My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Makan malam



"Rosse, Rin, kenapa kalian muncul dari ruang depan kedai? Tidak seperti biasanya," tanya kak Cia ketika melihat kami masuk.


"Itu karna Mr. & Mrs. Morgen ada disana," tunjuk Rian ke arah pintu penghubung antara dapur belakang dan ruang depan kedai.


"Apa?!" dengan raut wajah sangat terkejut, seketika kak Cia mengintip melalui kaca kecil tranparan yang ada di pintu. "Astaga. Itu... Itu benaran mereka. Mr. Morgen dan Mrs. Morgen datang ke kedaiku. Kita harus melayani mereka dengan baik."


"Sebab itu kami kemari untuk mengambilkan pesanan untuk dihidangkan," kataku.


"Apa? Ayahmu bisa membunuku kalau aku berani memperkerjakan putrinya!" terlihat jelas penuh kepanikan di wajah kak Cia.


"Tenanglah Kak Cia, ayahku tidak akan sekejam itu."


"Mungkin saja bisa jika kita terlambat menyajikan pesanannya," celoteh Rosse.


Aku cuman menatap tajam padanya. "Tidak bisa ya tidak memperburuk keadaan?"


"Aku bingung harus apa," kak Cia berpikir sejenak, kemudian... "Hanna, bisa kau buat Seven color lotus cake satu lagi?"


"Aku rasa bisa, mungkin sampai hidangan penutup disajikan."


"Baguslah jika kau yakin bisa membuatnya. Em... Rin orang tuamu suka masakan apa? Jujur saja aku benar-benar merasa gugup kalau masakanku nanti tidak sesuai selerah keluargamu."


"Sajikan apa saja yang ada dimenu. Kami tidak terlalu pilih-pilih makanan," kataku.


"Oh, iya. Untuk ibuku jangan ada udang dan kerang ya. Dia alergi itu," kata Rosse menberitahu.


"Baiklah. Gantilah baju kalian dengan serangam yang ada di ruang ganti," ujar kak Cia dengan tatapan masih berpikir.


"Em... Kak Cia... Boleh kami tidak purlu mengenakan seragam itu?" pintaku dengan nada sangat memohon.


"Ya sudah, tidak apa-apa."


"Seragam apa?" entah sejak kapan Sofia tiba-tiba sudah berdiri di dekat pintu.


"Kau... Kau adalah Sofia Liana Livitt," untuk kedua kalinya kak Cia dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang dikaguminya.


"Kau mengenalku?"


"Tentu saja. Kau itu model dari brend Vererossa yang sering muncul dimajalah akhir-akhir ini. Aku benar-benar sangat mengagumi semua busana mereka. Aku sudah menabung untuk membeli salah satu busana yang kau kenakan di majalah bulan lalu," reaksi kak Cia seperti bertemu idolanya. "Aku sungguh tidak percaya, pertama keluarga Morgen lepas itu kau. Ini akan menjadi hari terbaikku."


"Wow, aku tidak menyangka kalau aku akan seterkenal itu."


"Aku tidak tahu sejak kapan kau menjadi model, Sofia?" tanyaku.


"Itu gara-gara aku diminta ibuku mencoba salah satu busana yang baru saja ia selesaikan, lalu Mrs. Wilson melihatnya dan seketika memitaku jadi model untuk promosi busana tersebut," jelasnya. "Jadi seragam apa yang kalian bicarakan tadi?"


"Oh, itu hanya seragam pegawai," jelas kak Cia.


"Kenapa kalian tidak mau memakainya?" tanya Sofia padaku dan Rosse.


"Karna seragam itu sangat memalukan," kata Rosse.


"Seberapa memalukannya itu? Aku mau lihat."


Sofia menarik aku dan Rosse ke ruang ganti. Ia melihat-lihat beberapa seragam pelayan yang tergantung di dalam lemari. Sofia mengambil satu yang cocok dibadannya lalu memakainya. Selesai memakai seragam itu, ia sedikit memutar-mutar badannya di depan cermin yang tersedia untuk menilai seragan tersebut.


"Hei, ini tidak terlalu memalukan, mala terlihat manis."


"Bagaimana, apa kami terlihat begitu manis?" tanya Sofia meminta pendapat kak Cia dan Hanna.


"Itu terlihat sangat bagus untuk kalian. Terutama kau Miss. Livitt," puji kak Cia pada kami.


"Iya. Sangat cantik," sambung Hanna.


"Kalau begitu nona-nona. Ini aku sudah buatkan hidangan pertama untuk keluarga kalian. Jangan buat mereka menunggu lebih lama lagi. Dan ini khusus untuk ibumu Rosse."


Kak Cia memberikan kami masing-masing piring yang sudah berisi hidangan dengan tampilan menarik dan menggugah selerah. Aku, Rosse dan Sofia membawa hidangan tersebut menujuh meja. Baru saja menyajikan makanan tersebut, tiba-tiba satu kilatan cahaya menerpa wajah dan tubuh kami. Ibu cuman tersenyum dengan kamera hp diarahkan padaku. Satu kilatan lagi muncul dari hpnya yang membuatku sontak menutup wajah.


"Ibu jangan memfotoku!" protesku.


"Tidak bisa. Jarang-jangan ibu melihat putriku begitu imut begini," ibu masih mengambil beberapa foto lain. "Apa kau selalu berpakain seperti ini saat berkerja? Pantas saja kedainya jadi begitu ramai."


Aku mengeretakan gigiku sambil memalikan muka. Aku sedikit kesal dan malu berpakaian seperti ini di depan keluargaku. Aku segera berlalu pergi menuju dapur untuk mengambil hidangan lain. Selesai menyajikan semua pilihan yang ada dimenu kecuali kudapan manis, kami mulai mencicipi satu persatu hidangan ini. Semuanya makanannya sangat lezat, tidak kalah dengan masakan restoran yang pernah aku datangi.


Tiba masanya hidangan manis disajikan. Seven color lotus cake begitu cantik ketika Rosse meletakannya diatas meja. Sedangkan aku dan Sofia membawa nampan berisi masing-masing tiga cangkir kopi yang kami terima dari sang barista coffee, Tobi. Rosse membagi kue itu menjadi tujuh potong sesuai warna kelopak. Kali ini aku meminta potongan kelopak berwarna ungu. Em... Rasa anggur begitu terasa manis di lidahku.


"Astaga ini enak sekali," terlihat ibu sangat menyukai Seven color lotus cake ini.


"Iya, ini enak sekali," ayah juga memberi pendapat sama.


"Siapa yang membuat ini?" tanya ibu penasaran.


"Hanna yang membuatnya, adik dari pemilik kedai ini. Ia yang paling muda diantara kami," jelasku, setelah menekuk kopiku.


"Apa boleh Ibu ingin bertemu dengannya?"


"Tentu saja boleh. Tapi dia sedikit pemalu," ujar Rosse.


"Tahan sedikit kebiasaan ibu yang tidak bisa melihat gadis imut saat bertemu dengannya," kataku mengingatkan.


"Tidak masalah, jika ibu bisa."


"Hm," aku menangapi kalimat itu dengan datar.


"Ayah juga mau bertemu dengan pemilik kedai ini," kata ayah ketika meletakan cangkir kopinya yang sudah kosong.


"Baiklah. Nanti aku sendiri yang bilang pada kak Cia."


Selesai makan dan membereskannya. Aku menyampaikan pesan dari ayah untuk bertemu. Saat mendegar itu kak Cia kembali panik. Apalagi tahu kalau ayah mau berbicara empat mata bersamanya. Tubuh kak Cia langsung gemetar karna terlalu gugup. Ia benar-benar gugup dan bingung harus bersikap bagaimana saat berbincang dengan ayah nantu. Aku berusaha menyakinkan kak Cia supaya ia sedikit lebih santai. Aku menyarankan untuk bersikap seperti biasa saja, jangan terlalu formal. Tapi sepertinya hal itu tidak membantu. Kak Cia semakin tegang ketika ayah sudah berdiri di hadapannya.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε