My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Bagaimana cara berubah kembali?



Dengan geram Lisa mengepal segenggam salju kemudian melemparkannya padaku. Aku berusaha menghindar dari lemparan bola salju yang bertubi-tubi Lisa arahkan padaku. Tidak ada satupun yang kena, mala bola salju itu mengenai Sofia. Tidak terima, Sofia menjentikkan jarinya lalu tiba-tiba muncul belasan bola salju di udara. Sofia melemparkan bola salju itu secara bersamaan ke arah Lisa. Hal hasil Lisa jadi boneka salju yang hanya menyisakan kepalanya.


"Tidak adil!! Kau menggunakan sihir!"


"Tidak ada yang melarang," ujar Sofia tampa merasa bersalah.


Perang salju terjadi begitu aku mendorong Sofia belakang tubuhnya sampai ia jatuh tengkurap. Tentunya kesal akan hal itu ia melakukan tindakan sama seperti yang ia lakukan pada Lisa. Tapi aku bisa dengan cepat menghindari serangan tersebut sampai berimbas pada Rosse. Kami berempat baru berhenti karna kelelahan. Mungkin karna terlalu asik bermain kami tidak menyadari kalau tinggal kami berempat di taman ini.


"Em, kemana yang lain?" tanyaku, tapi mereka tidak dapat mendengarnya. Telapati hanya bisa dilakukan pada sesama manusia serigala.


"Ada apa Rin?" tanya Rosse yang tidak mengerti maksudku.


"Grrr........" sambil menggeram aku memberi isyarat mereka mencari keberadaan yang lain. Barulah mereka mengerti maksudku.


"Apa maksudmu mau bertanya kemana yang lain?" kata Lisa memastikan.


"Iya," aku menganggukan kepalaku.


"Tidak tahu," jawab Sofia.


"Hah... Percuma saja aku bertanya pada kalian," aku menghela nafas panjang. Pandanganku teralih pada Sherina yang entah sejak kapan terus menatap ke arah hutan dengan tatapan gelisah. ["Ada apa? Apa yang kau lihat disana?"]


["Aku merasa sendari tadi kita di awasi. Arahnya dari hutan itu," tunjuk Sherina ke dalam hutan.]


["Mungkin itu hanya perasaanmu saja."]


["Tidak. Firasat ini terlalu kuat. Aku merasakan keberadaan klan lain dan mereka sepertinya mengincarmu," kini Sherina terlihat takut dan sangat waspada.]


["Jika memang ada klan lain tidak mungkin ayah dan bibi Emely tidak menyadarinya dan berani meninggalkan kita ditempat terbuka seperti ini," sebenarnya aku juga mempunyai firasat yang sama.]


"Kalian semua, ayok masuk ke rumah dulu! Diluar terlalu dingin," pekik bibi Emely tepat di teras rumahnya. Ia sudah berubah ke wujud asalnya.


["Aku rasa bibi Emely telah menyadarinya."]


["Jangan takut. Kita ada dalam wilayah klan kita. Tidak mungkin mereka berani masuk begitu saja ke klan Α (Alpha). Ayah pasti sudah mempunyai persiapan," kataku berusaha meyakinkan Sherina kalau semuanya akan baik-baik saja.]


["Iya. Aku percaya pertahanan kediaman klan Α (Alpha) tidak dapat mudah ditembus begitu saja."]


Kami bergegas menghampiri bibi Emely begitu ia memanggil. Sampai disana kami langsung saja masuk ke dalam rumah. Aku sempat melirik bibi Emely begitu melewatinya yang berdiri di depan pintu. Ia terlihat menatap khawatir ke dalam hutan. Hm... Apa yang sebenarnya terjadi? Begitu kami di dalam dengan cepat bibi Emely mengunci pintu. Aku berusaha untuk tidak memperhatikan itu walau sangat menggagu pikiranku. Aku menghampiri Rosse, Sofia dan Lisa yang telah ikut bermain bersama Jimmy dan Mia. Tumben Jimmy datang tapi tidak bersama ibunya. Seberapa besar masalah ini sampai-sampai semuanya harus turun tangan sendiri?


"Em... Kak. Aku mau tanya, bagaimana caranya kau berubah kembali?" tanya Lisa kemudian membuatku tersentak.


"Astaga! Aku melupakan itu," aku seketika berdiri dan meraung pada mereka.


"Sabar Rin. Kau membuat kami takut," kata Sofia.


"Iya, kau seperti mau menerkam kami," sambung Rosse.


["Sherina kau harus membantuku. Bagaimana cara berubah kembali?" tanyaku pada Sherina.]


["Untuk perubahan di luar tahapan perubahan biasa menggunakan kendali pikiran sendiri. Tapi saat ini kau sedang dalam tahapan perubahan. Kalau saat aku mengalami perubahan tahapan satu sampai lima itu, biasanya aku menunggu sampai berubah sendiri ke wujud asal. Aku tidak tahu dengan tahapan keenam, bukannya kau harus mendapat bantuan dari manusia serigala lain untuk berubah," jelas Sherina.]


["Itu berarti aku harus mencari bibi Marry."]


"Ada apa Rin? Kenapa wajahmu panik begitu," tanya bibi Emely sambil berjalan mendekat.


Aku menoleh padanya. "Kebetulan sekali bibi Emely. Bantu aku berubah kembali," kataku memohon.


"Astaga, Rin! Bibi melupakan itu. Sebenarnya waktumu hanya sejam. Jika kau tidak berubah dalam jangka waktu tertentu, kau akan seperti itu lamanya," kata bibi Emely.


"Apa?!! Kenapa tidak memberitahu ku dari awal?" Aku menggeram kesal pada bibi Emely.


"Dan waktumu sudah berakhir... Setengah jam yang lalu," tambah bibi Emely dengan senyum di wajahnya.


"Rasakan itu Rin. Kau tidak bisa berubah kembali ke wujud asalmu," kata Rosse seperti biasa selalu membuat jengkel.


"Tidak apa kak. Aku akan selalu mengajakmu jalan-jalan setiap hari," kata Lisa mala ikut-ikutan.


"Kita bisa bermain lempar tangkap saat musim panas tiba," ujar Sofia.


"Oh, bagaimana kalau permainan mengejar tupai?"


"Aku baru ingat dua minggu lagi ada perlombaan kereta salju. Bagaimana kalau salah satu dari kalian ikut mendaftar?" bahkan bibi Emely juga.


"GROARRR ! ! !" geramku ganas pada mereka sambil memperlihatkan taringku. Hal itu membuat mereka bungkam seketika. "Kalian pikir aku seekor anjing apa?!!!"


"Hehe... Jangan marah Rin. Kami cuman bercanda," kata mereka serempak.


"Aku tak habis pikir, mereka ini sangat kompak sekali membullyku," batinku.


"Untuk saat ini kau tidak bisa berubah sendiri. Tenagamu terkuras habis ketika melakukan perubahan sebelumnya. Paling tidak butuh tiga hari untukmu memulihkan tenagamu agar kau dapat berubah kembali. Maka dari itu, nanti ayahmu akan membantumu melakukan perubahan dan sekaligus memberi tanda klan Α (Alpha) untukmu," jelas bibi Emely.


"Sekarang ayah dimana?" tanyaku. Aku memberikan tubuhku di karpet dengan lemas nya. Aku sudah merasa bosan dalam wujud seperti ini.


"Ayahmu ada urusan sebentar tidak lama lagi kembali," kata bibi Emely berusaha tersenyum namun aku bisa melihat dari matanya yang penuh kekhawatiran itu.


Sambil menunggu, kami bersantai dulu sambil menonton TV. Mia dan Jimmy begitu asik bermain di sekitar ku. Mereka berbaring dan sesekali memainkan telingaku. Kubiarkan mereka melakukan itu. Pikiranku terlalu jauh melayang mempertanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Sherina telah kembali ke alam bawah sadar. Jiwanya memang tidak bisa sering-sering keluar, itu menyebabkan ia mudah kelelahan.


"Apa nanti aku bisa memiliki telinga seperti kakak?" tanya Mia.


"Itu tergantung kemampuan mu lebih dominan ke manusia serigala atau sihir," jelas ku namun tidak dimengerti olehnya.


Mia masih terlalu muda dan bakatnya masih belum diketahui dengan pasti. Berbeda dengan Jimmy yang sudah mendapatkan bakat menjadi seorang penyihir. Eh... Ini sedikit aneh, padahal umur mereka tidak berjauhan. Mia sama sekali belum bisa menggunakan sihir tapi kemampuan manusia serigala nya juga tidak muncul. Ah... Mungkin memang sedikit terlambat. Cukup lama kami menunggu sampai akhirnya aku mendengar suara pintu dibuka. Telingaku menegak mendengar itu.


"Bagaimana?" tanya bibi Emely.


"Sudah aman. Jangan khawatir," jawab ayah.


"Fiuu... Syukurlah," bibi Emely menghembuskan nafas lega.


"Dimana Rin?" tanya ibu.


"Mereka menonton TV diruang keluarga."


Kudengar langkah kaki mereka mendekat. Aku mengangkat kepalaku begitu ayah memanggil.


"Bagaimana sayang, sudah siap mendapatkan tanda klanmu?" tanya ayah. Terlihat jelas raut wajahnya yang lelah.


"Iya. Aku siap," seketika aku langsung berdiri.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε