My Story Of Becoming A Werewolf

My Story Of Becoming A Werewolf
Andai ia tahu



Aku membiarkan Rosse berjalan sendiri sambil memilih pakaian yang ia inginkan. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan pada pegawai toko ini. "Em... Permisi. Apa boleh saya bertanya sedikit?"


"Iya, mau tanya apa?"


"Apa disini menyediakan layanan Black Ticket?" bisikku pada pegawai tersebut.


"Oh, untuk layanan Black Ticket tidak tersedia lagi. Penyihir yang bertugas juga telah dipindakan ke butik lain lima hari yang lalu, karna sangat jarang sekali pemilik Black Ticket di kota ini," jelas pegawai itu.


"Ha... Sangat disanyangkan," kataku sedikit kecewa.


"Tapi... Jika mau, saya bisa melakukannya. Kebetulan saya perna menjadi salah satu penyihir layanan Black Ticket pemula," kata pegawai itu menawarkan diri namun sedikit ragu-ragu mengatakannya.


"Benarkah? Kalau begitu bisa minta tolong dengan pakaian ini? Oh iya, aku mau sweater chocolate ini juga," aku menyerahkan kedua pakaian itu padanya.


"Baiklah, saya akan berusaha sebisa mungkin. Harap menunggu sebentar."


"O, hampir lupa. Aku ingin busana seperti yang ada di manekin itu dan tolong bukus kado, bisa?" aku menujuk gaun yang diperhatikan Rosse sebelumnya.


"Apa ini untuk temanmu tadi?"


Pegawai tersebut berhasil menebak pikiranku. "Iya. Aku tahu kalau ia menyukainya, tapi ia tidak mau bilang."


"Kau sungguh teman yang baik. Saya akan menghias kadonya secantik mungkin," kata pegawai tersebut sambil tersenyum manis.


"Terima kasih."


Pegawai tersebut berlalu pergi menuju lantai atas. Yang aku tahu layanan Black Ticket harus dilakukan di ruangan tertutup tanpa ada gangguan sedikitpun. Tidak semua penyihir bisa melakukan layanan Black Ticket. Karna mantra sihir ini hanya diajarkan kepada pegawai butik Vererossa yang berminat. Ada sebuah perjanjian yang harus dilakukan jika ingin menjadi penyihir layanan Black Ticket. Aku dengar perjanjian ini harus menggunakan setetes darah orang yang mau melakukan perjanjian. Jika melangar maka konsekuensinya orang tersebut tidak dapat mengunakan sihir lagi seumur hidupnya. Butik Vererossa memang sangat ketat jika mencangkup soal mantra sihir mereka.


Aku menghampiri Rosse yang sedang memilih pakaian. Tinggal tiga langkah lagi jarakku dengan Rosse, tampa sengaja aku mendengar ia bergumang. "Sepertinya yang ini cocok untuk ibu."


Rosse jauh lebih mementingkan ibunya dari pada dirinya sendiri. Seorang putri yang sangat perhatian. "Sudah dapat Rosse?"


"Ini saja. Em... Kemana pegawai wanita tadi?" tanya ia ketika menyadari pegawai itu tidak ada.


"Dia ada dilantai atas. Sambil menunggu, bagaimana kalau kita lihat-lihat bagian aksesoris dan perhiasan?"


"..."


Rosse hanya diam berarti ia setuju. Kami pergi ke bagian aksesoris dan perhiasan. Karna terlalu asyik melihat-lihat aku sampai lupa dengan gadis aneh itu. Ternyata sendari tadi ia ada di ruangan ini. Pantas saja aku tidak melihatnya selagi mencari busana barusan. Gadis aneh itu sedang memilih perhiasan yang terpajang dari balik meja kaca. Di dekatnya ada pegawai toko wanita yang asik merekomendasikan berbagai macam perhiasan pada Sindy. Ketika ia menyadari kehadiran aku dan Rosse, wajah yang penuh make up itu terlihat sangat terkejut.


"Ba... Bagaimana bisa kalian masuk?!"


"Tentu saja melalui pintu," kataku mengatakan yang sebenarnya.


Entah mengapa tiba-tiba Rosse menampar pungungku. "Kau ini begitu ahli dalam membuat orang kesal."


"Apa salahku? Aku kan mengatakan yang sebenarnya. Masa iya kita lewat menembus tembok."


"Tapi tidak gitu juga jawabnya."


"Bukankah hari ini butik Vererossa tertutup untuk umum? Kenapa kalian membiarkan dua orang ini masuk?" tanya Sindy pada pegawai toko itu.


"Sa... Saya juga tidak tahu bagaimana mereka berdua bisa masuk. Pasti kalian masuk tampa izin saat penjaga sedang lengah ya?!" tuduh pegawai itu pada kami.


"Hei kau, jangan sembarangan menuduh!!" bentak Rosse kesal karna dituduh yang bukan-bukan.


Aku cukup terkejut melihat reaksi Rosse seperti itu. Lebih baik aku segera membelahnya. "Apa begini pelayanan yang diberikan butik Vererossa pada pelanggannya? Apanya yang disebut ramah dan penuh senyuman?"


"Pelanggan? Kalian berdua tidak pantas menjadi pelanggan disini. Kami hanya melayani kalangan atas bukan kalagan bawah seperti kalian," ujar pegawai tersebut.


"Sebaiknya kalian keluar dari sini sebelum saya panggil penjaga," lanjutnya.


"Aku kan sudah bilang, kalian pasti diusir jika berusaha untuk masuk. Sebaiknya pergi saja dari sini. Kalian juga tidak mampu untuk beli satupun pakaian yang ada," kata Sindy.


"Ternyata anda disini, saya sudah mencari kalian kemana-mana."


Pegawai yang kuminta layanan Black Ticket menghampiri kami. Terlihat jelas ada titik-titik keringat di dahinya. Sepertinya penggunaan mantra tersebut cukup menguras tenaga. Ditangan pegawai tersebut ada tiga paper bag dengan ukuran sama bermotif bunga mawar.


"Ini semuanya sudah selesai," pegawai tersebut menyerahkan paper bag itu padaku.


"Terima kasih," kataku sambil menerimanya. "O iya, Rosse. Bukankah kau mau beli yang itu," aku mengigatkan Rosse pada pakaian yang ia pilih sebelumnya.


"Benar juga. Aku mau yang ini," Rosse menyodorkan pakaian yang sendari tadi ia bawah.


"Baik."


"Tunggu dulu!" ucap pegawai wanita yang mendampingi Sindy. "Calsy, apa kau yang membiarkan mereka berdua masuk?"


"E... Aku..."


"Kau pegawai baru disini, dan berani sekali kau membiarkan orang sembarangan masuk! Apa kau tidak ingat kalau hari ini hanya pelanggan pemiliki kartu masuk saja yang diizinkan?!" oceh pegawai tersebut pada pegawai yang aku baru tahu namanya Calsy.


Aku tentu terima kalau ada seseorang yang tak bersalah di marahi seperti itu. Apa lagi hal tersebut masih berhubungan denganku. "Kau..."


"Apa kau tidak mau mendengar penjelasannya dulu?" belum selesai aku bicara Rosse sudah memotongnya. "Kau pikir penjaga diluar sana hanya pajangan?!"


"Mungkin saja kalian masuk lewat pintu belakang. Tidak ada yang tahu."


"Rosse ini urusan mereka, kau tidak perlu ikut-ikutan," kata Sindy menghalangi.


"Ap..."


"Apa maksudnya bukan urusanku?!"


Aku kecolongan lagi. Sepertinya Rosse sangat tidak terima akan hal ini. Dari ekspresinya yang dingin itu ternyata tersimpan sifat saling peduli. Ia benar-benar tidak suka melihat orang diperlakukan tidak adil di depan mata kepalanya sendiri. Apa aku jadi penonton saja hari ini? Aku jadi tahu perasaan seseorang yang melihat pertunjukan menari. Biasanya aku ikut dalam pertunjukan itu.


"Dia telah menuduh sembarangan pegawai ini tampa ada bukti pasti," tunjuk Rosse pada wanita di depannya. "Dan alasan kau menuduhnya karna kami masuk ke butik ini. Lalu bagian mana yang membuat aku tidak boleh terlibat?"


"Rosse, kau mulai berani memarahiku ya? Apa kau lupa kalau kau sedang berurusan dengan siapa? Jangan sok baik di depanku, atau..." Sindy tidak melanjutkan kalimatnya, tapi ia mendekat ke arah Rosse dan kemudian berbisik di telinganya. "Kau tahukan akibatnya bukan?'


"...!!" Rosse hanya diam namun ekspresi wajahnya berubah terkejut setelah mendengar itu.


Apa-apaan ini?! Sindy mencoba mengancam Rosse. "Apa akibatnya?" kataku lantang, membuat mereka menoleh padaku.


.


.


.


.


.


.


ξκύαε