My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Sebelum pesta Helloween



"Jadi apa yang mau kau bicarakan tadi?"


Dengan raut wajah tersentak kaget Perchye berusaha untuk tidak melihat apa yang baru saja aku lakukan. "E... Sebenarnya... aku cuman... Apa kau mau jadi pasangan ku di pesta kostum nanti?" katanya pelan tampa melihatku.


Kali ini aku yang tersentak mendengar kalimatnya itu. Tampa sadar aku berkata, "Iya."


"Bagus. Aku sangat menantikan kostum apa yang akan kau kenakan. Sampai jumpa."


Perchye berlalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung. Aku tersadar ketika kulihat ia sudah hilang dibalik pintu. Aku berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia barusan memintaku jadi pasangannya di pesta kostum. Aku harus apa? Kostum apa yang harus aku kenakan nanti? Tunggu, kapan pesta kostum itu diadakan? Aaah... Lagi-lagi aku tampa sadar menerima ajakannya. Sekarang aku harus bagaimana? Aku berlari keluar mencari teman-temanku tadi yang akhirnya aku temukan di kantin sekolah.


"Jadi bagaimana Rin, apa yang Perchye katakan?" tanya Sofia ketika aku beru saja sampai.


"Dia memintaku menjadi pasangannya saat pesta kostum nanti," kataku. Aku mengambil tempat duduk di depannya.


"Uuuh... Sepertinya ada yang akan turun ke lantai dansa," Nic mulai lagi menggodahku.


"Beruntungnya dirimu Rin sudah mendapat pasangan di pesta kostum nanti," kata Kevin sambil menikmati kentang goreng nya.


"Aku belum mencari pasangan untuk pesta nanti. Bagaimana kalau aku mengajak anak baru ini saja. Rosse apa kau mau jadi pasangan ku di lantai dansa?" dengan nada menggoda Evan mengajak Rosse.


"Aku belum perna menghadiri pesta kostum sebelumnya. Aku bahkan tidak memiliki kostum," ucap Rosse sebelum ia menyuap makanannya.


"Tidak apa Rosse. Aku punya kostum lebih untuk malam Helloween. Datanglah ke rumahku sebelum acara dimulai. Kita bersiap disana," kata Sofia.


Ah... Malam Helloween. Sekolah memang setiap tahun mengadakan pesta kostum saat malam Helloween diakhir bulan ini. Pada malam itu semua orang termasuk guru diwajibkan mengunakan kostum. Selain pesta dansa di aula biasanya akan diadakan juga penilaian kostum terbaik. Hadiahnya sangat menggiurkan bagi pemenang.


"Rin, aku juga sudah menyiapkan kostum spesial untukmu," kata Sofia kemudian membuat aku menoleh padanya.


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Untuk penilaian kostum tahun ini aku yakin sekali bisa menang," ujar Nic percaya diri.


"Tidak baik terlalu percaya diri diawal, nanti kalah seperti tahun kemarin," ejek Evan.


"Tidak akan. Kostum kali ini akan luar biasa."


"Oh, kalau boleh tahu. Kostum apa itu?" tanya Kevin.


"Rahasia."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sehari sebelum acara pesta Helloween. Bagaimana bisa aku terjebak dengan sapu dan dekorasi seram di aula sekolah sore ini?! Hah... Semuanya karna si kembar itu yang meminta kami membantu mendokorasi aula untuk acara Helloween. Mereka yang ditugaskan kenapa kami juga harus ikut-ikutan. Aku, Sofia, Rosse, Nic, Kevin dan Evan saat ini sibuk membersikan aula. Setelah itu barulah kami mendekorasinya dengan nuansa seram. Aku dan Sofia bertugas menebar jaring laba-laba buatan berserta lala-lalanya dan menggatung kelelawar mainan. Sedangkan Rosse dan Nic, mereka menyusun lampu labu di berbagai sudut dan menghias ruangan dengan tanaman merambat. Si kembar membantu memindahkan meja panjang yang nantinya menjadi tempat dimana meletakan kudapan serta minuman.


Aku melihat jam tanganku. Jam menunjukan pukul 16.48 dan kami baru selasai mendekor sebagian dari ruangan aula. Aku rasa semuanya tidak akan selesai hari ini. Ketika hendak menggantung beberapa kelelawar lagi tiba-tiba tampa sengaja aku menjatukannya dan tepat mengenai seorang gadis yang kebetulan lewat di bawahku. Gadis itu berteriak, sangking terkejutnya dengan apa yang baru saja mendarat di atas kepalanya.


Aku menahan tawa melihat reaksi gadis itu. "Maaf, maaf. Aku tidak sengaja."


"Hm!" ia menghepaskan mainan kelelawar itu dengan kesal. "Alah, kau pasti sengaja, kan? Kau mau menakut-nakutiku dengan kelelawar agar kau bisa tertawa begitu lucunya!"


"Aku tidak bermaksud begitu. Aku benaran tidak sengaja menjatuhkannya. Kebetulan saja kau lewat dan itu mengenai kepalamu," jelasku membela diri.


"Tidak perlu mengelak! Setiap kali aku bertemu denganmu aku selalu sial. Apa itu cuman kebetulan? Tidak, kan? Itu sudah pasti ulahmu," bentaknya dengan kesal.


"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, terserah kau mau percaya atau tidak," aku tidak memperdulikan dia lagi. Entah siapa namanya, aku lupa.


"Kau ini memang kertelaluan! Rasakan ini!!"


Tiba-tiba ia menguncang tangga yang aku gunakan untuk mendekor sampai aku terjatuh. Semua dekorasi yang sudah susah payah aku gantung ikut jatuh bersamaan denganku. Aku hanya mendengar suara tawanya saat melihatku dan suara langkah kaki yang lain menghampiri.


"Kau tidak apa-apa, Rin?" tanya Nic yang pertama kali menghampiriku.


"Tidak apa-apa," aku berusaha bangkit dari tumpukan kelelawar dan jaring laba-laba.


"Sudahlah Rosse," aku menghalaginya. "Dengar ya... E... Siapa nama mu?"


Senyap. Tidak ada suara untuk beberapa saat.


"Apa kau terlalu tertekan sampai melupakan namaku?" kata gadis itu mengangkat sebelah alisnya.


"Aduuh... Sherina... Namanya Lisa. Bagaimana bisa kau melupakannya?!" ujar Sofia sambil menepuk jidatnya.


"Ah... Iya, benar. Tina."


"Lisa!!"


"Iya, iya. Lisa. Aku sudah mengingatnya. Hm... Apa yang mau aku katakan tadi?"


Sofia menjentikan jarinya di udara dengan raut wajah datar. Seketika aku mengerti maksudnya.


"Aku dengar kak Pechye mengajakmu ke pesta kostum malam besok. Apa itu benar?" tatap dingin Lisa padaku.


"Jika iya, kenapa?" aku membalas menatap lurus padanya.


Lisa tidak menjawab. Ia mendekat lalu berjingkat untuk berbisik di telingaku. "Sebaiknya kau jauhi kak Perchye karna ia hanya milikku seorang."


"Jika perchye memang menyukaiku, kau tidak berhak untuk melarangku."


"Kau tidak akan bisa mendapatkannya," Lisa masih terus menatapku penuh kebencian.


"Saingan cinta," celoteh Rosse.


"Cukup, cukup. Hentikan petengkaran kalian," Nic melerai kami. Ia mendorongku dan Lisa menjauh satu sama lain. "Dari pada kalian ribut terus. Lebih baik bantu kami selesaikan ini."


"Aku tidak mau," Lisa dengan cepat menolak.


"Kenapa kau tidak mau? Karna kau juga semua ini jadi berantakan," kataku dengan kesal.


"Rasakan sendiri. Siapa suruh kau merebut kak Perchye dari ku," Lisa menarik beberapa hiasan yang tersisa. Hal hasil semua kerja kerasku jatuh berhamburan.


"Sebaiknya kau perbaiki semuanya atau aku..."


"Atau apa? Apa kau mau memukulku?"


Aku mengepalkan tanganku melampiaskan amara, namun sepertinya tidak bisa. Aku melesat cepat kehadapan Lisa lalu menarik krah bajunya. Lisa menahan pergelangan tanganku mengunakan kedua tangannya.


"Apa kau mau mencobanya?" kataku geram melihat Lisa.


"Rin! Tenakan dirimu!!" bentak Sofia.


Aku tersentak dan langsung melepaskan Lisa. Lagi-lagi aku hampir saja melakukan hal bodoh. Aku berbalik dan melangkah pergi. Aku perluh tempat sepih untuk menenangkan diri.


"Hei! Melupakan sesuatu," Lisa menunjukan jamku yang ada di tangannya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε