... Idemu memang bagus Rosse," sambung Rian.
"Pff... Ukhuk! Ukhuk!" aku sedikit tersedak ketika mendenar itu saat minum kopi ku. "Maksud kalian menggunakan nama keluarga Morgen itu cuman mau menuduhku? Aku kira..." aku menoleh pada Rosse yang sedang meniup kopinya.
"Makanya kalau punya muka itu sering-seringlah bergaya di depan kamera. Jadi mereka dapat mengenalimu, Miss. Morgen," ujar Rosse hanya melirikku dari balik cangkir kopinya.
"Aku tidak mau jadi pusat perhatian," aku kembali meminum kopi ku.
"Tu... Tunggu, maksud kalian... Kau, kau benar Miss. Morgen? Sherina Morgen. Putri tunggal dari keluarga Morgen yang itu?" tanya kak Cia terbata-bata.
"Iya, namaku memang Sherina Morgen. Aku kira Rosse sudah memberitahukannya pada kalian."
"Astaga! Aku benar-benar tidak percaya ternyata kau putri dari keluarga Morgen yang melarikan diri itu," ucap Hanna sangat terkejut.
"Kenapa kau tidak memberi tahu kami?" tanya Rian.
"Jika aku tahu lebih awal, aku tidak akan menyuruhmu berkerja disini. Maaf telah lancang mengerjaimu dan membuatmu ketakutan. Maafkan aku Miss. Morgen," kak Cia sedikit membungkukkan badannya, meminta maaf padaku.
"Kak Cia jangan seperti ini. Aku merasa tidak enak," aku menghadang kak Cia membungkukkan badanya lagi. "Sebab inilah aku tidak mau memberitahukan identitasku pada kalian."
"Aku seharusnya sudah menebakmu dari awal tapi aku tidak menyangkah kalau kau lebih dari apa yang aku bayangkan," kata kak Cia pelan.
"Sudahlah kak Cia. Jangan merasa bersalah karna telah memperlakukannya seperti orang biasa. Yang aku tahu kalau Miss. Morgen ini memiliki sifat berbading terbalik dengan sifat keluarga terpandang," ucap Rosse sambil menepuk bahuku.
"Hehe... Apa maksudmu Rosse?" aku menoleh padanya sambil tersenyum.
"Oh, tentu saja maksudku apa yang terlitas dipikiranmu itu. Aku ingat dulu kau sangat nakal sewaktu masih kecil. Kau dulu pernah memecakan vas bunga yang berusiah seribu tahun kan."
"Sese... Sepuluh ribuh tahun?!"
"Berapa harga dari barang antik tersebut?"
Aku tidak memperdulikan sekelilingku. "Biar aku ingatkan sekali lagi ya Miss. Hartley... Kau juga terlibat waktu itu," kataku dingin.
"Kau sendiri yang menyenggol vas nya sampai jatuh dan hancur berkeping-keping," ujar Rosse membela diri.
"Itu karna kau yang merebut krayon yang sama denganku."
"Kau memang segaja meinginkan semua krayon yang aku pakai."
"Berhenti bertengkar!" bentak kak Cia membuat aku dan Rosse diam. "Kalian berdua memecahkan vas antik berusia seribuh tahun hanya karna sebuah krayon? Aku tak habis pikir seberapa nakal kalian berdua saat itu?"
"Karna masalah ini aku jadi dimarahi oleh ibuku," ujar Rosse pelan.
"Memang kau saja yang dimarahi? Aku juga tahu."
"Pff... Hahaha... Aku tak dapat membayangkannya, kalian pasti sangat nakal waktu itu," tawa Rian begitu lucunya.
"Ha... Sudahlah," kak Cia menghela nafas panjang. "Ayok kita beres-beres. Kalian para gadis besok masih harus sekolah kan?"
"Hari juga sudah menujukan jam sepuluh malam," kata Rosse ketika ia melihat jam tangannya.
"Iya, aku juga harus membereskan semua ini," aku menoleh kebelakang yang memperlihatkan pemandangan kapal pecah.
"E, Rin. Em... Maksudku Miss. Morgen sebaiknya kau tidak perlu melakukannya," kak Cia terlihat sangat cangung saat berbicara denganku.
"Kak Cia jangan ubah sikapmu padaku. Aku tidak menyukainya. Bersikaplah seperti pertama kali kita bertemu."
"Baiklah," kata kak Cia tersenyum manis. "Kalau begitu kau bereskan semua ini sedirian ya."
"E?! Kenapa aku sedirian? Bukankan orang itu juga harus bertagung jawab?" tunjukku pada Rian tidak terima.
"Hihi... Bercanda."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε