My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Bagaimana bisa kau terjebak disana?



"Kenapa ia masih menyerang ku? Padahal luka ku sudah di obati?" tanyaku pada Onoval. Aku terduduk di lantai sambil mengatur nafas.


"Rin, apa golongan darahmu?"tanya Onoval balik.


"O negatif."


"Mungkin itu alasannya. Darah O adalah jenis darah kesukaan vampire. Mereka bilang kalau darah O itu rasanya manis."


"Manis? Hei... Rin, boleh aku meminta darahmu? Kita buktikan apa benar darah O rasanya manis," ujar Sofia memulai.


"Kalau benar manis, kita bisa membuat itu sebagai minuman sehari-hari," dan tentunya Rosse tidak mau ketinggalan.


"Atau kita bisa tambahkan di atas Pancake pengganti madu."


"Boleh saja."


"Sofia! Rosse! Kalian berdua memang akur ya. Kugigi leher kalian, mau?!!" aku menatap tajam pada mereka yang seketika membuat mereka gemetar tapi itu tidak membuat mereka jera sama sekali.


"Kau lebih mengerikan dari vampire kalau mengigit kami," ujar Sofia bersembunyi di belakan tubuh Rosse.


"Kenapa kau bersembunyi di belakangku?!!" protes Rosse.


"Lawan dia Rosse," kata Sofia tiba-tiba sambil menuju ku.


"Hah... Yang benar saja kau menyuruh ku melawan monster itu."


"Oh... Kau mau melawanku. Kemari lah," aku berdiri lalu melakah mendekati mereka berdua yang terlihat sudah melangkah mundur.


"Ayok cepat lawan dia Rosse."


"Aku tidak mungkin menang. Kenapa tidak kau saja?"


"Lawan dia dengan keimutanmu. Rin itu suka yang imut-imut seperti mu."


"Itu tidak akan mempan! Aku kucubit dengan keras pipi gemas kalian!!" aku mengejar mereka yang berlari berpencar.


"Apa mereka selalu begini?" tanya Onoval pada Lisa.


"Selalu. Dan biasanya aku..."


"Kena kau Lisa," aku berhasil mencubit pipi Lisa kemudian berlari menjauhinya.


"Kakak...! Aku akan membalas mu!" Lisa langsung mengejar ku memutari ruangan kesehatan ini.


"Ayo cobalah tangkap," kataku sambil mengejeknya.


"Maksudmu kau biasanya ikut terlibat. Hah..." Onoval meletakan jarinya di dahinya dan sedikit memijitnya. "Kalian berempat, sudah cukup!!" bentak Onoval membuat kami berhenti. "Kemari!"


Dengan wajah tertunduk kami berjalan mengikuti perintah Onoval. Rasanya kami seperti dimarahi oleh ayah kami.


"Duduk!"


Aku, Lisa, Sofia dan Rosse terduduk berbaris di lantai siap menerima hukuman.


"Apa kalian tahu kesalahan kalian?"


"Mohon ampun baginda ayahanda," jawab kami serempak.


"Jangan marah pada adik-adik ayahanda. Hukum saja aku, karna semua ini salahku," kataku sambil momohon.


"Tidak ayahanda. Aku yang duluan membuat kakak marah. Hukumlah aku," Sofia mengakui kesalahannya dan memohon agar ayahanda tidak menghukum ku.


"Aku juga bersalah ayahanda. Mohon ampunilah kakak," Rosse juga ikut memohon pengampunan dari ayahanda.


"Huhu... Adik keempat kejam sekali."


"Sebagai ayahanda dari kalian aku akan... Eh? Tunggu. Kenapa mala jadi drama?" ujar Onoval.


"Fftt... Hahaha........" tawa gadis itu melihat tingkah konyol kami.


Kami pun ikut tertawa bersamanya. Aku turut senang sekarang Ia sudah merasa lebih baik. Aku juga melirik Onoval, sikapnya telah kembali seperti biasa. Aku sedikit bingung dengan sikapnya sebelumnya. Ada apa dengannya? Kenapa sikapnya berubah? Aah... Mungkin itu cuman perasaanku saja.


"Siapa namamu?" tanya Sofia pada gadis itu.


"Namaku Trysta," jawab gadis itu memperkenalkan diri.


"Bagaimana bisa kau berakhir tersangkut di pohon itu?" tanyaku. Ia salah satu siswi sekolah ini bagaimana bisa terjebak disana. Ia melanggar peraturan sekolah keluar dari lingkungan kastil.


"Aku..." Trysta tertunduk. "Ada beberapa anak laki-laki menggangu ku. Mereka mengejekku karna aku merupakan vampire terlemah dari para vampire di sekolah ini. Mereka memang selalu membullyku sampai tadi mereka mengejekku dan membuang semua barang dalam tasku keluar jendela. Aku tidak mengapa dengan barang lainnya tapi ada satu barang yang sangat penting terbang terbawa angin. Itu kartu ucapan dari ibuku. Aku berusaha ingin mengambilnya kembali tapi kartu itu melayang sampai keluar dari tembok pagar kastil."


"Jadi kau melanggar peraturan untuk mengambilnya," kata Lisa.


"Peraturan keluar kastil saat malam hari hanya ditegaskan pada murit manusia saja. Bagi kami murit vampire, pihak sekolah tidak terlalu melarang hal itu. Aku menyelinap keluar untuk mengambil kartu ucapan tersebut. Baru memasuki hutan tiba-tiba aku tampa sengaja menginjak perangkap dari pemburu hutan. Aku berusaha membebaskan diri namun aku mala tergelincir, berguling di tanah yang miring dan berakhir tersangkut di pohon itu. Aku berteriak minta tolong tapi tidak ada satupun orang berada di hutan itu sampai aku melihat seekor burung hantu putih dengan kalung permata merah di lehernya bertengger di dahan pohon."


"Maksudmu Angel?" kataku.


"Itu namanya. Aku ingat perna melihat burung hantu itu bertengger di balkon kamar asrama perempuan. Aku yakin kalau burung hantu tersebut milik dari salah satu siswi di sekolah ini karna aku belum perna melihatnya terbang disekitaran sekolah. Dengan satu-satunya harapan aku memohon pada burung hantu itu untuk memberitahu tuannya agar bisa datang menolongku. Aku sempat berpikir kalau itu konyol sampai beberapa saat kemudian aku mendengar suara seseorang memanggilku dari atas. Ternyata burung hantu itu benar-benar kembali bersama tuannya. Aku sangat berterima kasih padamu. Berkat dirimu aku dapat terbebas dari jaring itu dan selamat. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok paginya."


"Kau vampire berdarah campuran?" tanya Onovel yang dibalas anggukan. "Akan sangat berbahaya memang kalau kau terkena sinar matahari pagi. Kau bisa terbakar sampai jadi abu. Sinar matahari pagi lebih berbahaya bagi vampire berdarah campuran."


"Kau harus memberi hadiah pada Angel, Rin. Dia sudah berjasa menyelamatkan orang," kata Rosse padaku.


"Oh, itu sudah pasti. Angel adalah jenis burung hantu yang terlatih dan pintar," kataku membanggakan Angel.


"Aku benar-benar minta maaf," kata Trysta yang kulihat sedang menatap sedih lenganku yang terluka.


"Aah... Itu bukan apa-apa. Ini hanya luka gores. Beberapa hari juga akan sembuh kok," ujarku.


"Maaf karna aku menyerangmu. Aku sungguh tidak bisa mengontrol naluriku untuk menghisap darahmu. Bau darahmu harum sekali. Darah terharum yang perna aku cium," Trysta kembali melirik lenganku dengan tatapan menggiurkan.


Onoval segera menutup mata Trysta menggunakan telapak tangannya. "Kau sudah menghabiskan sekantung darah. Jangan perna berpikir masih mau lagi?"


"Hihi... Maaf. Aku benar-benar tidak tahan."


"Sesuka itukah vampire dengan darah golongan O?" tanya Lisa.


"Tidak. Bau darah mu jauh lebih manis dari pada bau darah golongan O lainnya."


"Kau harus berhati-hati agar tidak terluka lagi, Rin. Kalau tidak semua vampire akan hilang kendali dan menyerang mu," saran Sofia.


"Aku tahu. Lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi," apa mungkin karna aku seorang manusia serigala jadi bau darahku lebih menarik perhatian mereka?


.


.


.


.


.


.


ξκύαε