
Sampai dirumah aku tidak menemukan siapapun. Hanya ada keranjang piknik di ruang tamu. Aku tidak memperhatikan itu. Aku mencari ayah dan ibuku. Diseluruh ruangan di lantai dasar, tidak ada. Lantai dua, sama. Lantai tiga dan juga loteng, aku tidak menemukan mereka. Aku bertanya pada seorang pelayan yang aku temui. Ia mengatakan bahwa ia melihat ayahku pergi ke gudang peralatan kebun. Mengetahui itu aku segerah kesana. Gudang tersebut terletak di belakang rumah paman. Benar saja, ayah dan paman ada disana. Sepertinya mereka menyiapkan alat pancing. Aku menghampiri mereka yang tengah sibuk menyiapkan peralatan seperti tongkat pancing dengan benangnya, umpan, ember, dan sebagainya.
"Ayah. Paman," panggilku membuat mereka menoleh.
"Sherina kau sudah pulang?" tanya ayahku.
"Sedang apa?"
"Hanya menyiapkan peralatan memancing," jawab paman Alan.
"Mancing?"
"Iya. Hari ini kita akan pergi memancing di danau yang tidak jauh dari sini," jelas ayah.
"Oh... Ini rupanya maksudnya. Apa ini bisa disebut kejutan?"
"Sama saja. Tapi jika kau berhasil mendapatkan ikan nantinya ayah akan memberimu hadiah."
"Hahaha... Hanya memancing, ini permainan kecil di mataku. Lihat saja nanti putrimu ini akan mendapatkan ikan yang banyak," kataku ditangan sombongnya.
2 jam kemudian, disebuah danau luas berjarak 5 menit dari rumah menggunakan mobil. Disinilah kami memancing.
"Aaaaaaa...!!! Kenapa sangat sulit sekali!! Apa disini tidak ada ikannya?!" teriakku sangat kesal.
Aku melemparkan pancing itu ke danau sangking kesalnya. Bagaimana tidak, sudah hampir 2 jam aku memancing tapi tidak ada satupun ikan yang memakan umpan ku. Sedangkan yang lain beberapa kali mendapat sabaran ikan. Aku sangat tidak suka dengan kegiatan melatih kesabaran ini.
"Kau bilang tadi ini hanya permainan kecil di matamu," ejek paman Alan padaku.
"Hm..." aku hanya memalingkan muka.
"Memancing memerlukan kesabaran ekstra agar mendapat ikan. Dengan temperamenmu itu kapanpun kau tak akan bisa mendapat ikan sama sekali," kata ayahku.
"Rin memang tidak cocok dalm urusan pancing memancing. Ia orangnya terlalu tidak sabaran."
"Dan kau lagi! Kenapa kau bisa ada disini?!" aku menunjuk kearah Sofia yamg memang sendari awal ternyata keluarganya ikut dalam acara konyol ini.
"Aku sudah mencoba memberitahu mu saat pulang sekolah tadi. Salah sendiri tidak mendengarkan."
Aku hanya cemberut mendengarnya. Acara memancing seperti ini benar-benar membosankan. Aku melirik para ibu yang sedang asik berbincang sambil menemani Mia dan Jimmmy, adik sofia yang berumur 5 tahun bermain. Aku menoleh kearah 4 pemancing ini yang sendari tadi mendapat ikan.
"Hihihi... Sepertinya hasil pancingannya sudah banyak," niat setan muncul.
Aku melangkah mundur perlahan. Aku mengambil ancang-ancang untuk... Melompat terjun ke danau. Hal itu membuat para pemancing ini terkejut. Aku mencipratkan air pada mereka.
"S H E R I N A ! ! ! !" teriak mereka kompak.
Aku langsung menyelam, menghindari amarah mereka. Air danau ini sangat jernih sampai-sampai aku dapat melihat dengan jelas beberapa ikan yang sedang berenang. Dan keberuntungan menghampiriku. Aku melihat seekor ikan dengan ukuran yang lumayan besar. Aku perlahan mendekati ikan itu, sudah merasa sudah cukup dekat aku dengan cepat menangkap ikan itu. Tidak berhasil. Beberapa kali ikan ya berhasil lolos. Sangat sulit menangkap ikan secara langsung, ditambah lagi gerakan ikan ini sangat gesit.
Di kedalaman danau aku melihat sesuatu seperti tombak. Aku mencoba mengambilnya, oh... Ternyata hanya bambu. Tapi ini yang aku butuhkan. Bambu berdiameter sekitar 3 cm, panjang setengah meter, ujung bambu bergerigi. Ini cocok untuk dijadikan tombak ikan. Aku berenang kembali mencari mangsa baru dan yang aku dapati adalah seekor ikan dengan ukuran lebih kecil dari sebelumnya. Tampa pikir panjang aku membidik ikan itu yang sedang berdiam diri. Sekali tembakan, tepat sasaran. Aku mengambil ikan itu dan berenang kembali menuju tempat dimana aku terjun tadi.
Aku baru sadar akh sudah berenang cukup jauh dari tempat memancing, dan itu aku lakukan dengan satu tarikan nafas. Aku muncul kepermukaan, menarik nafas panjang, mengisih paru-paruku dengan udara segar. Yang pertama aku lihat adalah ekspresi wajah mereka yang khawatir. Aku sedikit bingung. Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?
"Darimana saja kau?! Aku kira kau sudah tenggelam!" bentak Sofia.
"Tidak mungkin. Aku ini adalah perenang yang handal. Aku bahkan bisa menahan nafasku lebih dari 5 menit. Oh... Iya lihat ini," aku menujukan hasil tangkapanku pada mereka.
"Darimana kau dapat ikan itu?" tanya paman Alan.
"Tentu saja menangkapnya langsung. Ini lebih menyenangkan dari pada melakukan hal membosankan itu."
"Kau bahkan tidak bisa mengendalikan insting berburumu sebagai seekor serigala. Tapi kau masih tidak mengakui dirimu sebagai serigala," ejek Sofia.
"Memang serigala berburu ikan apa?"
"Rin sampai kapan kau berendam disana?" tanya paman Jaseph. Ia adalah ayah Sofia.
"Kenapa? Apa aku menggagu acara memancing kalian?"
"Tidak. Hanya saja ada buaya di danau ini," kata ayahku tampa ekspresi.
"Apa...!!!" aku melompat keluar dari danau karna panik. "Ayah membohongiku. Aku tidak melihat satupun buaya tadi."
"Siapa yang bohong? Kau tidak lihat papan peringatan itu?" tunjuk paman Alan pada papan peringatan yang ada dipinggir danau. Disana tertulis...
...DILARANG BERENANG! ADA BUAYA!...
"Ha...?! Kenapa kalian tidak memberitahu ku?"
"Kau bahkan sudah nyemplung ke danau, bagaimana kami memberitahu mu?" kata ayah.
"Kenapa tidak segera mencariku? Apa kau tidak peduli dengan keselamatan anakmu sendiri?"
"Memangnya buaya berani padamu?" ucap paman Alan.
"...?"
"Aku malah lebih menghawatirkan buaya ya," sambung paman Jaseph.
"Mungkin itu alasannya kau tidak bertemu dengan buaya. Mereka sudah lari ketakutan saat melihatmu."
Ayah dan anak ini sama saja. Apa begini rasanya hidup dalam keluarga yang berasal dari dunia malam?/ Aku tidak tahu lagi mau bilang apa. Tidak ada untungnya berdebat dengan mereka.
"Rin, kau kecebur di danau?" tanya ibuku menghampiri kami bersama yang lain. Aku sendari tadi tidak melihat mereka datang dari mana?
"Rin mau kemana?" tanya bibi Emely.
"Berkeliling sebentar," balasku tampa menoleh pada mereka.
"Ganti baju dulu," teriak ibuku.
"Aku tidak bawak baju ganti."
"Rin aku ikut," Sofia berlari mengejar ku.
Aku dan Sofia menyelusuri hutan pinus yang mulai terasa menajak. Hari semakin sore, ini waktu yang tepat untuk mengambil potret matahari terbenam. Tidak sampai 5 menit kami menemukan spot foto yang bagus. Tepat dibibir tebing, terbentang padang ilalang dan diselah-selai bunga rumput berwarna putih, kuning, ungu, ada juga yang berwarna merah namu tidak banyak. Aku melihat ke bawah. Tebing ini tidak terlalu tinggi, mungkin hanya 2 atau 3 meter dan tidak tidak terlalu cuman juga. Tapi kenapa saat aku melihat ke bawah dadaku terasa sesak? Pandanganku berputar, rasa sakit menerjak kepalaku. Aku melangkah mundur dari bibir tebing itu dan tampa sengaja kaki tersandung membuat aku jatuh terduduk. Aku mengatur nafasku perlahan tampa berusaha berdiri.
"Rin kau tidak apa-apa?" tanya Sofia disampingku.
"Tidak apa-apa. Cuman kepalaku sedikit sakit," ini aneh? Tebing ini tidak lebih tinggi dari balkon kamarku. Tapi kenapa dadaku sesak sekali.
"Kenapa? Apa kau melihat sesuatu?" tanya Sofia tiba-tiba membuatku menoleh padanya.
"Melihat sesuatu? Apa aku memang sering mengalami sakit kepala?"
"E... Aku tidak tahu. Tapi memang kalau kau seperti ini biasanya kau melihat sesuatu kejadian atau peristiwa dimasa lalu," jelas Sofia.
"Tunggu. Kau juga tahu tentang kemampuan Necromancy yang aku miliki?"
"Tentu saja. Kita kan sudah mengenal sejak kecil, kenapa aku tidak mengetahuinya? Lagi pula ayahku juga seorang Necromancy."
"Benarkah."
"Bahkan kakekku juga seorang Necromancy, walau tidak sepraktis seperti kemampuan mu. Aku perna mempelajarinya dulu. Itu sangat sulit, begitu banyak mantra dan simbol yang harus di ingat, membuatku kepalaku pusing. Aku cuman dapat melihat mereka tidak lebih," Ia duduk diatas rumput disampingku menghadap matahari yang mulai terbenam.
"Oh... Iya aku jadi teringat dulu kita perna membantu hantu menyampaikan pesan terakhir pada keluarganya. Ada juga saat kau berani terjun ke sungai hanya itu menyelamatkan seekor kucing miliki gadis kecil..." Sofia asik berbincang mengenai masa kami bersama.
"Hal apa yang aku lupakan? Aku harap dapat mengingat semuanya kembali," kataku pelan. Aku memeluk kedua lutukku sambil memandangi matahari terbenam.
"Apa katamu?"
"Tidak ada. Ayok sebaiknya kita kembali," aku langsung berdiri. Aku mengulurkan tanganku pada Sofia.
"Iya," Sofia menerima uluran tanganku.
Setelah mengambil beberapa gambar, kami kembali. Orang tua kami, paman dan bibi sudah selesai membereskan semua barang bawaan. Hasil pancingan hari ini lumayan banyak.
"Kakak," Mia menghampiri sambil menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya.
"Ada apa Mia?" aku berjongkok menselaraskan tubuhku dengannya.
"Em... Ini," Mia tiba-tiba meletakan rangkaian bunga rumput diatas kepalaku.
"Bunga yang cantik. Terima kasih Mia," aku memeluk Mia dengan erat.
"Kakak... Dingin!" teriaknya.
Aku segera melepaskan pelukanku. "Maaf. Bajuku masih sedikit basa."
"Apa kakak tidak kedinginan?"
"Tidak."
"Wah... Tidak adil. Mana untukku?" Sofia langsung menyerah protes.
"Tenang saja kakak aku sudah buatkan satu untukmu," Jimmy menyodorkan rangkaian ilalang dan rumput kering.
"Siapa yang mau memakai itu!"
"Tidak mau ya sudah. Aku berikan pada Coco saja.
Μεταμορφωτικό ξόρκι (Metamorfotikó xórki)"
Jimmy mengucapkan salah satu mantra. Aku baru tahu kalau adik Sofia juga bisa mengunakan sihir. Setelah ia mengucapkan mantra itu, rangkaian ilalang dan rumput kering itu perlahan-lahan berubah menjadi rangkaian bunga yang indah.
"Tidak aku Sangka kau sudah bisa mengunakan mantra pengubah. Tapi apa itu tidak terlalu cantik hanya untuk seekor kuda? Lebih baik untukku saja."
"Tadi kakak tidak mau," Jimmy berlari menghampiri ibunya.
"Jimmy... Tadi aku hanya bercanda..." Sofia mengejar adik kecilnya itu.
"Hahaha..." aku dan Mia hanya tertawa melihat tingkah mereka.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε