
Selesai makan malam aku kembali ke kamar. Hm... Hidangan ikan hasil pancingan benar-benar enak. Aku malah tidak bisa berhenti untuk tambah. Sampai dikamar, aku bermaksud untuk memanggil temanku. Namanya Brenda, ia adalah salah satu ingatanku yang paling lengkap dari potongan-potongan memori yang menerobos masuk ke kepalaku beberapa hari ini. Sebagian kecil memang ingatanku sudah mulai pulih, hanya saja sebatas kilasan singkat dan kasar juga tidak beraturan. Untuk masalah ini aku belum memberitahu siapapun karna aku ingin memastikan apa itu benar ingatanku atau bukan.
Brenda seorang gadis yang umurnya lebih mudah dariku. Ia meninggal akibat kecelakaan. Mobil yang sekeluarganya tumpangi mengalami rem blong dan kehilangan kendali. Mobil itu terperosok ke kurang dan terjun bebas tergelak ke sungai. Semua penumpang dimobil itu selamat kecuali Brenda. Ia terpental sebelum mobil masuk ke sungai, ditambah lagi Brenda tidak bisa berenang. Ia tewas karna tenggelam.
Waktu pertama kali aku bertemu dengannya pada saat pulang sekolah. Mobil yang dikendarai paman Fang mengalami pecah ban, jadi harus diganti. Aku belum diperbolehkan membawa kendaraan sendiri waktu itu karna belum memiliki sim. Lokasi kami berhenti tepat dimana kecelakaan itu terjadi. Aku mendengar suara tangisan dari balik pohon. Aku jadi penasaran dan mendekat ke sumber suara, disanalah aku bertemu dengan arwah Brenda.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku padanya. Ia menoleh, matanya sembam di penuhi air mata yang membasahi wajah pucat nya.
"Kau bisa melihatku?" kata Brenda sambil menyekat air matanya.
"Sepertinya begitu. Namaku Sherina, kau bisa memanggilku Rin."
"Aku Brenda."
"E... Brenda kenapa kau menangis?"
"Aku salah satu korban kecelakaan. Aku sudah dih karna tubuhku belum ditemukan. Hiks... Hiks... Uaaa..." Brenda kembali menangis.
"Sudah sudah jangan menangis. Apa kau tahu dimana tubuhmu?" tanyaku hati-hati. Brenda tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. "Aku akan membantumu. Bisa tunjukkan dimana tubuhmu?"
Angukan kembali ia lakukan. Tubuhnya melayang setara denganku. Ia meletakan kedua jarinya di dahiku. Rasa aliran listrik mengalir dari jarinya menusuk kepalaku. Kini Brenda menetunku pergi ke masa dimana kejadian itu terjadi. Setiap peristiwa dari awal kejadian sampai akhir, aku melihat semuanya dengan sangat jelas.
Aku membuka mataku. "Sungguh tragis. Kalau begitu dimana alamat rumahmu?" aku mengeluarkan hpku. Aku mencatat alamat yang Brenda sebutkan.
"Rin ayok, mobilnya sudah siap," panggil paman Fang.
"Iya."
Aku bergegas menghampiri paman Fang dan segera masuk mobil. Aku menoleh kembali ke arah Brenda, ia tidak menangis lagi hanya menatap kosong ke sungai. Mobil semakin jauh meninggalkan tempat itu. Aku melamun didalam mobil, memikirkan dampak dari apa yang aku lakukan ini.
"Rin kau berbicara pada siapa tadi?" tanya paman Fang yang membuatku sadar dari lamunan.
"Tidak ada. Cuman..." aku berpikir sebentar dan melanjutkan. "Apa paman Fang mau membantuku?"
"Katakan saja apapun itu."
"Bisa kita pergi ke alamat ini?" aku memperlihatkan alamat yang aku ketik di layar hp.
"Aku tahu tempat ini. Itu adalah alamat dari kediaman Anderson. Apa kita mau kesana sekarang?"
"Boleh. Lebih cepat lebih baik"
"Ok. Kencangkan sabuk pengaman."
Paman Fang mempercepat laju mobil dan dengan gesitnya memotong kendaraan lain. Untuk masalah seperti ini aku tidak perna memberitahu ibuku apa lagi ayah. Karna aku tahu mereka pasti tidak akan mengizinkanku untuk melakukan ini. Sebab tidak ada yang tahu pasti apa yang bisa dilakukan oleh arwah itu jika gagal membantunya. Orang yang sudah meninggal terlebih lagi masih ada masalah yang belum diselesaikan, biasanya sangat sensitif. Apalagi mereka memiliki dendam. Hal inilah yang berbahaya, bisa-bisa mengancam nyawa. Arwah-arwah itu bisa melapiaskan amarahnya pada mereka yang hendak menolongnya jika tidak berhasil. Niat hati ingin membantu tapi mala berujung maut, ditangan hantu lagi. Kan tidak lucu.
Hanya butuh beberapa menit akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Rumah besar nan megah, 4 lantai, terdapat 8 pilar yang menghiasi rumah ini. Halaman luas tertata rapih dan terdapat kolam ikan yang dipenuhi teratai disebelah kiri rumah, terlihat jelas dari balik pagar. Mobil berhenti tepat didepan pos keamanan.
"Kau yakin ingin melakukan ini Rin?" tanya paman Fang memastikan lagi. Ia adalah orang yang bisa aku percaya dapat menyimpan rahasiaku dari orang tuaku.
"Tentu saja," walau aku juga ragu tapi aku berusaha meyakinkan diriku.
"Ada yang bisa saya bantu sir?" tanya salah seorang penjaga keamanan.
"Apa Mr. Dan Mrs. Anderson ada?" kata paman Fang pada penjaga itu.
"Mr. Anderson masih dikantor, kalau Mrs. Anderson ada. Ada keperluan apa ya? Maaf Mrs. Anderson sekarang ini tidak ingin bertemu siapun."
Aku berbisik ada paman Fang untuk mencari alasan agar kami diizinkan bertemu dengan Mrs. Anderson.
"Tunggu sebentar," penjaga keamanan itu sepertinya menghubungi seseorang yang ada didalam rumah. Mungkin memberitahu maksud kami ingin bertemu. "Mrs. Anderson mengizinkan kalian masuk."
"Terima kasih," paman Fang melajukan mobilnya ketika gerbang pintu dibuka.
Ada seorang pelayan menyambut kami di depan pintu. "Sir dan Miss silakan masuk. Mrs. Anderson sudah menunggu kalian diruang tamu," kata pelayan itu. Ia membuka pintu dan menuntun kami menuju ruang tamu.
Bagian dalam rumah ini tidak kalah mengagumkan dari pada penampakanyan diluar. Tentu saja bagian luar megah, bagian dalam pasti mewah. Prabotan dirumah ini sangat memiliki keindahan seni tinggi. Terdapat berbagai macam barang antik yang mungkin didapat dari pelelangan-pelelangan besar. Ruang tamu terletak diruang utama. Aku lihat ada seorang wanita duduk disana. Ia mengenakan gaun hitam panjang, rambut tersangul, tampa riasan diwajah namun tidak menghilangkan kecantikan alaminya, walau matanya sebam karna menagis. Ia mempersilakan kami duduk. Pelayan tadi sudah berlalu pergi namun kembali lagi dengan nampan ditanganya. Ia menghidangkan masing-masing secangkit teh pada kami.
"Siapa namamu?" tanya Mrs. Anderson memulai percakapan. Suaranya terdengar serak.
"Namaku Sherina Morgen dan ini pamanku Fang Li."
"Ternyata putri dari keluarga Morgen. Apa maumu? Setahuku Brenda tidak berteman denganmu," kata Mrs. Anderson dingin.
Aku melirik paman Fang. Aku bingung menjelakanya bagaimana. Kulihat paman menganguk pelan. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskanya dengan cepat. "Baiklah. Aku rasa tidak perlu basa basi lagi. Saya datang kesini hanya menyampaikan pesan dari putri ada Brenda. Ia ingin mayatnya segera ditemukan. Brenda memberitahuku letak tubuhnya..."
"Memberitahumu?" potong Mrs. Anderson.
"Iya, memang sangat sulit dipercaya tapi aku sudah bertemu dengan arwahnya Brenda di bawah pohon tepat dimana kecelakaan terjadi."
"Kau jangan menipuku!" bentak Mrs. Anderson padaku
"Mrs. Anderson kami hanya ingin membantu. Mohon tenang," kata paman Fang mencoba menenangkanya.
"Tidak apa paman Fang. Percaya atau tidak saya memang sudah bertemu dengan putri anda. Jika tidak percaya bisa dicek ke lokasi kejadian."
"Tidak! Aku tidak percaya padamu. Mana ada orang yang bisa melihat hantu! Aku mohon pergilah. Jangan mengatakan omong kosong disini atau aku tidak akan sungkan lagi. Aku tidak peduli kau berasal dari keluarga mana. Pelayan antar mereka keluar."
"Mrs. Anderson ini demi Brenda, percaya padaku." aku harus meyakinkanya untuk percaya tapi malah dihiraukannya dan hedak pergi.
"Sudahlah Rin. Kita sudah berusaha menyapaikannya," paman Fang menepuk bahuku mengajak keluar dari tempat itu.
"Tidak. Aku sudah berjanji pada Brenda untuk membantunya. Mrs. Anderson ibu macam apa kau ini!" bentakku membuat langkahnya terhenti. "Kau mendapatkan petunjuk tentang keberadaan jasad anakmu tapi kau malah tidak mempercayainya! Apa kau ingin anakmu tidak dapat ditemukan selamanya!!"
"Mempercayaimu? Apa kau pantas untuk dipercayai?!! Selagi kau ada kesempatan sebaiknya pergi dari sini!"
"Aku bisa membuktikanya padamu. Jika sekarang kita pergi dan memeriksa tempat yang aku maksud, kau bisa melihatnya sendiri. Kalau aku berbohong, aku akan menerima konsekuensinya apapun itu!" tegasku dalam satu tarikan nafas.
"Baik. Aku beri kau satu kesempatan. Jika itu benar kau bisa meminta apapun dariku tanpa terkecuali. Tapi, jika kau berbohong siap-siaplah untuk tidak dapat berbicara lagi seumur hidupmu!" ancam Mrs. Anderson mengerikan.
.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε