
"Nah semuanya, apa kalian sudah siap?" tanya bibi Tori.
"Iya," jawab kami serempak.
"Lisa, Rosse ingat pesanku? Permata yang kalian kenakan saat ini sudah berisi sihir perlindungan. Itu akan memungkinkan melindungi kalian dari berbagai macam bahaya. Setiap kali warna batu permata kalian berubah itu berarti satu sihir perlindungan telah terpakai. Jika batu permata nya kembali ke warna asal berarti sihir perlindungan sudah tidak ada lagi," jelas bibi Tori mengingatkan Lisa dan Rosse.
"Iya, bibi Tori. Kami mengerti," jawab mereka.
"Sofia aku sudah mengajarimu sihir teleportasi. Itu akan memungkinkan kalian dapat kembali lagi kesini."
"Iya ibu, aku sudah mahir melakukannya. Aku juga telah memperkuat sihirku dan aku sudah mempelajari sihir lainnya," jawab Sofia.
"Jangan perna gunakan sihirmu di depan umum. Lebih baik rahasiakan identitasmu dari mereka, mengerti?" saran paman Jaseph pada putrinya yang di jawab anggukan.
"Rosse, berhati-hatilah. Kau satu-satunya hidupku. Aku tidak mau kehilanganmu," belai bibi Marry di pipi manis putrinya.
"Jangan khawatir ibu. Putrimu ini akan baik-baik saja. Aku pasti kembali dan akan sangat merindukan masakanmu," kata Rosse, lalu ia memeluk ibunya.
"Baik. Saat kalian kembali, aku pasti akan membuatkan hidangan istimewa untuk kalian."
"Oke semuanya kita harus bergegas sebelum matahari terbenam. Kalian harus sampai di kastil sebelum gelap," kata bibi Tori.
Aku, Lisa, Sofia dan Rosse mengikuti bibi Tori pergi ke ruangan yang sedang di persiapkan paman Alan sebelumnya untuk melakukan teleportasi. Yang lain ikut mengantar kepergian kami. Sampai diruangan tersebut kulihat paman Alan baru selesai meletakan lilin terakhir di atas lingkaran sihir yang terlukis di atas lantai. Aku sedikit bingung akan hal itu. Ini bukan pertama kalinya aku melakukan teleportasi. Aku dan Sofia terbilang sering pergi ke suatu tempat menggunakan sihir teleportasi. Untuk berbagai macam alasan atau sekedar kesenangan semata.
"Em... Bibi Tori, kenapa harus menggunakan lingkaran sihir? Tidak seperti biasanya," tanyaku penasaran.
"Oh... Itu untuk mempermudah kalian kembali. Sihir teleportasi yang kuajarkan pada Sofia hanyalah pengaktifan dari sihir teloportasi yang sudah ada. Jika untuk mempelajari sihir teloportasi yang sesungguhnya tidak akan cukup dalam waktu tiga hari. Lagi pula penggunaan lingkaran Sihir bisa membuat kami tahu kapan kalian menggunakannya yang ditandai dengan menyalahnya kembali seluruh lilin," jelas bibi Tori.
"Kalian berempat berdirilah di dalam lingkaran untuk siap melakukan teleportasi," ujar paman Alan.
Dengan tas di punggungku, aku, Rosse, Lisa dan Sofia melangkah masuk kedalam lingkaran Sihir yang terlihat begitu rumit namun cantik. Berapa lama paman Alan membuat ini? Baru hendak melangkahkan kaki ku masuk ke dalam lingkaran tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki kecil yang berlari menghampiri. Aku seketika menoleh saat kulihat Mia berlari ke arahku sambil berteriak memanggil. Dibelakangnya ada bibi Emely mengikuti.
"Kakak...! Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Huhu..." katanya dengan wajah dipenuhi air mata.
"Jangan menangis Mia," kataku mencoba menenangkan nya.
Aku sedikit bingung dengan kalimat nya barusan. Kenapa ia terlihat sangat engan aku pergi dan takut sekali kalau aku meninggalkannya? Aku mungkin cuman pergi beberapa hari dan paling lama seminggu, tapi raut wajahnya seolah-olah mengatakan kalau aku tidak akan perna kembali lagi. Semua pertanyaan dalam benakku terjawab begitu ia memelukku. Aku merasakan ada kilatan peristiwa menerobos begitu saja masuk ke dalam kepalaku. Aku segera melepaskan pelukan Mia dengan nafas terengah-engah.
"Hoks... Hoks... Apa itu tadi? Apa yang coba Mia perlihatkan padaku? Apa ini kekuatan Mia?" batinku. Aku menatap Mia yang raut wajahnya begitu sedih melihatku. "Mia..."
"Kakak..."
"Tidak apa. Semuanya akan baik-baik saja, okey. Aku... Aku pasti akan kembali. Aku berjanji padamu," aku mengacukan kelingking ku padanya yang dibalas dengan kelingkingnya yang mungil mengait kelingkingku.
"Janji ya kak. Kakak pasti akan pulang."
"Iya."
Aku memeluk sekali Mia kemudian mencium keningnya. Aku berdiri lalu melangkah masuk ke dalam lingkaran sihir. Mia masih sempat menahan tanganku mencoba melarangku pergi. Tapi aku berusaha menyakinkan ia kalau semuanya akan baik-baik saja. Aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Perjalanan kali ini akan sedikit berbahaya dan menegangkan. Sebelum bibi Tori dan paman Alan mengirim kami pergi aku sempat bersiul memanggil Angel. Iya, dia akan ikut bersama kami. Angel terbang masuk ke dalam ruangan lalu hinggap di tangan ku. Rosse dengan cekatan menahan tangan Sofia agar tidak melompat keluar dari lingkaran sihir.
"Kalian siap? Akan sedikit berguncang selama teleportasi berlangsung."
"Μαγεία τηλεμεταφοράς (Mageía tilemetaforás)"
Ucap paman Alan dan bibi Tori secara bersamaan. Muncul percikan cahaya warna warni berkombinasi berputar naik mengelilingi kami. Bersamaan dengan itu tubuh kami perlahan-lahan melayang di udara setinggi setengah meter dari lantai. Aku menggegam erat tangan Lisa. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya berteleportasi ke suatu tempat. Hembusan angin mengiringi bersamaan kilatan cahaya yang mulai menggangu pandangan kami dari mereka. Kulihat mereka melambai pada kami.
"Persiapkan pendaratan kalian! Sampai sumpa lagi!" teriak bibi Tori sebelum kilatan cahaya dan angin benar-benar membawa kami pergi.
...Sudut pandang orang ketiga...
...ΩΩΩΩ...
"Sampai jumpa lagi sayang. Berhati-hatilah," kata Derek begitu sihir teleportasi berhasil membawa pergi putrinya.
"Sebagai ketua klan Α (Alpha) bagaimana bisa kau memasang muka sedih seperti itu, kak?" kata Emely sambil memukul bahu kakaknya. "Kalau anggota klan melihatmu seperti ini, itu akan sangat memalukan, loh."
"Iya Derek. Kau sebagai serigala tangguh sangat tidak cocok memasang muka sedih. Percayalah putri kita akan baik-baik saja. Ia adalah gadis yang kuat sepertimu," kata Carlos sambil merangkul bahu Derek.
"Ia memang gadis yang kuat. Lagi pula aku sudah mengirim seseorang untuk membantunya dan juga akan melindunginya disana."
"Siapa?"
"Ia akan segera tahu bila bertemu dengannya."
...Sudut pandang orang pertama....
...ΩΩΩΩ...
Kilatan cahaya dan angin membawa kami ke tempat tujuan dengan cepat. Persekian detik saja kami sudah berada di atas bukit di pulau Vyden. Aku dan Sofia mendarat dengan selamat karna kami memang seperti di jatuhkan dari langit yang cuman ketinggiannya hampir satu meter. Cukup aman tapi tidak bagi Rosse dan Lisa. Mereka tidak siap dijatuhkan dari ketinggian segitu. Hal hasil pendaratan mereka tidak mulus.
"Kalian baik-baik saja?" tanyaku begitu menoleh pada mereka.
"Aduuh... Punggungku sakit," rintih Lisa sambil berusaha bangkit. "Hmp!"
Lisa menahan mulutnya lalu berlari ke semak-semak untuk memuntahkan seluruh isi perutnya. Sedangkan Rosse jangan ditanya, ia sudah duluan muntah. Bagi orang yang baru pertama kali berteleportasi memang sudah sewajarnya mereka akan mengalami rasa pusing dan mual. Sebab, seperkian detik dalam kilatan cahaya dan angin tersebut tubuh kami akan dilanda guncangan uang hebat. Jauh lebih mirip seperti naik wahana permainan Rollercoaster dengan kecepatan tinggi.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε