My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Mungkin suatu hari nanti



Kami berseluncur bersama. Kutarik ia semakin ke tengah danau di antara sebagian besar pengunjung. Perlahan-lahan Perchye mulai terbiasa menyeimbangkan diri di atas lapisan es danau. Kulepaskan lagi pegangan tanganku begitu kami sampai di sebrang danau. Tempat ini sedikit lebih sepih. Kubiarkan ia berseluncur sendiri. Terlihat Perchye hampir kehilangan keseimbangan namun ia berhasil menjaga tubuhnya tetap tegak. Senyum terukir diwajahnya begitu ia bisa berdiri di atas es. Hal itu tak berlangsung lama. Perchye kembali jatuh tapi kali ini ia menarikku jatuh bersamanya dan tepat diriku berada diatas tubuhnya. Posisi ini benar-benar memalukan, apalagi kami jatuh di depan umum. Seketika aku bangkit dari tubuh Perchye lalu menyembunyikan wajahku yang merah menggunakan kedua telapak tanganku. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang sampai memicu jamku berbunyi. Kuatur nafasku untuk menenangkan diri.


"Kau tidak apa-apa? Jammu berbunyi," tanya Perchye.


"Ah, iya, aku... Aku, aku tidak apa-apa. Ja, jangan pedulikan jamku," seketika aku menutup jamku agar suaranya tidak terlalu kedengaran. Aku semakin gugup bila ia mengetahui hal ini.


"Bagaimana kalau kita ke taman saja? Kita bisa beli kopi atau minuman hangat lainnya," kata Perchye memberi saran.


"Ide bagus."


Kami berseluncur kembali ke tempat awal. Setelah mengembalikan sepatu luncur, aku dan Perchye ke taman yang terletak di depan danau ini. Tepat di kursi taman bawah pohon aku menunggu Perchye membeli kopi panas. Sambil menunggu ku perhatikan orang-orang yang masih bermain ice skating. Walau sinar matahari semakin redup dan kini berganti cahaya lampu tidak menghetikan mereka menari di atas es danau itu. Perchye kembali dengan dua cangkir kopi panas ditangannya. Ia menyodorkan salah satunya padaku. Aku menerima kopi tersebut. Ia mengambil tempat duduk disebelahku. Ku hirup kopi dengan rasa manis memenuhi mulutku, kemudian rasa panasnya menyebar ke tubuhku begitu aku meneguknya.


"Aku ingin selalu seperti ini bersamamu," kata Perchye tiba-tiba dengan pandangan ke depan.


"Hm?" aku meliriknya. Wajahnya sungguh menawan saat dilihat dari samping. Tapi aku tersentak begitu ia menoleh padaku.


"Aku tahu hari itu akan datang. Jujur saja aku takut. Tapi percayalah, aku pasti sangat merindukanmu," digenggamnya tanganku lalu dikecupnya sekali. "Aku akan selalu menyempatkan waktu mengunjungimu dan mengajakmu jalan bersama seperti saat ini."


Sekejap aku belum mengerti maksudnya sampai aku menyadari bahwa tahun ini ia akan lulus dari SMA. Dan tentu benar kami akan jarang bertemu lagi. "Zaman semakin canggih. Kita bisa telponan, saling mengirim pesan dan bahkan melakukan panggilan Video. Tidak perlu dikhawatirkan hubungan kita terputus karna jarak yang jauh," hiburku padanya.


"Aku tahu itu. Tapi kebersamaan ini akan terasa berbeda," wajahnya masih terlihat murung.


"Ngomong-ngomong setelah lulus nanti kau mau memilih Universitas yang mana?" tanyaku mengalikan obrolan ke topik lain.


"Setelah lulus aku akan pulang dulu kekediaman Alharoon. Kau tahu kan aku selama ini tinggal di rumah pamanku di kota."


Benar juga. Kediaman klan Β (Beta) tidak ada di kota ini. "Kalau boleh aku tahu wilayah klanmu itu ada dimana?" tanyaku hati-hati.


"Arah matahari terbit. Kalau ada kesempatan nanti aku akan mengajakmu berkunjung kekediaman Alharoon. Akan kuperkenalkan calon permaisuri ketua klan Β (Beta) selanjutnya."


"Ffrrr......" aku mencipratkan kopi ku begitu aku mendengar itu saat aku minum.


"Ada apa? Apa kopinya terlalu panas?" tanya Perchye khawatir.


"Tidak. Aku cuman terkejut mendengar perkataanmu barusan. Sungguh aku belum siap akan hal itu," aku mengelap bekas kopi yang menetes ke daguku.


"Kenapa harus terkejut? Kau memang calon permaisuriku. Ayah dan ibu pasti menyukaimu."


Mereka akan membunuhku begitu bertemu dan ayahku pasti membunuhmu atau mungkin menyatakan perang besar-besaran terhadap klan Β (Beta). Aku tahu cinta kita tidak bisa bersatu saat ini tapi mungkin suatu hari nanti. Akankah cinta kami bisa menyatukan kedua klan kuno manusia serigala?


Kriiiiing.... Kriiiiing....


Tiba-tiba hpku berbunyi. Aku mengeluarkannya dari saku jaket dan kulihat siapa yang menelpon. Ternyata itu Rosse. Aku langsung mengangkatnya.


"Hallo, Rosse."


"Rin, kau dimana? Ibumu menyuruh kami menjemputmu."


"Aku masih di danau Osma. Kalian sudah sampai mana?"


"Kami baru hendak keluar."


"Ya sudah, aku pulang sekarang. Kalian tunggu aku di pertigaan sebelum jembatan saja."


"Baiklah. Kami tunggu di kafe yang ada di sana," Rosse mematikan telponnya.


"Sudah mau pulang?" tanya Perchye.


"Aku bisa langsung ngantarmu pulang ke rumah," tawar Perchye.


"Tidak, tidak perlu. Lagi pula mereka sudah berangkat. Em... Sebenarnya mereka hanya sekedar mencari alasan untuk bermain keluar," alasanku. Akan sangat gawat kehadiran Perchye di ketahui oleh ayah.


"Oh... Baiklah, aku antar kau menemui mereka. Hari juga semakin gelap dan dingin."


Perchye mengantarku ke tempat dimana aku menyuruh Lisa dan Rosse menunggu. Sampai disana mataku tertuju pada mobil biru milik ibu. Hm, mereka menggunakan mobil ibu, kenapa tidak mobilku? Aku turun dari mobil Perchye begitu melihat Lisa dan Rosse duduk di meja kafe sambil menikmati minuman panas. Perchye tidak turun lagi. Ia mengucapkan selamat malam padaku lalu lekas pergi dengan senyum lembut itu. Aku tidak menyangka orang yang beberapa hari ini kujauhi untuk menenangkan diri ku dari kesedihan ternyata dapat membuatku merasa lebih baik jika di dekat nya.


"Memang bersama orang tercinta dapat membuat seseorang jauh lebih baik," ujar Rosse menghampiri.


"Cuman kak Perchye yang bisa mengembalikan senyum kakak ku ini," sambung Lisa.


"Kalian, sudahlah!" aku mendengus kesal, tapi itu membuat mereka tertawa.


Di perjalanan pulang, mereka masih terus saja mengejekku dan cekikikan antara satu sama lain. Rosse yang membawah mobil aku duduk di sampingnya sedangkan Lisa duduk di kursi belakang tapi ia berpangku tangan di sisi kedua kursi depan. Aku tidak memperdulikan mereka, dengan wajah cemberut kualihkan pandangku ke luar kaca jendela. Tapi entah mengapa tiba-tiba kepalaku terasa pusing dan perasaan tidak enak di uluh hatiku yang seketika naik.


"Rosse, berhenti sebentar!" kataku berusaha menahan mulut ku.


Mendengar itu Rosse langsung menginjak rem mobil. Tidak memperdulikan pertanyaan mereka dan raut wajah bingung itu, aku keluar dari mobil lalu memuntahkan semua isi perutku ke pinggir jalan. Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba aku merasa mual begini?


"Rin, kau kenapa? Mabuk perjalanan?" tanya Rosse.


"Aku tidak apa... Hoek..." aku kembali muntah. Aku rasa sebelum isi perutku benar-benar kosong rasa mual ini baru akan berhenti.


"Kau tidak terlihat baik-baik saja kak," ujar Lisa.


"Apa perlu kita telpon orang tuamu?" saran Rosse.


"Tidak. Tidak usah. Lagi pula kita mau pulang juga," kataku masih tertunduk.


"Hei... Mau tahu apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba merasa mual?" Sherina seketika muncul di hadapanku dan itu membuatku terkejut.


"AAAH ! !" aku terduduk kebelakang sangking terkejutnya. "Bisa tidak kau jangan muncul tiba-tiba di hadapanku!! Itu membuatku takut!"


"Hihi... Maaf" ia mala cekikikan melihatku yang terkejut.


"Sudahlah. Beritahu aku, kenapa aku merasa mual begini?"


"Itu mungkin karna tahapan keenam."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε