
"E... Sepertinya kalian terlihat sangat akrab."
Mendengar itu membuat aku dan Rosse sontak menoleh pada wanita itu. Akrab? Akrab darimananya? Kalau ia melihat kelakuan kami yang saling bertentangan, aku rasa ia tidak akan berpikiran seperti itu dan menarik kembali kata-katanya. Atau... Kalimat itu adalah sindiran?
"Hai... Perkenalkan namaku Tricia, kau bisa memanggilku kak Cia seperti yang lain dan ini adikku Hanna." wanita itu memperkenalkan diri dan juga memperkenalkan gadis di sampingnya.
"Ha... Hallo. Salam kenal," Hanna dengan gugupnya memberi salam padaku.
"Salam kenal juga. Kalau boleh kuberitahu, kau sangat imut," kataku sambil tersenyum ramah padanya.
"Ha...?" seketika pipi Hanna memerah, wajahnya kali ini bertambah imut. "A... Aku... Permisi dulu, ma...sih ada yang... Harus aku kerjakan," Hanna berlalu pergi dengan sedikit tergesa-gesa, hampir saja ia jatuh karna tersandung kakinya sendiri.
"Kau sedikit nakal ya Rin," lirik kak Cia padaku.
"Aku cuman bilang ia imut saja kok," aku benar-benar tidak menyangkah reaksi Hanna akan tertipu malu begitu.
"Dengan nada menggoda seperti itu kau membuat gadis polos salah tingkah," ucap Rosse dengan ekspresi dingin.
Aku tersenyum nakal padanya. Aku merangku leher Rosse sambil mencubit pipinya. Biarlah aku lampiaskan rasa gemas ini pada Rosse saja. "O... Apa kau cemburu Rosse? Kau itu juga sangat imut kalau cemberut begini."
"Aaah...! Menjauhlah dariku!!" Rosse meronta-ronta melepaskan rangkulanku.
"Hahaha... Aku mulai menyukaimu. Apa kau mau berkeja paruwaktu disini?" tawar kak Cia.
"Iya," jawabku bersemangat.
"Bagus. Kami kekurangan pelayan wanita, dengan wajah manis kalian pasti bisa memikat lebih banyak pelangan lagi," kak Cia merangkul bahuku dan Rosse.
"Kenapa aku punya pirasat buruk soal ini," kataku sambil menaikan sebelah alisku.
"Aku paling tidak suka bagian depan. Kak Cia apa boleh aku dibagian dapur saja?" terlihat jelas raut wajah Rosse sepertinya tidak suka menjadi pelayan, pirasat burukku bertambah kuat.
"Tidak boleh. Cepat ganti baju kalian dengan serangam yang ada di ruang ganti," kak Cia memaksa kami mengganti pakaian.
Lima menit kemudian, aku dan Rosse melangkah pelan keluar dari ruang ganti dengan wajah malu. Bagaimana tidak, seragam pelayan ini benar-benar memalukan! Kemeja putih tak berlengan di hias pita merah di ikat simpul. Rok mini berwarna hitam dan celemek hitam putih dengan renda di bagian tali bahunya. Sedikit tambahan, bando berenda berwarna putih.
"Kak Cia... Apa kami harus memakai pakaian ini? Ini benar-benar memalukan," protesku.
"Kalian terlihat begitu manis. Ayok-ayok berikan pelayanan terbaik kalian pada pelangan yang ada diluar sana," kak Cia mendorong kami menuju ruang kedai.
"Kak Cia aku butuh tiga roti panasnya!" teriak Tobi menerobos pintu dapur, membuat kami semua terkejut. "E, Rin apa yang kau lakukan disini? Dan... kau terlihat imut dengan seragam itu," ada nada ejekan diakhir kalimat.
Aku menatap Tobi sedikit kesal. "Ini semua ide kak Cia."
"Kalian berdua sudah saling kenal?" tanya kak Cia.
"Iya, dia gadis yang aku ceritakan tadi pagi," jelas Tobi.
"O... Jadi ini gadis yang kau maksud. Setelah mendengar ceritamu itu aku ingin sekali bertemu dengannya. Sekarang ia sudah ada di depan mataku," kak Cia melirik padaku.
"Tobi kau tidak cerita hal aneh bukan?" tatapan kak Cia seperti ada maksud tertentu.
"Tentu saja tidak. Memang kau berpikir aku menceritakan apa?"
"Kak Tobi, roti panasnya," dengan wajah menunduk Hanna menyerahkan roti tersebut pada Tobi.
"O, iya. Terima kasih Hanna," Tobi menerima roti itu dan berbalik pergi ke ruang kedai. "Roti panas! Siapa yang pesan roti panas?!" teriaknya menawarkan roti tersebut.
"Ayok kembali berkerja."
Dengan terpaksa aku dan Rosse melangkah menuju ruang kedai. Di ruangan ini sangat ramai, hampir seluruh kursi terisi. Pengunjung terdiri dari beberapa keluarga kecil, ayah, ibu dan anak-anak mereka. Sekelompok remaja laki-laki atau perempuan dan yang paling banyak adalah campuran. Disini juga ada beberapa pasangan kekasih. Di sudut kedai aku melihat sepasang suami istri dengan anak perumpuan mereka yang berusia tujuh tahun. Melihat gadis kecil itu mengingatkanku pada Mia, karna ia sangat mirip sekali dengan Mia terutama dibagian matanya. Gadis kecil yang ceria. Ia terlihat seperti sedang bercerita tentang suatu hal. Kemudian, ia turun dari kursinya lalu berlari kecil mengitari orang tuanya sambil menirukan burung yang lagi mengepakan sayapnya. Senyum bahagia terpancar dari keluarga kecil itu.
"Hei! Jangan melamun," Rosse tiba-tiba menepuk pundakku. Hal itu membuatku terkejut. "Ayok kerja."
"A... Iya."
Sepertinya perkerjaan ini tidak terlalu sulit bagiku. Aku cuman mencatat pesanan dan mengatarkannya pada pelanggan. Membersikan meja yang sudah ditinggalkan serta menyusun piring dan cangkir kotor di wastafel. Yang menjengkelkan dalam perkerjaan ini cuman seragamnya. Kalau melayani keluarga atau orang dewasa, sekelompok remaja perempuan dan pasangan kekasih masih tidak apa-apa. Tapi kalau sekelompok remaja laki-laki, ini sangat memalukan. Apa lagi mereka suka menggoda dengan nakalnya. Ihiii... Itu membuatku geli. Ingin sekali aku memukul mereka. Tapi untung Rian membantuku. Ia segerah mengambil alih dan menyuruhku melakukan hal lain, walau dia akan di protes karna mengganggu kesenangan mereka.
Rian adalah salah satu pelayan laki-laki selain Tobi disini. Ia berambut coklat sedikit panjang sampai ia bisa menguncirnya dengan menyisakan poninya saja. Mata berwarna coklat sedikit lebih terang dari rambutnya, dan untuk tinggi badan, ia hampir sama dengan Tobi. Rian orang yang mudah sekali akrab dengan orang-orang baru. Satu hal yang menarik darinya adalah kemampuanya bermain trik sulap. Sering kali ia melakukan pertunjukan sulap di depan pengunjung kedai, terutama anak-anak. Contohnya ia menghilangan benda-benda kecil seperti sedotan, sendok, garpu dan lainnya. Iya juga terkadang merayu pengunjung remaja perempuan dengan bunga yang tiba-tiba muncul begitu saja dari balik telapak tanganya. Atau ia akan menjahili beberapa pengunjung dengan gerakan tanganya yang super cepat. Mungkin ini salah satu daya tarik dari kedai Lotus.
Beberapa jam berlalu dengan cepat. Pengunjung pun semakin berkurang jumlahnya. Aku melihat jam tanganku, jam menujukan pukul 20.54 sedikit lagi jam sembilan malam tepat. Setelah menunggu pelangan terakhir keluar, kami siap-siap menutup kedai. Semua meja dibersikan dan kursi disusun rapih secara terbalik di atas meja. Semua itu dikerjakan Tobi dan Rian. Aku membantu Hanna mencuci piring, setelah itu lanjut menyapu lantai ruang depan. Rosse bertugas mengepel dan kak Cia menghitung pendapatan hari ini. Baru sebagian aku menyapuh, aku berhenti sebentar karna lelah.
"Bagaimana hari pertamamu berkerja Rin?" tanya kak Cia.
"Fiuuh..." aku menghebuskan nafas pelan. "Aku tak menyangka kalau berkerja menjadi pelayan kafe cukup melelahkan."
"Ini pasti pertama kalinya bagimu kan?"
"Dari mana kak Cia tahu?"
"Mudah saja. Walau cuman sekilas aku melihatmu aku bisa menebak kalau kau itu berasal dari keluarga kaya. Bahkan sangat kaya sampai-sampai untuk melakukan hal sekecil apapun kau bisa menyuruh pelayan."
"!?" aku cukup terkejut dengan tebakan kak Cia. Dan bahkan yang lain sama terkejutnya denganku.
"Maksud kak Cia, Rin bukan berasal dari desa seperti yang ia bilang?" kata Tobi menutarakan pikiranya.
"Apa benar yang dikatakan kak Cia Rosse? Kau kenalannya bukan?" Rian mempertanyakan hal ini pada Rosse.
"Kau tanyakan saja sendiri," jawab Rosse dengan ekspresi biasa.
"Penampilanmu terlihat biasa tapi tubuhmu sangat terawat. Telapak tanganmu terlihat begitu halus, wajah yang bersih, rambut pirang kemerahan bergelombang dan... Kau mewarnai rambutmu?"
"Tidak."
"Termasuk segaris merah terang itu?"
"Iya. Aku sudah memilikinya sejak lahir. Setidaknya itulah yang dikatakan ibuku," aku memang memiliki warna rambut yang unik, pirang kemerahan dengan garis merah terang disisi kanan kepalaku.
"Rambutmu sangat indah dan kau memiliki kulit putih pucat..."
"Tunggu tunggu, yang terakhir itu pujian atau ejekan?" potongku.
"Menurutmu? Kau memang memiliki kulit putih pucat. Aku sempat berpikir kalau kau mungkin sedang sakit."
"Aku tidak sakit."
"Sudahlah, namun apa yang aku katakan barusan benar bukan?"
"..." aku tidak menjawab.
"Tidak apa-apa jika kau tidak mau memberitahu kami. Kau tetap diterima disini, iya kan rekan kerjaku semuanya?" tanya kak Cia pada yang lain.
"Tentu saja," jawab mereka bersamaan dan yang paling heboh tentu saja Tobi dan Rian.
.
.
.
.
.
.
ξκύαε