My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Lama tidak berjumpa



"Perchye?!!"


"Rin? Apa yang kau lakukan disini?"


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Ini wilayah kekuasaan vampire sedangkan kau..." aku tidak melanjutkan kalimat ku.


"Aku tahu. Aku mendapat tugas menyusup kesini."


"Tugas? Tugas apa?"


"Mengambil buah ΖΩΗ (ZOI)"


"Apa," aku tersentak begitu mengetahuinya. Untuk apa Perchye menginginkan buah itu? Apa ia diperintahkan ayahnya karna mereka tahu kami mengincar buah itu juga untuk kesembuhan ibu. Sungguh kejam kalian klan Β (Beta)! Aku tidak akan memaafkan kalian jika terjadi sesuatu pada ibu.


"Rin," Perchye mencoba meraih tanganku namun segera aku menjauhkannya. "Ada apa denganmu?"


"Tidak ada," aku memalingkan pandang ku darinya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya lembut membuatku tidak bisa marah padanya.


Aku menarik nafas panjang lalu mengebuskannya. Kucoba tenangkan diriku dan menjelaskan. "Kami pindah ke sekolah sini sebagai murit pertukaran pelajar."


"Pertukaran pelajar? Sekolah ini tidak perna menerima pertukaran pelajar. Tunggu dulu 'kami'? Masih ada orang lain selain kau yang menjadi murit pertukaran pelajar?" tanya Perchye.


"Iya. Aku, Rosse, Sofia dan Lisa. Kami berempat."


"Dimana mereka?"


"Di lantai dasar. Bagaimana bisa kau lolos dari pemeriksaan? Sekolah ini sangat membenci manusia serigala, dan tanda klanmu..." aku tidak tahan ingin mempertanyakan ini.


"Sihir," jawabnya singkat. "Jangan khawatri, mereka tidak akan tahu identitas ku."


Aku tidak khawatir dengan vampire lain bisa mengetahui identitas Perchye. Namun... Onoval ada di sekolah ini. Ia mengetahui identitas asli Perchye. Bagaimana jika mereka berdua bertemu? Dengan kebencian Onoval terhadap manusia serigala akan kah dia mau tidak mengungkapkan jati diri Perchye ke publik? Aku takut ia tidak akan mau. Sampai saat itu terjadi. Aku tidak bisa melihat identitas Perchye diketahui dan berakhir dalam kandang Gladiator dan dipaksa bertarung dengan hewan buas lainnya. Apa aku harus memperingatkan Perchye soal ini?


"Kakak! Kau disana?" panggil Lisa mencari ku bersama Sofia dan Rosse. Mereka tersentak kaget begitu melihat aku bersama Perchye.


"Pechye?! Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya mereka berbarengan.


"Dia juga salah satu murit pertukaran pelajar," jelasku sebelum Perchye membuka mulutnya.


"Eh... Jadi kau Perchye salah satu dari murit pertukaran pelajar itu, yang datang lebih awal," ujar Sofia.


"Siapa yang satunya ya? Aku jadi penasaran. Apa kau mengenalnya Perchye?" tanya Rosse pada Perchye.


"Bisa dibilang kenal sih. Dia itu..."


"Perchye! Aku sudah menemukan buku yang kita cari," panggil seorang wanita memotong kalimat Perchye. Wanita itu masih ada di lorong sebelah berjalan kemari. Dari suaranya seperti perna aku dengar.


"Hah! Ασπίδα τοίχου (Aspída toíchou)"


Entah mengapa tiba-tiba Sofia membentuk dinding perisai di sekeliling kami. Hal itu membuat kami terkejut. Ada apa dengannya? Ia tahu kalau saat ini harus merahasiakan kemampuannya sebagai penyihir. Tapi kenapa ia mengaktifkan sihir disini? Ia bisa ketahuan. Sofia terlihat sangat waspada sekarang seperti merasakan suatu ancaman yang besar dihadapan.


"Ada apa Sofia?" tanyaku kaget begitu ia mengaktifkan sihir.


"So... Sofia. Ka, kau seorang penyihir?" Perchye lebih kaget lagi mengetahui jati diri Sofia sebagai penyihir.


Sofia tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam ke depan tempat gadis yang memanggil Perchye itu muncul. Sofia tidak perna bersikap seperti ini sebelumnya, kecuali dalam mode siap menyerang lawan dengan sangat serius.


"Jangan takut. Aku tidak akan menyerang kalian, disini," ada penekanan diakhir kata. Gadis itu menampakan dirinya dihadapan kami.


"Sindy!" teriak Rosse kaget begitu mengenal siapa gadis itu.


"Lama tidak berjumpa kalian semuanya. Rosse, Rin dan Sofia. Oh, siapa gadis kecil di samping mu Rin?" lirik Sindy pada Lisa.


"Kau tidak perlu tahu siapa dia!" aku menarik Lisa kebelakang tubuhku. Kehadiran Sindy sungguh sangat aneh menurutku. Bagaimana ia bisa mengenal Perchye?


"Kalian semua sudah saling kenal?" tanya Perchye yang sangat kebingungan tapi kami menghiraukannya.


"Aku juga merasa pertemuan kita ini bukanlah hanya sebuah kebetulan semata. Apa tujuanmu, Sindy?" tanya Rosse.


"Ayolah kalian ini. Kita telah lama tidak bertemu. Beginikah cara kalian menyambut teman lama?" Sindy melangkah semakin mendekati kami lalu ia berhenti tepat di depan pembatas dinding perisai milik Sofia.


Sofia semakin siaga. "Kau bukan teman kami. Katakan saja tujuanmu."


"Bagaimana dengan kalian? Bukankah kita ini sama."


"Apa maksudmu?"


"Kau bisa bertanya pada Perchye atau Rin."


Sofia dan Rosse menoleh pada Perchye kemudian beralih padaku. Aku hanya diam sambil menatap Sindy penuh kebencian.


"Cih! Dasar kau Sindy," kataku pelan.


"Rin," panggil Sofia dengan raut wajah meminta penjelasan.


"Perchye, bagaimana bisa kau mengenal gadis ini? Apa kau tahu kalau dia itu juga seorang penyihir?" tanya Rosse pada Perchye sambil menujuk Sindy.


"Aku tahu itu. Yang tidak ku mengerti disini hanyalah arah percakapan kalian. Bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi disini? Kenapa kalian terlihat saling bermusuhan?" Perchye balik bertanya karna memang ia yang paling kebingungan dengan situasinya.


"Itu berarti hanya ada satu orang yang dapat menjelaskan semuanya," kata Sofia yang tidak mengalihkan pandangnya dariku. rosse dan Perchye ikut menoleh padaku.


"Fiuh... Dingin sekali disini. Bagaimana kalau kita kembali ke asrama? Aku ingin minum secangkir kopi panas," aku berbalik hendak meninggalkan mereka sambil menarik tangan Lisa mengajaknya pergi.


"Jangan mencoba kabur Rin!"


Langkahku terhenti begitu Sofia mengaktifkan mantra pengikatnya padaku. "Sofia."


"Jelaskan pada kami. Apa yang kau sembunyikan? Dan apa alasannya?"


"Iya, Rin. Kita sudah lebih dari sekedar teman sekarang. Kita bersaudara. Apa kau masih mau menyembunyikan sesuatu dari kami," kata Rosse.


"Kakak, tanganmu dingin sekali? Kau tidak apa-apa?" tanya Lisa khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatirkan itu. Uuu... Sst..." tubuhku terasa semakin menggigil.


"Kak."


"Jawab Rin!" pinta Sofia dengan tegas.


"Kalian," kata Lisa pelan menoleh pada Sofia dan Rosse.


"Sofia, Rosse, kalian salah paham. Aku tidak berusaha kabur dan tidak juga berusaha menyembunyikan sesuatu. Akan ku cerita kan semuanya tapi hanya pada kalian berdua. Dan untukmu Perchye..." aku menoleh padanya dengan pandangan sendu. "Maaf. Aku belum sanggup memberitahu mu. Beri aku waktu untuk ini. Ayok pergi Lisa. Aku sudah tidak tahan lagi," aku menarik kembali tangan Lisa dan melangkah pergi meninggalkan mereka.


"Apa?! Rin mematahkan sihir pengikat dan dinding perisaiku begitu saja?" Sofia sangat tercengang mengetahui hal itu.


"Ayok kita menyusul mereka Sofia," kata Rosse sambil menarik tangan Sofia mencoba menyusul kami.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε