
Rian terdiam sebentar. Ia menatap kosong jalanan sepi di bawah sana. Dengan suara pelan aku mendengar ia berkata. "Karna melindungi ku."
"Melindungi mu?" dengan nada terkejut aku bertanya.
"Ingat luka ini? Kalau bukan karna bibi Celia mungkin aku tidak akan berdiri lagi di sini," terlihat linangan air mata itu mulai menetes, tak dapat dibendung lagi. Rian dengan cepat menyekatnya. "Maaf. Pasti sangat terlihat aneh jika kau melihat seorang pria menangis sepertiku."
"Tidak. Tidak sama sekali. Seorang pria juga manusia biasa. Mereka juga memiliki emosi dan perasaan yang sama dengan wanita. Hanya saja mereka jarang sekali memperlihatkannya pada orang lain," aku mengikutinya jauh memandang ke depan.
Setelah satu tarikan nafas, Rian mulai bercerita kembali. "Lima tahun lalu. Pada malam itu, bulam terlihat terang dan cantik sama seperti malam ini. Aku, kak Cia dan Hanna asik menonton TV di ruang keluarga. Dalam keasikan menikmati film kami tiba-tiba dikejutkan dengan suara teriakan dari bibi Celia yang ada dilantai atas, kamarnya. Tentu saat mendengar itu kami bergegas pergi memeriksa keadaan bibi Celia. Sampai disana kami tidak menemukan apapun. Cuman kamar yang berantakan dengan pintu jendela terbuka. Tidak berselang lama ayah dan ibu juga datang tergesa-gesa. Tepat di balkon aku menemukan bercak darah dan bekas cakaran yang terlalu besar untuk ukuran hewan. Hanna menangis tersedu-sedu di pelukak kak Cia mengkhawatirkan ibunya. Balkon tersebut mengarah langsung ke halaman belakang yang terhubung dengan hutan. Kau lihat bukit kecil itu?" Rian menujuk ke bukit yang ada di arah jam dua.
"Iya," kataku setelah melihat ke tempat yang ia tunjuk.
"Di bukit itu ada sebuah gereja tua. Di sana lah, paginya ayah menemukan bibi Celia setelah percarian semalam dengan mengerahkan beberapa tim polisi dan anjing pelacak. Keadaan bibi Celia sangat memprihatikan, bibir pucat gemetar akibat kedinginan, dahi terluka dengan darah sudah mengering dan beberapa luka kecil lainnya. Bibi Celia ditemukan terbaring tidak sadarkan diri di pintu masuk gereja tersebut."
"Apa yang sebenarnya bibi Celia alami pada malam itu?"
"Tidak ada yang tahu. Saat ia tersadar di rumah sakit, keadaannya jadi ling-ling dan raut wajahnya sangat ketakutan. Ia terus saja berteriak histeris, tidak mampu diajak berbicara, apa lagi diberi pertanyaan. Hari demi hari berlalu. Keadaan bibi Celia tidak kunjung membaik. Ia sering merasa ketakutan dikalah malam hari. Terkadang ia tidak tidur semalam sambil menatap ngeri keluar jendela. Bibi Celia biasanya akan mengambil tempat duduk di sudut kamarnya. Ia akan menggegam erat liontin ini di dadanya dengan tatapan ketakutan ke arah jendela," Rian menatap senduh liontin yang melingkar di lehernya sambil terus bercerita.
"Bibi Celia sudah memiliki liontin itu sejak lama?"
"Tidak. Di hari pertama ia keluar rumah sakit, bibi Celia meminta dibelikan liontin perak khusus dan meminta kami semua untuk mengenakannya. Kami terpaksa harus mengikuti keinginannya itu, agar ia tenang dan tidak berteriak-teriak lagi. Ayah sudah meminta beberapa psikiater untuk memeriksa keadaan bibi Celia namun tidak membuahkan hasil. Hampir semua psikiater itu mendapat lemparan benda-benda dan amukan dari bibi Celia. Ia sangat membenci orang-orang tersebut karna telah mendiagnosis dirinya mengalami gangguan jiwa. Aku turut kasihan atas apa yang terjadi pada bibi Celia. Ia sering memberi nasehat pada kami saat aku, kak Cia atau Hanna mengantarkan makanan. Ia akan selalu berkata... "Jauhi jendela dan selalu menguncinya. Ia melihat kita. Mengintai di kegelapan malam dengan taringnya yang basa. Mata terang dengan tatapan membunuh. Cakar besarnya dapat merobek tubuh dengan mudah. Langkah kaki serigan hembusan angin. Ia menargetkan kita!" bisiknya diakhir kalimat.
Saat itu aku tidak mengerti arti dari kata-katanya. Siapa Dia yang bibi Celia maksud? Binatang buas kah? Tidak ada hal yang terlitas dari pikirannku selai binatang buas ketika mendengar kalimat tersebut dari bibi Celia. Sampai suatu malam, satu bulan setelahnya. Pada malam bulan purnama, jam 12 tengah malam. Aku mendengar bibi Celia bergumang di dalam kamarnya. Ia terus saja berkata... "Ia sudah datang. Ia ada disini." dengan nada ketakutan. Untuk memastikan keadaannya aku masuk ke kamar bibi Celia. Ruang berantakan dengan lampu sangat terang, aku melihat bibi Celia duduk di pojokan sambil memeluk lututnya. Ia sangat ketakutan dengan tubuhnya yang gemetar hebat. Aku menghampirinya dan bertanya... "Ada apa bibi? Apa yang bibi lihat?" ia tidak menjawab. Ia hanya menatapku kosong. Lalu tiba-tiba ia berkata... "Moster!" sambil menunjuk ke belakangku.
Sontak aku menoleh. Saat itulah aku melihat sosok yang amat besar berdiri di depan pintu balkon. Tubuh sedikit membungkuk ditutupi bulu hitam kasar. Mata menyalah menatap tajam ke arah kami dengan moncong terbuka memperlihatkan gigi-giginya yang meneteskan air liur. Kuku cakar yang teramat tajam terlihat jelas memantulkan cahaya lampu. Aku sadar ternyata Dia yang bibi maksud adalah sosok di depan kami, manusia serigala."
Dari cerita Rian aku menyimpulkan bahwa manusia serigala yang ia maksud adalah monster serigala sebenarnya. Bagaimana bisa ada monster serigala disini? Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut? Dan manusia serigala mana yang telah melanggar aturan? Aku mendengar kembali kelanjutan dari cerita Rian untuk mencari jawaban.
"Seketika tubuhku mematung. Aku tidak percaya atas apa yang aku lihat saat itu. Tampa aku sadari ternyata makhluk tersebut berjalan mendekat. Aku menyembunyikan bibi Celia di belakang tubuhku. Makhluk tersebut semakin dekat. Langkah kakinya benar-benar tak terdengar saat menyentuh lantai. Ketika cakar makhluk tersebut sesenti lagi dari mataku... Tiba-tiba, bibi Celia menarik putus liontinku dan melemparkannya pada makhluk tersebut. Seperti yang ia harapkan, manusia serigala tidak tahan dengan benda perak. Makhluk itu menggeram ganas, mencoba membuang benda yang membuatnya merasakan rasa terbakar di kulit. Aku dan bibi Celia mengambil kesempatan ini untuk melarikan diri. Tidak ada jalan lain selain melompat dari balkon.
Tinggal beberapa puluh meter lagi kami sampai di gereja tersebut, tak terduga manusia serigala itu berhasil mendahului kami. Dengan geraman berat, manusia serigala itu memperlihatkan taringnya yang tajam. Dalam pikiranku hanya ada bayangan mati. Aku tidak akan bertemu dengan ayah, ibu, kak Cia, dan juga Hanna lagi. Aku tidak dapat mencicipi masakan bibi Celia. Waktu itu aku pasrah atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Manusia serigala itu mulai mengayunkan cakarnya dengan ganas. Tidak disangka bibi Celia mengorbankan tubuhnya untuk melindungi ku. Aku cuman mendapat sedikit goresan ini dari cakar tajam monster tersebut. Namun bibi Celia... Ia, ia mengalami luka parah di bagian punggungnya."
Kali ini Rian mulai terisak-isak. Peristiwa itu pasti sangat menyakitkan untuknya. Bagaimana tidak, orang yang telah memperlakukan dirinya seperti anaknya sendiri meregang nyawa di depan matanya. Aku juga tidak dapat menahan air mataku saat mendengar cerita tersebut. Di lubuk hati kecilku, aku juga merasa bersalah atas kejadian yang Rian alami. Kenapa harus manusia serigala? Padahal aku tahu pasti kalau yang menyerang bibi Celia dan Rian itu adalah monster serigala sebenarnya, tapi adanya mereka juga karna racun dari taring manusia serigala sejati. Jika manusia serigala tidak perna ada di dunia ini. Tidak ada yang akan mengalami peristiwa yang memberi trauma mendalam. Trauma? Rian seharusnya sangat membenciku, tapi kenapa... Kenapa ia masih bersikap santai begini?
"Rin... Sherina!" panggil Rian membuatku sadar dari lamunan.
"Ah, iya. Ada apa?"
"Kau melamun?"
"Tidak. Aku tidak melamun. Cuman... Aku merasa bingung saja, kenapa kau masih bersikap seperti ini padaku? Padahal kau sudah tahu kalau aku ini..."
"Karna aku bertemu dengan manusia serigala yang lain."
.
.
.
.
.
.
ξκύαε