
"Sindy, kau jangan macam-macam denganku! Dimana Rosse? Lepaskan dia!!"
"Lepaskan Rosse? Kau tidak memohon agar aku melepaskan mu dulu? Kau memang kakak yang baik Rin. Kau lebih mementingkan keselamatan adik-adikmu di atas keselamatan dirimu. Aku bisa saja membunuh mu disini tapi kau masih memikirkan Rosse yang telah mengkhianatimu."
"Itu juga karnamu. Kau yang menghasut Rosse agar ia menjadi budak darah!! Katakan siapa tuan dari Rosse?!!"
"Tuan dari Rosse? Untuk apa kau mengetahuinya? Kau tidak pantas. Tapi biarpun kau tahu, tidak ada gunanya juga untukmu. Rosse telah menjadi budak darah dan sekarang tubuh serta jiwanya adalah milik tuannya. Jika ia menentang tuannya maka ia akan mati."
"Tidak."
"Itu memang benar. Tidak ada jalan kembali untuknya. Tapi kau jangan khawatir, ia akan bahagia disini. Ia terlihat sangat senang karna memiliki kekuatan spesial yang diberikan tuannya padanya."
"Tidak! Dia tidak akan bahagia jika jiwanya terkekang di tangan seorang vampire. Jiwa yang tidak bebas layaknya di penjara itu apa hebatnya?!! Ini semua karna mu, Sindy!!!" dengan luapan amarah yang memenuhi suluruh tubuhku aku berhasil mematahkan sihir Sindy.
"Kekuatan manusia serigala yang luar biasa. Kau bisa mematahkan mantra sihir ku dengan sangat mudah."
"Kembalikan Rosse padaku. Dimana dia sekarang?!!"
"Aku juga tidak tahu dimana dia sekarang. Tapi aku beritahu sekali lagi ya Rin, kau tidak akan bisa mengembalikan Rosse sebesar dan sekeras apapun usahamu. Rosse telah menjadi budak darah dari vampire terkuat di dunia ini."
"Apa? Vampire terkuat di dunia ini? Apa mungkin... Tidak, ini tidak mungkin. Putra mahkota tidak terlihat seperti orang jahat dan lagi pula ia belum perna minum darah secara langsung dari tubuh korbannya. Kau jangan mencoba menakut-nakutiku! Setiap omonganmu itu tidak bisa di percaya."
"Tidak mau percaya, ya sudah. Aku juga tidak memaksa."
Sindy berbalik dan melangkah mendekati pohon ΖΩΗ (ZOI). Aku hendak melaluinya tapi aku terhalang dinding perisai yang entah sejak kapan Sindy aktifkan.
"Sindy! Jangan coba-coba merebut buah itu dariku!" teriakku sambil menggedur dinding perisan yang di aktifkannya.
Sindy tidak mendengarkan ku. Ia mala menggapai buah tersebut lalu memetiknya. Buah dari pohon ΖΩΗ (ZOI) yang seukuran buah anggur kini berada di tangannya. Melihat itu aku semakin menggedur dinding perisai tersebut sekuat tenaga yang akhirnya hancur. Aku bergegas menghampiri Sindy untuk merebut buah itu, tapi ia berhasil menghindar.
"Sindy, berikan itu padaku."
"Cobalah merebutnya dari tanganku."
Dengan geram aku mengejar Sindy yang main-main denganku. Ia beberapa kali menghindar dan menyerang ku untuk menghambat ku merebut buah itu darinya, namun beberapa kali juga aku hampir berhasil merebut buah tersebut. Buah ΖΩΗ (ZOI) terus berpindah-pindah tangan yang akhirnya tidak ada pada kami berdua. Buah itu berakhir di tangan Perchye yanv baru datang.
"Perchye," kataku dan Sindy yang terkejut dengan kehadiran Perchye.
"Bagus sayang, sekarang berikan buah itu padaku," pinta Sindy sambil mengulurkan tangannya.
"Perchye, kumohon berikan buah itu padaku. Aku sangat membutuhkannya," aku memohon pada Perchye agar ia memberikan buah itu padaku bukannya pada Sindy.
Perchye hanya diam menatap kami lalu beralih memandangi buah yang ada ditangannya.
"Perchye, kumohon," ujarku sekali lagi memohon padanya.
"Tidak Perchye! Jangan berikan buah itu padanya. Pikirkan lah klan mu, itu lebih penting. Kau merupakan calon ketua klan Β (Beta) selanjutnya. Sudah kewajibanmu mementingkan klan mu di atas segalanya. Dan sebagai calon ketua kau pasti bisa mendapatkan yang lebih baik dari dirinya."
Buk!
Satu pukulan aku luncurkan ke kepala Sindy. Aku benar-benar kesal mendengar ocehan yang menghasut kan itu.
"Aw!" rintih Sindy sambil mengusap kepalanya yang sakit. Ia melirik tajam padaku. "Berani sekali kau memukulku!!"
"Hah, mau memukulku lagi? Jangan harap!"
"AAH.......! ! Kau sungguh menjengkelkan Sindy!!" kali ini aku menyerangnya dengan kekesalan yang menyelimuti diriku.
"Ayok pukul aku lagi kalau bisa," ejek Sindy sambil terus menghindari serangan ku.
"Sudah cukup kalian berdua!!!" bentak perchye membuat kami berhenti. "Aku mau memberikan buah ini pada... Rin."
"Sungguh?" Aku sedikit terkejut mendengarnya. Perchye lebih memilih aku dari klan nya sendiri. Apa ia masih mencintai ku setelah semua yang terjadi?
"Apa?! Perchye aku benar-benar tidak percaya ini. Setelah semua yang telah aku lakukan untukmu dan juga klan mu, kau mala lebih memilih kekasihmu ini. Perchye, dia adalah putri dari klan Α (Alpha), musuh bebuyutan mu! Berani sekali kau mengkhianati klan mu sendiri!" oceh Sindy yang tidak di pedulikan Perchye.
"Kau lebih membutuhkannya dari pada aku. Sebagai dari putra ketua klan Β (Beta) aku minta maaf atas apa yang terjadi pada ibumu."
"Aku tidak akan biarkan ini Μαγεία τηλεμεταφοράς (Mageía tilemetaforás)"
Baru hendak Perchye memberikan buah ΖΩΗ (ZOI) padaku tiba-tiba muncul kilatan cahaya teleportasi yang seketika memutarinya lalu membawanya menghilang dalam sekejap mata.
"Tidak ! ! !" teriakku karna tidak cukup cepat menggapai buah tersebut. Hancur sudah! Hilang sudah kesempatanku untuk menyelamatkan nyawa ibuku. Aku terduduk lemas dengan air mata mengalir deras di pipiku. "Maafkan aku ibu... Hiks... Hiks..."
"Rasakan itu Rin. Sekarang aku telah mengirim Perchye kembali ke kediaman Alharoon. Kau tidak akan bisa mendapatkan buah itu lagi."
"Sindy!! Semua ini karnamu! Aku akan membunuh mu!!!"
Dengan amarah yang meluap-luap aku menyerang Sindy dengan kekuatan penuh tampa merubah wujudku. Satu ayunan pukulanku dapat menjebolkan tembok kastil, dan membuat ia terpental menghantam tembok walaupun ia telah mengaktifkan dinding perisai berlapis untuk melindungi dirinya.
"Kekuatan dari putri serigala yang di ramalkan cukup mengerikan juga ya," Sindy berusaha bangkin sambil menyekat darah yang keluar dari mulutnya.
"Jangan banyak bicara lagi. Bangkitlah dan lawan aku!!"
Kali ini ia berhasil menghindar. "Baiklah, aku akan bermain denganmu. Φωτιά μαστίγιο (Fotiá mastígio)"
"Kau mau menggunakan cara yang sama seperti pada malam pejamuan dulu?"
"Iya. Tapi waktu itu aku belum sekuat sekarang," Sindy mengayunkan cambuknya ke arahku.
Aku berusaha menghindari serangannya. Kekuatan Sindy memang jauh lebih dari pada waktu itu. Entah bagaimana caranya kekuatannya bisa meningkat pesat. Aku terus menghindari dan menangkis setiap ayunan cambuknya yang diluncurkan secara betubi-tubi. Sindy tidak memberi kesempatan bagi ku untuk membalas. Namun yang tidak aku sadari ternya ujung cambuknya tersemat perak yang berbentuk tombak. Perak tersebut sempat melukai tanganku. Rasa terbakar dari bersentuhan dengan perak membuat fokus sedikit tealihkan. Aku kini sering menerima serangannya dan akhirnya cambuk yang Sindy gunakan berhasil melilit tubuhku. Hal ini membuatku tidak bisa bergerak.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε