My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Melarikan diri



"Aku ada cara."


Aku segera duduk bersilang kaki dan memejamkan mata. Aku mulai berkonsentrasi melakukan panggilan tanpa memperdulikan Sofia yang terus bertanya. Aku berusaha memanggil Liz, si hantu di rumahku itu. Ada beberapa alasan aku memilih memanggil dia. Kebanyakan hantu tidak bisa menyentuh benda-benda tapi beda halnya dengan Liz. Ia memiliki kemampuan Psikokinesis atau biasa dikenal dengan Telekinesis


Psikokinesis berasal dari bahasa Yunani ψυχή, "psyche", berarti pikiran, jiwa, hati, atau napas; dan κίνησις, "kinesis", berarti gerak, gerakan; harfiah "pikiran-gerakan." Psikokinesis adalah kemampuan memanipulasi sebuah objek fisik hanya dengan pikiran semata-mata. Sebuah objek, bisa berupa benda maupun tubuh dimanipulasi dari jarak jauh. Singkatnya orang yamg memiliki kemampuan ini dapat menggerakan objek benda hanya lewat pikiran saja.


Kemampuan Psikokinesis terbilang sangat istimewa. Kenapa? Karna hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan ini. Menurut buku yang pernah aku baca di perpustakaan, kemampuan Psikokinesis lebih dari sekedar menggerakan benda. Orang dengan kemampuan ini juga dapat mengontrol cuaca, beberapa diantaranya adalah tahan api, tahan benda sangat panas, tahan senjata tajam, dan lainnya. Termasuk yang paling hebat dari kemampuan ini adalah penyembuhan jarak jauh.


Bagiku kemampuan Psikokinesis adalah kemampuan dimana seseorang dapat melakukan apapun hanya melalui pikirannya. Hebat bukan. Tapi entah mengapa kemampuan ini tiba-tiba menghilang. Sedikit informasi yang bisa aku dapat, dibuku juga cuman menjelaskan singkat tentang kemampuan ini. Dan tidak ada catatan masih ada pengguna kemampuan Psikokinesis di dunia. Aku rasa Liz adalah pewaris terakhir dari kemampuan Psikokinesis.


Beberapa menit kemudian muncul kabut putih yang mulai berubah menjadi sosok gadis manis berambut hitam keriting dengan gaun putih selututnya. Mungkin itu adalah pakaian terakhir yang ia kenakan sesaat sebelum menjelang ajal. Ibu masih belum menceritakan penyebab kematian Liz. Aku sangat ingin tahu masa lalu apa yang sudah dialami ibu dan Liz.


"Kau memanggil Liz kemari," kata Sofia ketika melihat kemunculan Liz.


Aku membuka mataku dan Langsung berdiri dibantu Sofia. "Hanya dia yang bisa membantu kita."


"Rin, Sofia, ternyata kalian ada disini. Apa kau tahu Cloey dan Tori sangat menghawatirkan kalian. Aku akan segera memberitahu mereka."


"Liz tung...gu," Liz pergi begitu cepat tanpa mendengar penjelasanku. "Dasar Elizabeth...!!" kataku hampir berteriak kesal.


"Em, ini dimana ya?" tiba-tiba Liz muncul begitu saja tepat di depan Sofia.


"Aaa...!" pekik Sofia sangking terkejutnya, ia bahkan sampai jatuh terduduk di lantai.


"Hihi... Maaf"


"Ribut-ribut apa disana?!!" teriak salah seorang yang ada di atas membuat kami tersentak kaget.


"Tidak ada apa-apa, hanya... Hanya..." aku berpikir mencari alasan agar ia tidak turun memeriksa kami.


"Ada tikus ! !" teriak Sofia menyambung kalimat ku.


"Berhenti membuat keributan! Itu hanya hewan pengerat! Jangan bersikap manja atau aku akan memotong lidah kalian!" ancam pria itu. "Hm, mengganggu tidurku saja," kalimat terakhir yang diucapkan pria itu masih bisa terdengar olehku.


"Kesempatan bagus. Liz bisa kau keluar dan membuka pintu itu?" pintaku padanya.


"Ah... Itu mudah."


Liz segera menghilang meninggalkan kabut putih tipis. Tak berapa lama terdengar suara pelan pintu dibuka. Aku dan Sofia bergegas menaiki anak tangga dan membuka perlahan pintu yang sudah terbuka seperempat. Terlihat Liz sudah ada diambang pintu sambil memutar kunci tersebut di telunjuknya.


"Tangkap," Liz melempar kunci tersebut dan berhasil ditangkap Sofia. "Aku sempat berkeliling tadi, tidak ada siapapun di pondok ini kecuali pria yang tertidur di sofa ruang tengah. Kalian bisa keluar melalui pintu belakang. Aku harus pergi dulu untuk memberitahu orang tua kalian. Dah..." secepat kilat Liz menghilang.


"Baiklah kita juga harus cepat meninggalkan tempat ini."


Aku dan Sofia berjalan pelan mengendap-endap menuju pintu belakang. Terdengar suara mengeretak kayu ketika kami melangkah. Kami harus hati-hati jangan sampai membangunkan penjaga yang tengah tidur pulas diruangan lain. Aku sempat melirik ke kanan dan ke kiri, tidak disangka pondok ini lebih reok dari penapakanya diluar. Seluruh perabotannya sudah usam penuh debu, langit-langitnya juga dipenuhi jaring laba-laba dan hanya ada satu bohlam kecil tergantung sebagai penerangan.


Sampai di depan pintu, Sofia segera membuka gembok besar yang mengunci pintu itu mengunakan kunci pemberian Liz tadi. Walau gembok ini terlihat tua tapi cukup mudah untuk dibuka setelah beberapa kali mencoba dengan kunci yang salah. Satu kendala terjadi, pintu ini ternyata macet. Aku tidak bisa mendorongnya secara paksa, hal tersebut akan menimbulkan suara yang bisa disadari penjaga itu. Kami terpaksa mendoronya perlahan-lahan. Terdengar suara mengeretak dari engsel pintu karatan. Mendengarnya membuat aku takut.


"Berhenti sebentar Sofia!" bisikku padanya.


"Ada yang datang," aku menajamkan pendengaran ku, itu suara mesin mobil, Mr. Hope dan anak buahnya telah kembali.


"Hei bodoh! Aku menyuruhmu menjaga anak-anak itu bukannya tidur!!" kata Mr. Hope sambil menepak meja dengan keras.


"Hoam... Maaf aku kelepasan."


"Kita harus segera pergi dari sini," saran Sofia yang aku balas anggukan.


Aku mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu itu. Tidak perlu tenaga yang besar, pintu tersebut roboh seketika menyisakan debu di udara.


"Mereka melarikan diri! Tangkap mereka!!" perintah Mr. Hope pada anak buahnya.


"Lari!!" aku menarik tangan Sofia menghindari kejaran mereka. Baru beberapa langkah tiba-tiba Sofia berhenti dan menepis tanganku.


"ξόρκι φωτιάς (xórki fotiás)."


Muncul tiga sampai empat bola api melayang di telapak tangan Sofia. Ia melemparkan bola api tersebut ke arah para pengejar secara bertubi-tubi. Salah satu dari mereka tidak berhasil menghindar dan terkena serangan itu. Tidak hanya itu saja, bola api lainnya tepat terlempar mengenai pondok kayu yang seketika melahap bangunan tua tersebut. Api mulai berkobar hebat.


"Kerja bagus Sofia."


"Terima kasih."


Aku dan Sofia kembali berlari memasuki hutan yang kini mulai gelap gulita. Cahaya matahari senja tidak dapat lagi memasuki sela-sela dedaunan. Kami terus berlari dengan aku sebagai penunjuk jalan agar Sofia tidak tersandung lagi. Tangan ku tidak perna aku lepaskan, terus menggegam tangan Sofia dengan erat. Aku sedikit merasa lega berhasil menghindar cukup jauh dari para pengejar itu, namun juga kecewa. Kenapa? Karna bukti yang seharusnya dapat membantah tuduhan itu telah musna. Sekarang aku harus bagaimana menjelaskan pada ayah? Tanpa bukti ini akan sangat sulit. Apa ayah akan percaya pada ceritaku? Aku terlalu melamun sampai tidak menyadari mobil Mr. Hope telah mendahului dan berhenti tepat di depan kami.


"Kalian tidak akan bisa lolos," Mr. Hope keluar dari mobil sambil mengacungkan pistolnya.


"Δεσμευτικό ξόρκι (Desmeftikó xórki)," dengan bibi gemetar Sofia mengucapkan mantra yang dapat membuat lawannya tidak bisa bergerak. Terlambat sedikit saja mungkin kepala kami sudah berlubang. Beberapa pengejar lainnya juga terkena mantra Sofia. "Rin, aku tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi. Jumlah mereka terlalu banyak."


"Kau sudah berusaha keras Sofia, saatnya gilaranku. Naik ke punggung ku."


"Apa?!"


Satu lompatan, dalam sekejap aku berubah menjadi serigala putih. Dengan keraguan penuh Sofia naik ke punggungku. Ia menggegam beberapa helai bulu ku untuk digunakan sebagai pegangan. Selesai menyeimbakan diri, aku berlari sekuat tenaga meninggalkan mereka yang mematung disana. Selang beberapa menit aku rasa mantra Sofia sudah menghilang. Tapi tak apa, kami juga sudah jauh memasuki hutan. Mereka akan kesulitan mengejar di dalam kegelapan yang memadat.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε