My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Berkenalan dengan vampire



"Mereka murit pertukaran pelajar yang baru datang hari ini. Aku berkesempatan memandu mereka berkeliling sekolah," jelas Onoval.


"Hallo nona-nona manis. Perkenalkan namaku Petric. Kalian bisa memanggilku Eric seperti yang lain," katanya memperkenalkan diri.


"Namaku Rin, ini adikku Lisa," kataku memperkenalkan diri serta memperkenalkan yang lain.


"Hai..." Lisa melambaikan tangan dengan ramah.


"Hai juga," balas Eric melambai.


"Sebelahnya Rosse," tujukku pada Rosse.


"Salam kenal."


"Iya. Senang berkenalan denganmu."


"Dan yang terakhir Sofia,"


Sofia tidak berkata. Ia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Eric segera membalas lambainya. Tiba-tiba Eric berbalik dan seketika merangkul bahu Onoval mengajaknya menjauh sedikit dari kami.


"Oh... Astaga Onoval, mereka semua sangat manis," bisik Eric dengan riang. Aku masih bisa mendengar percakapan mereka.


"Hei, kau jangan macam-macam dengan mereka. Yang rambut merah itu temanku dan temanya adalah temanku juga," kata Onoval memperingatkan temanya itu.


"Ayolah, kau pelit sekali. Bolehlah aku minta salah satu dari mereka, yang rambut emas itu saja. Ia begitu imut," lirik Eric pada Lisa. Sepertinya ia tergoda dengan keimutan Lisa.


"Aku akan membunuhmu jika kau berani menyentuh salah satu dari mereka!" ancam Onoval. Itu membuatku terkejut.


"Kau kejam sekali terhadap temanmu ini."


"Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Kau mencoba mencicipi darah mereka, kan?"


Perkataan Onoval kali ini membuatku sangat terkejut. Apa maksudnya mencicipi? Darah? Eric seorang vampire, dan dia berencana mau menghisap darah Lisa. Tidak. Tidak akan aku biarkan. Tempat ini benar-benar tidak aman bagi kami. Walau ada peraturan keras bagi seluruh vampire untuk tidak menghisap darah manusia secara langsung, tapi tetap saja masih ada vampire remaja yang nakal.


"Aku juga tidak akan menghisap habis darahnya. Aku cuman mau mencicipi darah segar yang langsung dari sumbernya."


"Setetes saja darah salah satu dari mereka keluar dari kulit mereka, kau yang akan aku kuliti!" tegas Onoval. Ia berbalik meninggalkan temanya itu lalu menghampiri. "Ayo, pergi ke tempat lain."


"Sampai jumpa lagi ya nona-nona!" teriak Eric dengan senyum di wajahnya. Namun aku juga mendengar gumangannya. "Semoga kita dapat bertemu lagi."


"Jangan pedulikan dia," Onoval memutar kepalaku agar aku berhenti melirik Eric.


Dari aura nya aku bisa merasakan Onoval sangat marah dengan temanya itu. Saat percakapan ia dengan Eric saja, Onoval terdengar sangat melindungi kami. Itu membuatku tersentuh. Namun, Onoval tidak mungkin dapat melindungi kami setiap waktu. Ada kalanya ia tidak akan bersama kami, disaat itu bagaimana kalau ada vampire seperti Eric yang menggangu kami? Ia tidak akan datang tepat waktu melindungi kami. Aku dan Sofia mungkin tidak apa. Kami masih bisa melawan mereka. Tapi bagi Rosse dan Lisa? Mereka menjadi sasaran empuk. Untuk melindungi keselamatan mereka, aku dan Sofia harus senantiasa bersama mereka. Jangan perna mereka jauh dan lepas dari pengawasan kami. Hanya itu salah satu cara agar membuat mereka aman.


"Aku peringatkan kalian untuk tidak berjumpa dengan Eric dalam keadaan kalian sendirian," kata Onoval memperingatkan kami.


"Kanapa? Iya terlihat baik," tanya Rosse bingung.


"Karna dia seorang vampire."


"?!" Rosse, Lisa dan Sofia begitu terkejut setelah mengetahuinya. Hal itu membuat langkah mereka terhenti.


"Apa benar itu? Sungguh sangat sulit membedakannya. Ia terlihat sama seperti manusia biasa," kata Sofia.


"Kalian belum terbiasa. Lama kelamaan nanti kalian bisa membedakan mereka sekali lewat."


"Ia memiliki taring sedikit lebih pajang dari gigi taring manusia biasa," kataku.


"Ia berbeda dengan vampire lain. Ia vampire berdarah murni dan keluarganya sangat berpengaruh di kota ini. Peraturan sekolah dapat dibelinya. Kalian tahu lah... Ia bebas melakukan apa saja asalkan tidak ketahuan oleh guru atau stap sekolah lainnya," jelas Onoval.


"Hah... Peraturan jadi miring karna uang," Lisa menghela nafas panjang.


"Itu sudah bisa. Sungguh tidak adil memang tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada yang tidak menyukai uang."


"Apa yang ia bisikan padamu tadi?" tanya Rosse ingin tahu.


"Dia... Ingin salah satu dari kalian," ujar Onoval membuat mereka terkejut.


"Apa?! Salah satu dari kami?" ulang Sofia dengan raut wajah.


"Tak akan kubiarkan itu terjadi," aku menarik Lisa dalam pelukanku. Jika si vampire itu mau menyentuh Lisa, aku tidak akan segan-segan membunuhnya. Aku tidak peduli siapa dia, mau ia vampire berdarah murni atau darah campuran, mau sang peguasa atau tidak, jika berani menyakiti keluarga dan teman-temanku bersiap saja menghadapi aku.


"Kalian jangan takut. Tidak akan aku biarkan mereka bisa menyentuh salah satu dari kalian. Jika ada yang berani menggagu kalian segera beritahu aku," ujar Onoval.


"Kau terdengar seperti ingin menjadi pangeran berkuda bagi kami. Empat putri bukannya terlalu banyak?" kataku nengoda Onoval.


Dengan pipi yang sedikit merah, Onoval memalingkan wajahnya yang malu. "Em... Itu, itu. Wajar saja kan. Sebagai seorang teman kita saling membantu dan melindungi. Rin temanku itu berarti teman Rin temanku juga"


"Apa kau yakin dapat melindungi kami?" tanya Lisa yang meronta melepaskan diri dari pelukanku. "Temanmu itu seorang vampire, dan kau bilang ia sangat berkuasa dan sewena-wena. Ia pasti melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Bagaimana cara kau bisa menghentikannya dan melindungi kami?"


Mendengar pertanyaan itu membuat Onobval terdiam sesaat. "Aku mengenal Eric. Ia tidak akan mungkin berani menyerang kalian jika ada aku."


"Kenapa bisa begitu?" potongku. "Apa karna status misterius mu itu?"


"Bu, bukan itu. Aku dan Eric sudah berteman sejak lama. Ia sudah berjanji tidak akan menyerang teman-temanku," kata Onoval mencari alasan.


Aku tidak percaya dengan alasannya ini. Pasti karna jati diri Onoval yang membuat ia bisa mengancam vampire berdarah murni. Aku semakin penasaran siapa ia sebenarnya? Orang seperti apa yang ditakuti vampire? Sekte pemburu monster, kah? Cepat atau lambat aku akan mengetahuinya.


"Tapi walaupun begitu ia masih bisa menyerang dibelakang ku, sebab itu aku memperingatkan kalian untuk menjauhnya. Jangan selalu di tempat sepi. Ia tidak akan berani menyerang kalian di keramaian."


"Baiklah, kami akan mengikuti nasehatmu. Aku juga tidak mau jadi vampire," ujar Rosse membuat Aku, Sofia dan Onoval meliriknya. "Ada apa? Apa aku ada salah bicara?"


"Iya. Kesalahanmu, kau tidak akan mungkin menjadi vampire jika kau digigit oleh mereka," jelas ku.


"Eh? Bukankan di film selalu begitu? Siapa yang digigit vampire akan menjadi vampire juga."


"Itu tidak benar. Vampire tidak bisa mengubah manusia menjadi vampire lain setelah mereka mengigit mangsanya. Dahulu, sebelum perdamaian. Pada malam hari vampire akan mencari korban untuk dihisap darahnya sampai kering. Korbannya tidak akan menjadi vampire. Ia sudah mati dengan keadaan seperti mumi yang terawetkan selama ratusan tahun," jelas Onoval.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε