My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Jati diri Onoval



"Untuk obat penawar racun yang ada dalam tubuh ibuku! Ibuku terkena racur dari getah pohon Νεκρός (Nekrós) dan hanya buah ΖΩΗ (ZOI) yang bisa menyelamatkannya. AAH ! ! Semua ini karna kesalahan klan mu yang menyebabkan ibuku terluka!! Klan mu itu dengan bodoh tiba-tiba menyerang rumahku dan melukai ibuku tampa alasan! Apa yang sebenarnya kalian pikirkan? Kenapa kalian begitu membenci kami? Tidak suka kah kalian terhadap perdamaian? Apa kesalahan yang telah kami perbuat sampai klan mu itu berusaha sangat keras untuk menjatuhkan kami?!!"


"Tunggu dulu Rin. Aku sungguh tidak mengerti maksudmu? Kapan klan ku menyerang rumahmu dan melukai ibumu?"


"Disaat klan Β (Beta) melakukan serangan pada klan Α (Alpha). Kediaman klan Α (Alpha) adalah rumah ku Perchye."


"Ma, maksudmu..."


"Iya. Aku bagian dari klan Α (Alpha). Aku putri dari ketua klan Α (Alpha). Aku juga seorang manusia serigala sama sepertimu," aku memperlihatkan tanda klanku sebagai bukti. "Aku mencintaimu Perchye tapi aku tidak yakin kita bisa bersama. Kedua klan kita tidak mungkin dapat bersatu."


"Saatnya aku muncul untuk semakin menghancurkan hubungan mereka."


"Rin aku..."


"Sayang. Dimana kau sayang? Apa kau ada di sini? Ah... Disana kau rupanya," Sindy berlari menghampiri kami sambil melambaikan tangan.


"Sayang? Apa maksudnya? Apa mungkin..." pikirku. Aku melirik pada Perchye.


"Kemana saja kau? Aku mencarimu," Sindy langsung memeluk tangan Perchye dengan manja.


"Jangan memanggilku seperti itu!!"


"Kenapa? Kau kan tunangan ku."


"Tu, tunangan," aku kehabisana kata-kata setelah mengetahui hal ini. Jadi itu alasannya kenapa mereka bisa saling kenal. Ternyata mereka telah bertunangan. "Terima kasih Perchye."


"Rin! Tunggu, aku bisa jelaskan!!"


"Jangan mengejarnya Perchye. Sekarang kau sudah tahu kalau ia adalah putri dari ketua klan Α (Alpha). Cinta kalian ditakdirkan tidak akan dapat bersatu," hipnotis Sindy agar Perchye tidak mengejar Rin.


Aku berlari pergi meninggalkan mereka berdua. Aku tidak memperdulikan teriakan Perchye yang terus memanggilku. Hati benar-benar tehancur berkeping-keping. Bisa-bisanya Perchye melakukan hal ini padaku. Ia telah bertunangan dengan Sindy. Kenapa? Agar klan Β (Beta) mendapat bantuan untuk menghancurkan klan Α (Alpha). Sampai segitunya mereka ingin menghancurkan klan Α (Alpha)! Baik. Aku tidak akan segan lagi untuk membalas semua perbuatan yang telah klan Β (Beta) perbuat. Keputusanku sudah bulat. Akan kuhancurkan klan Β (Beta) jika mereka berani menghalangi ku mengambil buah ΖΩΗ (ZOI).


"Onoval!"


Teriakku mencarinya. Aku berjalan pelan menyelusuri dasar jurang tempat dimana kulihat ia jatuh. Aku berpegangan dari pohon ke pohon agar aku bisa melangkahkan kaki ku selangkah demi selangkah. Aku yakin Onoval pasti bisa selamat setelah terjatuh dari jurang yang lumayan tinggi ini. Ia bukanlah manusia biasa. Ia pasti ada di suatu tempat dan aku harus menolongnya. Aku terus berteriak memanggilnya, mencarinya sampai aku menyadari kalau langit sudah mulai gelap.


"Aku harus segera menemukan ia sebelum malam tiba. Onoval!!"


Teriakku lebih keras mengisi seluruh hutan. Disaat keputusasaan menghampiri, aku tiba-tiba mencium bau darah. Ini bukan bau darahku itu berarti hanya ada satu. Itu bau darah Onoval. Aku mengikuti bau darah tersebut dengan harapan dapat segera menemukan Onoval. Baunya semakin kuat ke arah selatan. Tepat di antara bebatuan akhirnya aku menemukan dia. Tubuhnya terluka para dengan bagian kepalannya mengalirkan darah. Rambut putih itu kini bernoda merah. Aku bergegas menghampirinya, dengan sisa tenaga yang kumiliki aku memindahkan tubuh Onoval lalu membaringkannya di tanah yang lebih rata. Aku mencoba menghentikan pendarahan di lengan dan juga kepalannya menggunakan bagian kain lebih dari pakaianku. Itu cukup untuk menutupi luka-lukanya.


"Onoval. Onoval kau bisa mendengar ku? Sadarlah Onoval."


Aku berusaha menyadarkan Onoval dengan terus memanggil-manggil namanya, menepuk-nepuk pipinya sampai mengonyangkan tubuhnya. Cara itu cukup berhasil. Kulihat ia membuka matanya dan berusaha duduk. Melihat ia telah sadar membuatku senang. Aku langsung memeluknya untuk mengekspresikan rasa senang ku.


"Syukurlah, syukurlah kau telah sadar Onoval. Aku takut sekali kalau aku nanti kehilanganmu."


"Apa?" aku bingung bercampur terkejut mendengar kata itu. "Apa maksudmu?"


"Aku butuh darahmu."


Tiba-tiba aku merasakan nafasnya yang dingin berhembus di leher ku dan kemudian sesuatu yang tajam menusuk leher ku. Aku terserak kaget. Apa-apaan ini. Bagaimana bisa Onoval memiliki taring? Dia... Dia seorang vampire.


"Onoval, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku."


Aku mencoba mendorongnya menjauh tapi ia mala semakin menarik tubuhku dalam pelukannya sambil menancapkan taringnya lebih dalam lagi menusuk leher ku. Sakit sekali. Perih dan dingin menjadi satu. Aku memejamkan mataku menahannya. Aku benar-benar tidak menyangkah kalau Onoval adalah seorang vampire, dan sekarang ini ia sedang menghisap darahku. Setiap aliran darah yang mengalir keluar dan kini masuk ke tenggorokannya begitu bisa kurasakan. Ternyata ini maksud gumangannya waktu itu. Ia sedang berusaha menahan diri agar tidak mengisap darahku. Tapi sekarang ia dalam kondisi rentannya. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menghisap darah.


"O-no-val," kataku sebelum pandanganku perlahan-lahan menghilang.


"Maaf, maafkan aku Rin," kata Onoval setelah menarik taringnya dari leher gadis yang ada dihadapannya.


Rin kini terbaring tak sadarkan diri karna tenaga serta darahnya telah terkuras. Onoval mendekap tubuh Rin semakin erat dalam pelukannya lalu dikecupnya sekali bekas gigitan yang kini meninggalkan bekas itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"AAAAH ! !"


Teriakku begitu aku terbangun sampai terduduk dengan tubuh basah oleh keringat. Aku memengangi kepalaku yang sakit dan sedikit membungkuk ke depan. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi. Dan disaat aku mengingatnya, dengan cepat aku mencari hpku lalu bercermin di layarnya. Yang aku takutkan tidak aku temukan. Aku terus merabah leher ku mencari bekas gigitan tersebut. Tidak ada. Tapi aku sangat yakin kalau kemarin itu Onoval benar-benar menggingit leher ku dan menghisap darahku. Onoval seorang vampire. Aku melirik kesana kesini dan baru sadar kalau aku kini berada di asrama. Terbaring ditempat tidur Lisa dengan bajuku telah berganti. Jam berapa sekarang? Dimana yang lain. Jam menujukan pukul 11.55 disaat aku meliriknya dari jam tanganku.


Tampa memikirkan semua itu sekarang ini, aku memilih untuk turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Lebih baik aku membersihkan tubuhku dari keringat ini. Tapi baru selangkah kaki melangkah aku mala jatuh dengan posisi wajah mendarat duluan. Semua ini karna kaki ku tersandung selimut.


"E...! Dasar selimut sialan!!" teriakku kesal sambil mengangkat wajahku.


"Rin?!" kata Sofia kaget saat membuka pintu dan mendapati aku terbaring di lantai. Ia bergegas menghampiri bersamaan dengan Rosse dan Lisa di belakangnya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε