My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Selamat tinggal Angel



Semuanya berjalan keluar menuju ruangan lain untuk mengobati luka-luka mereka kecuali aku. Aku menggapai sangkar burung yang berisi jasad Angel lalu mengeluarkannya. Kubawa tubuh berbuluh putih yang kini memandikan darah tersebut menuju taman belakang. Air mataku tidak henti-hentinya mengalir disaat ku tutup tubuh Angel yang telah kaku itu menggunakan tanah yang masih dingin membeku. Aku menyusun batu berukuran kepalan tangan mengelilingi makan Angel sebagai penanda.


"Sudahlah, berhenti menangis. Tidak ada gunanya juga menangisinya. Ia tidak akan kembali. Lebih baik pikirkan cara untuk membalas dendam ini," Sherina muncul dan mengelus punggungku mencoba menenangkan perasaan ku yang tengah bersedih.


"Belum genap setahun aku memeliharanya, dia sudah menjadi peliharaan ku yang paling setia, dia mengerti aku dan terkadang aku berpikir kalau dia itu bukanlah burung hantu biasa. Dia begitu pintar jika dibandingkan dengan binatang liar lainnya."


"Aku juga berpikiran yang sama. Walau baru mengenalnya kurang lebih dua bulan ini, aku tahu kalau dia adalah burung yang pintar. Sangat sulit dipercaya jika ia merupakan hewan yang terlahir dan besar di alam liar. Jikapun ia merupakan hewan peliharaan yang terlatih, ia pasti kembali pada tuannya. Tapi Angel tidak. Ia seperti telah khusus dilatih olehmu selama bertahun-tahun."


"Hiks... Ia adalah burung hantu yang spesial dan tak akan perna tergantikan. Hiks... Hiks... Selamat tinggal Angel. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Tunggu aku," bisikku dalam isak tangis ku.


Aku menyekat air mataku kemudian berdiri. Kupandangi kuburan Angel sebentar lalu melangkahkan kaki ku masuk ke dalam rumah. Setiap langkah yang aku tapakkan menuju kamarku seperti tak berbobot. Hembusan kecil saja bisa membuatku terjatuh. Perjalan ke pulau Vyden kali ini tidak membuahkan hasil sama sekali. Jauh aku mau mendapatkan buah ΖΩΗ (ZOI) untuk ibu, aku mala kehilangan peliharaan tercintaku. Aku menempatkan seluruh temanku dalam bahaya. Aku sungguh telah gagal. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Hiks... Hiks... Aku tidak mau kehilangan lagi.


Kubuka pintu kamarku. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari tempat ini. Suatu ruangan yang selalu bisa membuatku berlama-lama di dalamnya. Aku pergi ke kamar mandi. Kubiarkan diriku diguyur air dingin untuk menghapus noda yang menempel di kulit ku, dan juga berharap aliran air ini ikut menyapu beban pikiranku. Namun itu tidak mungkin. Rasa peri dari luka-luka ku yang terkena air tidak lebih menyakitkan dari apa yang ada dalam hatiku. Ingin rasanya aku berteriak sejadi-jadinya meluapkan seluruhnya. Hukuman apa yang cocok untukku atas semua kegagalan yang kualami. Aku tidak sanggup bertemu mereka terutama ibu.


Kumatikan kran air, kemudian melangkah keluar dari kamar mandi. Kukeringkan tubuhku baru mengobati semua luka ku. Untuk luka cakaran dari Aftur sudah perlahan-lahan sembuh, namun luka akibat cambukan Sindy walau lebih kecil tapi terkadang masih mengeluarkan darah. Aku baru sadar kalau disisi lain dari rasa perih masih ada sedikit sensasi terbakar di kulit ku yang terluka.


...Sudut pandang orang ketiga...


...ΩΩΩΩ...


"Bagaimana keadaan Rosse Mr. Guttman?" tanya Marry.


"Berkat sihir perlindungan, dia tidak mengalami luka yang serius. Biarkan dia istirahat beberapa hari ke depan dan kita lihat perkembangannya," jelas Mr. Guttman.


"Oh... Syukurlah putriku baik-baik saja," Marry membelai lembut rambut Rosse yang terbaring di tempat tidur itu. "Aku benar-benar takut kalau terjadi sesuatu padanya."


"Oh, iya. Dimana Rin?" tanya Sofia. Dibantu ibunya, ia baru selesai mengobati semua lukanya.


"Katanya mau menguburkan Angel di halaman belakang," jelas Lisa.


"Dia tidak mau mengobati lukanya dulu?" kata Tori.


"Dia bersikeras ingin mengubur Angel terlebih dahulu. Keyla sepertinya sangat kehilangan," kata Zedna yang tertunduk murung.


"Wajar saja. Angel adalah peliharaan kakak yang paling disayanginya. Walau Angel dibiarkan terbang bebas tapi dia selalu kembali. Aku jadi ingat diwaktu kakak masih koma. Hampir tiap hari Angel datang membawakan ranting, daun atau biji ek. Angel merupakan burung hantu yang pintar."


"Aku akan menemuinya. Ia pasti sangat sedih saat ini dan sekalian membantunya mengobati lukannya," Zedna berdiri lalu melangkah keluar.


...Sudut pandang orang pertama...


...ΩΩΩΩ...


Mitéra datang ke kamarku disaat aku tengah tertidur. Mataku terasa berat sekali dan tubuhku tidak bertenaga. Untuk menyelesaikan mengobati luka di tubuhku saja rasanya tidak sanggup lagi. Kepalaku juga terasa pusing. Ini mungkin karna aku terlalu memaksakan diri bertarung belawan para penjaga vampire itu dan tidak sempat istirahat. Aku membaringkan diriku, menarik beberapa helai selimut lalu mulai tertidur.


"Keyla," panggil Mitéra. Ia mengambil tempat duduk di tepi kasurku.


Usapan lembut tangannya di rambut ku membuatku membuka mata. "Mitéra," kataku dengan lemah.


"Tubuhmu panas sekali. Sepertinya kau demam."


"Demam? Aku memang merasa tidak nyaman di seluruh tubuhku dan kepalaku juga pusing. Hoek!" aku menahan mulutku ketika ada sesuatu yang memaksa hendak keluar. "Dan sedikit mual."


"Iya. Itulah gejala demam sayang. Mitéra akan mengambil air hangat dan handuk kecil untuk mengompresmu ya."


"Apa kau belum perna merasakan demam sebelumnya sampai tidak tahu?" tanya Mitéra.


"Tidak perna. Ini pertama kalinya."


"Aku dengar kalau manusia serigala itu tidak mudah jatuh sakit. Sepertinya kau terlalu lelah beberapa hari ini dan tidak menjaga kesehatanmu dengan baik. Bagaimana dengan keadaan lukamu."


"Masih ada yang belum kuobati."


Mitéra meraih kotak obat yang tergeletak di atas meja laci. Ia menarik sebagian selimut yang menutupi tubuh kemudian mengobati sisa luka ku.


"Bagaimana keadaan yang lain?" tanyaku.


"Mereka semua sudah mendapat pengobatan. Hasil pemeriksaan dari Mr. Guttman, Rosse baik-baik saja begitu juga dengan Sofia. Sedangkan Lisa, ia tidak mengalami luka sama sekali," jelas Mitéra. Selesai memperban luka ku, Mitéra menutup tubuhku kembali menggunakan selimut.


"Bagaimana dengan paman Fang dan Aftur?"


"Aftur?"


"Maksudku singa itu."


"Oh... Dia. Kami semua terlalu kaget melihat keadaan kalian yang kacau sampai-sampai tidak menyadari kalau kalian pulang dengan seekor singa. Mereka berdua diobati di ruangan lain bersama Patéras dan ayahmu."


Aku meletakan lenganku menutupi kedua mataku bersamaan dengan satu butir air mata mengalir pelan. "Maaf," kataku hampir tidak terdengar.


"Kenapa kau terus minta maaf? Dan pada siapa? Kau tidak memiliki kesalahan apapun."


"Aku bersalah pada semua orang. Aku melanggar janjiku pada bibi Marry dan Mitéra untuk menjaga Rosse dan Lisa. Karna aku mereka semua dalam bahaya dan mengalami luka seperti ini. Hiks... Hiks... Dan lagi aku tidak berhasil mendapatkan obat penawar untuk ibu. Perjalanan ke pulau Vyden menjadi sia-sia. Maafkan aku. Hiks... Hiks... Maaf."


"Sudahlah sayang. Berhentilah menangis," Mitéra berusaha mengusap air mataku.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mitéra?"


"Sayang sepertinya kau harus..."


"Kakak, Mitéra, kalian disini?"


.


.


.


.


.


.


ξκύαε