My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Aku ingin tahu alasannya



Sepulangnya dari rumah sakit aku tidak berbicara sekatapun, baik pada ibu, ayah, paman, bibi, Rosse dan bahkan Mia yang hanya ku balas senyuman tipis. Aku lebih suka menghabiskan waktu sendirian di kamar, tidak mau bertemu siapapun termasuk Sofia. Ia berkali-kali menelponku atau bahkan sampai berkunjung. Aku menonaktifkan hpku untuk mendapat ketenangan dan tidak mau menerima kabar apapun, dari siapapun. Tidak perna terbayang akan jadi seperti ini hidupku. Siapa aku? Aku hanya seorang anak yang tidak dinginkan orang tua kandungku. Setengah itu mereka meninggalkanku di depan pintu panti asuhan. Jika bukan karna kebaikan hati keluarga Morgen mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Sore harinya aku naik ke menara. Ini adalah tempat faporitku untuk melihat matahari terbenam, dan juga tempat dimana kalau suasana hatiku lagi sedih. Tepat diketinggian lima lantai aku dapat melihat seluruh bagian di kediaman ini dari berbagai sisi. Aku duduk dipinggir menara dengan keadaan kaki menjuntai ke bawah. Sinar keemasan tidak begitu menyilaukan saat aku menatap langsung ke matahari. Angin yang bertiup begitu asik memainkan helaian rambutku. Aku menatap kosong ke matahari yang perlahan-lahan menghilang dan menyisakan cahaya tipis di langit.


"Ternyata benar kau ada disini," kata seseorang dibelakang ku yang aku tahu itu adalah Rosse.


"Darimana kau tahu aku ada disini?" tanyaku tanpa meliriknya.


"Mr. Li. Katanya kau sering naik ke menara untuk melihat matahari terbenam," Rosse mengambil tempat duduk disampingku. Ia menunduk ke bawah. "Wow... Tempat ini tinggi. Apa kau tidak takut?"


"Paman Fang memang tahu kebiasaan ku. Tapi kau tahu untuk sekarang ini aku hanya mau sendirian."


"Alah kau ini, berhenti lah murung. Apa yang kau pikirkan? Memangnya kenapa kalau kau itu hanya anak angkat? Toh, keluargamu saat ini sangat menyayangimu sama seperti anak sendiri."


"Aku cuman terpikir, kenapa orang tua kandungku begitu tega melantarkan putri mereka sendiri di depan pintu panti asuhan?"


"Mungkin mereka memiliki alasan yang mau tidak mau harus menitipkanmu dipanti asuhan. Seperti..." Rosse mulai memikirkan alasannya. "Kesulitan ekonomi."


"Aku kira kau akan mengatakan kalau aku salah satu anak yang tidak diinginkan," kini aku menoleh pada Rosse.


"Eh? Memang wajahku terlalu menyakinkan untuk aku mengatakan itu?"


"..."


"Sudahlah, apapun alasannya untuk apa kau hiraukan. Jikalau memang orang tua kandungmu tidak menginginkan mu, kau masih ada kami. Ayah, ibumu, paman, bibi, sepupumu Mia dan teman-teman mu. Kau juga hidup sebagai nona kediaman keluarga Morgen. Apa itu masih tidak cukup membuatmu bahagia?"


"Aku tahu itu, Rosse," aku tertunduk lesuh. Semua yang dikatakan Rosse benar. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang menyayangiku sepenuh hati, tapi dalam benakku ada perasaan ingin tahu, kenapa orang tua kandungku mentelantarkanku?


"Hei, Rin. Siapa yang ada di rumah itu?" tunjuk Rosse pada sekelibat bayangan hitam yang lewat di lorong bangunan kosong tepat sebelah kiri dari tempat kami duduk.


"Sepertinya itu paman Fang," kataku setelah melihat siapa itu.


"Apa yang dilakukan Mr. Li disana?"


"Tidak tahu. Bangunan itu tidak ditempati siapapun dan aku tidak perna memasukinya. Namun yang aku tahu, biasanya bangunan itu digunakan ayah untuk melakukan pertemuan dengan para tetua klan dan juga tempat para manusia serigala junior dilantik menjadi manusia serigala resmi klan Α (Alpha). Pokoknya yang pasti tempat itu adalah bangunan khusus untuk keperluan klan Α (Alpha)," jelas ku.


"Oh..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya. Aku pergi pagi-pagi sekali tanpa memberitahu orang tuaku, Rosse ataupun yang lain. Aku menyelinap perlahan menuju garasi kemudian berlalu pergi sebelum ada yang menyadarinya. Hari ini aku berencana mencari orang tua kandungku. Aku hanya ingin tahu alasan mereka mentelantarkan putri mereka sendiri di panti asuhan. Aku ingin penjelasan logis dari mereka secara langsung. Perjalanku kali ini cukup jauh. Menurut alamat panti asuhan yang aku dapat dari surat adopsi, tempat itu terletak di pinggiran kota dan sedikit terpelosok. Aku bertanya ke beberapa orang yang aku temui untuk memastikan apa jalan kulalui ini benar menuju alamat yang aku aku cari.


Jam 09.18 akhirnya aku sampai di panti asuhan tempat dimana aku diadopsi. Bangunan tiga lantai bercat ceria warna-warni. Bau catnya sangat menusuk di hidungku. Sepertinya panti asuhan ini baru selesai direnovasi. Ada sebuah taman bermain di sebelah kanan bangunan ini. Kulihat disana banyak anak-anak sedang asik bermain. Walau cuaca sangat dingin, hal itu tidak menghentikan keceriaan mereka menikmati permainan di balutan pakaian tebal. Aku menekan bell yang ada di samping pintu. Aku mendengar langkah kaki dari dalam menghampiri. Tak lama pintu dibuka oleh seorang gadis berumur delapan tahun. Ia menatapku dengan mata birunya. Rambut berwarna coklat terurai panjang bergelombang ditutupi topi rajutan. Ia sangat cantik.


"Apa Mrs. Kineta ada?" tanyaku pada gadis itu.


"Kakak sakit parah," kata gadis itu spontan dengan ekspresi datar.


"Ah, maaf. Saya salah bicara," ia langsung sadar atas apa yang baru saja ia katakan. "Silakan masuk dulu kak. Saya akan panggilkan Mrs. Kineta."


Gadis itu mempersilakan aku masuk dengan senyum manis di wajahnya. Aku melangkah masuk dan segerah mengambil tempat duduk di kursi panjang yang tersedia. Saat gadis itu berlalu pergi aku mengeluarkan hpku lalu bercermin di layarnya. Apa wajahku terlalu pucat sampai gadis itu dapat menebak dengan pasti? Aku memasukan hpku ke saku jaket ketika seorang wanita menghampiriku. Aku berdiri, mengulurkan tanganku sambil memberi salam. Ia menyambut dengan hangat lalu menyuruhku duduk kembali. Ia mengambil tempat duduk disampingku.


"Ada perlu apa gadis sepertimu menyempatkan diri datang ke panti asuhan sederhana kami?" tanya wanita itu ramah.


"Begini... Aduh, maaf. Saya sedikit gugup menjelaskannya bagaimana."


"Santai saja."


"Jadi begini Mrs. Kineta. Apa anda ingat dengan bayi yang mengidap penyakit jantung bawaan dan mendapat transplantasi jantung 15 tahun yang lalu?"


"15 tahun yang lalu..." Mrs. Kineta mencoba mengingat-ingat kejadian itu. "Oh... Bayi yang diadopsi keluarga Morgen itu. Memangnya kenapa?"


Aku tersenyum. "Sayalah bayi itu."


Mrs. Keneta teperangak tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. Cukup lama ia menatapku dalam diam sampai satu mutiara mengalir diujung matanya.


"Ini... Su, sungguh kau? Ke, Keyla. Keyla, benarkan?"


Aku menggangguk. Tiba-tiba Mrs. Kineta memeluk erat tubuhku. Sangat erat sampai aku kesulitan bernafas.


"Tidak aku sangkah ternyata ini benar-benar kau."


"Iya Mrs. Kineta, ini aku Keyla. Bisa tolong lepaskan pelukanmu," kataku sedikit sesak.


"Maaf," Mrs. Kineta melepaskan pelukannya. "Hanya saja tidak terasa sudah 15 tahun lamanya. Walau kau cuman tinggal beberapa bulan disini tapi kau tetap bagian dari tempat ini."


"Itulah alasanku datang menemui mu. Aku cuman ingin tahu siapa orang tua kandungku karna aku baru tahu sekarang kalau aku itu anak angkat."


.


.


.


.


.


.


ξκύαε