My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Pengkhianat? Siapa?



"Aku benar-benar masih tidak percaya akan hal ini," suara ibu.


"Aku juga sama, tapi setelah melihat semua bukti yang ada... Aku bahkan masih berharap tidak mau mempercayai itu," kali ini suara ayah.


"Kenyataan apa yang sangat sulit dipercaya oleh ayah dan ibu?" pikirku.


"Aku takut jika Rin mengetahui hal ini. Ia pasti sangat sedih."


"Dari nada bicara ibu sepertinya berat sekali memberitahukan masalah ini... Padaku? Memangnya ada apa?" batinku lagi sambil terus menguping pembicaraan mereka.


"Iya. Aku yakin ia tidak dapat menerimanya kenyataan ini, bahwa sebenarnya..."


"Ooh... Aku akan segera mengetahuinya. Tidak ada yang dapat kalian sembunyikan dariku," aku sangat menantikannya.


"...penghianat di rumah ini adalah orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga... Mr. Li Fang."


Aku tersentak mundur begitu mengetahuinya dan tampa sadar menyenggol vas bunga sampai jatuh dan hancur berkeping-keping. Hal itu menciptakan suara keras begitu vas menghatam lantai. Aku tidak memperdulikannya. Otakku masih berusaha mencerna apa yang baru saja aku dengar dari ayah. Ini tidak mungkin! Aku pasti salah dengar. Aku menutup kedua telingaku berharap semua ini hanyalah mimpi.


"Siapa disana!!" ayah dengan cepat menghampiri dan membuka pintu begitu mendengar suara nyaring itu.


"Rin?!" ibu sangat terkejut dan mencoba mendekat begitu melihatku berjongkok di antara pecahan vas bunga.


"Katakan semua itu tidak benar ! ! !" aku seketika berdiri menghindari ibu. Air mata telah membasahi pipiku.


"Rin," ibu manatapku dalam redup.


"Aku mohon ayah, ibu... Katakan kalau semua itu tidak benar. Paman Fang tidak bersalah. Paman Fang tidak mungkin berkhianat. Pasti ada kesalahan, aku sangat yakin itu."


"Ayah juga tidak mau percaya akan hal ini, tapi... Semua bukti mengarah padanya, dan juga ditemukan beberapa surat percakapannya dengan musuh kita di brangkas rahasia miliknya."


"Pasti ada yang menjebaknya. Aku mohon ayah, selidiki lagi," pintaku dengan sangat.


"Maaf sayang. Semuanya sudah terbukti jelas dan hanya dia yang dapat melakukannya."


"TIDAK ! ! Paman Fang tidak mungkin melakukan itu. Jika ia mau, kenapa tidak dari dulu? Paman Fang sudah lama tinggal disini, menjadi orang kepercayaan ayah, di didik langsung oleh kakek. Ia tidak mungkin berkhianat! Walau... Paman Fang bukan bagian dari klan Α (Alpha)."


"Dari mana kau tahu?"


"Paman Fang sendiri yang cerita. Ia berjanji akan menjawab dengan jujur tiga pertanyaan yang aku berikan. Di pertanyaan terakhir aku bertanya kenapa identitas ku dirahasiakan bahkan dari klan sendiri tapi ku ganti karna aku sangat penasaran kenapa ia selalu menyebut klanmu bukanya klan kita. Saat itulah paman Fang memberitahu ku kalau sebenarnya ia itu berasal dari... Klan Β (Beta). Ia menunjukan tanda klannya yang ada di pergelangan tanga kirinya..."


"Karna itulah ia dicurigai," potong ayah.


Aku mengangkat wajahku menatap lurus ayah. "Maksudnya?"


"Pria berjubah hitam itu, apa kau ingat dia?"


"Iya."


"Kau mengatakan pria itu memiliki tato kecil di pergelangan tangannya. Menurut pemeriksaan seluruh anggota klan Α (Alpha), hanya Mr. Li yang memiliki ciri-ciri itu. Seperti yang kau tahu tato kecil tersebut merupakan tanda klan Β (Beta)."


"Tidak mungkin! Aku percaya paman Fang tidak akan perna berkhianat!! Ia adalah gudang rahasiaku. Semua hal tentangku yang tidak ayah ibu ketahui, ia ketahui. Lagi pula, apa untungnya ia mengkhianati kita? Tidak ada alas kuat paman Fang mau melakukan itu! Karna klan Β (Beta)? Tidak mungkin!! Dalam keadaan sekaratnya saja klan Β (Beta) sama sekali tidak memperdulikan ia. Kakek lah yang mengulurkan tangannya menolongnya dari malaikat pencabut nyawa! Paman Fang perna bilang, ia sangat berhutang budi pada kakek karna telah menyelamatkannya, memberikan tempat tinggal, memperlakukannya sama seperti yang lain, perhatian, kehangatan sebuah keluarga yang belum perna dirasakannya... Paman Fang bahkan sangat membenci tanda klan Β (Beta) itu. Ia selalu menyembunyikan tanda tersebut di balik jam tangannya. Apa itu pikiran seorang pekhianat?" aku berusaha menyakinkan ayah kalau paman Fang bukanlah pengkhianat dengan air mata terus mengalir. "Aku mohon ayah, selidiki lagi."


"Aku juga berpikir dimikian. Bagaimana kalau kau selidiki lagi," kata ibu ukut membelaku.


"Baiklah. Aku akan menyuruh seseorang menyelidiki semua ini sampai tuntas. Berdo'a saja Mr. Li tidak terbukti bersalah sampai hari eksekusi matinya."


"Apa?! Eksekusi mati?" aku tersentak mendengarnya.


"Hukuman bagi pengkhianat tentu saja dipenggal di depan umum. Seluruh tetua sudah menyepakatinya. Eksekusi Mr. Li di laksanakan 4 hari lagi. Selama jangkah waktu tersebut ayah akan berusaha membuktikan Mr. Li tidak bersalah."


"Putriku tidak perlu seperti ini, berdirilah," ayah dengan cepat menghetikanku. "Ayah berjanji padamu. Berhentilah menanggis, okey," usap lembut ayah menghapus air mataku.


"Paman Fang tidak bersalah. Huaaaah........aaa......ah...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari telah berlalu. Esok adalah hari dimana paman Fang akan di eksekusi. Aku berdiri di balkon kamarku sambil menatap kosong jauh ke depan. Kumainkan suling pemberian paman Fang. Alunan nada suling terbang bersamaan angin dan butiran salju yang berjatuhan. Rasa dingin yang terasa dikulitku tidak kuhiraukan. Masih belum ada kabar dari ayah mengenai penyelidikannya. Aku harap ayah menempati janjinya.


Dari kejauhan tiba-tiba aku melihat Angel terbang menghampiriku dengan membawah sesuatu di kakinya. Ia hinggap di besi pagar balkon tepat di depanku dan menyerakan apa yang dibawanya menggunakan parunya. Aku menerima itu. Ternyata benda yang Angel bawa adalah kunci mobilku yang berlumuran darah.


Aku ingat kunci mobil ini paman Fang lah yang menyimpannya dan masih ada padanya. Bagaimana bisa sekarang ada pada Angel? Darah ini... Apa jangan-jangan darah paman Fang? Sontak aku kaget dan seketika melompat dari balkon kamarku, lalu berlari menuju tempat pengeksekusian dengan air mata mulai membanjiri pipiku.


"Paman Fang ! ! !" teriaku memenuhi kediaman


Dari arah taman tengah dengan sigap para penjaga dan orang yang ada disana menghadang ku. Apa-apa ini? Mereka bermaksud melarangku pergi?


"Harap Miss. Morgen kembali."


"Menyingkir!! Aku mau bertemu paman Fang!"


"Rin!" teriak ibu memanggilku.


Seketika aku menoleh. Kulihat ibu, bibi Marry Mitéra dan Patéras berlari menghampiriku.


"Keyla ada apa ini?" tanya Patéras.


"Aku ingin bertemu paman Fang."


"Tidak Rin! Mr. Li..." kata ibu dengan cepat menahan tanganku.


"Masih dipenjara, kau tidak bisa bertemu dengannya," sambung bibi Marry mencari alasan.


"Bohong!!! Paman Fang tidak lagi dipenjara. Eksekusinya hari ini!! Kalian semua membohongiku! Hiks... Hiks..."


"Keyla," dengan suara hampir tidak terdengar Mitéra langsung mendekapku dalam pelukannya. "Tenang, tenangkan dirimu sayang."


"Tidak Mitéra, lepaskan aku. Hiks... Aku mau bertemu paman Fang," tanggisku dalam pelukan Mitéra. "Kenapa, kenapa kalian membohongiku?"


"Maafkan kami sayang. Kami tidak bermaksud tidak memberitahu. Ini semua demi kebaikanmu," Patéras hendak membelai rambutku namun aku segera menghindar. Pelukan Mitéra pun seketika lepas.


"Apanya demi kebaikanku?!! Kalian semua cuman mau aku tidak mengacau dihari pengeksekusian!!!" aku mundur dua langkah sambil menggeleng pelan. Aku berbalik hendak berlari pergi lagi sebelum...


"Δεσμευτικό ξόρκι (Desmeftikó xórki)"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε