My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Berita mengejutkan



Alan, Emely, Sofia dan Rosse baru datang ketika Rin sudah dipindakan ke ruang lain di lantai 14. Mereka semua bingung dengan kesunyian aneh di dalam ruang tunggu yang tepat bersebelahan dengan kamar pasien. 5 orang di ruangan itu memiliki raut wajah sama dengan pandangan kosong. Emely dan Alan sudah mengetahui perihal orang tua kandung Rin. Derek telah menceritakan semuanya. Namun apa yang terjadi dan bagaimana kondiri Rin mereka tidak tahu.


"Kak, ada apa ini? Apa yang telah terjadi?" tanya Emely pada Cloey.


Mereka masih diam. Cloey yang tadinya tidak bicara sepata katapun tiba-tiba memeluk erat Emely dan mulai menangis sejadi-jadinya.


"Huaaaa...........! Emely.......... Rin......... Dia.........."


"Tenang kak. Ceritakan pelan-pelan."


"Rin... Dia... Mengalami koma. Hiks... Hiks..."


"Apa?!!!" kata mereka serempak dan sangat terkejut.


Sofia berlari masuk ke kamar dimana Rin rawat disusul Rosse dibelakangnya. Dan benar saja, Rin terbaring di ranjang rumah sakit dengan semua alat kesehatan melekat ditubuhnya. Lisa mengangkat kepalanya melihat siapa yang baru saja menerobos masuk.


"Lisa apa yang kau lakukan disini?" tanya Sofia dan Rosse berbarengan dengan eksperesi terkejut.


Oh, iya. Sofia dan Rosse memang sudah mengetahui kalau Rin telah bertemu dengan orang tua kandungnya tapi mereka tidak tahu kalau sebenarnya orang tua kandung Rin adalah orang tua Lisa.


"Memang aka harus izin terlebih dahulu sama kalian?" jawabnya datar.


"Jawab yang jujur atau aku akan mengunakan mantra pengakuan padamu," ancam Sofia.


"Memang kau bisa?" potong Rosse.


"Tidak."


"Sebaiknya diam saja!" kata Rosse sedikit kesal melihat Sofia.


Lisa menatap aneh pada dua orang di depannya. "Kalian masih bisa becanda setelah mengetahui keadaan teman kalian seperti ini."


"Tentu aku sangat sedih saat mendengar kabar ini, tapi aku percaya kalau Rin pasti bisa sembuh dan dapat berkumpul lagi bersama kita. Rin adalah gadis yang kuat. Ia tidak akan meninggalkan teman-temannya. Jangan sampai," ujar Sofia menatap sedih temannya itu. "Iya, kau tahu Lisa aku ini salah satu gadis yang paling tegar dan selalu berpikir positif."


"Alah, saat kau tahu Rin masuk rumah sakit dan mengalami kritis kau mala pingsan. Apa itu yang disebut gadis paling tegar? Kita terlambat datang juga karnamu," ejek Rosse.


"Diam kau Rosse," Sofia memalingkan muka dengan kesal karna malu.


Lisa sedikit tersentak, sampai segitunya persahabatan mereka. Sangat jauh berbeda dengan dirinya. Semua orang yang mengangapnya teman cuman datang saat mereka memelukan kepintaran otaknya, tapi mereka tidak perna ada saat ia dalam kesusahan. Ingin sekali ia memiliki sahabat setia seperti Sofia atau Rosse yang selalu ada ketika senang dan susah.


"Oh, iya Lisa. Kau belum menceritakan kenapa kau bisa ada disini," kata Sofia.


"Kenapa aku ada disini? Tentu saja karna aku adalah adik kandungnya," jelas Lisa singkat.


"E... Kau adik kandungnya? Tidak mungkin. Kenapa tidak mirip sama sekali?" kata mereka serempak.


"Kalau kalian tidak percaya bisa tanya pada mereka," tunjuk Lisa ke ruang tunggu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari demi hari berlalu. Tidak ada tanda-tanda Rin akan bangun dari tidurnya. Zedna hanya duduk termenung disamping ranjang putrinya. Ia menatap Rin yang terbaring dengan semua alat kesehatan penujang hidupnya. Air mata sudah habis terkuras tidak mampu mengalir lagi. Mata sebab dan kurang tidur mulai terasa biasa. Tidak jauh berbeda dengan Cloey, walau Rin cuman anak angkat namun cinta dan kasihnya sama saja. Ia tidak akan sanggup jika kehilangan putrinya lagi. Sudah cukup Rin hampir kehilangan nyawanya akibat kecelakaan musim panas lalu. Jangan sampai awal musim dingin ini terjadi sesuatu yang tidak dinginkan.


Derek dan Carlos sedang berbincang diruang tunggu yang cuman terpisakan dinding kaca. Jadi mereka masih dapat melihat keadaan Rin dari balik kaca tersebut, tapi percakapan mereka tidak dapat didengar dari kamar pasien. Kamar Rin dirancang kedap suara jadi semua suara dari luar tidak akan mengganggunya. Lisa menghampiri Cloey yang sibuk di depan leptopnya. Ia sedang mengurus beberapa data buku yang baru masuk ke perpustakaan. Walau tugasnya sebagai direktur perputakaan sementara di serakan pada Merry, ibu Rosse tapi untuk semua hasil datanya masih harus ia urus sendiri. Lisa mengambil tempat duduk disamping Cloey.


"Ada apa Lisa?" tanya Cloey yang mengerti apa mau Lisa.


"Cuman mau tanya, ini sedikit menggangguku," Lisa mendekatkan wajahnya dan mulai berbisik. "Bagaimana bisa Kakak ku menjadi manusia serigala? Sedangkan tidak ada satupun di keluargaku yang berasal dari hal supranatural seperti ini."


"Em... Angap saja ia pernah menyerangku dalam wujud serigalanya."


"Hah... Dasar anak satu ini berulah lagi."


Cloey mulai bercerita bagaimana Rin bisa mendapatkan kekuatan manusia serigala. Tanpa disegaja percakapan itu di dengar oleh Zedna.


"Apa maksudnya manusia serigala? Keturunan? Kekuatan atau apapun itu?" potong Zedna minta penjelasan.


Cloey mencoba menjelaskan kembali semuanya tentang kekuataan yang di dapat Rin dari transplantasi jantung putrinya. Semua itu terdengar tidak masuk akal di telinga Zedna.


"Manusia serigala itu tidak ada!" bentak Zedna tidak percaya.


"Ada apa ini? Kenapa ribut?" tanya Carlos yang menghampiri mereka bersama Derek.


"Sudahlah, jelaskan di ruang sebelah. Jangan ganggu Rin disini," saran Derek mengajak mereka ke ruang tunggu.


"Lisa jaga kakakmu sebentar ya," ujar Cloey pada Lisa yang dibalas anggukan.


Diruang tunggu Zedna mulai menceritakan awal masalah yang terjadi barusan.


"Lelucon macam apa itu? Aku belum perna melihat manusia serigala dalam hidupku," ujar Carlos menyangkalnya.


"Belum perna lihat belum tentu tidak ada. Apa yang dikatakan istriku adalah kebenarannya. Kalian juga awalnya ragu kalau Rin merupakan putri kandung kalian," kata Derek membelah istrinya.


"Bukan ragu, hanya saja Rin sangat berbeda dengan Keyla..."


"Terutama warna rambut dan matanya," Cloey memotong perkataan Zedna. "Aku sudah jelaskan kalau jantung putri kami mempengaruhi pigmen warna dalam tubuhnya dan juga menurukan kemampuan manusia serigala."


"Aku masih tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri," ujar Zedna minta bukti.


"Baik, jika kalian ingin melihatnya!" tegas Derek yang mulai geram.


Satu kali lompatan Derek seketika berubah menjadi serigala hitam. Carlos dan Zedna teperangak tak percaya dan tampa sadar melangkah mundur. Tubuh mereka gemetar saat melihat hal di luar nalar terjadi di depan mata mereka. Seorang manusia tiba-tiba berubah menjadi serigala. Adakah yang lebih aneh dari itu? Derek berjalan mendekati istrinya lalu mengitarinya. Cloey mengelus lembut kepala suaminya itu yang dalam wujud serigala.


"Monster! Apa yang telah kau lakukan pada putriku?!!" bentak Zedna mencaci-maki Derek.


"Kami menyelamatkan putrimu yang kau telantarkan! Untuk masalah ia mendapat kekuatan manusia serigala semua itu diluar kendali kami. Tidak ada yang bisa diubah," Cloey membela suaminya. Ia tidak terima suaminya disebut sebagai monster. "Lagi pula Rin tidak merasa terbebani akan hal itu. Melihat ia tumbuh sehat dan kembali ceria seperti dulu sudah cukup bagiku," Cloey menatap sedih Rin yang masih belum sadar dari komanya. Ia sendirian, dimana...


"Aku sudah perna bilang. Yang lalu biarlah berlalu, yang akan datang mari dihadapi. Kenapa kalian ribut lagi? Ibu, bukankak seharusnya kau berterima kasih pada keluarga Morgen?" Lisa berbalik kembali menutup pintu meninggalkan mereka yang terdiam diri.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε